Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Kedai Minuman.


__ADS_3

"Nggeeeeng... ngeeeng... ciit... ciit..., " ucap Raka saat menirukan suara mobil-mobilan yang sedang dimainkan bersama Rama.


"Pah ... Pah..., Ama mo cucu!" celoteh si kecil Rama meminta susu, seraya menarik-narik ujung kaos yang di kenakan oleh Raka.


"Rama mau minum susu?" Raka mengulang kembali perkataan Rama yang kemudian dijawab dengan anggukan kepala oleh Rama. "Baiklah, ayo kita ke dapur untuk membuat susu!"


Sikecil Rama mengangguk-anggukkan kepala dan melompat-lompat senang. "Hoyee ... Ama mo mimi cucu!"


Sebelumnya, Raka pamit kepada mama Maura dan mamanya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Seharian ke sana-ke mari untuk mencari pekerjaan dan investor membuat badannya terasa lengket dan sangat letih. Raka ingin mandi terlebih dulu agar rasa penatnya sedikit berkurang. Raka membawa serta Rama yang ingin ikut dengannya. Sesampainya di kamar, Raka memberikan mobil-mobilan yang sempat dibelinya untuk Rama, namun belum sempat dia berikan.


Seusai berpakaian mereka kembali bergabung dengan mamanya dan mama Maura yang berada di ruang tengah. Raka menggandeng tangan mungil Rama dan berjalan beriringan menuruni tangga.


"Oma Ama punya mainan balu," ujar Rama kecil kepada omanya.


"Wah mobil-mobilan ya? bagus sekali mobilnya," ujar mama Maura menanggapi.


"Kacih Papa ...," ujar Rama kecil seraya menunjukkan mainannya kepada omanya.


"Sayang, bilang apa sama Papa?" tanya omanya.


"Maacih, Papa!" celotehnya.


"Good, Boy," jawab Raka seraya mengacungkan jari jempolnya, kemudian mengusap pucuk kepalanya.


"Oh ya Ma, Rama mau minum susu katanya, Mama bawa persediaan susu dan botolnya, kan?" tanya Raka kepada mama Maura.


"Tentu dong, sebentar ya, Mama ambil di dalam tas ransel Rama," ujar mama Maura sembari membuka tas Ransel yang berisi perlengkapan cucunya yang wajib untuk dibawa, kemudian mengambil toples berisi susu bubuk dan juga botol susu.


"Ini susu dan botolnya," ujar mama Maura seraya mengulurkan botol dan toples susu ke hadapannya.


"Biar aku aja yang buatkan, Mbak," ujar Rahma sembari menengadahkan tangan meminta toples dan botol susu dari mamanya Maura. "Ayo, Sayang! mau ikut nenek bikin susunya, nggak?" tanyanya.

__ADS_1


Rahma mengulurkan tangannya kehadapan Rama sembari membungkukkan badannya untuk mensejajari tinggi badan si anak.


"Itut, Nenek ...!" Rama kecil segera meraih uluran tangan Rahma, kemudian berdadah-dadah setelah berada pada gendongan.


"Raka, Mamamu bilang Om Wirya menyita seluruh fasilitas yang kamu miliki, ya? kenapa kamu tidak bilang sama Mama dan papa soal ini? mungkin saja papa bisa membantumu, Raka. Bukankah kamu yang dahulu membantu perusahaan kami yang hampir kolaps, sekarang saatnya kami membalas budi atas kebaikanmu, Raka," tutur mama Maura merasa iba dengan hal yang sedang menimpa Raka.


"Enggak, Ma. Sebaiknya Mama dan Papa jangan membantuku, kakek mengancam seluruh kolega yang Raka kenal agar tidak memberikan bantuan kepada Raka, jika kakek mengetahui ada yang membantuku kakek tidak segan-segan menjatuhkan perusahaan mereka. Raka tidak ingin perusahaan papa terkena imbasnya jika ketahuan membantu Raka," tutur Raka panjang lebar menjelaskan kekhawatirannya.


"Astaghfirullah, tega sekali kakekmu itu, Ka. Aku tidak menyangka kakekmu akan tega memperlakukan cucu kandungnya sendiri hingga seperti itu," keluh mama Maura.


Sesampainya di dapur, Rahma mendudukkan Rama di atas kursi, kemudian mulai menyeduh susu untuk Rama. Dia masih bisa mendengar pembicaraan Raka dengan mama Maura. Sebagai seorang ibu dia sangat sedih dengan kesusahan yang dialami putranya.


Astaghfirullah ..., ampuni dosa-dosa kami, ya Allah. Tolong tunjukkan jalan terbaik untuk Raka, gumamnya dalam hati.


Menjelang maghrib, mama Maura berpamitan untuk pulang ke rumahnya. Sedangkan si kecil Rama ngotot ingin menginap, akhirnya mama Maura menitipkan cucunya itu kepada Raka dan mamanya. Meskipun bukan anak kandungnya, namun Raka sangat menyayangi Rama. Rama pun tidak pernah rewel setiap kali menginap di rumah Rahma.


"Ka, Mama tidak menyangka janin yang ada di perut Maura dulu sekarang sudah sebesar ini dan sangat tampan. Jika Maura masih hidup pasti dia sangat senang melihat Rama yang tumbuh sehat dan sangat mirip dengannya," ucap Rahma sembari membelai lembut rambut Rama yang sedang tertidur di atas sofa ruang tengah.


"Raka, Allah pasti mempunyai rencana mengapa kamu harus menikah terlebih dahulu dengan Maura sebelum kamu menikah dengan Fely. Doakan selalu Maura, dia juga istrimu," ujar Rahma pada putranya. "Sekarang bawa dia ke kamar, Mama. Biarkan Rama tidur dengan Mama, Mama merindukan Maura."


Raka mengangguk, kemudian menggendong Rama dan membawanya ke kamar mamanya.


Sejenak Raka terdiam sembari melihat ke arah Mamanya yang tidur sembari memeluk Rama. Setelahnya Raka menutup pintunya dan beranjak hendak menuju ke kamarnya berada.


Namun, saat melewati kamar yang dulu di tempati Maura Raka seketika menghentikan langkahnya sembari menatap pada pintu kamar Maura.


Maura, maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik selama kamu menjadi istriku. Kamu menyimpan perih di hatimu sendirian karena aku, tolong maafkanlah aku. Terima kasih atas kesabaranmu selama ini, maaf aku tidak bisa memberikanmu kebahagiaan, justru kamu telah meninggalkan banyak hal baik setelah kepergian mu, gumam Raka di dalam hati.


Raka kemudian kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya berada.


****

__ADS_1


Siang ini Raka kembali mencari pekerjaan di tempat yang agak jauh dari tempat tinggalnya, tentunya pada perusahaan yang tidak menjalin kerjasama dengan perusahaan kakeknya.


"Maaf Mas Raka, perusahaan kami hanya membuka lowongan kerja untuk fresh graduate dengan posisi staf kantor. Kami tidak mampu memperkerjakan Anda yang mempunyai pengalaman kerja pada posisi teratas. Hal itu tidak sesuai dengan job desk Anda, dan saya tidak akan sanggup untuk membayar gaji yang tinggi kepada Anda," ujar seorang karyawan HRD.


"Emm, baik Pak. Maaf sudah menyita waktu Anda. Saya permisi!" ujar Raka sembari tersenyum getir menjabat tangan karyawan HRD tersebut.


"Sama-sama, Mas. Semoga Anda mendapatkan tempat kerja yang tepat di tempat lain."


"Terima kasih, Pak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Raka ke luar dari perusahaan itu dengan langkah gontai sembari menghela napas beratnya. Rasanya sungguh berat selama tiga hari berputar-putar mencari pekerjaan, namun juga belum ada titik terang.


Raka menghidupkan motornya dan kembali melaju menelusuri teriknya siang. Berjam-jam berkutat di jalanan membuatnya merasa sangat haus. Dia tidak merasakan lapar meski telah melewatkan jam makan siang, yang dia inginkan hanya melepas dahaga yang terasa memanas di kerongkongannya.


Raka berhenti di depan salah satu kedai yang menjajakan minuman dengan aneka rasa. Dia menelan salivanya saat ada pengunjung yang menyeruput cup minuman yang sedang dibawanya.


Slurrpp!


Raka segera melepas helm yang dikenakannya dan beranjak masuk ke dalam kedai tersebut.


"Mbak, mau yang choffee latte satu, ya!" ujar Raka pada penjual minuman kemudian menuju salah satu tempat duduk yang tersedia untuk pengunjung yang ingin minum di tempat.


"Raka ...!" panggil Fely yang sekarang sudah berdiri di hadapannya.


"Fe, kamu di sini juga? sama siapa?" Raka sedikit terkejut sembari melirik ke sekitar, di mana Fely berdiri.


"Aku sendirian, habis beli buku di toko buku sebelah. Kamu nggak kerja?" tanya Fely sembari memperhatikan penampilan Raka yang terlihat kusut dengan kemeja yang sudah ke luar dan lengannya yang dilipat hingga sampai siku. Terlebih saat melihat Raka ketika baru datang dengan menaiki sepeda motor yang baru pertama kali ini dilihatnya.


Sejak tadi Fely duduk di sudut ruangan kedai minuman itu sembari membaca buku yang tadi dibelinya. Dia tidak menduga akan bertemu dengan Raka di tempat ini. Dalam hati Fely bertanya-tanya mengapa Raka bisa ada di tempat ini di jam kerja.

__ADS_1


...___________Ney-nna__________...


__ADS_2