
Keesokannya Abiyu menepati janjinya untuk datang membawa uang 300 juta untuk melunasi hutang orang tua Lala. Reza dan Reyna ikut menyaksikannya. Reza membawa seorang pengacara untuk membuat perjanjian hitam di atas putih tentang kesepakatan setelah hutang piutang dilunasi. Dalam surat perjanjian tersebut dinyatakan jika hutang ayah Lala kepada tuan Baskoro sudah lunas dan setelah ini mereka tidak boleh mengganggu Lala maupun ibunya lagi.
Usai ditandatangani oleh kedua belah pihak, masing-masing pihak pertama maupun kedua dibekali masing-masing satu bagian map yang berisi surat perjanjian yang sudah ditandatangani.
Lala menghambur memeluk Reyna dengan penuh haru. Dia merasa sangat senang karena bisa terbebas dari Tuan Baskoro. Dan akhirnya Lala bisa kembali ke rumah Reyna. Sebab ibunya juga harus kembali tinggal di rumah majikannya.
"Mbak, terima kasih banyak ya, berkat Mbak Reyna, Mas Abiyu dan Tuan Reza Lala bisa terbebas dari Tuan Baskoro!" ujar Lala sembari terisak dalam pelukan Reyna.
"Sama-sama, La," ujar Reyna sembari mengusap punggung Lala dengan lembut. "Ayo kita pulang, La!" ujar Reyna sembari melerai pelukannya, kemudian menggenggam tangan Lala penuh kasih seolah pada adik kandungnya sendiri.
Mereka kemudian kembali ke rumah Reyna dengan menaiki mobil Abiyu. Sesampainya di rumah Reyna, Abiyu memohon pamit untuk kembali pulang. Saat Abiyu berjalan menuju mobilnya, Reyna mengikutinya dari belakang.
"Kak ... tunggu!" panggil Reyna pada Abiyu.
Abiyu berbalik, kemudian melihat ke arah Reyna. "Ada apa Reyn?" tanya Abiyu.
"Terima kasih, Kak!" ucap Reyna singkat.
"Terima kasih buat apa?" tanya Abiyu.
"Buat semuanya ...! dan maaf atas sikapku yang kurang baik belakangan ini sama Kakak ...."
Reyna menunduk merasa malu dengan sikapnya yang selama ini kurang baik terhadap Abiyu.
"Tak apa ... aku tahu apa yang kamu rasakan!" Abiyu menjeda kalimatnya sejenak, lalu berkata, "Reyna kumohon menikahlah denganku segera. Aku hanya ingin menjagamu. Tapi, aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi. Sebab waktuku telah habis!" ujar Abiyu mengiba.
"Apa maksud dari perkataanmu, Kak?" tanya Reyna bingung dengan apa yang dikatakan oleh Abiyu barusan.
"Reyna, aku harus menikah segera di bulan ini. Jika tidak bunda akan memintaku untuk menikahi wanita lain. Kumohon menikahlah denganku, Reyna. Aku hanya ingin menjagamu dan menunaikan keinginan terakhir Rangga. Setelah menikah nanti aku tidak akan menuntut apa pun darimu!" tutur Abiyu.
"Aku nggak bisa, Kak. Aku tidak mencintaimu, kak!" tolak Reyna.
__ADS_1
Abiyu memejamkan mata sejenak saat mendengar penolakan dari mulut Reyna. Meskipun ia sudah tahu tentang hal itu, namun saat mendengarnya langsung dari orang yang dia cintai, seakan terasa mengoyak hatinya dan menggoreskan luka yang perih.
"Aku tahu itu, Reyna. Karena hal itu aku tidak akan memintamu untuk melakukan apapun yang dilakukan seorang istri kepada suaminya. Cukup dengan kamu bersedia untuk menikah denganku saja!" tutur Abiyu dengan suara rendahnya.
"Apa kamu yakin, Kak? Sebab, sampai kapan pun aku tidak akan bisa memberimu cinta seorang istri dan tak akan bisa memenuhi hakmu sebagai seorang suami?" tanya Reyna menelisik.
"Aku yakin Reyna ... hanya satu pintaku, tolong berpura-pura lah agar pernikahan kita terlihat normal saat berada di hadapan bunda dan keluarga kita," ujar Abiyu
"Baiklah, Kak. Aku setuju!" akhirnya Reyna menyetujui kesepakatan itu. "Tapi berjanjilah untuk tidak menyentuhku tanpa seijinku setelah kita menikah nanti!" ujar Reyna dengan tegas.
"Oke ... deal!" Abiyu menyepakati.
Nenek yang tadinya hendak mencari Reyna, akhirnya tanpa sengaja ikut mendengarkan obrolan mereka. Nenek menghela napas beratnya mengetahui hal itu. Nenek merasa sedih membayangkan pernikahan seperti apa yang akan mereka jalani nantinya.
Nenek hanya bisa berharap suatu saat Allah akan menggerakkan hati mereka dengan cinta dan kasih sayang layaknya seorang istri terhadap suaminya, agar pernikahan itu menjadikan mereka keluarga dalam arti yang sesungguhnya. Nenek memutuskan untuk kembali masuk ke dalam rumah sembari memegangi kepalanya yang terasa pusing.
****
"Reyna ...!" panggil nenek kepada Reyna yang sedang berdiri memandang ke luar jendela kamarnya.
Reyna berbalik dan memandang ke arah nenek berada saat namanya di sebut. "Iya, Nek?" jawabnya.
"Setelah kamu menikah nanti, nenek akan kembali ke Jakarta ya?" ujar Nenek.
"Mengapa, Nek?" Reyna nampak terkejut dengan penuturan nenek.
"Aku merindukan rumahku. Terlalu banyak kenangan indah di sana. Lagi pula sudah terlalu lama aku meninggalkan rumah. Aku ingin pulang!" tutur nenek.
"Reyna ingin ikut, Nek. Reyna pun merasa rumah Reyna berada di sana, Nek. Banyak hal yang terjadi di rumah itu, Reyna sangat merindukan kediaman kakek!" ujar Reyna.
Nenek mengambil tangan Reyna ke dalam genggamannya, "Kamu hanya akan semakin terpuruk jika tinggal di sana, Reyn. Terlalu banyak kenanganmu bersama dengan Rangga di rumah itu. Kamu akan kembali mengingat Rangga jika kamu tinggal di sana. Tetaplah di sini dan mulailah hidup baru dengan Abiyu. Abiyu adalah pria yang baik Reyna. Belajarlah untuk menyayanginya. Berilah Abiyu kesempatan untuk membahagiakanmu tanpa menggeser tempat Rangga di hatimu!" ujar nenek menasehati.
__ADS_1
Reyna terdiam mencerna kata-kata nenek sembari bergumam di dalam hatinya, 'Reyna, tidak akan bisa membagi cinta untuk laki-laki lain, Nek. Selamanya hanya Rangga yang akan ada di hatiku!'
"Nenek tau itu tidak akan mudah dan perlu banyak waktu untuk saling mencintai. Bukankah dulu awalnya kamu dan Rangga juga tidak mau dinikahkan? buktinya begitu menikah kamu kalian bisa saling mencintai.
"Hal itu berbeda, Nek!" ujar Reyna.
"Ma ... Mama!" panggil Lena kepada mertuanya.
"Ya, sebentar!" seru nenek dari dalam kamar menjawab panggilan dari menantunya.
"Nenek, ke sana dulu ya, Reyn. Pikirkan baik-baik kata-kataku!" nenek beranjak meninggalkan kamar Reyna untuk menemui menantunya.
Reyna hanya mengangguk mengiyakan.
"Hal itu berbeda, Nek. Aku dan Rangga sudah memiliki perasaan cinta dalam diam sebelumnya. Sehingga kita bisa saling mencintai saat kami saling terbuka. Namun, kali ini aku tidak sama sekali mencintai kak Abi. Dan sampai kapan pun cinta Reyna hanya untuk Rangga!" gumam Reyna sendiri saat nenek sudah berlalu pergi.
****
Selama menunggu Abiyu dan Reyna mempersiapkan pernikahan, Reza sering datang ke kantor polisi untuk mengetahui perkembangan kasus kecelakaan yang mengakibatkan kematian Rangga. Putri sudah dihadirkan di kantor polisi dan mengaku jika dia menyuruh Jono alias Parlan untuk membuat Reyna celaka, bukan Rangga.
Berdasarkan pengakuan yang dikatakan oleh Putri, polisi menduga ada pihak lain yang telah menyuruh Parlan untuk mengganti korban. Untuk itu penyidik mendesak Parlan kembali untuk mengakui siapa dalang dari tindakannya mensabotase mobil Rangga. Namun, Parlan menyangkal keterangan yang dilakukan Putri itu tidak benar. Dan mengatakan jika Putri memiliki gangguan kejiwaan.
Papa Putri membela anaknya. Dia meyakinkan jika keterangan Putri sudah benar, sebab meski mengalami depresi atau gangguan psikologis, Putri telah melakukan pengobatan dengan psikiater. Sehingga tidak bisa disebut dengan (ODGJ) Orang Dalam Gangguan Jiwa. Untuk itu penyidik melakukan pemeriksaan khusus terhadap Putri dengan mendatangkan ahli kejiwaan.
____________________Ney-nna_________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
...Give a gift & vote 🌹...
__ADS_1
...Tank you! 🙏💕💕💕...