
Setelah mengakhiri sambungan teleponnya dengan salah seorang temannya, Fely ke luar kamar untuk menemui Mira.
"Hai, Mbak Mira," ucapnya seraya berjalan mendatangi ruang tamu.
"Nah ini dia pengantinnya datang. Ngapain aja sih Fe, di kamar mulu," celoteh Mira saat melihat kedatangan Fely.
"Oh itu barusan Fely habis telepon beberapa temen Fely yang cukup dekat untuk hadir di pernikahan aku besok, Mbak. Eh, btw Mbak Mira tambah cantik aja, deh," puji Fely seraya cipika-cipiki dengan Mira.
"Cantik apanya, Fe? pasti mau bilang tambah gendut, kan?" cecar Mira menyadari jika tubuhnya kini kian berisi.
"Hehehe ..., iya sih kelihatan makin aduhai dan comel gitu, Mbak," ujar Fely dengan terkekeh.
"Lagi program hamil ya, Mir?" tanya bunda.
"Iya, Tante. Doakan saja semoga kali ini ikhtiar kami berhasil?" ujar Mira dengan penuh harap.
"Aamiin, Mira. Anggap saja kemarin-kemarin kamu sedang diberikan kesempatan oleh Allah untuk berpacaran dulu diawal pernikahan kalian. Sehingga nanti ketika memiliki anak semuanya sudah siap secara matang," ujar bunda seraya mengelus punggung Mira seolah memberi kekuatan untuk bersabar dengan takdir yang dikehendaki Allah.
"Aamiin ...," ucap Mira sembari menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Oh ya, baju pengantin aku mana, Mbak?" Fely mengalihkan pembicaraan.
"Eh iya, sampai lupa. Nih kamu cobain dulu deh, semoga ukurannya sesuai dengan tubuh kamu, Fe," ujar Mira sembari memberikan box besar yang berisi satu set kebaya putih untuk pengantin perempuan.
"Kebesaran dikit juga gak apa-apa kok, Mbak. Asal tidak kekecilan. Kalau kekecilan musti ditambal gitu? kan nggak lucu jadinya, Mbak," tutur Fely sembari menerima box yang terulur padanya.
"Hahaha ... dikira ban bocor apa pakai ditambal!" tawa Mira pecah.
"Sebelumnya makasih banyak, ya, Mbak?" ujar Fely seraya mengintip sedikit isi dalam boxnya.
"Sama-sama, Fe. Gih dicobain! nggak sabar nih pengen lihat kamu pakai baju pengantinnya," tutur Mira antusias.
"Oke, aku ke kamar dulu ya buat ganti!"
"Buruan, Fe. Setengah jam lagi kamu harus jemput nenek Arum di bandara lhoh!" Bunda kembali mengingatkan Fely yang hendak beranjak pergi menuju kamarnya.
"Iya, Bunda," ucap Fely patuh.
Untuk acara akad kali ini Fely ingin mengenakan gaun berwarna biru pastel warna kesukaannya. Dengan model yang simple namun tetap elegan. Mira juga membawa satu box lagi baju pengantin prianya yang senada dengan gaun yang dikenakan oleh Fely.
"Nenek Arum itu siapa, Tante?" tanya Mira yang baru mendengar nama itu di sebut.
__ADS_1
"Beliau itu bulik ku, Mira. Tepatnya adik dari ibuku. Namanya Arum Sari. Setelah menikah beliau diboyong oleh suaminya merantau ke Riau. Dan setelah lama tidak pulang kampung setelah terakhir kali saat ibuku meninggal, baru kali ini beliau berkunjung kembali," tutur Maya bercerita.
"Alhamdulillah, senang ya Tante kalau punya saudara yang dari jauh mau pulkam," tutur Mira yang juga merindukan oma dan opanya.
"Iya, Mira. Bulikku itu mirip sama ibuku, jadi kalau ketemu sama bulik itu seolah mengobati rasa kangen dengan ibuku," tutur bunda Maya dengan sendu.
"Mir, diminum dulu tehnya," ujar Reyna yang baru muncul dengan membawa empat cangkir teh.
"Iya, Reyn. Nggak usah repot-repot, keluarkan aja semuanya! hehehe ...," celoteh Mira dengan bercanda.
"Ihh ... kebiasaan deh kamu, Mir!" ujar Reyna sembari menurunkan nampan yang berisi cangkir teh ke atas meja, kumudian ikut bergabung bersama dengan mereka.
"Reyn, Alesha nggak kebangun kamu tidurin di kamar? padahal pengen mainan sama ponakan cantik," tutur Mira yang sangat gemas saat melihat ada anak kecil, sayangnya ketika dia datang malah nggak ada semua.
"Enggak dong, dia kalau jam segini pules, Mir. Soalnya ini jam tidurnya, jadi nggak bakalan ngaruh mau kamu seberisik apa," tutur Reyna.
Fely yang sudah berganti baju dengan gaun yang tadi dibawanya, perlahan-lahan ke luar dari dalam dengan langkah anggunnya bak seorang puteri.
"Masyaa Allah cantiknya gaunnya, Fe!" Mira berkomentar dengan mimik muka yang menunjukkan rasa kekagumannya.
"Gaunnya, ya? ah jadi Fely nggak cantik nih? Mbak Mira ih terlalu jujur deh!" ujar Fely dengan cemberut.
"Hahaha ... becanda doang Fe, anaknya Bunda Maya gitu, masa sih nggak cantik, emaknya aja cantik paripurna!" celoteh Mira dengan candaannya.
"Oh ya Fe, ini kan bukan yang pertama buat kamu, nervous gak?" selidik Mira.
"Nervous pasti lah, Mir. Nikahnya kan sama orang yang berbeda," ujar Reyna ikut menanggapi.
"Ihh, mentang-mentang yang udah pengalaman nikah dua kali, bisa aja jawabnya," cecar Mira sembari melirik ke arah Reyna.
"Kenapa? kamu juga pengen nikah dua kali, Mir?" balas Reyna.
"Eh ... amit-amit, jangan dong, Reyn. Aku sih satu kali aja cukup, Reyn," cerocos Mira.
"Enggak lagi haid kan kamu, Fe?" tanya Reyna.
"Enggak, Kak. Fely udah seminggu yang lalu dapat tamunya."
"Emang pas pernikahan pertama kamu dulu lagi haid, Fe? kok sama sih aku dulu waktu nikahan juga lagi haid. Eh, tapi bukanya suami kamu ... meninggal nggak lama dari hari pernikahan kalian, Fe?" ujar Mira dengan hati-hati.
"Iya, Mbak. Emang kenapa?" tanya Fely.
__ADS_1
"Masih segel dong, Reyn?" bisik Mira ditelinga Reyna.
Reyna mengangguk mengiyakan. "Hmm!"
"Apa sih, Mbak Mira? hayoo, bisik-bisik aku denger tauk!" tutur Fely.
"Hehehe ... masyaaAllah beruntung sekali calon suami kamu, Fe. Ntar habis ijab qobul gas aja Fe jangan kasih kendor!" tutur Mira.
"Aaah, Mbak Mira bikin malu aja sih!" ujar Fely seraya berjalan masuk kembali ke dalam kamarnya untuk mengganti baju.
****
"Jadi statusnya single, baguslah sehingga dia bisa fokus dengan pekerjaannya," ujar seorang wanita dengan map ditangannya.
Tok tok tok.
"Masuk!" ujar wanita tersebut.
"Assalamu'alaikum," ucap Raka seraya memasuki ruangan kantor yang kemarin di janjikan oleh papanya Maura.
"Wa'alaikumsalam, Raka ya? mari silakan masuk. Saya Ratih dan sebentar lagi anak saya akan datang. Dia memang agak bandel, tolong sabar dalam membimbingnya!" ujar wanita di hadapannya itu.
"InsyaaAllah, saya akan berusaha sebaik mungkin, Bu," ujar Raka.
"Pagi, Ma. Maaf terlambat! barusan ada urusan bentar sama temen aku," ujar seorang gadis muda yang tiba-tiba masuk ke ruangan kantor direktur tanpa permisi.
"Baiklah, Sayang. Oh ya, kenalkan ini ada Raka, dia yang akan membimbing kamu mulai besok!" ungkap Ratih memperkenalkan Raka pada putrinya. "Dan Raka, kenalkan ini anak saya, Yasmine!"
"Yasmine," ujar gadis muda itu sembari mengulurkan tangan di depan Raka
"Raka," ucap Raka sembari mengatupkan kedua tangannya di depan dada tanpa menjabat uluran tangan dari wanita di depannya.
Yasmine kembali menarik tangannya yang sempat terulur dengan kesal.
Sok suci banget sih ni orang! gumamnya di dalam hati.
"Emm ... maaf, Bu. Saya mohon maaf tiga hari ke depan saya tidak bisa bekerja karena ada kepentingan yang sudah saya agendakan sejak beberapa hari yang lalu. Jika berkenan saya akan mulai bekerja dihari Rabu," tutur Raka.
Ratih dan Yasmine saling berpandangan. Yasmine pribadi justru merasa senang dengan penundaan pembelajarannya. Sebab, sesungguhnya dia tidak ingin kerja di kantor papanya. Namun, keadaan lah yang membuatnya mau tidak mau menuruti keinginan mamanya, yaitu saat papanya tiada dan hanya dialah satu-satunya yang bisa diharapkan oleh mamanya untuk mengelola perusahaan papanya.
Akhirnya Yasmine dan mamanya setuju untuk menundanya tiga hari ke depan. Dan, dengan begitu Yasmine masih bebas untuk melakukan apapun yang disukainya saat tidak perlu berangkat ke kantor untuk menjalani pelatihan.
__ADS_1
...__________Ney-nna__________...