Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2 Tertangkap


__ADS_3

Reyna terbangun dari tidurnya saat sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang dari kejauhan. Ia duduk terdiam mengingat mimpinya barusan. Kepalanya menggeleng dengan perlahan, ia tutup mukanya dengan kedua telapak tangan yang telungkup, kemudian diusapnya mukanya ke atas hingga membelah kedua sisi rambutnya kiri dan kanan.


Enggak, By! Kenapa aku harus menerima orang lain. Aku hanya mau kamu, By! Hanya kamu atau tidak akan ada yang lainnya lagi ... !


Dalam hati Reyna tidak merelakan siapapun menggantikan tempat Rangga di hatinya. Lebih baik sendiri saja dan hanya fokus untuk membesarkan putranya. Dan, lagi-lagi lelehan air mata menetes dari sudut matanya tanpa bisa ia cegah.


"Aku akan tetap bahagia meski hanya sendiri, By. Aku hanya akan fokus untuk membesarkan anak kita. Hanya dengan melihat Reynand tumbuh dengan benar akan membuat ku bahagia. Dan cintaku hanya untukmu, selamanya, By!" gumam Reyna sembari menghapus air matanya dan tersenyum seolah mencoba mentransfer energi positif untuk menyemangati dirinya sendiri meski perih di dalam hatinya.


Ia beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki ke toilet untuk bersih-bersih, kemudian berwudhu. Dikenakannya mukena dan didirikannya salat sunnah dua raka'at kemudian bangkit untuk kembali memulai dua raka'at shalat fardhu untuk menyambut sang fajar.


Seusai shalat tak lupa ia berdzikir dan melantunkan do'a untuk keselamatan dirinya juga anaknya agar tumbuh menjadi anak yang saleh, kemudian berdo'a untuk ayah dan ibunya, suaminya, kakek dan pamannya yang telah lebih dahulu meninggal dunia agar mendapatkan ampunan atas dosa-dosa mereka selama hidup di dunia.


Ia kemudian bangkit untuk melipat mukenanya. Dan, saat itu ternyata Reynand sudah bangun dari tidurnya tanpa menangis. anak itu tengkurap sembari memainkan selimutnya yang bergambar, dengan tema in the jungle. Kedua kakinya berayun-ayun naik turun sangat energic. Mulutnya sesekali mengoceh dengan lucunya.


Reyna tersenyum memandang ke arah putranya. Sesederhana itu lah rasa bahagianya seorang ibu. Hanya dengan melihat tingkah polahnya dan kelucuan seorang anak mampu memberikan kebahagiaan tersendiri bagi sang ibu. Rasa syukur yang teramat sangat ia panjatkan kepada Allah yang telah mempercayakan kepadanya anugerah terindah, dengan memiliki sang buah hati pelipur lara, yang selalu membuatnya bahagia dan bangkit dari keterpurukan saat suaminya harus pergi untuk selama-lamanya.


By, bagiku kamu tetap hidup di dirinya Reynand. Hanya memandang buah hati kita aku bisa mengingatmu selalu. Aku akan bahagia, By. Aku bahagia bersama kenangan kita yang akan kubawa sampai matiku! ujar Reyna dalam hati sembari membawa Reynand kedalam pangkuannya.


****


Seusai membantu menyiapkan makanan Lala bersiap untuk berangkat ke sekolah. Semua berkumpul di meja makan untuk melakukan sarapan. Dan Lala berpamitan.


"Mbak, Lala berangkat dulu ya ke sekolah ...," pamit Lala kepada Reyna.


"Tunggu La. Ikut aku!" Reyna beranjak meninggalkan meja makan dan menuju kamarnya.


Dirogohnya beberapa lembar uang dari dalam dompetnya.


"Nih, uang saku buat kamu!" ujar Reyna sembari menyerahkan lembaran uang berwarna merah ke telapak tangan Lala.


"Untuk apa, Mbak? Aku kan sudah gajian minggu kemarin ...," tanya Lala yang tidak mengerti.


"Buat kebutuhan kamu selama seminggu. Uangmu kan sudah diambil oleh si Jono. Ini untuk pengganti uang jajan buat kamu," ujar Reyna sembari melipat jari-jemari Lala dan mendorongnya ke hadapan gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.


"Ehh ... tidak perlu, Mbak! Masih ada kok uang di ATM. Yang di dompet kan tidak seberapa," ujar Lala memberi alasan.


"Sudah terima saja--- kalau perlu kamu tabung sisanya!" ujar Reyna sembari memegang lengan tangan Lala.


"Makasih ya, Mbak. Mbak sudah banyak membantuku!" Lala memeluk tubuh ramping wanita di depannya.

__ADS_1


"Sama-sama, La. Belajarlah yang rajin dan kejarlah cita-citamu." Reyna mengusap punggung anak itu memberinya kasih sayang.


Ia pernah berada diposisi Lala saat pertama kali datang ke rumah kakek Hadi Jaya. Sehingga ia bisa merasakan apa yang Lala rasakan. Terlebih kondisi Lala jauh lebih rumit dibandingkannya dulu.


"Iya, Mbak. Aku berangkat ya, Mbak?" Lala mencium punggung tangan Reyna untuk salim. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, La!"


Lala berlalu meninggalkan rumah Reyna dengan berjalan kaki menuju halte. Sesaat menunggu bus yang biasanya dinaiki Lala belum juga datang. Pagi ini dia berangkat sedikit mundur dari jam biasanya.


"Apa jangan-jangan busnya sudah berangkat ya?" gumamnya sembari mengecek jam yang melingkar di tangan kirinya. Ia telat lima menit dari waktu biasanya.


Tiba-tiba ada mobil yang berhenti di depannya. Mobil yang tak asing baginya, yang ia kenali sebagai mobilnya Dipa. Dan benar saja, saat kaca mobil bagian depan diturunkan, nampak lah Dipa yang sedang duduk menghadap setir mobilnya.


"Ayo, La. Naik!" ucap Dipa dari dalam mobil.


Lala berdiri mendekat dan merunduk mendekati jendela mobil Dipa.


"Serius Mas, gak ngerepotin?" tanya Lala


"Iya aku anter. Cepet masuk!" titah Dipa.


Lala membuka pintu mobil bagian tengah dan hendak masuk ke dalam. Namun, langkahnya terhenti saat Dipa mencoba mencegahnya.


"Tapi, Mas---" ucapannya terhenti saat Dipa langsung memotong kata-katanya.


"Cepat maju, gak pake lama!" sergah Dipa.


Lala pun dengan cepat menutup pintu bagian tengah dan berpindah ke depan. Setelah pintu tertutup dengan benar Dipa menyalakan mesin mobilnya, kemudian mobil melaju menuju ketengah jalanan.


Dalam beberapa saat keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Dipa fokus pada jalanan, sedangkan Lala melihat pemandangan di luar jendela.


Drrt drrtt drrtt.


Tas Lala bergetar, tanda ada pesan masuk dari handphonenya.


Lala asyik bertukar pesan dengan seseorang lewat handphonenya, sembari mengulas senyum tipis di bibirnya. Hal itu menarik perhatian Dipa untuk mengalihkan pandangannya dari jalanan ke arah handphone Lala.


Dipa terkesiap saat matanya menangkap wallpaper yang terpampang pada layar handphone Lala. Reflek Dipa menepikan mobilnya ke pinggir jalan.

__ADS_1


"E-- ehh, kok ke pinggir sih, Mas? Ada apa, Mas?" seru Lala kaget saat mobil Dipa berhenti di pinggir jalan.


Tangan Dipa terulur ke samping. "Pinjem handphone kamu, La!"


"Handphone? Buat apa?" tanya Lala dengan penuh keheranan.


Lala tak langsung menuruti keinginan Dipa dan mencoba menahan handphonenya agar tetap di genggamannya.


"Cuma pengen lihat wallpaper yang ada di handphone Lo aja kok, La!" ujar Dipa.


Lala mengernyitkan dahi, tapi tak urung ia serahkan juga handphonenya ke hadapan Dipa.


Dipa menerimanya kemudian mengecek pada layar handphone Lala. Dan benar saja, hal itu sesuai dengan prasangkanya.


"I-- ini, kamu Laluna?" tebak Dipa.


Hah ... mas Dipa tau tentang Laluna? Jangan-jangan mas Dipa---


"E-- emm anu, Mas. A-- aku penggemar novel karya kak Laluna, Mas!" kilah Lala.


"Ohh ... maaf, aku pikir beneran kamu penulis yang bernama Laluna itu!" ujar Dipa merasa lega.


Sebab tidak mungkin jika Laluna adalah Lala. Sejauh yang ia tahu Laluna sudah mempunyai seorang anak. Sedangkan Lala, masih sangat muda dan masih sekolah, tidak mungkin jika Laluna itu adalah Lala. Sungguh konyol jika sampai Laluna adalah Lala.


"Tunggu ... mas Dipa sendiri kok bisa tahu soal Laluna?" tanya Lala menelisik, "Mas Dipa pembaca apa penulis?"


"Ahh ... kamu ini, La--- tentu saja aku pembaca. Mana bisa aku menghalu dan menuangkannya dalam cerita. Hehehe ...!"


Dipa tertawa sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan hingga ke tempat tujuan dengan pikiran masing-masing akan hal yang diobrolkan tadi.


****


"Reyn, Jono sudah tertangkap tadi malam dan langsung dibawa ke penjara. Nanti Papi akan ke sana untuk mencari kabar tentang hasil interogasi dari kepolisian," ujar Reza.


"Alhamdulillah, semoga Jono mengakui semuanya ya, Pi!" Reyna merasa bersyukur tentang kabar baik yang ia dengar. "Tapi dari mana Papi mengetahuinya?"


"Emm ... semua itu berkat Abiyu, Reyn," ujar Reza.

__ADS_1


Reyna begitu terkesiap mendengar nama Abiyu disebutkan. "Bagaimana mungkin kak Abi bisa tau, Pi?"


___________________Ney-nna__________________


__ADS_2