
Malam semakin larut tamu-tamu undangan sudah banyak yang meninggalkan gedung resepsi. Mira melihat ke arah suaminya yang masih asyik mengobrol bersama teman-temannya. Padahal Mira sudah sangat capek dan ingin segera pulang.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundak Mira dari belakang. Mira sedikit kaget, kemudian ia segera menoleh ke belakang.
"Opa ...!" pekik Mira lega, ternyata yang menepuk bahunya barusan adalah opanya.
"Mobil sudah siap, ayo kita pulang!" tutur opa Mira.
"Suami aku gimana, Opa? tuh ... dia masih ngobrol sama temen-temennya!" jawab Mira sembari memandang ke arah suaminya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
"Ya sudah kamu ke mobil dulu, masalah suamimu biar Opa yang urus. Kamu langsung menuju ke lobby saja, mobilnya ada di depan, yang lain juga sudah menunggu di sana!" tutur opa Mira.
"Terima kasih, Opa. Opa emang paling mengerti kalau Mira udah cape banget dan pengen segera pulang! ya udah, Mira tinggal ya, Opa?" tutur Mira sembari beranjak berdiri.
"Iya ... sudah sana buruan!" titah opa.
Mira segera pergi menuju depan gedung. Melihat mamanya yang melambaikan tangan ke arahnya, kemudian Mira segera menuju ke mobil om Rudi.
"Kamu, ke mana aja, Mir. Lama banget!" tutur mama sembari membukakan pintu mobil untuk Mira.
"Tadi nungguin Dipa, Ma. Masih ngobrol sama temen-temennya. Aku pikir Mama sama Oma masih di ruang transit pengantin, gak taunya udah ngejogrok di mobil. Tau gitu tadi Mira ikut Mama aja," tutur Mira sembari melepas sepatu heelsnya yang terasa menyiksa karena lama berdiri untuk menyalami tamu-tamu yang datang.
"Ya udah kita pulang duluan aja, nanti Dipa sama Opa biar nyusulin di belakang," tutur mama Mira. "Tutup lagi, pintunya!" titah mama Mira.
Mira mbenarkan posisi duduknya, kemudian menutup pintu mobilnya.
"Oke deh, Ma. Yuk jalan, Om!" tutur Mira kepada Rudi yang sudah standby duduk di depan kemudi untuk tancap gas,
"Oke, meluncur! bismillah ...," tutur Rudi seraya menyalakan mesin mobilnya. Mobil pun melaju menuju jalanan ibu kota.
"Mira uda cape banget nih, Ma! udah gitu perut Mira rasanya nggak nyaman," adu Mira sembari meraba perutnya yang rata, namun terasa kurang nyaman.
__ADS_1
"Kamu laper?" tanya mama Mira.
"Enggak kok, Ma! cuma kaya gak enak aja dipakai duduk, pengen rebahan. Mungkin karena kelamaan duduk kali, ya?" ujar Mira, kemudian menyandarkan badannya pada bahu mamanya.
"Ishh ... berat banget kamu, Mir. Kaya badan kamu kecil aja, Mama nggak kuat nih! orang badanmu sama badan Mama masih besaran badan kamu, juga!" gerutu mama dengan bawelnya.
"Mbak, nikmati saja selagi Miranya masih di Jakarta, bentar lagi kan di boyong sama suaminya ke Yogya, nanti Mbak Mirna pasti merasa kehilangan Mira!" ujar istri Rudi yang ikut menimpali.
"Emangnya sama Dipa udah dibilangin bakal di bawa tinggal di Yogya, Mir? Mama pikir kalian bakal tinggal di rumah, jeng Shinta," tutur mama Mira.
"Ya enggak lah, Ma. Suami aku kan kerja di Yogya, apalagi Dipa udah punya rumah sendiri. Rumahnya unik lhoh, Ma. dapurnya di ruangan terbuka dekat dengan taman, rumahnya adem, pokoknya bikin betah di rumah. Awalnya Mira takjub waktu diajak ke rumahnya pertama kali, gak taunya itu rumah emang rezeki Mira! Alhamdulillah Allah emang paling mengerti!" tutur Mira sembari mengingat-ingat saat singgah di rumah Dipa setelah kabur dari acara akad nikah Abiyu dan Reyna di Yogya.
"Eh, Mama kaya ngerasa kecolongan nih! kapan kamu pergi ke Yogya? ke rumah laki-laki lagi! jangan-jangan kalian ada sesuatu ya dulunya? nggak macem-macem, kan?" ujar mama memberondong dengan banyak pertanyaan sembari netranya memicing tajam ke arah Mira.
"Eh, Mama jangan suudzon dulu, dong. Aku dulu pas acara akad nikah kak Abiyu dan Reyna, nggak bakalan gitu juga kali, Ma. Mira tuh nggak mungkin macam-macam sama Dipa, dulu itu situasinya berbeda, sangat berbeda dan aku pun bingung kenapa akhirnya bisa menikah sama dia. Kalau dipikir-pikir bener-bener aneh. Pokoknya ceritanya panjang deh, Ma. Yang jelas kita nggak macem-macem, sumpah deh!" tutur Mira sembari memperlihatkan dua jari.
"Hm, ya udah. Jadinya Mama bakalan sendirian terus dong ya, di rumah!" tutur mama dengan sendu.
****
Sesampainya di rumah Mira segera menuju ke dalam kamarnya. Mira segera mandi agar badannya yang terasa lengket menjadi segar kembali.
Saat sedang melepas bajunya Mira melihat noda kemerahan pada segitiga bermudanya.
Mira terkejut dengan membelalakkan mata dan mulut terbuka saat menjembreng benda itu sejajar pada pandangan mata.
"Ya ampun ... kenapa ke luarnya sekaraaang!" seru Mira sembari memukul-mukul tembok kamar mandi.
Mira merasa sangat kecewa karena hal itu. Pasalnya hari ini adalah malam pertamanya sebagai pengantin baru. Padahal kebanyakan orang akan bercerita tentang malam pertamanya yang manis dan tidak terlupakan. Tapi, kali ini pupus sudah harapan Mira untuk memberikan manisnya kehidupan setelah sekian lama berpuasa selama masa lajangnya. Mira harus menelan ludah karena tidak bisa memberikan kesan pertama yang baik bagi suaminya.
Seusai mandi, dengan kepala tertunduk Mira keluar dari kamar mandi. Mira duduk di meja riasnya dengan lesu sembari berpangku tangan tanpa melihat ke arah lain di kamarnya, hingga tidak menyadari jika Dipa sudah berada di dalam kamar.
__ADS_1
Dipa menatap heran kepada istrinya itu yang terlihat murung saat keluar dari kamar mandi.
Dipa menduga jika Mira mungkin sedang marah padanyaa karena tadi terlalu asyik mengobrol dengan temannya seusai acara berlangsung.
Dipa lantas mendekat ke arah meja rias di mana istrinya duduk.
"Mir, maaf ya! sungguh aku benar-benar minta maaf! aku nggak bermaksud membuatmu menunggu lama!" tutur Dipa merasa menyesal.
"Kenapa kamu yang meminta maaf? harusnya tuh aku yang minta maaf!" tutur Mira dengan sendu.
"Kenapa kamu harus meminta maaf sama aku, Mir? kan aku yang salah!" tutur Dipa bersikeras.
"Kamu salah apa? jelas-jelas ini karena aku yang tidak bisa!" tutur Mira.
"Tidak bisa apa? menunggu? aku justru yang harusnya tidak membuatmu menunggu terlalu lama! aku mengaku salah kok, Mir!" tutur Dipa lagi.
"Emangnya kamu bisa apa? ini tuh sudah kehendak Allah, kita bisa apa?" tutur Mira bersikeras ini bukan kesalahan Dipa.
"Apanya yang kehendak Allah, kan aku yang membuat kamu menunggu lama tadi waktu di gedung! aku benar-benar minta maaf tadi harusnya aku tahu diri jika kamu udah lama nungguin aku buat pulang ke rumah, kan? sekali lagi aku minta maaf ya?" tutur Dipa dengan penuh penyesalan.
" ...."
Mendengar hal itu pun Mira terbengong.
Jadi yang dari tadi di bahas itu kejadian saat mau pulang tadi? astaghfirullah kenapa aku jadi salah faham. Oon banget ya aku, kan aku juga belum ngasih tahu jika aku mendadak kedatangan tamu bulanan! gumam Mira di dalam hati merasa lucu karena perdebatan barusan.
"Maaf, ya!" ucap Dipa kemudian memeluk Mira.
Ya ampun aku uda berpikirnya ke arah sana aja! bakal malu banget nih kalau Dipa tahu maksudku tadi! batin Mira sembari menahan tawa.
...___________Ney-nna____________...
__ADS_1