Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Jalan Terjal Menuju Halal.


__ADS_3

"Sekarang bagaimana, Raka? tanya Rahma dengan cemas akan keadaan putranya.


"Ma. Mama yang tenang, ya? Raka akan berusaha agar kedepannya kita bisa kembali hidup dengan lebih baik meski tanpa harta kekayaan dari, Kakek," ujar Raka sembari merengkuh bahu mamanya yang terlihat gelisah.


"Mama tidak mempermasalahkan tentang kita yang akan hidup sederhana, Raka. Karena, Mama sudah terbiasa hidup susah. Tapi, Mama sangat mencemaskan mu. Mama khawatir dengan pernikahanmu nanti. Apakah keluarga Fely bisa menerima keadaan mu sekarang yang hanya Raka seorang anak dari wanita miskin seperti, Mama?" tutur Rahma dengan sendu.


Raka segera menenggelamkan mamanya ke dalam pelukannya. "Ma, percayakan semuanya sama Raka! setahu Fely Raka hanyalah anak Mama yang bukan orang berada, bukankah ini sesuai dengan apa yang aku sampaikan kepadanya," ucap Raka seraya mengusap punggung mamanya untuk menenangkan.


Setelah beberapa saat Raka mengajak mamanya berbicara. Raka memberitahu mamanya jika sesungguhnya dia tengah merintis usaha tanpa sepengetahuan kakek. Usahanya masih dibilang industri kecil dan untuk mengelolanya agar bisa berkembang dia membutuhkan asupan dana yang cukup banyak. Raka perlu mencari pihak investor yang mau menanamkan modalnya pada perusahaan yang sedang dirintisnya.


"Lantas apa rencana mu sekarang, Ka?" tanya Rahma penasaran dengan apa yang akan dilakukan putranya.


"Raka akan mencoba membujuk para kolega yang Raka kenal untuk menanamkan modalnya di perusahaan Raka, Ma. Raka juga akan mencari pekerjaan di perusahaan besar agar Raka memperoleh penghasilan setiap bulannya untuk mencukupi kebutuhan kita sehari-hari. Jika mengandalkan uang hasil usaha yang Raka rintis, pasti tidak akan cukup karena keuntungannya masih relatif rendah. Dan, uang simpanan Raka pun lama-lama akan habis," tutur Raka.


"Baiklah, Mama akan mendoakan yang terbaik untukmu, Nak. Semoga kedepannya kamu bisa sukses dengan hasil keringatmu sendiri."


Rahma sangat bangga melihat putranya yang rela melepaskan kemewahan dari kakeknya dan bertekad untuk bangkit dengan kemampuannya sendiri. Berbeda sekali dengan papanya dahulu yang lebih memilih untuk menelantarkannya agar tidak dicoret sebagai ahli waris dari Wirya Subrata.


"Aamiin. Doa Mama adalah sumber kekuatan terbesar bagi Raka. Raka sangat bersyukur terlahir sebagai anak Mama, meski Mama bukan orang kaya tapi Mama telah mewariskan sifat rendah hati dan cinta kasih yang tiada tara kepada Raka, sehingga Raka tidak tumbuh sebagai sosok yang sombong dan arogan. Sebab, kemewahan tidak bisa menjamin hidup kita akan bahagia tanpa adanya dukungan dari orang yang kita cintai dan mencintai kita."


"Kamu memang anak Mama. Mama bangga padamu, Raka!" tutur Rahma seraya kembali memeluk putranya dengan derai air mata haru, seorang ibu yang dengan bangga telah berhasil mendidik anaknya menjadi pribadi yang baik, dan menempatkannya sebagai sosok yang penting dalam hidupnya.


"Ma, Raka akan ke KUA dulu untuk mendaftar sekaligus melengkapi syarat-syarat yang diperlukan untuk akad nikahnya nanti. Setelahnya Raka akan mencoba untuk mencari kerja dan mencari investor untuk perusahaan Raka. Mama doakan semoga semuanya berjalan dengan baik ya, Ma?" ujar Raka setelah melerai pelukannya.


"Tentu, Sayang. Bergegaslah! Mama yakin kamu pasti bisa Raka!" ujar Rahma menyemangati putranya.


Raka mengangguk sembari tersenyum ke arah mamanya. Kemudian, segera bersiap-siap untuk pergi. Saat tepat berada di depan gantungan kunci dia baru mengingat jika dia sudah tidak memiliki mobil yang selama ini menemani ke mana pun dia pergi.


Tangannya yang sempat terulur untuk menjangkau kunci mobilnya pun kembali dia turunkan sembari tersenyum getir ke arah mamanya yang masih setia mengekori langkahnya.


Rahma berjalan mendekat ke arah gantungan kunci dan segera mengambil kunci motornya. "Nih, pakai saja motor, Mama! meskipun butut tapi masih bisa dipakai untuk mengantar mu pada tujuanmu," ujar Rahma.


"Terima kasih, Ma!" ucap Raka seraya mengambil kunci motor dari tangan mamanya, kemudian segera menaiki sepeda motor matic keluaran lama yang dimiliki mamanya itu.

__ADS_1


Sebelum pergi Raka mencium punggung tangan mamanya.


"Berangkatlah, Raka. Hati-hati di jalan, ya? tidak usah ngebut!" ujar Rahma menasehati seraya tersenyum ke arah putranya yang terlihat senang menaiki motornya.


"Iya, Ma. Assalamu'alaikum," ucap Raka.


"Wa'alaikumussalam."


****


Berhari-hari Raka disibukkan dengan mempersiapkan rencana pernikahannya. Untuk akad nikahnya nanti akan digelar di rumah Fely secara sederhana dan hanya mengundang kerabat dekatnya saja.


"Fe, maaf ... untuk saat ini aku tidak bisa mengadakan acara resepsi yang mewah untukmu," ujar Raka dengan lirih saat berkunjung ke rumah Fely untuk membicarakan rencana pernikahan mereka.


"Raka, aku sudah pernah menikah dengan acara yang cukup meriah sebelumnya. Tapi, indahnya pernikahan itu hanya sekejap saja. Aku tidak peduli dengan acara pernikahan yang mewah, yang terpenting adalah sah di mata hukum dan negara. Dan, aku berharap pernikahanku kali ini diberkahi oleh Allah sebagai sarana ibadah panjang ku kepada-Nya, yang bisa membuatku merasakan menjadi seorang istri sepenuhnya, ibu dari anak-anaknya dan menua bersama hingga maut memisahkan," tutur Fely dengan mantap.


Raka seketika terkesima dengan jawaban Fely yang membuat hatinya menghangat. Betapa beruntungnya dia, karena Allah menghadirkan sosok wanita seperti Fely yang mau menerima dia apa adanya. Disaat dia tidak memiliki apa-apa, justru Allah mendekatkan jodohnya pada wanita yang sejak lama diharapkannya untuk menjadi pendamping hidupnya, yaitu wanita yang tulus mencintainya.


"Terima kasih karena kamu mau mengerti dengan kondisiku dan mau menerima aku apa adanya, Fe. Aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia hidup bersama denganku," tutur Raka.


"Aamiin, semoga diijabah oleh Allah," ujar Fely sembari tersenyum.


*****


Disela-sela mengurus persiapan pernikahannya, Raka juga sibuk mencari pekerjaan dan pihak investor yang mau menanamkan modalnya pada usaha yang sedang dirintisnya.


Namun, ternyata hal itu sangat sulit. Sebab, kolega yang dikenalnya menolak untuk menanamkan modal di perusahaan Raka dan tidak ada yang mau memperkerjakan Raka di perusahaan mereka. Meski mereka tahu bahwa Raka mempunyai kemampuan memimpin yang cukup baik.


Raka pun merasa sangat kecewa terhadap sikap mereka yang tidak mau membantunya, padahal dulu saat mengelola perusahaan kakeknya, Raka menjadi salah satu investor yang cukup loyal dalam membantu menyuplay dana, sehingga perusahaan mereka dapat berkembang dan maju seperti sekarang.


Raka pun menaruh curiga atas kekompakan mereka yang telah menolak memberi bantuan. Raka mendesak beberapa koleganya yang dikenal baik untuk mengatakan alasan mereka menolak Raka. Kemudian, salah seorang dari mereka mengaku bahwa mereka melakukan hal itu akibat ancaman dari kakeknya. Kakek Raka akan menjatuhkan perusahaan mereka jika sampai ketahuan membantu Raka.


Raka benar-benar merasa kesal pada kakeknya yang tega melakukan hal itu kepadanya. Kakek tidak hanya mencoretnya sebagai ahli waris, tapi kakek juga telah mempersulitnya untuk mengembangkan usahanya.

__ADS_1


****


"Assalamu'alaikum," ucap Raka dengan langkah gontai memasuki rumah mamanya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Rahma dari dalam ruang tengah.


"Papa ...!" seru suara anak kecil yang tengah berlari kecil menghampirinya.


"Hai boy, dengan siapa ke mari?" tanya Raka sembari menangkap anak itu kemudian menggondangnya.


"Cama Oma, Pah," jawab anak laki-laki itu dengan mulut mungilnya yang nampak lucu.


Raka kemudian berjalan masuk menuju ruang tengah di mana mama dan mertuanya berada.


"Apa kabar, Raka?" ujar mama Maura menyapa.


"Baik, Ma. Papa nggak ikut?" tanya Raka usai menyalami ibu mertuanya tersebut.


"Papa masih di kantor. Sejak tadi malam Rama merengek ingin main ke sini. Padahal Mama sangat sibuk hari ini, akhirnya sore baru bisa mengantarnya ke sini," ujar mama Maura menceritakan cucunya yang ingin diantar bertemu Raka.


"Rama ingin bermain dengan Papa? kalau begitu nanti malam menginap di sini saja, ya? nanti kita main bersama," tutur Raka pada bocah kecil dalam gendongannya.


"Ama mau bobok cini, Oma! mau bobok cini boyeh!" celoteh anak itu pada omanya.


"Iya, Sayang. Tentu saja boleh," ujar mama Maura.


"Hoyeee ...!" seru Rama kecil dengan gembira.


Mama Maura ikut tertawa senang melihat cucunya terlihat riang. "Oh ya, selamat Raka, Mamamu tadi sempat bercerita jika kamu akan segera menikah, kan? Mama turut bahagia mendengarnya. Mama doakan semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar."


"Terima kasih, Ma. Mama dan Papa harus datang ya, saat akad nikahku nanti," ujar Raka mengundang mertuanya untuk hadir menyaksikan pernikahan ke duanya.


"Tentu, Raka. Kami pasti akan datang."

__ADS_1


...___________Ney-nna__________...


__ADS_2