
Mira memandang kepergian Jona dengan iba dan belas kasih. Ada perasaan tidak tega melihatnya pulang sendirian dengan luka luarnya maupun luka batinnya.
"Jo ... tunggu!" seru Mira yang membuat Jonathan berbalik.
Dipa yang menyaksikan Mira mengejar Jonathan hingga ke halaman rumahnya pun ikut terkejut.
Eh ... dia mau apa lagi? gumam Dipa di dalam hati dengan penuh keheranan.
"Ada apa, Ra?" tanya Jonathan saat Mira sudah berdiri di hadapannya.
"Tolong bersikaplah dewasa dan berpikir jernih. Pulanglah ke rumahmu dan beristirahatlah. Aku tahu keputusanku menyakiti hatimu. Tapi, aku mohon pulanglah dengan hati-hati dan dengan selamat!" tutur Mira dengan cemas.
"Memangnya kamu masih peduli padaku? bahkan kamu tidak berkata apa pun saat tadi aku bercerita tentang kecelakaan yang tadi siang menimpaku!" tutur Jona dengan angkuhnya. "Sudah kamu masuk sana! jangan pedulikan aku!"
Mira tertegun mendengar jawaban dari Jona. Namun, Mira paham apa yang dikatakan Jona adalah gambaran rasa sakit di hatinya. Mira tidak mengambil pusing dengan hal itu.
Aku harap kamu bisa melanjutkan hidupmu ke depan dengan baik, Jo. Maaf ....
"Ada apa ini? kenapa lama sekali di luar?" tanya Rudi menyusul Mira dan Dipa yang tidak segera kembali.
Mendengar suara om Rudi, Mira berbalik dan menoleh ke arah omnya berada. Kemudian, Mira beranjak kembali menuju ke teras rumahnya.
"Siapa yang datang, Mir?" tanya om Rudi kepada Mira.
"Em itu tadi Jo--," ucapan Mira terputus saat Dipa tiba-tiba menimpali kata-katanya.
"Orang salah alamat, Om!" seru Dipa dengan segera. "Iya, barusan salah alamat, dan Mira usai menunjukkan alamatnya yang benar," tutur Dipa menutupi kebenaran.
__ADS_1
Seketika Mira menatap kepada Dipa dengan keheranan.
Kenapa Dipa harus berbohong demi menolongku? gumam Mira di dalam hati.
"Ya sudah ayo kita masuk!" perintah om Rudy kemudian memimpin untuk kembali berkumpul di ruang tamu.
Dipa berjalan mendahului Mira sembari menoleh ke samping dan mengacungkan jempolnya seraya berkata, "Salut!"
Mira merasa heran dengan satu kata yang dilontarkan Dipa untuknya barusan, namun akhirnya dia mengulas senyum, sebab atas bantuannya dia tidak perlu menjelaskan kepada om Rudi tentang kejadian tadi.
Terlebih jika semua orang yang berada di dalam mengetahui apa yang terjadi di luar antara dia dan Jona barusan, mungkin suasana akan menjadi kacau.
"Baiklah karena malam semakin larut, saya selaku pihak ketiga ingin mengucapkan terimakasih kepada tuan rumah yang telah menyambut baik kedatangan keluarga Mas Dipa untuk bersilaturahmi di rumah ini. Untuk selanjutnya saya serahkan kepada kedua keluarga, mungkin ingin berdiskusi terlebih dahulu dengan anggota keluarga yang lain. Silakan jika ada yang ingin di sampaikan dari keluarga mas Dipa, mungkin?" tanya pak Ahmad kepada papa dan mamanya Dipa.
"Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Bu Mirna dan keluarga yang telah menyambut dengan baik kedatangan kami kali ini, dan juga terima kasih saya ucapkan kepada Pak Ahmad yang telah membantu untuk mempertemukan dua keluarga ini. Setelah meninjau dari obrolan kita tadi, saya sempat berdiskusi di belakang dengan istri saya, selaku orang tua dari Dipa kami merasa cocok dengan keluarga Ibu Mirna maupun dengan ananda Almira. Namun untuk memutuskan apakah mau dilanjut ke tahap selanjutnya atau tidak saya menyerahkan keputusannya kepada anak saya. Sebab, yang akan menjalani rumah tangga nanti adalah mereka berdua, sehingga kami selaku orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak kami," tutur papa Dipa.
"Benar Pak, sedikit cerita, tadi sebelum berangkat dari rumah saya masih belum merasa mendapatkan petunjuk atas ikhtiar yang saya lakukan, niat saya berkunjung adalah ingin mempertemukan kedua orang tua saya dengan Mira dan keluarganya. Namun, barusan ada sesuatu yang membuat saya menjadi yakin untuk mengambil keputusan secepatnya. Sebab, besok saya harus kembali ke Yogya karena ada pekerjaan yang sudah menanti, dan saya tidak ingin menundanya lebih lama lagi."
"Tadi siang saat berjalan-jalan dengan Mama, Mama meminta saya untuk membeli sesuatu untuk diberikan kepada Mira. Entah mengapa benda itu yang ada dipikiran saya saat itu, meski saya masih tidak yakin akan memberikannya sekarang atau entah kapan. Namun, barusan saya telah menemukan petunjuk dari perkataan seseorang yang membuat saya menjadi yakin untuk segera memutuskan mau lanjut atau tidak," tutur Dipa panjang lebar kemudian berhenti sejenak untuk menjeda perkataannya.
Suasana menjadi tegang, sebab kata-kata Dipa terdengar cukup serius, namun belum jelas maksud dari perkataannya yang menjadikan penasaran untuk menunggu kelanjutannya.
"Mira, mohon maaf jika aku merasa kamu yang dulu aku kenal dan Mira yang saat ini ada di hadapanku seperti dua karakter yang berbeda di mataku. Dan, setelah mendengar perkataan mu di depan barusan, ada sesuatu yang membuat aku berpikir tentang gambaran di masa depan. Aku ingin mewujudkan harapan-harapan yang tadi sempat kamu utarakan," tutur Dipa berhenti sejenak mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan perlahan.
"Mira ... maukah kamu menjalin ikatan suci yang halal denganku?" ujar Dipa sembari menyodorkan sebuah kotak perhiasan dari kaca dan terdapat sebuah cincin emas dengan sebuah permata indah dibagian tengahnya.
Mira sangat terkejut mendengar khitbah dari Dipa barusan, dia tidak menyangka jika Dipa akan tetap mengkhitbahnya, meski telah melihat apa yang dilakukannya kepada Jona barusan. Padahal dia sempat berpikir Dipa akan berubah pikiran untuk melanjutkan ketahap selanjutnya setelah kedatangan Jona.
__ADS_1
"Bagaimana Mbak Mira mau menerima khitbah dari Mas Dipa apa tidak?" tanya pak Ahmad memperjelas maksud dari Dipa.
Mira melihat ke arah mamanya dan lagi-lagi mama mengangguk.
"Sebelumnya saya ingin berkata jujur, saya hijrah memakai hijab belum lama ini, dan mengikuti kajian juga belum lama, mungkin nantinya kamu akan tetap menjumpai karakter saya yang dulu setelah kita menikah, sebab saya tidak bisa menjanjikan bahwa saya muslimah yang sempurna, pengetahuan tentang agama saya juga masih rendah, dan satu lagi, Tante ... saya tidak bisa memasak. Apakah masih mau menerima kekurangan saya?" tutur Mira jujur dan sangat apa adanya.
Hal itu justru mengundang gelak tawa dari semua orang yang mendengarnya, tentang pernyataan terakhir yang di ungkapkan oleh Mira.
"Ya ampun Mira, yang terakhir kenapa harus disebutkan? kamu lucu sekali! jujur lhoh dia, Dip ...," tutur Shinta sembari tertawa seraya menepuk lengan tangan anaknya.
Mendengar hal itu Mira tersenyum malu, sembari memandang ke arah Dipa, dan di saat yang sama Dipa tersenyum sembari melihat ke arah Mira. Mira segera menurunkan pandangan, ketika pipinya merona karena malu.
"Mungkin maksudnya Mbak Mira tidak ingin memperlihatkan yang baik-baiknya saja ya, Mas Dipa. Takutnya nanti bikin kecewa di belakang, sehingga dikatakan sedari sekarang," tutur Pak Ahmad menengahi.
"Semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing, Mira. Tante dulu awal menikah juga begitu, masakannya selalu membuat kejutan, kadang-kadang kelebihan garam, kadang-kadang semanis senyuman, tapi Tante terus berlatih hingga Papanya Dipa ketagihan makanan rumahan yang dibuat sama Tante dan menolak jajan di luar," tutur Shinta panjang lebar. "Gimana Dip, masih mau lanjut tidak sama Mira?" tanyanya lagi sembari menoleh kepada anaknya.
"Insyaallah jika memang kamu jodoh yang ditakdirkan oleh Allah untukku, maka kamu adalah orang yang akan menjadi penyempurna dari kekuranganku dan begitu juga sebaliknya ...," tutur Dipa meyakinkan keputusannya.
"Bagaimana, Mbak Mira? Mas Dipa sudah menyatakan jika menerima kekurangan pasangannya, apakah diterima khitbahnya?" tanya Pak Ahmad lagi.
"Bismillah! Saya menerimanya!" tutur Mira dengan mantap.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang turut berbahagia.
Shinta memasangkan cincinnya di jari manis Mira sebagai tanda khitbah dari Dipa.
...___________Ney-nna__________...
__ADS_1