
"Lhoh, Fe. Raka mau ke mana?" tanya bunda Maya yang juga melihat saat Raka sudah menaiki motornya.
Duh aku harus jawab apa nih ke bunda? padahal aku sendiri pun tak tahu ke mana tujuan suamiku pergi! gumam Fely di dalam hati.
"Emm, barusan ada telepon penting dari temannya, Bun. Sepertinya ada sesuatu yang penting jadi Raka musti buru-buru pergi," jawab Fely.
Meski Fely sendiri tidak tahu suaminya hendak ke mana, namun rasanya dia harus membuat alasan yang sekiranya bisa dimaklumi oleh bunda dan lainnya, demi menjaga nama baik suaminya di hadapan keluarganya.
Tidak dipungkuri bahwa Fely pun sedikit kecewa dengan tindakan Raka barusan. Dia merasa Raka belum bisa terbuka dengannya. Hingga tidak mau jujur ke mana dia harus pergi sepagi ini dan dengan terburu-buru seperti itu.
"Ya udah, yuk sarapan dulu! beritahu nenek untuk ikut sarapan sekarang, Fe!" perintah bunda.
Fely mengangguk lalu mengikuti bunda untuk kembali masuk ke dalam rumah. Seusai memanggil Nenek Arum Fely menuju ke ruang makan dan ternyata yang lainnya sudah berkumpul.
"Lhoh, Fe. Suamimu mana?" tanya Reyna saat melihat Fely hanya datang bersama nenek.
"Lhoh iya, mana kangmas mu?" Nenek ikut menimpali.
"Emm, ada urusan mendadak, Kak, Nek. Ada temannya yang meminta bantuan, sepertinya urusannya sangat penting hingga harus buru-buru pergi," jawab Fely beralasan.
"Sepagi ini?" tanya Abiyu yang sedikit menaruh curiga. Baru dua hari menikah namun sudah menunjukkan hal yang kurang baik, karena dia yakin Fely pasti tidak tahu keberadaan suaminya saat ini.
"Sudah-sudah, ayo makan!" potong bunda agar pembicaraan tidak semakin panjang hingga membuat Fely tersudut. Dan, akhirnya mereka tidak lagi membahas tentang kepergian Raka.
Selesai makan Feli kembali ke kamarnya. Dilihatnya pada handphone tidak ada pesan masuk dari suaminya itu. Fely merasa cemas sekaligus kecewa terhadap Raka yang tidak memberinya kabar sama sekali.
Feli berkali-kali mencoba menghubungi Raka, namun tidak ada jawaban. Feli semakin bingung dan khawatir dengan keadaan Raka saat ini yang entah berada di mana dan mengapa harus pergi terburu-buru meninggalkan rumah hingga melewatkan untuk sarapan bersama, bahkan untuk yang pertama kalinya setelah menikah.
Fely berharap tidak terjadi hal yang buruk pada suaminya. Kehilangan Nabil di saat awal-awal menikah, membuatnya takut dan cemas akan keberadaan Raka saat ini. Semoga hal itu tidak terulang lagi dengan Raka. Dia tidak akan sanggup jika harus kehilangan orang-orang yang dicintainya lagi.
__ADS_1
Tok tok tok.
"Fe, boleh Bunda masuk?" Terdengar suara bunda dari balik pintu.
"Ekhm ... masuk bun!" ujar Fely seraya menoleh ke arah pintu kamar.
Terlihat bunda membuka pintu kemudian berjalan masuk dengan perlahan.
"Fe, apa suamimu sudah memberi kabar?" tanya bunda.
Fely menggelengkan kepalanya dengan malas. "Belum, Bun!"
"Kamu sabar dulu, jangan berprasangka buruk pada suamimu, doakan semoga Raka dalam keadaan baik-baik saja!" tutur bunda menasehati.
Fely menganggukkan kepala patuh. "Iya, Bun!"
"Fe, besok nenek Arum mau balik ke Riau. Truz besoknya lagi rencananya Bunda akan balik ke Jakarta. Seperti rencana awal sebelum kamu pindah ke Yogja waktu itu, setelah kamu menikah Bunda ingin kamu yang mengelola restoran yang di Yogja ini sedangkan kakakmu yang akan menggantikan Bunda untuk mengelola restoran yang ada di Jakarta. Untuk itu Bunda ingin kamu dan Raka tinggal di rumah ini. Sedangkan, kakakmu besok akan ikut Bunda ke Jakarta bersama Reyna dan anak-anaknya juga. Bagaimana menurut kamu?" tanya bunda.
"Kan ada Raka. Bunda yakin Raka akan menjagamu dengan baik. Kamu harus sabar, setiap pernikahan pasti akan ada ketidak cocokan dan perbedaan, tapi itu adalah hal wajar dan pasti terjadi sebagai bumbu-bumbu dalam berumah tangga. Dan, perselisihan itu yang nantinya akan membuat kalian semakin dewasa dalam menyikapi masalah. Kamu harus sabar dalam menghadapinya. Semua masalah pasti ada jan keluarnya. Bunda yakin kalian pasti bisa melaluinya. Jika butuh bantuan kamu kabari Bunda ya?" tutur bunda menasehati.
"Baiklah, Bun. Fely akan berusaha sebaik mungkin, tapi minta kak Abi sesekali berkunjung ya, Bun? untuk mengevaluasi resto," pinta Fely.
"Iya, Sayang. Nanti Bunda bicarakan dengan kakakmu."
Hingga larut malam Raka belum pulang. Raka hanya mengabarinya sekali saja lewat wa, jika belum bisa pulang karena urusannya belum selesai. Perasaan Fely campur aduk antara kesal, cemas dan gelisah.
Segala pikiran buruk bermunculan di otaknya. Namun, dia buru-buru menepisnya. Dalam salatnya dia panjatkan doa, mudah-mudahan suaminya baik-baik saja dan segala urusannya dilancarkan agar bisa segera kembali pulang. Hingga tidak terasa Fely tertidur di kursi ruang tamu.
****
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang dari kejauhan. Fely yang hendak bangkit dari tidurnya merasakan sulit untuk bergerak. Dia mengerjapkan mata demi menyesuaikan dengan cahaya remang-remang yang berada di dalam kamarnya. Kini kesadarannya mulai terkumpul setelah beberapa saat berdiam diri.
Rupanya sebuah tangan kekar melingkar di atas perutnya. Raka sudah pulang, dan tengah tertidur di sampingnya dengan lelapnya. Fely sangat bersyukur sekali melihat hal itu. Setidaknya Raka tidak lupa jika ada istrinya yang menantikan kepulangannya.
Fely merubah posisi tidurnya sehingga kini dia menghadap ke arah suaminya. Segala amarahnya yang sempat berkecamuk di dalam dada seolah sirna akan kerinduannya terhadap suaminya. Dipeluknya tubuh kekar suaminya itu, hingga rasa rindunya terobati. Dan, setitik air mata pun jatuh di pipinya.
Raka merasakan tidurnya terganggu akan aktifitas yang ditimbulkan istrinya. Perlahan-lahan dia membuka mata dan melihat Fely yang tengah memeluk tubuhnya. Dia mengeratkan tangannya untuk memeluk lebih erat istri imutnya itu. dikecupnya kening Fely dengan penuh sayang.
"Kamu sudah bangun, Sayangku!" ucap Raka dengan sedikit mengendurkan pelukannya sembari memandang wajah istrinya.
Fely segera membuat jarak dan melayangkan pukulan pada dada suaminya.
"Jahat! kemarin ke mana aja? lama banget sih perginya!" cerocosnya meluapkan kemarahannya yang kembali muncul.
Raka tersenyum seraya merengkuh Fely ke dalam pelukannya dengan paksa. Dia tahu istrinya pasti akan marah karena dia pulang terlambat. Dia memberi kesempatan agar istrinya mengeluarkan uneg-unegnya terlebih dahulu dengan diam saja dan cukup mendengarkan ketika istrinya tak henti-hentinya mengomel di dalam pelukannya. Dia merasa bersalah karena membuat istrinya harus merasa cemas dan melalui hari yang pastinya tidak menyenangkan setelah kepergiannya kemarin. Dia bertekad akan menjelaskannya nanti seusai melaksanakan salat.
"Sayang, maaf ya udah bikin kamu cemas. Nanti aku jelaskan semuanya, sekarang kita salat dulu! oke?" bujuk Raka berusaha membuat kemarahan istrinya surut.
Setidaknya dengan salat akan membuat hati istrinya lebih tenang dan meredakan amarahnya. Dan, dengan begitu dia juga masih ada waktu untuk memikirkan alasan yang tepat menjelaskan perihal telepon dari Yahya kemarin sehingga dia harus cepat-cepat menuju rumah sakit, hingga harus pulang larut malam.
Beruntung semalam Fely tertidur di ruang tamu. Abiyu lah yang membukakan pintu rumah untuknya. Meskipun dia mendapat tatapan yang tidak menyenangkan dari kakak iparnya itu, tapi Raka memaklumi hal itu, sebab dia memang bersalah dalam hal itu.
Beruntungnya lagi Abiyu tidak mengajak ribut atau menginterogasinya. Abiyu hanya menyuruh untuk membawa Fely masuk ke dalam kamar. Dan memintanya untuk memberi kabar jika memang harus terlambat pulang.
"Lain kali beritahu Fely jika harus pulang larut, dan katakan agar tidak perlu menunggu. Kasihan dari sore dia terus berada di luar menunggu kepulangan mu! sudah bawa dia masuk!" ujar Abiyu dengan nada bicaranya yang sedikit ketus.
"Baik, Mas," jawab Raka sopan, kemudian menggendong Fely menuju ke dalam kamar.
...______Ney-nna_____...
__ADS_1
"