Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Lahirnya anak Abiyu


__ADS_3

Sesampainya di rumah sakit, Reyna langsung di bawa ke ruang persalinan. Ternyata pembukaan sudah sempurna dan Reyna sudah tidak kuat untuk menahan ingin mengejan.


"Aarghh!" pekik Reyna saat kembali merasakan kontraksi yang hebat sehingga ketuban pecah tepat ketika dia dibaringkan di tempat tidur.


"Sebentar ya, Bu, jangan mengejan dulu, dokternya sedang perjalanan ke sini dari ruang operasi!" tutur seorang perawat memperingatkan karena Reyna sudah tidak tahan ingin mengejan.


Bidan dan perawat yang berjaga malam itu bergegas mempersiapkan alat-alat dan perlengkapan yang akan digunakan untuk proses persalinan dengan sedikit tergesa-gesa.


"Huh .. huh ... Kak, aku sudah tidak tahan lagi, bayinya sudah mau ke luar!" ujar Reyna dengan peluh yang membasahi wajah dan jilbab yang ia kenakan.


"Sayang, sabar ya! sebentar lgi dokternya datang!" ujar Abiyu menenangkan istrinya sembari menggenggam erat jari-jemari sang istri.


Sungguh menegangkan proses lahiran Reyna kali ini, sebab setibanya di lobby rumah sakit, Reyna langsung turun dari mobil dan meninggalkan Abiyu. Reyna setengah berlari menuju front office rumah sakit sendirian dan mengatakan jika mau melahirkan.


Reyna pun segera dibawa ke ruang persalinan dan semua terjadi dengan tergesa-gesa. Begitu dokter obgyn datang Reyna langsung mengejan setelah diberi aba-aba.


"Huhhh ...!"


Saat kontraksi kembali terjadi, Reyna melenguh setelah menarik napas dalam-dalam dari hidung dan mengeluarkannya lewat mulut dengan cara meniupkannya secara perlahan. Namun, bayinya belum terdorong untuk ke luar.


"Kontrol emisinya ya, Bu. Lakukan berulang-ulang jika kontraksi terjadi. Ambil napas ... buang napas, begitu terus berulang-ulang. Sabar ya sebentar lagi bayinya pasti akan ke luar!" tutur dokter menyemangati agar Reyna lebih tenang saat mengejan, dan proses melahirkan secara normal berjalan baik tanpa menimbulkan banyak robekan.


Abiyu mengusap kepala istrinya dengan lembut agar Reyna lebih tenang. "Rileks, Sayang ... kamu pasti bisa!" ujar Abiyu memberikan dorongan untuk memberi semangat kepada istrinya saat menemani proses persalinan berlangsung.


Abiyu memberikan minum kepada Reyna agar tidak dehidrasi. Saat kontraksi mulai terasa Reyna kembali melakukan apa yang diperintahkan oleh dokter untuk mengambil napas dalam-dalam dari hidung dan mengeluarkannya perlahan dari mulut.


"Kontrol emosinya ya, Bu! yuk tiup yang panjang seolah sedang mendorong sesuatu, bayinya sudah mulai turun nih, Bu!" ujar dokter memberi aba-aba dengan santai agar Reyna tidak tergesa-gesa. "Ayo ulangi lagi ambil napas, dorong yang kuat, ya Bu!" titah dokter yang dengan sabar memberikan arahan.


"Bismillah, huhhh ... huhhh!" Lenguh Reyna sembari memusatkan seluruh tenaga dan pikirannya agar bayinya bisa terdorong untuk menuju jalan lahir.


Setelah selama empat puluh menit berlalu, akhirnya nampaklah kepala sanga bayi. Dokter segera membantu proses persalinan dengan hati-hati, dan dengan terampil menangkup tubuh sang bayi. Persalinan pun berjalan dengan lancar, Ibu dan bayinya selamat.


Terdengarlah suara tangisan sang bayi memenuhi ruangan, dokter segera menuntaskan tugasnya.


"Selamat ya, Pak, Bu, bayinya perempuan!" tutur sang dokter seraya menyerahkan bayinya kepada seorang perawat untuk dibersihkan.


Abiyu begitu terharu saat melihat bayinya menangis. Setetes air mata pun lolos dari sudut matanya melihat perjuangan sang istri saat melahirkan.

__ADS_1


Begitu juga denan Reyna yang menangis terharu saat bayinya di taruh di atas dadanya untuk dilakukan IMD seusai dibersihkan. Melihat bayinya bergerak-gerak mencari kehangatan membuatnya tak bisa mengungkapkan kata-kata.


Alhamdulillah, terima kasih ya Allah! gumam Reyna di dalam hati.


"Papanya sudah boleh ke luar. Kami akan menyelesaikan sisanya," ujar dokter kepada Abiyu.


"Baik, Dok!" ujar Abiyu kemudian berpamitan kepada Reyna, "Selamat ya, Sayang! putri kecil kita sudah lahir! aku ke luar dulu ya," tutur Abiyu seraya mencium kening istrinya dengan penuh rasa bahagia yang terpancar pada wajahnya.


Reyna balas tersenyum ke arah suaminya. Reyna bahkan sudah tidak ingat betapa sakitnya saat persalinan berlangsung seusai melihat sang bayi ada di dekapannya. Reyna tidak mampu berkata-kata yang ada hanyalah rasa haru atas kebahagiaan yang didapatkan saat ini.


Setelah berada di luar, Abiyu segera melakukan sambungan telepon untuk memberitahukan kabar bahagianya itu kepada Fely dan juga bunda yang berada di Jakarta. Abiyu merasa sangat senang karena Reyna sudah melahirkan seorang putri dengan selamat.


****


Keesokannya Fely menitipkan Reynand kepada Bi Lastri karena Abiyu meminta Fely untuk menggantikannya menjaga Reyna. Abiyu harus pulang untuk menguburkan ari-ari bayinya juga untuk berganti baju, karena dia tidak membawa baju ganti untuknya kemarin.


Setelah menitipkan Reynand ke rumah Bi Lastri, Fely bergegas menuju rumah sakit tempat Reyna melahirkan.


****


Sesampainya di rumah sakit Fely sedikit terburu-buru dan setengah berlari menuju ruangan rawat inap tempat Reyna dipindahkan. Dia sudah tidak sabar ingin melihat bayi mungil yang dilahirkan oleh Reyna.


Deg.


Betapa terkejutnya dia saat melihat Raka berdiri tepat di depannya. Sejenak keduanya saling bersitatap dalam diam dengan pikiran masing-masing. Suasana terasa canggung bagi mereka yang sudah sekian lama tidak bertemu, tapi masih menyisakan kisah di masa lalu yang belum tuntas. Sehingga seolah ada ganjalan di hati keduanya.


Antara benci, kesal, marah, dan rindu bercampur aduk menjadi satu saat itu juga. Perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.


"Fely!" ucap Raka pada akhirnya sesaat setelah dia dapat menguasai keadaan.


Fely membuang pandangannya ke samping kiri Raka. Dia menyadari jika Raka tidak sendiri. Ada sosok wanita cantik di sampingnya. Bahkan tangan wanita itu melingkari lengan tangan milik Raka dengan posesif tanpa berniat untuk melepaskannya saat Fely memandanginya.


Namun, ada satu hal yang membuat Fely bertanya-tanya, sebab wanita itu perutnya nampak membuncit.


Bukankah baru lima bulan menikah? kenapa sudah sebesar itu ya, hamilnya? ujar Fely di dalam hati.


Padahal yang sesungguhnya kehamilan Maura sudah menginjak delapan bulan. Sehingga tentunya perutnya sudah mulai besar. Dan, saat itu Maura telah usai memeriksakan kandungannya dengan ditemani Raka.

__ADS_1


"Siapa yang sakit, Fe?" tanya Raka membuka suara.


"Hah ...? em, Kak Reyna melahirkan," ujar Fely seraya kembali menoleh ke arah Raka. "Maaf, permisi saya buru-buru, assalamu'alaikum," tutur Fely kemudian segera bergeser ke samping dan melewati sepasang suami istri itu begitu saja, tanpa menunggu jawaban dari mereka.


Sementara pandangan mata Raka masih mengikuti ke mana arah Fely pergi. Ada perasaan senang saat melihatnya kembali. Perasaannya masih sama tidak ada yang berubah meskipun ada Maura yang selama ini mendampinginya. Raka baru tersadar dari lamunannya saat Maura melepaskan tautan jemarinya di lengan Raka.


"Raka, bisakah kita pulang sekarang?" ujar Maura dengan raut muka kesal.


Raka mengangguk mengiyakan. Sepanjang perjalanan pulang mereka saling diam. Raka menyadari jika Maura bersikap dingin padanya pasti karena pertemuan mereka dengan Fely barusan.


****


Sesampainya di rumah, tiba-tiba Maura menghentikan langkah Raka yang hendak menaiki tangga menuju kamarnya.


"Raka tunggu!" ujar Maura.


Raka berbalik, kemudian kembali turun dan mendekat ke arah Maura berada. "Ada apa, Maura?"


"Apa selama aku menjadi istrimu tak ada sedikitpun rasa sayangmu untukku, Raka?" tanya Maura dengan mata yang sudah berembun menahan air mata.


Raka paling tidak tega jika melihat seorang wanita menangis di hadapannya. Sejak kecil melihat ibunya sering menangis membuatnya tidak tega jika ada perempuan yang menangis, terlebih itu karena dia.


"Maura, kamu bicara apa?" tanya Raka dengan lirih merasa bersalah karena harus membuat Maura kecewa.


"Jawab Raka! selama ini kamu masih mencintainya kan?" ujar Maura dengan isak tangisnya yang sudah tidak tertahankan.


"Maura, aku menyayangimu! kita keluarga, cukup pikirkan itu dan jangan pikirkan yang lainnya!" ujar Raka berusaha menenangkan Maura.


Meskipun bukan cinta, tapi Raka juga menyayangi Maura. Lebih tepatnya menyayangi Maura selayaknya rasa sayangnya kepada saudaranya atau seorang adik.


"Menyayangi seperti apa? aku ini istrimu bukan adikmu, Raka. Kamu selalu memperlakukan aku seperti adik perempuan mu, tak bisakah kamu membuka sedikit perasaanmu untukku?" tanya Maura dengan nada meninggi.


Selama pernikahan mereka, Maura menunjukkan perubahan ke arah yang baik. Maura lebih taat beribadah, selalu mengenakan hijab, belajar mengaji, dan belajar untuk mengurus pekerjaan rumah. Maura berusaha menyiapkan kebutuhan Raka sehari-hari, kecuali aktivitas di tempat tidur. Mereka masih berada di kamar yang berbeda dan tidak melakukan hal yang mengarah pada kegiatan suami istri dalam tanda kutip.


"Maura, tolong tenanglah! aku tidak mau membahas hal itu, kamu sedang hamil, ingat apa kata dokter kamu harus berpikir positif agar bayimu sehat. Aku ada di sini untukmu jadi jangan khawatirkan apa pun, Maura!" ujar Raka mengalihkan pembicaraan.


Dokter berpesan agar Maura tidak banyak pikiran agar tekanan darahnya tidak naik.

__ADS_1


Raka segera merengkuhnya ke dalam pelukannya untuk menenangkan Maura yang menangis tersedu-sedu.


...__________Ney-nna__________...


__ADS_2