
Denting suara jarum jam yang berjalan seolah terdengar begitu nyaring di telinga Cindy. Ia mengerjapkan matanya yang terasa berat. Dipicingkan sebelah mata untuk membaca sebuah tanda pada jarum jam di dinding. Waktu telah menunjukan tepat pada pukul 03.00 pagi.
Sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya, membuatnya enggan untuk meninggalkan tempatnya berbaring saat ini. Namun, kandung kemihnya sudah terasa penuh dan tak tertahan lagi. Perlahan ia menggeser tangan suaminya. Kemudian, beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Namun, tak berapa lama ia teringat akan sesuatu. Cindy mengurungkan langkahnya untuk menutup pintu. Ia kembali keluar dan merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian segera membawanya kembali ke dalam kamar mandi. Cindy menampung urinnya ke dalam wadah kecil yang bersih. Lalu ia masukkan testpack yang kemarin ia beli ke dalam wadah itu.
Beberapa saat ia menunggu dengan perasaan harap-harap cemas. Ada perasaan takut jika hasilnya tak sesuai dengan harapan. Namun ia tetap menguatkan diri, apapun hasilnya ia akan berusaha untuk tetap tegar.
Cindy menutup mulutnya yang menganga tatkala menyaksikan hasil test yang terpampang di depannya. Perasaan yang bercampur aduk yang membuatnya terharu hingga meneteskan air mata.
"Hiks...hiks...hiks...!" hanya tangisan lirih yang terdengar dari bibirnya.
Tok tok tok.
"Sayang, kamu lagi apa?" terdengar suara Dimas memanggil-manggil dari balik pintu kamar mandi.
Cindy segera membuka pintu kamar mandi kemudian menghambur memeluk suaminya.
"Mas, hiks...hiks...hiks...!" Cindy menangis tersedu-sedu tak mampu berkata-kata.
"Ada apa? Kenapa menangis? Kamu jatoh di kamar mandi?" Dimas bingung dengan istrinya yang terus menangis.
Beberapa saat sebelumnya Dimas mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi. Dimas terbangun dan mendapati Cindy tidak berada di sampingnya. Itu berarti istrinya sedang berada di kamar mandi. Namun, tak berapa lama terdengar tangisan lirih di dalam kamar mandi. Ia menjadi khawatir jika sesuatu terjadi pada istrinya. Dimas kemudian mengetuk pintu kamar mandi untuk mengetahui apa yang terjadi dengan istrinya.
Cindy merenggangkan pelukannya sembari mengusap air matanya. Ia ulurkan benda pipih ditangannya ke hadapan Dimas. Dengan rasa heran Dimas menerimanya.
"Alhamdulillah, kenapa menangis, Sayang! Kamu hamil, Sayang!" ujar Dimas dengan tersenyum melihat tanda garis dua pada testpack di tangannya.
Di kecupnya kening istrinya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Diusapnya beberapa kali punggung istrinya untuk menenangkan.
"Selamat ya, Sayang! Kedepannya kamu harus lebih bahagia, karena ada buah hati kita di rahimmu," ujar Dimas dengan lembut membelai pucuk kepala Cindy.
"A-aku sangat bahagia, Mas. Ini bukan mimpi kan, Mas? A-aku beneran hamil kan, Mas?" tanya Cindy dengan suara parau dan terbata-bata dalam berucap.
Dimas mencakup wajah istrinya dengan kedua tangannya, "Ini nyata, Sayang. Kamu hamil. Di sini ada anak kita!"
__ADS_1
Dimas meraba perut istrinya yang masih rata.
"Alhamdulillah ya Allah. Aku tidak menyangka aku akan hamil secepat ini. Allah begitu cepat menjawab do'a-do'aku, Mas!" ujar Cindy.
"Iya, Sayang. Nanti kita periksakan ke dokter ya untuk melihat kondisi janinnya?" ujar Dimas.
Cindy mengangguk dan kembali menghambur memeluk Dimas. Rasa syukur yang tak terkira ia panjatkan atas anugerah yang Allah berikan secepat ini setelah serangkaian kesedihan yang pernah ia lalui.
****
Siangnya Cindy datang ke rumah sakit di mana Dimas bekerja. Dimas sudah membuat janji dengan dr. Anung sahabatnya untuk memeriksa kehamilan Cindy.
Cindy dan Dimas bergandengan menyusuri koridor rumah sakit dengan perasaan gembira. Senyum di wajah keduanya mengiringi langkah mereka menuju poli Obgyn.
Saat sampai di poliklinik ternyata masih ada satu pasien di dalam yang sedang berkonsultasi. Sehingga Dimas dan Cindy menunggu sejenak di kursi tunggu. Dimas sedari awal memang mengatur agar Cindy di periksa terakhir kali.
"Sebentar ya, Dok. Masih ada satu pasien di dalam yang sedang berkonsultasi," ujar perawat yang bertugas untuk mendata pasien, "Mari Bu, saya cek dulu ya tekanan darahnya," ujar perawat pada Cindy.
Sembari menunggu Cindy di cek tekanan darah dan berat badannya.
Tak berapa lama pintu ruang periksa terbuka dan menampakkan dua orang suami istri yang keluar dari ruangan dr.Anung. Si wanita menangis sedangkan si pria merangkulnya sembari menenangkan istrinya.
Namun, Cindy masih diam terpaku menyaksikan dua orang di depannya. Mendengar nama Cindy yang di panggil, laki-laki itu pun reflek melihat ke arah depannya yang menampakkan Cindy dan Dimas yang juga sedang menatap ke arahnya. Keduanya seolah kaget setelah sekian lama tak bertemu.
"Cindy...!" pekik Fadhil.
"Mas Fadhil...," ucap Cindy lirih nyaris tanpa suara.
"Fadhil, bagaimana hasilnya?" tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya yang mendekat ke arah Fadhil. Ia adalah ummi Aini.
"Janinnya tak bisa di pertahankan, Ummi!" ujar Fadhil pada Ibunya.
"Innalillahi wa innailaihi roji'un!" ummi Aini terlihat kecewa dan sedih di wajahnya.
Sementara istri mas Fadhil terus menangis di pelukan mas Fadhil.
__ADS_1
Cindy merasa iba dengan kabar duka yang tak sengaja ia dengar. Bisa diartikan bahwa janin dalam kandungan istri Fadhil tak dapat di pertahankan. Sungguh di sayangkan sekali saat musibah itu datang kepada keluarga Fadhil. Cindy tahu betul kehamilan istri Fadhil adalah harapan terbesar di keluarga Fadhil, yang tentunya kehadirannya sangat diinginkan oleh ummi Aini sejak lama.
Sebagai seorang perempuan ia bisa merasakan kesedihan yang mendalam yang dialami oleh istri Fadhil. Namun, ia tidak sanggup berkata apa-apa untuk menunjukkan rasa simpatinya. Terlebih karena ada ummi Aini. Ia takut jika salah bicara atau memperkeruh suasana.
"Ehh kalian ini kenapa tidak segera masuk? Aku sudah menunggu lama di dalam!" ujar dr.Anung yang tiba-tiba keluar dari dalam ruangannya.
"Ehh, maaf Dokter, membuat anda menunggu," ujar Cindy.
Ummi Aini terkejut melihat ada Cindy di sana. Awalnya ia tidak menyadari keberadaan Cindy.
"Selamat ya Dim, Cin, atas kehamilannya!" ujar Anung.
"Terima kasih, Dokter," jawab Cindy.
"Ayo, Sayang kita masuk!" ujar Dimas sembari merangkul bahu Cindy.
"Saya permisi dulu Ummi, Mas Fadhil, Mbak. Assalamu'alaikum!" ujar Cindy kemudian beranjak masuk ke dalam.
"Wa'alaikumussalam!" ujar Fadhil sembari memandangi kepergian Cindy dengan Dimas.
Dalam hati Fadhil merasa heran dengan hadirnya Dimas di samping Cindy. Ia ingat betul Dimas adalah laki-laki yang juga hadir di malam operasi Cindy di lakukan. Fadhil merasa kecewa melihat Dimas lah yang menjadi suami Cindy. Fadhil berprasangka jika Cindy saat itu membatalkan khitbahnya karena ada laki-laki lain yang tidak lain adalah Dimas. Kini Fadhil berpikir bahwa Cindy saat itu telah mengkhianatinya.
"Mbak, apa benar yang dikatakan oleh dokter tadi jika wanita yang tadi sedang hamil?" tanya ummi Aini kepada perawat yang berjaga di luar.
"Iya Bu, Ny. Cindy sedang hamil," seketika ummi Aini merasa lemas.
Ia tidak menyangka jika Cindy akan hamil secepat ini setelah menikah. Justru istri Fadhil yang sudah ia bangga-banggakan akan segera memberinya keturunan, malah harus mengalami keguguran.
Ummi Aini terduduk di bangku ruang tunggu pasien dengan perasaan yang berkecamuk di dalam benaknya. Kini kepalanya terasa berat dan berdenyut sehingga keseimbangan tubuhnya melemah.
Dalam benaknya ia merasa menyesal telah memisahkan Cindy dengan Fadhil saat itu. Ia merasa tertampar oleh takdir yang menimpa menantunya saat ini. Ia merasa bersalah telah berprasangka buruk pada kondisi kesuburan Cindy waktu itu.
____________________Ney-nna__________________
Jangan lupa untuk dukung author agar semangat melanjutkan karya novel DDCP ini ya reader's.
__ADS_1
Saya ucapkan terimakasih bagi teman-teman yang sudah mengapresiasi karya ini dengan dukungan kalian melalui gift, like, comment dan vote. Semoga di mudahkan dalam memperoleh rezeky yang berkah dan semoga kalian sehat selalu. Aamiin 🙏
Salam hangat dari author untuk reader's DDCP di manapun kalian berada 🙏💕💕💕