
Pov. Cindy.
Sedari pagi aku berulang kali berkaca di depan cermin. Aku baru menyadari satu hal. Banyak yang berubah dari tubuhku. Meski baru tiga bulan mengandung, tetapi perutku sudah terlihat sedikit membuncit. Pipiku terlihat semakin chubby. Gamisku yang tadinya longgar, kini terasa pas di tubuhku.
Ternyata benar apa yang di bilang mas Dimas. Katanya tubuhku semakin padat berisi. Dia mengatakan aku semakin cantik dan sexy. Sungguh aku merasa geli mendengar gombalannya. Namun, hal itu sukses membuat moodku membaik.
Siang ini aku mendatangi rumah sakit untuk memeriksakan kehamilanku. Beruntungnya menjadi istri seorang dokter. Aku tidak perlu menunggu antrean yang panjang karena mas Dimas sudah mengatur jadwal periksa untukku dengan dr.Anung.
Saat aku datang masih ada satu pasien yang mengantre dan satu pasien yang masih berkonsultasi di dalam. Pertama aku melakukan konfirmasi kedatangan kemudian di cek tekanan darah dan berat badan. Kemudian aku menunggu di kursi tunggu pasien. Sembari menunggu mas Dimas, aku bertukar cerita seputar kehamilan dengan pasien yang masih menunggu. Tiba-tiba saja pintu poly Obgyn terbuka.
Aku menoleh ke arah pintu untuk sekedar melihat pasien yang telah selesai di periksa. Sejenak pandangan kami bertemu.
Tunggu, sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya!
Belum sempat aku mengingat wajahnya, namun ia buru-buru berpaling sehingga rambutnya yang tergerai panjang menutupi mukanya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia memakai maskernya dan berjalan cepat semakin menjauh.
Sungguh aku semakin penasaran melihat tingkahnya yang mencurigakan. Seolah ia tidak ingin ada orang yang mengenalinya, melihatnya berada di sini. Siapa sebenarnya wanita itu?batinku.
"Mbak, saya masuk dulu ya?" aku pun berpaling kepada wanita yang tadi mengobrol denganku disela-sela menunggu.
"Iya mbak, silakan!" jawabku ramah sembari mengangguk.
Aku kembali menoleh kearah wanita yang mencurigakan tadi. Mataku mengitari ke seluruh pandangan, namun keberadaannya sudah tak terlihat lagi.
"Pada hal perutnya sudah sangat besar, kenapa jalannya cepat sekali!" gumamku lirih.
"Siapa yang jalannya cepat sekali?" aku tersentak saat tiba-tiba mas Dimas sudah berada di sampingku.
"Ihh, mas Dimas ngagetin aja sih, Mas!" ucapku.
"Kamu saja yang terlalu fokus melihat ke arah sana hingga tidak menyadari kedatanganku! Siapa yang kamu lihat?" tanya mas Dimas.
"Emm, entah lah, Mas. Tadi aku melihat wanita hamil yang baru saja keluar dari poly Obgyn, dan sepertinya aku tidak asing dengan wajahnya. Hanya saja dia buru-buru mengenakan masker dan bertingkah aneh. Sehingga aku sulit untuk mengenalinya," ucapku sembari mengingat-ingat kembali apa yang tadi sempat aku lihat.
"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Qila sedang apa saat kamu pergi?"
"Tadi, habis makan siang dia bermain dengan Rosa, mas. Tadinya sempat mau ikut. Untung ibu berhasil membujuknya agar mau bermain dengan Rosa di rumah."
"Syukurlah kalau begitu. Minum dulu yang banyak biar hasil USGnya terlihat jelas!" mas Dimas menyodorkan sebotol air mineral untuk aku minum.
"Makasih ya, Mas. Aku dari tadi juga haus banget. Padahal dari rumah sudah minum air putih yang banyak!" aku membuka segel tutup botol air mineralnya, kemudian meneguknya perlahan, hingga tersisa setengahnya.
"Iya, lain kali setiap bepergian kamu harus bawa, Sayang. Jangan sampai kamu mengalami dehidrasi!" sungguh aku beruntung memiliki suami yang sangat perhatian seperti mas Dimas.
__ADS_1
"Iya, Mas. Terima kasih ya udah diingetin!" ucapku sembari mencakup pipi kirinya dan mengusapnya perlahan dengan tangan kananku.
"Kalau tidak sedang berada di tempat umum aku pasti sudah menciummu sekarang!" ujar Mas Dimas kemudian menoel pucuk hidungku.
"Ehhm...ehmm..., mau sampai kapan kalian bermesraan di situ!" reflek aku langsung berpaling ke depan untuk melihat ke sumber suara. Ternyata dr.Anung sudah menunggu dan berdiri di ambang pintu sembari melihat ke arah kita.
Aku dan mas Dimas berpandangan kemudian tertawa bersama. Sungguh aku malu tapi lucu.
"Maaf, Dok. Kami akan segera masuk!" ucapku pada dr.Anung. Aku pun segera beranjak dan diikuti mas Dimas yang berjalan di belakangku.
Ini adalah yang kedua kalinya aku memeriksakan kehamilanku. Seperti biasa dokter menyuruhku berbaring di atas brankar, kemudian perawat mengoleskan gel di perutku. Dokter mengayunkan transducer di atas perutku. Mas Dimas mendekat, dan berdiri di sampingku. Dengan takjub aku menyaksikan layar monitor yang menampakkan gambar dua dimensi isi di dalam rahimku.
"Wahh, tokcer sekali Bro, langsung di kasih dua lho ini!" ujar dr.Anung yang membuat aku mengernyit heran.
Dikasih dua? Maksudnya apa??
"Janinnya kembar, Nung?" pekik mas Dimas dengan antusias, sembari menajamkan pandangannya ke arah monitor, yang memperlihatkan gambar janin yang aku kandung.
Aku yang ikut mendengar pun langsung membulatkan mata seolah tak percaya.
Kembar!
"Iya, nih ada dua kan! Lengkap ya, ini kakinya, ini tangannya. Jari tangannya juga sudah terbentuk dan memiliki kuku. Besarnya sudah sebesar buah aprikot. Karena ada dua janin, sehingga perut Cindy sudah terlihat sedikit buncit nih, Bro," dr.Anung menjelaskan dengan detail.
Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas karunia-Mu!
"Alhamdulillah ya Allah!" mas Dimas menghujaniku dengan kecupan di keningku.
****
π΅πΆπΆ
Lelah hati yang tak kau lihat
Andai saja dapat kau rasakan
Letihnya jiwaku karna sifatmu
Indah cinta yang kau berikan
Kini tiada lagi kudapatkan
Teduhnya jiwa
__ADS_1
Baiknya ku pergi
Tinggalkan dirimu sejauh mungkin
Untuk melupakan
Dirimu yang slalu, tak pedulikanku
Yang mencintaimu
Yang menyayangimu
Klik!
"Cukup, Mir. Kamu bakalan gak brenti mewek ntar kalau dengerin ini terus!" ujar Dipa yang mulai bosan mendengar tangisan Mira.
"Terus gue musti gimana? Gue teriak di jembatan ngapain pakai lo susulin. Emangnya gue gak punya akhlak mau njebur ke sungai cuma gara-gara cowok! Gue itu cuma mau meluapkan sakit hati gue, bukan mau bunuh diri!" Mira menumpahkan semua kekesalan yang ada di hatinya kepada Dipa.
"Buseet dah, niat nolong malah kena semprot!Kenapa lo marahnya sama gue, Mir. Logikanya gini nih, semua orang yg lihat lo teriak di jembatan sambil manjat bakalan ngira lo mau bunuh diri lah!" tutur Dipa yang serba salah.
"Gue gak mau pulang, Dip. Gue musti bilang apa sama nyokap gue! Hiks...hiks....!" Mira sangat frustrasi dengan keadaannya.
Flashback On.
"Assalamu'alaikum, tante Shinta!" ucap Mira saat memasuki butik untuk melakukan fitting baju bersama Jonathan.
"Wa'alaikumsalam, welcome Mira! Ayo kita masuk tante tunjukkan koleksi terbaru tante ya!" ujar Shinta membawa langkah kaki mereka menuju ruang galery baju pengantin.
Sehari sebelumnya, atas rekomendasi dari Reyna, Mira berniat untuk membeli baju pernikahan di butik tante Shinta. Mira kemudian membuat janji bahwa hari ini akan datang bersama Jonathan untuk melakukan fitting baju. Pernikahan mereka akan di laksanakan sebulan lagi.
Setelah terkuaknya hubungan Jonathan dengan Wulan beberapa bulan lalu, akhirnya Mira mengakhiri hubungannya dengan Jonathan secara sepihak. Sebab, Jona tak mau putus dengan Mira. Ia terus bersikeras untuk kembali bersama dengan Mira. Cukup lama perdebatan mereka. Sebab Mira kekeuh tak ingin kembali. Namun, Jonathan mencoba berbagai cara hingga akhirnya Mira luluh dan mau kembali padanya.
Kini keduanya tengah merencanakan pernikahan yang telah di sepakati oleh kedua keluarga. Pernikahan mereka akan di langsungkan sebulan lagi.
Saat Mira, Jonathan dan Shinta sedang asik memilih gaun, tiba-tiba dari belakang datang seorang perempuan yang mendekat kemudian menarik tangan Jonathan dari belakang.
"Than....!" panggil wanita itu yang membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara tersebut.
____________________Ney-nna_________________
Mohon maaf beberapa hari tidak Up. Semoga kedepannya author bisa semangat untuk menuntaskan cerita ini hingga akhir.
Terimakasih dukungannya buat reader's yang selalu mendukung karya ini πππ
__ADS_1