
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, Rangga dan Reyna semakin mesra saja. Reza yang tau anaknya enggan berjauhan dengan istrinya, akhirnya mengalah memutuskan untuk kembali pulang mengelola perusahaan cabang Solo. Sedangkan Rangga membantu kakek di Jakarta.
"By, ayo jalan-jalan ke luar!" Rengek Reyna.
Dahi Rangga berkerut, akhir-akhir ini Reyna selalu mengajak ke luar malam. Dan akhirnya membeli jajanan ini itu. Padahal tadi waktu makan malam, Reyna makan cukup banyak dan lahap. Mungkin karena akhir-akhir ini banyak ngemil bentuk tubuhnya mulai sedikit berisi. Tapi hal itu justru membuat Rangga semakin senang karena Reyna terlihat menggemaskan. Bahkan Reyna lebih bergairah saat di atas ranjang.
"Mau jalan-jalan ke mana, Sayang?" tanya Rangga saat mereka sudah di dalam mobil.
"Gak tau, jalan aja dulu!" Rangga akhirnya menuruti kemauan istrinya, biasanya tujuan awalnya nggak tentu, tapi jika Reyna menemukan jajanan yang tiba-tiba ia minati pasti akan minta berhenti. Meskipun itu di pinggir jalan.
Selama ini Reyna tidak pernah meminta yang aneh-aneh atau yang mahal-mahal. Tapi yang sekiranya ia suka namun yang ia butuhkan, sehingga sesuatu yang di minta adalah sesuatu yang tepat guna.
"By, pelan-pelan, berhenti di sana!" Reyna menunjuk deretan penjual jajanan di lahan khusus untuk para penjual jajanan menjajakan dagangannya. Tempatnya cukup ramai didatangi para pengunjung yang sedang mencari kudapan. Karena di sana ada beragam jajanan yang di tawarkan. Seperti siomay, martabak, bakso, boba drink, dan masih banyak lagi yang lainnya. Perlahan Rangga menepikan mobilnya di tepi jalan.
"By, beliin martabak manis yah?" rengek Reyna saat mobil sudah terparkir, sambil menggenggam lengan tangan Rangga bak anak kecil yang merengek meminta mainan.
Rangga melirik ke arah gerobak martabak, masih ada lima orang yang mengantre.
"Iya, Sayang. Aku kesana dulu ya, kamu tunggu aja di mobil," ucap Rangga sambil menoleh ke arah Reyna.
"Aku pengen ikut, By!"
"Aku mau lihat prosesnya!" ujar Reyna, memohon.
"Tapi, di sana masih ada lima antrean, Sayang. Nanti lama berdirinya, mendingan aku aja yang antre," bujuk Rangga.
"Aku nggak apa-apa kok, By. Dulu aku terbiasa berdiri berjam-jam saat jadi SPG," ujar Reyna.
"Kamu pernah jadi SPG?" Rangga sedikit terkejut. Rupanya banyak yang tidak ia ketahui tentang masa lalu Reyna.
"Iya...kaget ya denger aku pernah jadi SPG?" ucap Reyna tersenyum mengenang masa-masa dahulu ketika ia harus mendapatkan uang tambahan dengan bekerja sambilan.
Orangtua Reyna bukanlah orang kaya yang bisa dengan gampangnya memberinya uang. Namun Reyna tidak pernah mengeluh hal itu justru menjadikan Reyna lebih mandiri. Jika menginginkan sesuatu, ia akan berusaha untuk menabung dari uang sakunya.
Orangtuanya tidak pernah menyuruhnya mencari kerja sambilan, hal itu adalah murni keinginan Reyna sendiri. Saat liburan semester Reyna biasanya mencari kerja sambilan. Terkadang ia mendaftar sebagai SPG untuk event bazar di pusat perbelanjaan. Perolehannya cukup lumayan untuk mengisi tabungannya, bagi seorang mahasiswa biasa sepertinya.
"Dulu kakiku sampai lecet waktu di awal-awal kerja. Karena berjam-jam menggunakan sepatu heels, sampai kalo pulang aku tempeli koyo di tumit aku. Maklum sih, sepatu murahan... hhhahaha!" Reyna tertawa mengenang perjuangannya dulu.
"Ohya.. aku nggak nyangka kamu sampai harus kerja keras begitu, Sayang." Rangga nampak kagum terhadap istrinya.
"Dulu itu aku paling nggak suka dandan tebel. Tapi aturan di sana ternyata sangatlah ketat untuk masalah make up. Saat akan masuk ke lokasi, akan dicek terlebih dulu, riasannya musti komplit dan bibir harus yang benar-benar merah. Aku bahkan sempet disuruh balik touch up, gegara lipstiknya kurang tebel. Untungnya waktu itu satpam perempuannya baik. Aku langsung dikasih pinjem lipstiknya jadi nggak perlu balik ke loker, "Reyna memandang ke arah depan kembali mengingat saat-saat itu, "Dan apesnya aku kebagian patner yang kurang menyenangkan. Padahal aku udah berusaha keras supaya laku banyak, tp pas cek stock banyak barang yang hilang. Gak taunya patner aku orangnya kleptomania."
Reyna sedih mengingat pengalaman pertamanya menjadi SPG.
"Kok bisa, bukannya ada penjagaan ketat ya harusnya? Trus kamu gimana, kena imbasnya nggak?" tanya Rangga.
"Waktu itu belum ketahuan. Aku sampai nggak dapat apa-apa gara-gara musti dipotong buat ganti barang yang hilang."
__ADS_1
"Aku taunya dari temen aku yang masih lanjut magang di sana. Aku kan sempet kapok nggak mau lanjut. Dan kata temenku itu, patner aku ketahuan bekerjasama dengan orang luar," ungkap Reyna.
"Kasihan banget sih kamu, Sayang." Rangga membelai kepala istrinya lembut.
"Udah yuk turun, tuh tinggal satu orang, By!" Reyna memandang ke arah gerobak martabak.
"Ya udah, ayok!" akhirnya mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan bergandengan diatas trotoar menuju gerobak penjual martabak manis.
"Pak martabak manisnya satu box ya?" ucap Rangga kepada penjual martabak.
"Oh... iya, Mas. Mau pakai toping apa, Mas?" tanya si abang penjual martabak.
Rangga menoleh ke arah istrinya, "Mau toping apa, Sayang?"
"Emm...selai coklat bertabur kacang ya, Bang," ujar Reyna.
"Iya, Mbak, Mas silakan duduk dulu!" si abang memanaskan teflon kemudian menuangkan adonan diatasnya berwarna hijau.
"Bang, itu kok martabaknya warna hijau rasa apa?" tanya Reyna penasaran, dari tadi matanya tak lepas memperhatikan si abang penjual saat membuat martabaknya.
"Rasanya sama saja, Mbak. Cuma lebih harum aromanya karna ini pewarnanya pakai daun pandan segar," ujar si abang sambil memperlihatkan adonannya yang berada di wadah besar dan agak tinggi.
"Wah, itu adonannya sebanyak itu nanti bisa habis, Bang?" Reyna heran melihat banyaknya adonannya.
"Alhamdulillah Mbak, sebelum jam 9 malam biasanya sudah habis," ucap si abang.
Di belakang ternyata sudah ada yang mengantre tiga orang.
"Ini, Mbak pesanannya," si abang menyerahkan satu kotak martabak manis kepada Reyna.
Kemudian Rangga memberikan selembar uang kepada si abang.
"Terima kasih..!" ucap Reyna tersenyum senang. Seperti tak sabar untuk segera menyantapnya. Rangga hanya geleng-geleng kepala karena merasa lucu, semudah itukah untuk membahagiakan istrinya.
Sesampainya di mobil Rangga langsung melajukan mobilnya menuju jalanan. Reyna langsung membuka bungkusan martabaknya.
"By, aku cicipi dulu ya!" Rangga hanya tersenyum sambil mengangguk.
""Emm, enaknya pas.. nggak kemanisan juga nggak enek," satu potong dilahap Reyna dalam sekejap.
"Mau cobain nggak,By?" Reyna menyodorkan sepotong martabak manis ke depan muka Rangga.
Melihat istrinya yang begitu lahap Rangga menjadi tergoda ingin merasakannya juga. Rangga melirik sejenak ke arah suapan Reyna dan menggigitnya sepotong.
"Iya enak, beda dari yang biasanya, Sayang." Rangga berkomentar setelah merasai satu suap martabak manis.
"Emmh..ini sih enak banget. Pantesan di sana sampai antre gitu, kebayar sudah dengan rasanya yang enak," Reyna menghabiskan sisa suapan yang tadi diberikan kepada Rangga. Rangga hanya tersenyum gemas melihat Reyna yang asyik mengunyah tanpa henti.
__ADS_1
Namun Rangga jadi mengeryit heran ketika, lagi-lagi Reyna mengambil potongan demi potongan kue ke dalam mulutnya. 'Emangnya muat smua dihabiskan!'
Rangga membelokkan mobilnya dan berhenti di pelataran minimarket.
"Ehh...kenapa berhenti di sini, By?" Reyna beralih melihat sekitarnya dan menghentikan makannya.
Rangga menjangkau tengkuk Reyna dan mencondongkan tubuhnya mendekat. Reyna sempat terkejut, pasalnya di depan minimarket ada banyak orang. Dan ternyata...
Rangga mengusap bekas coklat di mulut Reyna dengan ibu jarinya, "Kamu belepotan, Sayang,"
"Ouhh... terima kasih, By," Reyna mengambil tisyu dan membersihkan kembali sisa-sisa belepotan yang ada di sekitar mulutnya.
Rangga mengangguk, "Aku belikan minum dulu, kamu pasti haus, Sayang."
Rangga kemudian turun dari mobil dan masuk ke minimarket. Reyna, bersyukur suaminya sangat perhatian. Tak berapa lama Rangga terlihat kembali ke luar dari minimarket, tetapi seperti sedang berbicara di telpon. Reyna membereskan kotak martabak yang masih tersisa satu potong, nanti akan ia berikan pada suaminya.
Rangga terlihat berjalan mendekat dan masuk ke dalam mobil.
"Ada apa, By?" tanya Reyna ketika Rangga sudah duduk di dalam mobil.
Rangga menyerahkan sebotol air mineral kepada Reyna, "Minum dulu, Sayang."
"Terima kasih, By. Maaf kuenya cuma tersisa satu potong," Reyna menyerahkan bungkusan kue.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kamu habiskan saja, aku sudah kenyang," Rangga mengambil satu potong kue, kemudian ia arahkan ke depan mulut Reyna, "Aa.."
Akhirnya kuenya tandas di perut Reyna semua, "Yah... jadi aku yang habisin semua dong, By."
Rangga menjawil pipi Reyna yang semakin chubby, "Lihat kamu makan dengan lahap saja, aku sudah bahagia, Sayang."
"Ahh... jadi kamu bahagia kalau aku gendut, By. Oya, barusan telpon dari siapa?" tanya Reyna.
"Mau gendut, kamu tetep cantik," Rangga mengusap kepala istrinya gemas, "Itu barusan Papi telpon, besok aku harus gantiin Papi ke Surabaya."
"Berapa hari?" tanya Reyna.
"Dua atau tiga hari, Sayang. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal beberapa hari?"
"Ini kan bagian dari pekerjaan kamu, By. Di rumah kan ada kakek dan nenek, kamu jangan khawatirkan aku, By," Reyna memeluk Rangga erat. Ia harus memberikan semangat agar suaminya bisa tenang saat bekerja.
***
Dua hari tlah berlalu, hari ini Rangga sudah bisa pulang dari Surabaya. Namun ia tidak akan memberi tahu Reyna terlebih dulu. Ia ingin memberikan kejutan untuk istrinya itu. Setelah sampai di bandara Rangga berniat akan langsung ke ruko menjemput Reyna. Namun saat ia akan keluar dari bandara ia seperti melihat wanita yang sangat mirip dengan istrinya berjalan cepat sambil menarik koper ditangannya. Masuk ke dalam gate keberangkatan dan sedang berbicara dengan laki-laki di sampingnya. Wajah laki-laki itu tidak asing bagi Rangga.
Itu kan Abiyu! Reyna mau kemana sama laki-laki itu!
"Reyna... ! Reyn, Reyna... ! Reyna.. !" teriak Rangga. Namun Reyna terus berlalu tidak mendengar teriakannya.
__ADS_1