
Sesampainya di Jakarta Fely segara pulang ke rumahnya. Fely memang sengaja tidak menemui bundanya dahulu dan lebih memilih menenangkan diri terlebih dahulu di kamarnya yang sudah cukup lama tidak dia tempati.
Banyak waktu yang terkuras untuk berpikir keras akhir-akhir ini, membuatnya kurang tidur. Namun, ketika menginjakkan kaki di rumahnya, seolah-olah dia menemukan kembali kenyamanan hidup yang sempat hilang, terutama karena ingin segera bertemu dengan bunda.
Seusai melaksanakan salat dhuhur, Fely segera membaringkan diri di kasurnya yang ternyaman.
Flashback On.
Tok tok tok.
"Fe, kamu sudah tidur?" tanya Reyna dari balik pintu.
Fely yang saat itu masih terjaga segera menoleh ke arah pintu.
"Masuk aja, Kak!" tutur Fely.
Reyna pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
"Fe, apa dia sudah menghubungimu?" tanya Reyna.
"Aku nggak tahu, Kak! handphone aku matikan dari kemaren! bahkan dia juga nggak ngejar kita kan kemaren, mungkin dia lebih mementingkan perasaan wanita yang di jodohkan dengannya itu ketimbang aku!" tutur Fely dengan kesal.
"Fe, bisa jadi ini kesalahpahaman. Berdasarkan pengalaman Kakak, terkadang apa yang kita dengar, atau apa yang kita lihat dengan mata kita sekalipun itu belum tentu benar dengan apa yang sesungguhnya terjadi," tutur Reyna menasehati agar Fely tidak mengalami apa yang dulu pernah dialaminya saat diawal pernikahan dengan Rangga, hanya karena kesalahpahaman hingga membuat ke duanya nyaris berpisah.
"Kalau dia memang lebih memilih aku, kenapa dia nggak ngejar aku untuk menjelaskan dan malah memilih untuk tetap tinggal ketimbang mengatakan yang sesungguhnya terjadi, Kak?" keluh Fely yang merasa kesal karen Raka tidak berusaha untuk mengejarnya.
"Kita belum tahu apa alasan yang sesungguhnya terjadi dari pihak Raka, Fe," tutur Reyna.
"Lantas untuk apa dia harus repot-repot mempertahankan pernikahan siri itu jika sudah ada wanita lain yang dipilihkan oleh keluarganya, harusnya dia tinggal menalak aku saja dan semua selesai," tutur Fely yang merasa sangat kesal.
"Fe, jangan mengambil keputusan selagi dalam keadaan marah. Sebaiknya kamu menenangkan dirimu terlebih dahulu dan segera selesaikan masalah kalian. Jika pernikahan siri kalian benar-benar sah, dia berkewajiban untuk meluruskan hal ini. Bukankah kalian menikah dengan disaksikan mamanya? lantas bagaimana keluarganya hendak menjodohkan Raka dengan gadis lain?" tanya Reyna yang belum tahu pasti tentang keluarga Raka.
"Entahlah, Kak. Aku rasa mama Raka sangat baik terhadapku, bahkan merawat ku dengan baik ketika aku sakit. Makanya aku bener-bener shock saat mendengar hal itu, Kak!" tutur Fely yang tidak tahu menahu tentang silsilah keluarga Raka yang sesungguhnya.
"Hubungan kalian terlalu rumit, Fe. Aku merasa bersalah karena tidak memberitahukan hal ini kepada Kak Abi, mungkin saja jika Kak Abi mempertegas Raka agar segera mengitsbat mu dan menjadikan pernikahan kalian sah dimata negara, maka hal ini tidak akan terjadi karena kamu sudah mengantongi status yang sah di mata agama dan negara. Jika seperti ini hubungan kalian seperti abu-abu, tersembunyi dan hanya segelintir orang yang tau," tutur Reyna panjang lebar.
"Kak, bolehkah aku pulang ke Jakarta untuk beberapa saat, Kak? aku kangen sekali ingin bertemu bunda dan menenangkan diri sejenak di sana," tutur Fely.
__ADS_1
"Lantas bagaimana dengan masalahmu dengan Raka?" tanya Reyna.
"Jika dia bersungguh-sungguh kepadaku, dia harusnya tahu di mana harus mencari ku. Bukankah dia tahu di mana rumahku dan keluargaku! jika dia laki-laki yang bertanggung jawab atas janji-janjinya, dia harusnya mendatangi keluargaku dan bukan menjadi pengecut!" tutur Fely dengan mantap.
"Baiklah jika itu sudah menjadi kepustakaan mu. Mintalah Kak Abi untuk mengantarkan mu besok!" tutur Reyna memberi saran.
"Baik Kak," jawab Fely patuh.
"Sekarang tidurlah, Kakak akan mendoakan semoga Allah memberikan petunjuk padamu, agar masalahmu segera terselesaikan," tutur Reyna.
"Aamiin. Terima kasih, Kak. Kakak selalu memahami ku!" tutur Fely sembari memeluk Reyna
Flashback Off.
Tiba-tiba Fely merasa ada yang mengusap lembut kepalanya. Fely segera membuka mata dan melihat bunda yang mengelus lembut rambutnya yang tergerai.
"Bunda!" pekik Fely kaget saat tiba-tiba ada bunda di dalam kamarnya.
"Kenapa tidak memberi tahu Bunda jika kamu hendak pulang, Fe?" tanya bunda yang merasa ada sesuatu yang menyebabkan putrinya pulang secara tiba-tiba.
"Fely pengen kasih bunda kejutan, makanya Fely gak bilang!" tutur Fely sembari beranjak duduk kemudian memeluk bundanya yang sangat dia rindukan.
"Fely baik-baik saja, Bun. Doakan Fely agar selalu dimudahkan dalam setiap urusan ya, Bun?" ujar Fely mencoba untuk menenangkan pikiran bundanya.
"Tentu saja, Fe. Tapi kamu benar tidak sedang ada masalah kan?" tanya bunda memastikan.
"Tidak, Fely baik-baik saja!" ujar Fely berbohong.
Dia tidak ingin menambah kekhawatiran dalam benak bundanya. Namun, dia tahu bahwa ikatan batin seorang ibu itu kuat hingga dapat merasakan kesedihan anaknya tanpa dia katakan.
"Untung kakakmu bilang kalau kamu pulang, makanya Bunda cepet-cepet pulang tadi, tapi sekarang Bunda lega saat sudah melihatmu dalam keadaan baik-baik saja!" tutur bunda dengan tersenyum. "Sekarang bangun dan bergegaslah mandi dan salat. bunda juga mau mandi dulu karena sudah lengket."
Setelah itu bunda ke luar dari kamar Fely. Fely merasa lega karena bunda tidak banyak bertanya. Fely merasa bersalah karena membohongi bunda. Tapi, semua itu dia lakukan demi membuat bunda merasa tenang akan keresahannya.
****
Di kediaman Wirya Subrata.
__ADS_1
Raka yang baru saja pulang kaget saat melihat ada Maura di kamar neneknya. Maura tengah menyuapi neneknya.
"Raka, ayo ke marilah!" tutur nenek saat melihat Raka masih bengong di depan pintu.
Karena sudah ketahuan akhirnya Raka segera mendekat ke arah nenenknya.
"Hai, Raka. Baru pulang ya?" sapa Maura.
"Iya. Maura kamu ada urusan apa ke sini?" tanya Raka.
"Aku hanya ingin menjenguk Nenek. Kata mamaku nenekmu sedang sakit. Makanya aku menyempatkan diri untuk datang menjenguk," tutur Maura.
"Terima kasih ya, Maura. Kamu gadis salihah yang cantik dan sangat baik! nenek akan bahagia jika melihat kalian bahagia" tutur nenek.
"Nenek terlalu memuji. Saya masih banyak kekurangan," tutur Maura mencoba untuk merendah.
Sepertinya nenek menyukai Maura.Ya ampun, aku harus bagaimana? tutur Raka di dalam hati.
"Tidak Maura, kamu memang pantas untuk berdampingan dengan cucuku!" tutur nenek yang sedari tadi ditemani oleh Maura.
"Raka, ini kan gadis yang waktu itu kamu ceritakan kepada nenek?" tanya nenek kepada Raka.
Raka dan Maura sedikit kaget dan seketika berpandangan. Jelas Maura tau pasti itu bukan dia, karena dia baru saja bertemu dengan Raka kemarin. Sedangkan Raka merasa nenek telah salah orang.
"Tidak, Nek. Bukan Maura orangnya yang aku cintai!" tutur Raka jujur agar Maura tahu bahwa Maura tidak akan pernah menggantikan tempat Fely di hatinya.
Bukankah kakek mengijinkannya untuk membuat Maura agar membatalkan perjodohan ini? maka aku akan membuat rencana agar Maura merasa tidak nyaman dan dengan begitu Maura mundur dengan sendirinya! batin Raka.
Drrrt drrtt drrtt.
Tiba-tiba handphone Raka berbunyi. Itu adalah telepon dari orang yang menjadi mata-mata suruhannya.
"Maaf saya permisi untuk mengangkat telepon!" tutur Raka kemudian melangkah ke luar dari kamar nenek.
Raka segera mengangkatnya sembari berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Hallo, bagaimana?" tanya Raka pada mata-mata suruhannya.
__ADS_1
Terdengar mata-mata suruhannya itu menjelaskan panjang lebar temuannya tentang Maura, keluarganya juga kakeknya.
..._________Ney-nna________...