
Setelah makan di food court, Mira, Gina, dan Sesha menyempatkan berbelanja baju di salah satu departemen store yang berada di mall tersebut. Mira memilih berpencar karena ada yang ingin dibelinya di tempat lain. Saat Mira hendak memilih baju untuk mamanya, ada seorang wanita cantik yang sedang memilah-milah banyak baju di hadapannya. Wanita itu berpenampilan terbuka dan menonjolkan bentuk lekuk tubuhnya.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki paruh baya yang datang menghampirinya. Mira menduga mungkin itu adalah ayahnya. Mira kembali berpaling dan memilah-milah baju yang cocok untuk mamanya.
"Om, aku boleh pilih yang mana aja yang aku suka, 'kan?" tanya wanita itu sembari bertingkah manja kepada si pria.
Mira yang berada tak terlalu jauh melirik sebentar ke sumber suara yang dia yakini adalah suara wanita yang tadi.
Kemudian, si laki-laki tua itu merangkul pinggang si wanita sembari berucap, "Pilih saja yang kamu mau, Cantik!"
Si wanita kemudian memeluk laki-laki itu tanpa malu.
"Makasih, Om. Aku cobain bajunya dulu ya, Om?" ujar si wanita, kemudian dia pergi membawa beberapa stel baju menuju kamar pas.
"Iya, Sayang!" jawab si pria tua.
Mira mengernyit saat mulai menyadari hubungan yang tak wajar dari keduanya, namun Mira kembali berpaling seolah tak ingin ambil pusing. Mira kembali melanjutkan memilih-milih baju yang berjajar rapi di depannya.
Astaghfirullahal'adzim, salah sangka gue! batin Mira.
Kemudian tatapan mata pria itu tertuju kepada seorang SPG (Sales Promotion Girl) yang sedang mendisplay baju-baju dan menggantungnya di rak. Seorang SPG itu berpenampilan menarik dengan riasan yang tebal, rok pendek yang panjangnya sejengkal diatas lutut, dan kemeja yang sangat pas di badannya hingga menonjolkan lekuk tubuhnya. Dia tidak menyadari jika sedang diperhatikan oleh pria tua itu. Tiba-tiba saja pria tua itu mendekatinya dan menepuk pantatnya.
"Ehh ...!" pekik seorang SPG saat kaget mendapati pria tua itu menyentuhnya.
Mira pun sama kagetnya menyaksikan kejadian itu. Sebagai seorang wanita dia merasa kesal dengan perlakuan laki-laki itu.
"Maaf, membuatmu kaget, ya?" tanya pria tua itu sembari mengulas senyuman genit ke arah seorang SPG.
"Ada yang bisa di bantu, Pak?" ujar seorang SPG sembari sedikit mundur untuk menjauh. Khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan lagi.
"Perkenalkan, nama saya Hartawirawan," ujar laki-laki tua itu sembari menjulurkan tangan hendak mengajak bersalaman, "Panggil saja, Om Irawan!" tambahnya.
Seorang SPG itu hanya melirik pada tangan pria tua itu tanpa membalas menjabat tangannya, sembari mengernyitkan dahi.
Yang benar saja bersalaman dengan pria tua genit kaya gitu ... ogah banget! batin Mira.
"Maaf saya masih banyak pekerjaan, jika ada yang ingin ditanyakan tolong segera katakan, Pak!" ujar seorang SPG itu berusaha untuk menahan amarah.
Pria itu terlihat tertawa sinis mendapatkan penolakan dari seorang SPG.
Lalu, Pria tua itu merogoh sesuatu dari kantong celananya. Rupanya dia mengeluarkan sebuah dompetnya yang tebal. Dia membuka dompet itu dan mengeluarkan selembar kertas dari dalam dompet, kemudian menyodorkan kertas itu ke hadapan seorang SPG tadi.
Seorang SPG itu hanya melirik lembar kertas itu dan membaca sekilas tulisan yang berada di kertas itu, rupanya itu adalah sebuah kartu nama.
"Ayo ambil ...!" ujar pria tua itu pada seorang SPG.
"Untuk apa, Pak?" tanya seorang SPG yang merasa tidak tertarik dengan kartu nama laki-laki itu.
"Saya adalah seorang CEO di perusahaan yang terkemuka di kota ini, jika kamu membutuhkan sesuatu, pekerjaan atau suntikan dana untuk sebuah usaha, kamu bisa menghubungi saya. Saya pasti akan membantu kamu!" tuturnya panjang lebar.
Mira tersenyum konyol melihat aksi laki-laki tua itu. Jadi seperti itu konsep pendekatan pria modus dengan calon korbannya?
"Maaf tidak perlu silakan anda simpan kembali kartu nama anda itu. Saya permisi, Pak!" tolak seorang SPG sopan, sembari melangkahkan kaki.
"Tunggu ...!" seru pria tua itu sembari memegang lengan tangan seorang SPG lagi untuk menghentikan langkahnya dan menarik lengan seorang SPG itu hingga tubuhnya bersinggungan pada pria tua itu
Reflek seorang SPG menghempaskan tangan pria tua yang dengan mudah main sentuh itu, sembari melotot.
Dasar! lagi-lagi dia menyentuh seenaknya.
"Bisa tidak, anda jangan menyentuh saya lagi!" ujar seorang SPG itu dengan ketus.
"Maaf ... saya hanya ingin menyerahkan ini, ambil saja sebagai tips!" ujarnya lagi sembari menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan kehadapan seorang SPG.
Gila, tuh orang, maksa terus sih dari tadi! sepertinya urat malunya sudah putus, sampai nggak tahu malu.
"Mupeng banget sih tuh orang!" ujar Mira lirih dan memutar bola matanya merasa jengah dengan kelakuan laki-laki itu.
"Maaf, saya tidak bisa menerima uang itu, Pak!" ujar seorang SPG sembari mengatupkan kedua tangan ke depannya.
"Kamu jangan sok jual mahal, saya bisa memberikan apa saja yang kamu butuhkan, jika bersedia menemani saya. gimana?" ujar pria tua itu semakin menjadi-jadi.
"Maaf, Pak. Anda salah sangka, saya di sini bekerja dengan jujur, tolong hormati pekerjaan saya."
"Ada apa ini, Om?" Tiba-tiba datang wanita yang tadi pergi untuk mencoba baju.
__ADS_1
"Ini, Sayang. SPG ini mencoba merayu aku. Tapi kamu tenang saja, aku tidak akan tergoda padanya," kilah pria tua itu berbohong kepada wanitanya.
Seorang SPG itu terlihat membulatkan mata mendengar tuduhan pria tua itu terhadapnya.
"Heh kamu itu hanya seorang SPG, jangan sok kegenitan ya kamu, sama pacar saya!" ujar wanita itu marah-marah.
"Sudah, Sayang. Ayo kita pergi, buang-buang waktu saja dengan memarahinya!" ujar pria tua itu sembari menarik lengan wanitanya menjauh dari tempat itu.
Seorang SPG itu terlihat hampir menangis dan mengelus dadanya.
"Dasar laki-laki hidung belang!" gumam Mira sembari geleng-geleng melihat kelakuan pria tua itu.
Mira mendekati SPG itu. "Mbak, kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya? saya tadi melihat apa yang terjadi dari awal, tadinya saya mau belain Embak!" ujar Mira.
"Saya tidak mau terjadi keributan, Mbak. Nanti saya yang bakalan kena tegur atau bahkan dipecat oleh atasan saya, jika tidak bisa membuktikan kejadian yang sesungguhnya. Saya di sini hanya seorang pekerja, Mbak. Mereka yang punya uang yang berkuasa, saya bisa apa? saya tahu pekerjaan saya sering di pandang sebelah mata dan disalah artikan oleh laki-laki hidung belang seperti itu, Mbak! saya permisi dulu, Mbak," ujar seorang SPG itu kemudian berlalu.
Mira merasa miris, dengan nasib wanita itu padahal sudah dilecehkan oleh pria tadi, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena takut kehilangan pekerjaannya. Mira sendiri merasa bingung, karena SPG itu pun turut andil dalam hal yang menimpanya. Sebab, dia mengenakan pakaian yang sangat minim sehingga mengundang nafsu birahi bagi yang memandangnya. Tetapi, balik lagi pada masalah loyalitas karyawan itu, sebab pakaian yang dikenakan itu adalah seragam kerjanya, jadi pihak tempat kerjanya pun turut besalah jika karyawannya mendapat perlakuan yang tidak pantas. Sehingga akhlak seorang wanita itu dipertaruhkan.
"Ada apa, Mbak?" tanya Gina dan Shesa yang baru kembali setelah memilih baju di tempat yang lain.
"Tadi ada om-om hidung belang, padahal sudah sama wanitanya, tapi masih juga berusaha cari mangsa lain. Huhh ...," ujar Mira kesal sembari membuang kasar napasnya.
"Wah, yang mana, Mbak?" tanya Gina penasaran dengan sosok yang tadi mengganggu Mira.
"Udah pergi sama wanitanya tadi! kasihan mbaknya yang dilecehkan dan difitnah tadi" ujar Mira kemudian menggamit lengan tangan Gina dan juga Sesha menuju kassa.
Sesampainya di depan menuju kassa, ternyata terjadi antrean panjang. Sudah hal biasa hal itu terjadi jika sedang weekend.
"Gin, Sha ... aku mau ke sana sebentar ya? ada yang kelupaan mau aku beli," ujar Mira kepada kedua temannya.
"Iya, Mbak. Perlu ditemenin nggak?" tanya Gina menawarkan diri.
"Nggak usah! cuma bentar, Kok!" kilah Mira tidak ingin mereka ikut.
"Okey, Mbak. Buruan, ya?"
"Iya, Beres!" ujar Mira kemudian beranjak pergi menjauh menuju tempat yang ingin dia tuju.
Sesampainya di bagian counter yang berisi berbagai macam kerudung dan khimar, Mira melihat-lihat yang mungkin cocok untuknya. Mira menuju deretan kerudung segiempat dengan berbagai motif yang cukup menarik.
Mira seolah tidak percaya jika ternyata dengan kerudung itu wajahnya lebih terlihat nice dan sejuk dipandang mata. Ada perasaan nyaman di dalam hatinya.
"Cantik lho, Mbak!" ujar seseorang dari samping.
Mira sedikit kaget, kemudian menoleh ke arah seseorang di sampingnya.
"Eh ... Bu, silahkan kalau mau bercermin!" ujar Mira sembari bergeser, kemudian memberi kesempatan bagi seorang perempuan tersebut dan anak-anaknya untuk bercermin.
"Terima kasih ya, Mbak!" ujar seorang wanita dengan dua orang anak itu.
"Sama-sama, Bu!" ujar Mira sembari mengulas senyum manisnya.
Mira kembali memilih motif kerudung yang lain yang kemungkinan cocok dan menarik untuk dirinya.
"Nah, cantik kan kalau memakai kerudung?" ujar ibunya saat anaknya mematut hijab di depan cermin.
"Bunda, kenapa harus memakai hijab terus sih nanti aku gerah?" tanya salah satu anaknya yang masih kecil, yang kurang lebih umurnya sekitar tujuh tahun.
"Tidak, Sayang. Nanti lama-lama juga akan terbiasa! menutup aurat itu wajib bagi muslimah, dan rambut ini adalah aurat kita. Dengan memakai hijab, bisa menjaga aurat kita dari orang yang berniat jahat terhadap tubuh kita. Wanita itu istimewa, Sayang. Namun, sesuatu yang istimewa ini bukan untuk diperlihatkan kepada sembarang orang. Hanya yang menjadi mahram kita yang boleh melihatnya. Kakak mengerti maksud Bunda, kan?" tanya sang ibu pada anaknya yang sudah agak besar.
"Iya, Bunda. Di sekolah Ustadzah juga menjelaskan jika seorang anak perempuan melangkahkan kaki ke luar rumah tanpa menutup auratnya, maka satu langkah seorang ayah mendekat kepada derasnya api neraka. Memangnya Adek mau, kalau ayah masuk ke dalam api neraka karena Adek tidak menutup aurat?" tanya sang kakak kepada adeknya.
"Nggak mau ... adek sayang Ayah. Adek mau pakai hijab, Bunda!" ujar anak kecil itu pada bundanya.
"Iya, Sayang. Pinter anak salihahnya Bunda!" ujar sang ibu itu kemudian memeluk sang anak.
Mira merasa bagaikan di sambar petir disiang bolong. Dia merasa miris dengan nasib ayahnya kelak saat di akhirat. Dia yang sudah dewasa namun seolah menutup mata jika ada himbauan untuk berhijab. Bahkan ajakan dari Reyna saja diabaikan. Reyna sempat memberinya sebuah kerudung di hari ulang tahun Mira. Namun, hingga saat ini Mira belum pernah memakainya.
Mira merasa sangat bodoh karena mengabaikan yang demikian itu. Selama ini yang dia ketahui berpenampilan menarik adalah yang fashionable dan up-to-date tanpa memperhatikan apakah pakaian itu menutup auratnya atau justru memperlihatkan bagian-bagian yang harus ditutup rapat-rapat.
Mira melihat pada dirinya saat ini, dia seoalah risih dengan tubuhnya yang seolah-olah sedang telanjang meski dia memakai baju.
"Bunda, kenapa kakak itu tidak memakai hijab?"
Terdengar suara anak tadi yang membuat Mira kembali menoleh pada ibu dan anak tadi berada.
__ADS_1
Deg.
Anak kecil itu menunjuk ke arahnya. Mira semakin merasa tak punya harga diri lagi di depan ibu dan anak-anaknya itu.
"Coba lihat, Kakak itu sedang memilih kerudung. Nanti kalau sudah punya kerudung pasti akan dipakai, Sayang. Adek pilih-pilih dulu kerudungnya sama Kakak dulu ya, Bunda mau ngobrol dulu sama kakak yang itu!" titah sang bunda pada anaknya. Kemudian anak itu mengangguk dan pergi pada deretan hijab anak untuk hunting hijab yang di maunya.
Sementara sang ibu berjalan ke arah Mira. "Maafkan anak saya ya, Mbak! dia masih belum mengerti untuk menahan ucapannya," ujar sang ibu.
"Tidak apa-apa, Bu. Anak anda sangat pintar. Justru saya merasa bersyukur sekali karena telah diingatkan. Dengan mendengarkan obrolan anda dan anak anda tadi pikiran saya kembali terbuka untuk hal yang positif dan memantapkan hati untuk berhijrah. Selama ini saya mengabaikan hal itu, padahal saya tahu jika seorang muslimah diwajibkan untuk berhijab. Saya malu sekali karena anak-anak anda jauh lebih baik dibanding saya yang sudah dewasa," tutur Mira apa-adanya.
"Alhamdulillah, semoga Istiqomah ya mbak? saya turut senang mendengarnya. Niatkan hijrahnya karena Allah, maka Allah akan memberikan balasan sesuai dengan niat hijrah itu. Jika Allah meridhoi, sesuatu yang berniat baik maka akan mendapatkan balasan yang baik pula untuk kedepannya," tutur ibu itu sembari menepuk pelan bahu Mira. "Dan tidak ada manusia yang sempurna, karena kesempurnaan hanya milik Allah. Kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaiki diri dan selalu taat kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya."
"Terima kasih, Bu, atas nasehatnya. Boleh saya sedikit bertanya, Bu?"
"Sama-sama, Mbak. Bertanya apa?" ibu itu balik bertanya.
"Saya tadi melihat ada seorang SPG yang di lecehkan oleh seorang laki-laki hidung belang. SPG itu hanya pasrah tidak berani menyangkal saat laki-laki itu berkata pada pacarnya, jika SPG itulah yang merayunya. SPG itu hanya diam saja karena takut akan dipecat oleh atasannya, jika membuat keributan. Terlebih dia tidak memiliki bukti. Menurut ibu bagaimana tentang hal itu?"
"Em, kalau menurut saya wanita itu dalam situasi yang merugikan bagi dirinya sendiri. Sebab-akibat, Mbak. Jadi adanya tindak pelecehan itu juga di sebabkan karena akhlak laki-laki itu yang kurang baik, dan sebab SPG itu mengenakan pakaian yang mengundang perhatian atau memunculkan nafsu syahwat, dan tempatnya bekerja turut andil juga karena memfasilitasi seragam kerja dengan model yang menampilkan kemolekan tubuh sehingga mengakibatkan situasi yang mendukung untuk terjadinya pelecehan seksual."
"Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran, dan menasehati supaya menetapi kesabaran," tutur ibu itu panjang lebar.
"Terima kasih atas pencerahannya, ya, Bu? saya sangat senang bisa bertemu dengan anda. Jujur saja melihat anda dan anak-anak anda saat ini saya merasa risih dan malu dengan penampilan saya. Ingin rasanya segera pulang ke rumah dan segera menutup aurat saya," ungkap Mira jujur dengan yang saat ini dia rasakan.
"Alhamdulillah, malu yang anda rasakan itu adalah reaksi yang positif di awal anda berniat untuk hijrah. Hati nurani anda sedang menunjukkan rasa ketidaknyamanan karena anda belum menutup aurat. Kedepannya mungkin akan ada godaan yang membuat hati meragu, tetaplah bersabar dengan segala cobaan ya, Mbak. Berpasrahlah dengan ketetapan Allah," ujar ibu itu.
"Baik, Bu. Semoga suatu saat nanti saya bisa bertemu dengan anda lagi. Saya permisi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Mira.
"Aamiin ... wa'alaikumussalam!"
Mira membawa beberapa hijab yang dibelinya, kemudian membayarnya ke kassa.
Gina dan Sesha sudah menunggu di dekat pintu ke luar menyambutnya.
"Dari mana aja sih, Mbak. Lama banget?" tanya Gina pada Mira.
"Maaf ya, tadi ketemu sama salah seorang ibu yang sangat menginspirasi sekali. Jadi kelamaan ngobrol sampai lupa waktu," tutur Mira.
"Menginspirasi apa cerita dong, Mbak?" tanya Sesha.
"Besok deh gue cerita, sekarang gue pengen buru-buru pulang nih. Yok buruan!" ujar Mira kemudian menggamit kedua temannya tersebut.
****
Sesampainya di rumah Mira segera membuka almari dan mencari paper bag yang berisi scraft bermotif indah yang dulu pernah Reyna berikan kepadanya sebagai kado ulang tahun. Di bukanya paper bag tersebut, kemudian diambilnya scraft itu. Ada sesuatu yang terjatuh saat dia mengambil scraft itu. Mira kemudian mengambilnya dan ternyata sebuah amplop dengan kartu ucapan di dalamnya. Dibukanya kartu ucapan itu dan di bacanya.
...๐๐Yakinlah ada sesuatu yang menantimu setelah sekian banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit....
...๐Barakallah Mira ๐๐๐...
"Astaghfirullah, Reyna. Kenapa aku baru lihat ini sekarang sih. Aku jadi kangen banget sama kamu Reyn!" ujar Mira sembari membuka lipatan scraft dari Reyna.
Mira kemudian mencoba scraft itu di kepalanya. Kerudung itu nampak indah di pakainya.
"Bismillah, ya Allah. Ridhoilah jalan hamba untuk berhijrah ke jalan-Mu dan karena-Mu. Aamiin ...."
___________________Ney-nna________________
...Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamualaikum, Wr.Wb,
Alhamdulillah sudah sampai di penghujung tahun 2021. Selamat menyambut tahun baru 2022 buat Reader's tercinta DDCP. Saya selaku author mengucapkan banyak terima kasih buat pembaca setia yang hingga sampai saat ini masih terus mendukung novel karya saya. Tanpa kalian apalah artinya saya, penulis pemula yang mencoba untuk menorehkan kata-kata yang masih banyak kesalahan di mana-mana. ๐คง Tapi Neyna berharap novel ini bisa bermanfaat bagi reader's maupun sebagai pengingat bagi diri saya pribadi.
...๐Give Away๐๐๐...
Neyna pengen bagi-bagi gift buat 3 orang reader's yang berhasil nangkring di posisi 3 teratas periode ini. Saya tunggu hingga nanti malam di jam 00.00.
Dan ada 3 gift lagi buat pemenang yang bisa memberi ulasan / pendapat terbaik kalian tentang novel saya. Silahkan kirim ulasannya di Grup Chat Neyna. (yang belum masuk bisa masuk ke grup chat ya reader's)
Mohon maaf jika Neyna banyak kesalahan yang tertuang di dalam cerita atau ada yang kurang berkenan dengan alur ceritanya.
Salam sayang Neyna untuk reader's tercinta, ๐
Wassalamu'alaikum, Wr.Wb
__ADS_1