
..."Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasang-pasangan (laki-laki dan perempuan). Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan melainkan dengan sepengatahuan-Nya. Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah."...
...(QS. Al Fathir ayat 11)...
..._______~⁰❣️⁰~_______...
Hari yang telah ditunggu-tunggu pun tiba. Saat di mana seseorang merasakan ini adalah hari istimewa baginya, di mana hari itu adalah hari bersejarah yang akan dikenang dalam sepanjang hidupnya.
Pernikahan, di mana status seorang wanita bergantung pada qobul dari seorang laki-laki yang mengarah kepadanya. Yang akan menjadi teman hidupnya untuk beribadah bersama. Menorehkan sebuah cerita, kisah yang manis, pahit, suka dan duka yang silih berganti melingkupinya.
Inilah detik-detik menuju halal bagi Fely. Tangannya terasa dingin dan dadanya mulai bergemuruh saat menantikan acara akadnya yang tinggal sebentar lagi. Meski bukan yang pertama kalinya, namun rasanya tetap mendebarkan jiwanya. Gugup menantikan saat-saat bersejarah dalam hidupnya. Yang membawa harapan baru dan semangat baru baginya.
"Tegang banget sih, Fe. Ayo coba ambil napas-buang napas ...!" titah Reyna menyemangati adik iparnya untuk mengurangi rasa gugup.
"Eh, iya Kak. Fely udah coba dari tadi, tapi masih saja nervous," ujar Fely jujur.
"Sabar ya, nanti kalau udah mulai ijab qobulnya biasanya akan terasa lega." Reyna menasehati.
"Raka dan keluarganya udah datang belom, Kak?" tanya Fely memastikan bahwa calon suaminya tidak kabur seperti kisah pengantin yang sedang viral di media massa.
"Hahaha ..., kamu tenang saja, Fe. Raka udah di depan tuh. Sebentar lagi acaranya akan segera dimulai," tutur Reyna menepis kegelisahan adik iparnya.
"Alhamdulillah," ucap Fely merasa lega.
"Assalamualaikum, Mbak Reyna."
Terdengar suara seorang perempuan dari arah pintu. Reyna dan Fely seketika menoleh ke arah pintu.
"Lala ...! Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa datang juga, La. Mbak kangen banget sama kamu, La!" Reyna segera menghampiri gadis yang sudah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri itu, dan menariknya masuk ke tengah ruangan, kemudian memeluknya dengan erat.
Keduanya pun menumpahkan rasa rindunya yang teramat dalam setelah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Dan, hal itu menjadi momen yang mengharukan bagi keduanya.
"Lala, juga kangen banget sama, Mbak Reyna," ujarnya dengan netranya yang berkaca-kaca.
Abiyu tersenyum, menyaksikan pemandangan di depannya. Dia tahu betul jika Lala dan istrinya punya hubungan yang erat selayaknya saudara kandung.
"Reyn, sebentar lagi acara ijab qobulnya akan segera dimulai. Ayo semuanya ke depan!" ujar Abiyu, kemudian pergi menuju ruang tamu, tempat diselenggarakannya acara.
Reyna perlahan mengurai pelukannya dan menyeka air mata yang sempat menetes dengan tisyu yang tersedia di ruangan itu.
"Yuk, Fe!" Reyna segera mendampingi Fely untuk menuju ke tempat acara digelar.
"Mbak Fely, selamat menempuh hidup baru, ya! semoga sakinah, mawaddah, warohmah, aamiin," tutur Lala saat menyapa Fely.
__ADS_1
"Aamiin, terima kasih atas doanya, ya, Lala," ujar Fely sembari tersenyum.
"Yuk, buruan kita ke depan!" ujar Reyna sembari menggamit lengan adik iparnya mengikuti Abiyu yang terlebih dahulu berjalan menuju tempat acara.
Kini semua mata tertuju pada kedatangan Fely yang ikut bergabung di tengah-tengah acara. Fely berjalan perlahan dengan pandangan ke depan. Sekilas dia sempat melihat ke arah Raka yang juga tengah memandang ke arahnya, namun dengan cepat Fely memutus pandangan itu dengan menundukkan wajahnya yang tersipu malu-malu.
Reyna segera membawa Fely duduk di barisan paling depan, di antara kerabat dan tamu perempuan yang ikut menghadiri acara akad nikah berlangsung. Sementara di tengah-tengah ruangan sudah ada penghulu, Abiyu Raka dan dua saksi yang siap untuk memulai ijab qobulnya.
Raka berusaha menata hatinya yang tiba-tiba terganggu dengan kedatangan Fely. Raka kembali menoleh sebentar ke arah Fely yang sudah dibawa masuk ke dalam ruangan. Dia bisa merasakan debaran jantungnya yang semakin tak beraturan, hal itu pun seketika membuat hapalannya tentang kalimat qobul yang sudah tersusun rapi di otaknya menjadi buyar. Dia segera menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan agar kegugupannya berkurang.
Kemudian, salah seorang MC membuka acara. Dan dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Quran, oleh seorang pemuda dari majelis terdekat. Tamu yang datang seketika tenang dan mendengarkan lantunan ayat demi ayat dengan takzim.
...'Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah mengembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.' (QS An-Nisa ayat 1).'...
Setelah pembacaan ayat suci Al-Quran acara dilanjutkan dengan prosesi ijab qabul.
"Mas Abiyu dan Mas Raka, sudah siap?" tanya seorang penghulu. Abiyu dan Raka mengangguk dengan mantap.
"Baiklah kita mulai sekarang!" ujar pak penghulu, kemudian Abiyu dan Raka diminta untuk berjabatan tangan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Raka Arvian Subrata dengan adik kandung saya yang bernama Felycia Salsabila binti Almarhum Ali Ahmad dengan maskawin nya berupa seperangkat alat salat dan emas sebesar 22 gram, Tunai," ucap Abiyu.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Felycia Salsabila binti Almarhum Ali Ahmad dengan maskawin nya tersebut, tunai," qobul oleh Raka dengan satu tarikan napas.
"Sah!" ucap kedua saksi secara serentak.
"Alhamdulillah."
Kelegaan terpancar dari kedua mempelai maupun seluruh orang yang menyaksikannya. Semuanya mengucap syukur, karena ijab qobulnya berjalan dengan lancar. Acara kemudian dilanjutkan dengan doa nikah oleh seorang ustadz.
Seusai pembacaan doa nikah acara dilanjutkan dengan penyerahan mahar. Fely dan Raka di sandingkan, untuk penyerahan mahah.
Mereka saling berhadapan, kemudian berpandangan dengan malu-malu.
"Pakaikan cincinnya, Nak," ujar Rahma kepada putranya.
Raka menerima cincinnya, kemudian menyematkannya di jari manis Fely dan begitu pula sebaliknya.
"Cium tangan suamimu, Fe!" perintah bunda Maya kepada Fely.
Fely yang hendak meraih tangan Raka terurung saat Mama Rahma tiba-tiba menghentikannnya.
"Tunggu!" ujarnya seraya menampilkan kesepuluh jarinya ke depan.
__ADS_1
Semuanya pun kini beralih memandang ke arah Rahma. Mama Rahma terlihat tergopoh-gopoh menuju pada meja tempat seserahan diletakkan. Kemudian, beliau mengambil sebuah kotak yang berukuran agak besar namun tidak terlalu berat. Rahma segera menyerahkan kotak tersebut kepada Raka, untuk diberikan kepada Fely.
"Astaghfirullah, hampir saja aku melupakannya. Terima kasih, Ma!" ujar Raka sembari menyunggingkan senyumnya ke arah mamanya.
Bagaimana aku bisa melupakan hal sepenting ini? gumam Raka di dalam hati.
"Iyah ... cepet- cepet kasihkan!" ujar Rahma sembari mengibaskan kelima jarinya ke depan mukanya karena kegerahan.
"Fe, ini adalah mahar yang tidak bisa aku sebutkan, terimalah!" ujar Raka kepada Fely.
Fely sedikit terkejut dengan hal itu. Fely seketika memandang ke arah Raka dan kotaknya secara bergantian. Hal ini adalah pertama kalinya dia mendengar ada mahar yang tidak di sebutkan. Dengan hati-hati Fely menerima kotaknya setelah Raka menganggukkan kepalanya sebagai tanda agar Fely mau menerimanya.
Fely memperhatikan dengan seksama kotak yang sekarang berada di tangannya tersebut. Kotak itu terbungkus rapi dan indah seperti sebuah kado dengan hiasan pita-pita yang ditata sedemikian rupa. Namun, di bagian salah satu sisinya terdapat angka-angka yang bisa diputar seperti saat akan memasukkan sebuah pasword.
"Ini ... apa?" tanya Fely dengan penasaran.
"Nanti saja bukanya kalau sudah tepat pada waktunya," bisik Raka dengan mencondongkan badannya ke depan.
Fely seketika mengernyitkan dahinya. Raka sungguh telah membuatnya penasaran akan isi kotak tersebut. Fely kemudian menyerahkannya kepada bunda Maya, agar disimpankan terlebih dahulu.
Setelahnya Raka mengulurkan kembali tangan kanannya ke arah depan. Fely dengan perlahan menyambutnya dan mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
Ketika Fely hendak menegakkan badannya, Raka menahan bahu istrinya dan mencondongkan badannya ke depan untuk mengecup kening istrinya dengan lembut. Sesaat hati keduanya berdesir sekaligus merasa haru saat mengingat perjuangan cinta yang penuh liku dan panjang. Dan, akhirnya takdir Allah kini telah menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
Raka mengurai ciumannya dan Fely kembali menegakkan kepalanya. Namun, Fely kembali mengeenyit saat tangannya tak juga dilepaskan oleh Raka.
"Ekhm ... ekhm ...," dehemnya agar Raka melepaskan tangannya.
"Apa ...?" ucap Raka tanpa suara, hanya mulutnya saya yang terlihat bergerak.
"Lepasin!" ucap Fely dengan lirih seraya sedikit melirik ke arah tangan mereka yang masih tertaut.
"Eh ... maaf, kelupaan!" ujar Raka sembari melepaskan genggamannya.
"Ciyee, ada yang udah gak sabaran nih, ye!" celetuk Mika dari barisan tamu yang datang.
"Nanti setelah acara usai boleh dilanjut lagi pegangan tangan dan yang lainnya ya, Mas Raka. Kan sudah halal! tapi, sekarang tanda tangan dulu ya buku nikahnya!" perintah pak penghulu dengan ramah.
Beberapa tamu yang mendengar pun dibuat tertawa karenanya.
Raka tersenyum malu seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
...________Ney-nna________...
__ADS_1