Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kesepakatan Pranikah Raka


__ADS_3

Malam harinya Raka segera mengemasi barang-barangnya dan kembali ke Yogyakarta. Menjelang pagi Raka pulang ke rumah mamanya. Seharusnya Raka masih ada waktu satu hari di Jakarta. Namun, rasanya percuma karena itu tidak akan membuat kisahnya dengan Fely kembali lagi.


Sejak pulang dari Jakarta Rahma dapat melihat kesedihan yang mendalam di wajah putranya. Rahma sudah bisa menduga jika hal itu pasti ada hubungannya dengan Fely.


Rahma merasa prihatin dengan apa yang menimpa putranya. Padahal, rasanya baru kemarin Raka menceritakan tentang cintanya yang berbalas oleh Fely, namun baru sekejap sudah harus berpisah. Mungkinkah mereka tidak berjodoh?Rahma pun ikut pusing jika memikirkan hal itu.


Rahma tidak segera menanyai tentang apa yang terjadi selama di Jakarta. Rahma membiarkan Raka beristirahat terlebih dahulu dan melakukan apa saja yang ingin dilakukan olehnya. Sebab, ketika seseorang sedang patah hati hanya butuh untuk dimengerti dan butuh waktu untuk sendiri.


Ketika paginya saat sarapan, Raka mulai sedikit berbicara, namun tidak seperti biasanya. Mungkin karena suasana hatinya masih galau sehingga tidak berselera untuk mengobrol.


"Ka, kamu nggak pulang ke rumah nggak di cariin sama kakekkmu?" tanya mama Raka hati-hati.


"Kakek tahunya aku masih di Jakarta, Ma. Kan aku pulang lebih awal!" ujar Raka menjawab pertanyaan.


"Ma, rumah ini aku renovasi ya?" tanya Raka kemudian menyuap kembali makanannya.


"Mau direnovasi buat apa? toh yang nempatin cuma Mama sendiri, mendingan kamu bangun rumah untuk masa depanmu, jadi ketika kamu menikah nanti bisa menempati rumah sendiri," tutur mama menasehati.


"Aku kalau udah nikah maunya Mama ikut tinggal sama aku, Ma. Karena itulah mending aku renovasi aja rumah Mama, rumah ini punya banyak kenangan buat Raka dengan Mama," tutur Raka yang membuat suasana tiba-tiba terasa sendu.


"Memangnya mau kamu ubah seperti apa rumah Mama?" tanya Rahma yang ingin tahu.


"Raka cuma pengen menambah satu kamar dalam waktu dekat ini. Boleh kan ya, Ma?" tanya Raka dengan sedikit memohon.


Rahma mengernyitkan dahi merasa sedikit heran dengan permintaan Raka. "Mau dipakai siapa kamarnya nanti?"

__ADS_1


"Maura," jawab Raka singkat.


"Kamu jadi mau menikahi Maura?" tanya Rahma yang ingin tahu.


Raka mengangguk mengiyakan.


"Kamu sudah bertemu dengan Fely? bagaimana keadaan Fely?" tanya Rahma yang penasaran dengan keadaan Fely.


"Fely marah banget sama aku, Ma. Dia nggak ngasih aku kesempatan untuk menjelaskan kenapa aku harus menikahi Maura. Tapi aku sadar bahwa aku memang salah dan sudah sangat mengecewakan dia, sehingga aku pantas untuk diperlakukan seperti itu!" ujar Raka dengan suara tercekat menahan rasa sedih di dalam hatinya.


Rahma mengelus lengan atas putranya untuk memberi kekuatan. "Sabar ya, Nak. Mungkin memang belum jodohnya sama Fely. Jodoh itu rahasia Allah, kita tidak tahu rencana Allah ke depan dengan memisahkan kalian yang saling mencintai. Dan yang seperti itu banyak, saling mencintai namun tidak bisa saling memiliki. Terkadang memang apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan keinginan. Namun, apa yang kita dapatkan itu bisa jadi adalah hal yang terbaik untuk kita. Do'akan saja semoga Fely akan mendapatkan kebahagiaannya," tutur Rahma mencoba untuk berpikir positif dengan takdir Allah.


"Iya, Ma. Raka hanya mencoba memprioritaskan mana yang saat ini lebih membutuhkan bantuan dari Raka. Raka tahu jika tanpa Raka Fely masih tetap baik-baik saja dan bisa jadi akan mendapatkan yang lebih baik dari Raka. Namun, berbeda dengan Maura. Jika saat ini Raka tidak menolongnya banyak kejadian yang akan lebih buruk menimpa dirinya, bukankah nasibnya sungguh malang saat ini. Raka hanya berusaha untuk menolongnya, Ma," tutur Raka dengan pendapatnya.


Rahma mengangguk sedih sembari mengusap punggung tangan anaknya.


Maura baru saja datang bersama mamanya. Raka sudah menunggunya sejak lima belas yang lalu di sebuah rumah makan.


"Selamat sore, Raka. Maaf ya menunggu lama?" ujar mama Maura.


"Sore, Tante. Silakan duduk!" ucap Raka dengan sopan.


Maura hanya tersenyum ke arah Raka begitu pun dengan Raka yang kemudian menundukkan kepala satu kali.


Setelah memesan menu yang diinginkan, mama Maura menanyakan tentang apa tujuan Raka mengajak mereka bertemu.

__ADS_1


"Nak Raka, apa kita akan membahas untuk persiapan pernikahan kalian, Nak?" tanya mama Maura membuka obrolan.


"Tidak, Tante. Untuk acara pernikahan saya serahkan hal itu kepada kakek dan anak buahnya. Yang akan saya bahas di sini adalah tujuan saya menikahi Maura dan rencana kedepannya nanti ketika kita sudah menikah. Hal ini penting saya katakan kepada Tante sebagai wali dari keluarga Maura, sebab tidak mungkin bagi saya untuk mengatakan hal ini kepada papanya Maura yang kondisi jantungnya sedang tidak baik. Untuk hal itu saya serahkan kepada Tante dan Maura untuk menyampaikan dengan hati-hati kepada suami anda," ujar Raka menjelaskan perihal mengundang mereka untuk bertemu.


"Baik, katakan Raka!" ujar mama Maura.


"Tante tentu tahu jika Maura hamil akibat diperkosa oleh rekan bisnisnya di Singapura, bukan?" tanya Raka hati-hati.


Mama Maura memandang ke arah anaknya dengan terkejut.


"Raka sudah tahu, Ma. Raka mencari tahu tentang Maura dan Maura sudah mengatakan semuanya sejujur-jujurnya kepada Raka," ujar Maura dengan lirih.


Mama Maura terlihat menghela napasnya dengan berat, kemudian mengangguk pasrah sebab tidak mungkin juga untuk menutupinya.


"Benar, Nak Raka. Tante mohon jangan katakan hal itu pada kakekmu. Kami tidak mempunyai solusi lain selain meminta bantuan kepada kalian," tutur mama Maura yang sudah hampir menangis mengingat nasib keluarganya yang sedang diujung tanduk.


"Saya akan tetap menikahi Maura, Tante. Tapi tujuan Raka hanya untuk menolong kalian, dan setelah menikah nanti saya mau Maura tinggal di rumah mama saya, Mama kandung saya. Tante masih ingat bukan, jika Raka ini anak dari istri siri papa saya?" ujar Raka mengingatkan tentang latar belakang keluarganya yang pasti diketahui orang tua Maura karena mereka dulu sudah berteman baik dengan keluarga Raka sejak istri pertama papanya masih hidup.


Mama Raka mengangguk. "Tapi kenapa harus tinggal di sana, Raka. Jika tidak bisa tinggal di rumah kakekmu, kalian bisa tinggal di rumah kami?" tanya mama Maura.


"Karena harusnya Raka tidak menikahi Maura, Tante. Di rahim Maura ada janin dari laki-laki lain, dan menurut islam, wanita hamil di luar nikah itu hukumnya haram untuk dicampuri hingga dia melahirkan. Karena itulah saya dan Maura tidak akan tinggal di kamar yang sama. Di rumah kakek kondisinya tidak akan memungkinkan, begitu juga di rumah Tante. Bagaimana dengan suami Tante jika tahu kami tidak sekamar dan jarang pulang?" tutur Raka menjelaskan panjang lebar.


"Maura ...," ucap mama Maura menangis sembari memeluk anaknya.


Dia merasa sedih karena anaknya harus menjalani pernikahan seperti itu dengan Raka.

__ADS_1


...___________Ney-nna__________...


__ADS_2