
Sore itu Reyna berpamitan dengan penghuni pondok pesantren. Tiga bulan bukanlah waktu yang sebentar, dan di sinilah Reyna memulai menorehkan kisah-kisah yang baru dalam ingatannya. Baginya penghuni ponpes adalah keluarganya. Banyak yang telah dia dapatkan selama tinggal di tempat ini. Selain memperoleh ilmu agama, Reyna juga belajar berbagi, saling tolong menolong, dan gotong royong. Semua saling bahu membahu ketika menghadapi masalah.
"Bu, Reyna pamit ya, Bu. Ibu jaga kesehatan, kalau sudah capek memasak istirahat dulu. Reyna pasti akan sangat merindukan Ibu!" tutur Reyna dengan terisak di pelukan bu Salamah, seolah tak rela meninggalkan sang ibu yang sudah dianggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Iya, Reyn. Semoga kamu dan janinmu sehat hingga lahiran nanti. Ibu do'akan pernikahanmu langgeng hingga tua dan maut memisahkan kalian. Ibu pasti juga akan merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik dan semoga kamu terhindar dari hal-hal buruk. Jika ada kesempatan main-main ke pondok ya, Reyn?" tutur bu Salamah juga dengan deraian air mata.
"Iya, Bu. InsyaAllah Reyna akan usahakan!" tutur Reyna sembari mengurai pelukannya.
Reyna dikelilingi oleh orang-orang yang baik selama tinggal di pesantren. Sejak awal datang, bu Salamah adalah orang yang paling berjasa karena telah mengurusnya dan merawatnya ketika dia sakit. Bu Salamah bahkan memperlakukan Reyna selayaknya anak kandungnya sendiri.
Perpisahannya semakin mengharu ketika santriwati yang lain ikut menangis melepas kepergian Reyna. Meilani dan Lala adalah yang paling merasa kehilangan. Meilani adalah santriwati yang paling sering membantu bu Salamah dan Reyna, sehingga dia cukup dekat dengan Reyna. Sedangkan Lala harus rela tetap tinggal di pesantren demi menuntut ilmu sesuai dengan tujuannya datang ke pondok pesantren ini pertama kali. Meskipun Abiyu menawarinya untuk kembali ke Jogja, namun Lala bersikukuh ingin tetap di pesantren.
"Lan, ingatkan Ibu untuk banyak beristirahat. Aku titipkan Ibu padamu. Kamu harus lebih rajin bantu Ibu ke pasar buat gantiin aku!" pesan Reyna sembari memeluk Meilani.
"Iya, Mbak. Mbak Reyna juga jaga kesehatan, ya? Nanti kalau debaynya sudah lahir dan agak besar harus dibawa main ke pondok. Kan selama Mbak Reyna ngidam aku yang diminta beli-beli ... sama, Ummi! Aku tuh penasaran nanti debaynya mirip aku apa engga gitu, Mbak!" jawab Meilani dengan candaannya.
"Ehh.. gimana sih kamu, Lan? Pasti mirip bapak ibunya lah, ikut andil pas prosesnya aja enggak, mau sok-sokan pengen dimiripin wajahnya juga!" timpal bu Salamah sembari tertawa mengejek.
Hal itu mengundang tawa bagi yang lainnya.
Sedangkan di tempat berbeda, Abiyu menyalami Ustadz Maulana dan Ustadz Fadhil untuk berpamitan sekaligus berterima kasih karena sudah berbaik hati menolong istrinya. Abiyu menitipkan sebuah amplop tebal yang berisi uang untuk pengembangan pondok pesantren.
Seusai berpamitan Reyna dan Abiyu menaiki mobil dan pergi meninggalkan pelataran pondok pesantren. Mobil segera melaju menuju Yogyakarta tempat tinggal mereka.
__ADS_1
****
Hampir dua jam berkendara akhirnya mereka sampai di rumah mereka. Dengan perlahan Reyna turun dari dalam mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti suaminya. Meskipun merasa asing dengan laki-laki yang dikatakan menjadi suami keduanya dan asing dengan rumah ini, namun Reyna berusaha untuk mempercayai Abiyu sebagai orang yang baik.
Abiyu menggenggam tangan Reyna untuk masuk ke dalam rumah. Terlihat foto pernikahan mereka dan foto seorang anak laki-laki yang terpasang di didinding ruang tengah. Namun, tetap saja Reyna tidak dapat memunculkan moment pernikahan yang dilihatnya di dalam foto tersebut dalam ingatannya. Dan yang paling menyedihkan dia sama sekali tidak mengingat anak laki-laki itu.
Ya Allah aku ini ibu macam apa yang tidak bisa mengingat anak kandungku sendiri! batin Reyna sendu sembari menatap pada foto sang anak.
"Reyn..., " panggil Abiyu saat Reyna berhenti di depan foto anaknya.
"Apa anak ini yang bernama Reynand?" tanya Reyna sembari meraba foto anaknya itu.
"Iya, Reyn. Kamu tidak mengingatnya?" tanya Abiyu sembari mensejajari berdiri di samping Reyna.
Reyna tidak menjawab dan hanya menggeleng, kemudian melihat ke arah Abiyu dengan tatapan sendu.
Reyna mengulas senyum tipis dan mengangguk kecil kepada Abiyu. Sikap Abiyu yang lembut membuatnya merasa tenang dan nyaman berada di samping laki-laki itu. Abiyu kembali menggenggam tangan Reyna untuk melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka.
"Reyn, ini kamar kita," ujar Abiyu sembari membuka pintu kamar dan masuk ke dalam.
Reyna mulai membelalakkan mata tatkala menyadari jika dia nantinya harus tidur di kamar yang sama dengan laki-laki yang baru saja di kenalnya sebagai suami keduanya. Hal itu tentu membuatnya merasa canggung.
"Kita satu kamar?" Reflek kata itu terlontar begitu saja dari mulut Reyna.
__ADS_1
Abiyu menoleh ke arah Reyna dan memandang bingung dengan pertanyaan yang ke luar dari mulut istrinya.
Bukankah sah saja sepasang suami istri tidur satu kamar. Kenapa Reyna bertanya seperti itu? Apa kita harus tidur di kamar yang berbeda? batin Abiyu yang bertanya-tanya.
"Apa kamu keberatan jika tidur di kamar yang sama dengan aku?" tanya Abiyu memastikan.
Reyna ingin sekali menjawab iya. Tapi, saat dia teringat akan kata-kata seorang ustadzah dalam kajian yang diikutinya di pondok pesantren waktu itu, yang mengatakan Rasulullah bersabda, "Apabila seorang istri menghindari tempat tidur suaminya di malam hari, maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi hari"
Hal itu membuat Reyna mengurungkan niatnya untuk mengatakan keinginannya agar tidur terpisah dengan Abiyu.
"Em... tidak-tidak. Bu-bukan aku keberatan, ta-tapi akau hanya belum terbiasa saja, maaf!" ujar Reyna dengan gugup.
Namun, dari gelagat yang ditunjukkan oleh istrinya Abiyu menyadari jika Reyna merasa canggung untuk satu kamar dengannya.
"Jika kamu merasa tidak nyaman aku akan tidur di kamar sebelah!" ucap Abiyu yang dengan sabar mencoba mengerti akan istrinya.
"Tidak, Kak. Kita tetap satu kamar saja. Aku harus belajar untuk membiasakan diri dengan kak Abi, kan? Tolong maafkan aku...!" ucap Reyna merasa bersalah.
Abiyu berjalan mendekat ke arah istrinya sembari berkata, "Jangan khawatirkan apapun aku tidak akan meminta sesuatu darimu jika tanpa kerelaanmu. Sekarang kamu bisa bersih-bersih dan mengganti bajumu. Aku akan ke luar sebentar. "
Seusai mengatakan hal itu, kemudian Abiyu ke luar dari dalam kamarnya setelah mengusap lembut pipi istrinya.
Reyna tersenyum sembari memegang pipinya yang tadi di sentuh oleh Abiyu. Dipandangnya punggung sang suami hingga menghilang di balik pintu kamarnya.
__ADS_1
Sungguh laki-laki yang sabar dan sangat pengertian! gumam Reyna di dalam hati.
..._________________Ney-nna__________________...