
Tok tok tok.
"Rum ...!"
Mendengar suara Sekar dari balik pintu, Arum pun terhenyak. Dia tidak boleh memperlihatkan kesedihan hatinya kepada sang kakak. Dengan cepat diraihnya selimut yang tidak terlalu tebal berwarna putih bergaris hitam yang terlipat di atas bantal. Lalu diusapnya sisa-sisa air mata di wajah sayunya. Sepintas Arum merapikan rambut dan juga bajunya, kemudian beranjak berdiri membuka pintu kamar.
"Mbakyu, ada apa?" tanya Arum saat pintu terbuka dan nampak Sekar di sana.
"Sebentar lagi tamu-tamu akan berdatangan, kamu ganti baju ya, temani Mbak duduk di depan?" pinta Sekar seraya memegang lengan adiknya. "Tunggu, kamu habis menangis, Rum?"
Sekar ternyata dapat menangkap kesedihan di netra Arum yang memerah dan sedikit bengkak.
Arum segera berpaling masuk ke dalam kamar dan duduk di tepian tempat tidur. "Aku hanya merindukan bapak dan ibu, Mbak," dalihnya.
Sekar mengikuti ke dalam kamar dan memeluk adiknya. "Mbak juga kangen mereka, Rum. Bapak dan Ibu pasti akan sangat bangga padamu, sebentar lagi kamu akan menjadi guru seperti harapan mereka dulu, Rum. Kamu mewujudkan cita-cita bapak dan ibu yang ingin melihat anaknya pandai dan menjadi 'orang'."
Arum pun tak kuasa untuk menumpahkan tangisnya di pelukan sang kakak. Arum kembali teringat tentang apa yang di dengarnya beberapa saat lalu.
"Mas, bukannya uang kiriman dari Wirya sudah dicairkan? ayo mas belikan aku kalung yang jauh lebih bagus dari yang dipakai Sekar, Mas!" ujar bu lik.
"Kamu itu kalau masalah duit kok cepet banget sih, Bune. Kalau tetangga tau kamu punya kalung mahal, bagaimana jika mereka curiga? dari mana kamu dapat uang untuk membeli kalung itu, bagaimana? lebih baik biar aku simpan saja uang kiriman Wirya," tutur pak lik.
"Halah apa gunanya punya uang banyak gak bisa dinikmati, Mas. Oh iya, jika suatu saat Wirya kembali dan tahu jika Sekar sudah menikah lagi bagaimana, Mas?" tanya bu lik.
"Aku sudah memikirkan soal itu, Bune. Serahkan semuanya padaku!" ucap pak lik.
Arum terhenyak dengan apa yang didengarnya saat itu, dia tidak menyangka jika selama ini pak lik dan bu liknya menyembunyikan surat-surat dari Wirya dan juga merampas uang kirimannya. Arum sangat membenci pasangan suami-istri itu. Dia tidak menyangka pak liknya tega melakukan hal itu pada kakaknya. Terutama soal memalsukan berita kematian Wirya.
__ADS_1
Arum kemudian membatalkan untuk menyambangi rumah pak lik nya. Dia tidak jadi masuk ke dalam rumah, melainkan meninggalkan hantaran nasi yang dibawanya tadi pada teras rumah pak lik.
Di jalan Arum menahan tangis merasa kasihan dengan nasib kakaknya yang telah dibohongi habis-habisan oleh pak liknya. Terutama tentang kematian Wirya. Dia tahu betul jika kakaknya sangat mencintai suami pertamanya. Sepulang dari rumah pak lik, Arum yang sebelumnya ingin mengatakan apa yang didengarnya kepada Sekar pun terurung, setelah melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
Begitu lebarnya tawa Sekar saat janin di dalam perutnya menendang-nendang. Dan Edi yang kala itu tengah berjongkok di depannya dengan telaten mengelus-elus perut kakaknya itu. Mereka berdua tersenyum senang nampak seperti keluarga kecil yang bahagia.
Jika mereka tahu apa yang dilakukan Pak Lik keluarga ini pasti akan mengalami masalah. Mbakyu telah berkorban terlalu banyak, dan sekarang saatnya dia menuainya, bagaimana mungkin aku tega membuatnya bersedih lagi jika mbakyu tahu yang sebenarnya. Sebaiknya aku tetap menyembunyikan hal itu, aku ingin kamu bahagia setelah banyak kesedihan yang kamu alami selama ini, Mbakyu! gumam Arum di dalam hati kemudian memilih untuk masuk ke kamarnya.
......................
Sekar kemudian melerai pelukannya. Lalu dia merogoh sesuatu dari balik kebayanya. "Rum, Mbak minta tolong, simpanlah cincin ini. Jika suatu saat kamu membutuhkan uang kamu boleh menjualnya!" ujar Sekar sembari menaruh sebuah cincin emas di atas telapak tangan Arum.
"Bukankah ini cincin kawin dari Mas Wirya, Mbak?" ujar Arum terkejut sebab Sekar memberikan cincin itu kepadanya.
"Iya, betul, Rum. Mas Wirya sudah tiada. Jika aku terus menyimpannya aku tidak akan pernah bisa membuka hatiku untuk suamiku. Sebentar lagi aku akan melahirkan, apa pantas jika aku masih menyimpan cincin dari laki-laki lain. Aku rasa sudah saatnya aku untuk melepas cincin itu dan belajar untuk mencintai mas Edi sepenuhnya. Aku tidak tega untuk menjualnya, namun jika suatu saat kamu mengalami kesulitan, kamu boleh menjualnya," tutur Sekar.
"Ini cincinnya, Mas. Kamu lebih berhak menyimpannya!" ujar Arum sembari menyodorkan kotak cincin yang terbuka dan berisi sebuah cincin emas di dalamnya ke atas meja ruang tamu.
Kakek mengambil kotak cincin itu dan memandanginya dengan sendu. Dia teringat saat menyematkan cincin itu kepada Sekar di harri pernikahan mereka.
"Dua bulan kemudian setelah sampean pulang dan bertemu dengan mbakyu waktu itu, akhirnya aku memberitahukan yang sebenarnya kepada mbakyu."
"Mbakyu seketika marah saat itu, kemudian mendatangi rumah Pak Lik, namun sungguh mengejutkan rupanya Pak Lik dan Bu Lik tidak berada di rumah. Rumahnya pun telah kosong. Ternyata Pak Lik sudah menjual rumahnya pada seseorang beberapa hari sebelumnya. Pak Lik dan Bu Lik sudah pergi pindah entah ke mana. Aku pun mencoba menelusuri jejakmu, Mas. Namun, aku juga tidak dapat menemukan mu."
Kakek terlihat mengurut dadanya yang terasa sakit. "Maafkan aku, Sekar. Maafkanlah aku!" racaunya.
Melihat hal itu nenek Arum pun merasa haru. Tidak di sangka jika kisah cinta Sekar dan Wirya begitu menyedihkan.
__ADS_1
Setelah berbicara empat mata kakek memanggil Raka dan Fely.
Kakek meminta maaf atas tindakannya selama ini. "Raka, Fely ... aku telah banyak berbuat dosa pada kalian, tolong maafkanlah kesalahanku selama ini," ujar kakek menyesal.
"Iya, Kek. Yang lalu biarlah berlalu saat ini aku mohon kakek memberikan restu pada kami," ujar Fely.
"Tentu, Nak. Aku merestui pernikahan kalian, semoga rumah tangga kalian bahagia! Aku bangga karena kalian dapat menjaga cinta kalian dengan baik selama ini, tidak seperti aku yang egois tanpa mau mendengar penjelasan dari nenekmu, Sekar. Kalian bahkan sudah sangat banyak berjuang demi mempersatukan cinta kalian. Kedepannya kalian harus bahagia, Nak, " tutur kakek.
"Aamiin, terima kasih, Kek!" ujar Fely dengan isak tangis bahagia karena akhirnya bisa mendapatkan restu dari kakek.
Setelah saling memaafkan mereka makan bersama hasil dari masakan Fely atas tangkapan ikan dari Raka. Mereka pun menikmati makan siang bersama untuk pertama kalinya sebagai keluarga yang bahagia. Kegembiraan pun terpancar pada wajah mereka.
"Raka, meskipun Kakek sempat mengatakan akan mencoret namamu dari daftar ahli waris, sesungguhnya aku tidak benar-benar melakukannya. Kakek menyerahkan sepenuhnya warisan kakek kepadamu. Kelak semua ini akan menjadi milikmu. Jadi kakek mohon kembalilah mengelola perusahaan dan kembangkan usahamu. Kakek akan mendukung sepenuhnya," ujar kakek dengan penuh harap.
Raka menyadari satu hal, bahwa sesungguhnya kakek sangat menyayanginya dan tidak pernah berniat untuk membuangnya.
"Terima kasih banyak, Kek. Tapi ada baiknya Kakek juga menyisihkan beberapa persen untuk badan amal, Kek. Sebagai tabungan amal kebaikan Kakek kelak di akhirat nanti!" tutur Raka.
"Tentu, Raka. Oh ya, tolong sampaikan permohonan maaf ku, kepada mamamu. Kakek sudah sangat banyak berbuat salah kepadanya, tolong sampaikan maafku kepada mamamu, tinggallah di rumah ini dan bawalah mamamu untuk tinggal bersama di rumah ini."
"Baik, Kek. Nanti aku bicarakan hal itu dengan mama terlebih dahulu."
Beberapa hari kemudian, sesekali Fely dan Raka menginap di rumah kakek dan juga di rumah Rahma. Rahma mengaku sudah memaafkan kakek. Namun, dia tidak mau pindah dari rumahnya, sebab di rumahnya banyak kenangan indah dengan orang tuanya maupun masa-masa bersama dengan suami dan juga masa kecil Raka.
Beberapa hari kemudian keadaan kakek semakin membaik. Kakek tidak lagi bermimpi buruk tentang Sekar, saat terakhir kalinya dia bermimpi, Sekar mendatanginya sembari tersenyum kepadanya. Setelahnya kakek selalu mendoakan Sekar agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.
..._________Ney-nna_________...
__ADS_1