
Malam menjelang, suasana terasa sunyi. Beberapa hari menghabiskan waktu seharian bersama Rangga, membuatnya merasakan ada sesuatu yang hilang. Rindu..? pastilah ia rindu dengan sang pujaan hati. Bertukar pesan dan bertatap muka dalam layar gawai, masih dirasa kurang baginya. Sentuhan jari-jemarinya, tatapan mendambanya, dan belaian mesra yang sempat tertoreh beberapa hari lalu, ternyata telah menjadikannya terbiasa.
Ia duduk di dekat jendela kamarnya, menatap lurus ke depan. Perlahan, ia menyesap teh chamomile hangat yang tadi diseduh nya. Sambil memandang gazebo taman, seolah terputar kenangan saat memadu kasih di sana. Mengingat bagaimana Rangga sangat memperhatikannya dengan kasih sayangnya. Ia telah jatuh cinta kedua kalinya dengan orang yang sama. Namun dalam dimensi yang berbeda.
Kini Rangga adalah imamnya, kekasih halalnya yang berhak iya patuhi dan cintai karena Allah. Ia merasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya. Betapa tidak, dulu ia harus mengorbankan perasaannya terhadap Rangga, demi menjaga perasaan orang lain. Kini Allah limpahkan kasih sayang Rangga hanya untuknya.
Tring!
Nada pesan masuk berbunyi. Dilihatnya nama kontak di layar handphone bertuliskan "Hubby".
✉️
Sayang, kamu istirahat ya. Ini aku keluar sebentar, mau ketemu sama temen-temen.
Love U Hanania ku 💏
Reyna sedikit kecewa, itu artinya Rangga tidak bisa menemaninya malam ini, meski hanya secara virtual.
"Huhhh...!" Reyna menghembuskan nafas beratnya.
Diketik nya balasan untuk Rangga.
✉️
Iya, By. Kamu hati-hati ya dijalan. Jangan pulang larut malam. Love U too 😘
Balasan terkirim, namun belum sempat terbaca. "Mungkinkah Hubby sudah berangkat? Lindungi suamiku ya Allah, di manapun dia berada." doa Reyna dalam hati.
Ia beranjak menuju tempat tidur. Direbahkan nya tubuhnya di atas ranjang, dilihatnya layar pada handphone. Saat membuka galeri foto Reyna menemukan beberapa foto Rangga yang diambilnya beberapa minggu yang lalu. Saat itu Rangga kakinya sedang sakit, dan Reyna menjaganya duduk di samping tempat tidurnya.
Dalam layar terlihat Rangga yang sedang tidur. Reyna tersenyum mengingat saat itu hampir saja bibirnya bertemu dengan bibir Rangga yang sedang bergerak hingga menghadap ke arahnya. Tak disangka kini Reyna telah berungkali merasakan manisnya bercumbu dengan suami tercintanya. Reyna memejamkan mata mengingat saat-saat indah bersama Rangga. Tak berapa lama efek relaksasi dari teh chamomile yang diminumnya bekerja. Reyna terbawa ke dalam mimpi indahnya.
Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh. Perlahan Reyna membuka matanya. Rupanya ia masih menggenggam handphone di tangannya. Ia melihat ke dalam layar, ada notifikasi pesan masuk dari nomor baru. Reyna nampak ragu ingin membukanya. Menduga mungkin nomor baru dari salah satu temannya yang berganti nomor, akhirnya dibukanya pesan tersebut.
Betapa kagetnya saat pesan terbuka. Ia bergegas untuk bangun, matanya membulat dengan mulut terbuka. Iya terkejut melihat foto yang disematkan dalam pesan WhatsApp.
Terlihat Rangga yang sedang berdiri menunduk sambil merangkul perempuan disampingnya. Wajahnya menghadap ke samping, perempuan itu seperti tak asing. Reyna zoom muka perempuan di samping suaminya tersebut.
"Putri..!" pekiknya.
Terlihat jelas bahwa foto tersebut diambil baru tadi malam, bisa terbaca dari tanggal yg tertera pada bagian pojok bawah foto.
Hatinya resah, pipinya memanas, dan air mata sudah terpupuk di pelupuk matanya.
"Apa yang kamu lakukan dibelakang ku, By? Apa teman yang kamu maksud ingin kamu temui adalah mantan pacarmu? Apa yang kamu lakukan dengannya, By?" kata-kata itu terngiang-ngiang di benak hati Reyna. Nyatanya tenggorokannya tercekat, dan bibirnya kelu. Ia tak mampu mengatakan sepatah kata pun. Namun air mata sudah membanjiri pipinya.
"Astaghfirullahal'adzim... astaghfirullahal'adzim.. astaghfirullahal'adzim!" ia hanya mampu mengucapkan kalimat istighfar itu dengan lirih, sambil mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya keluar secara perlahan. ia harus tetap tenang, ini pasti ujian dari Allah.
Beberapa saat ia mulai sedikit tenang, meski rasa marah masih bercokol dihatinya. Diletakkannya handphone di atas nakas kemudian ia bergegas ke kamar mandi mengambil wudhu. Saat ini yang terpenting baginya, adalah melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu. Sholat akan meredakan amarahnya dan menenangkan jiwanya. Ia harus tetap berpikir positif dan tidak dengan mudah mempercayai foto tersebut.
Seusai melaksanakan sholat dan berdo'a agar ditunjukkan solusi yang tepat untuk menyelesaikan masalahnya dengan baik. Reyna bersujud lebih lama, di atas sajadah yang ia kenakan. Ia memohon agar suaminya dijauhkan dari perbuatan tercela dan ia diberi kesabaran untuk menghadapi ujian dalam hidupnya.
Dilipatnya mukena dan sajadah, kemudian menyimpannya ke dalam rak perlengkapan. Perlahan ia menghampiri tempat tidurnya dan duduk ditepian ranjang. Diambilnya gawai di atas nakas, terlihat bahwa Rangga sudah membaca pesan terakhir darinya. Namun tidak ada balasan dari suaminya itu. Terbaca terakhir aktif pada pukul 22.15 WIB. Itu artinya Rangga belum bangun hingga saat ini.
Reyna kemudian menghubungi Rangga. Satu panggilan tak terjawab, ia mengulanginya lagi.
"Halo..!" suaranya terdengar serak khas orang bangun tidur.
"Assalamu'alaikum, By. Baru bangun ya?" tanya Reyna.
"Wa'alaikumsalam! Iya sayang, baru bangun nih!" jawab Rangga.
"Ya udah, kamu sholat dulu, By!"
"Nanti telepon aku kalau sudah selesai, ada yang mau aku bicarakan!" titah Reyna.
"Iya sayang aku sholat dulu yah nanti aku telepon lagi."
Telepon dimatikan.
Hatinya sedikit tenang namun masih resah karena belum mendapat penjelasan tentang foto itu. Reyna beranjak ke dapur. Di dapur sudah ada nenek dan si Mbak.
"Pagi, Nek!" terlihat Nenek sedang menyeduh kopi dan teh.
"Pagi, Reyna." jawab Nenek.
"Bikin apa Mbak?" tanya Reyna pada mbak Siti.
__ADS_1
"Nasi goreng cabe hijau Mbak, request den Reza." ujar mbak Siti.
"Sini, aku bantuin, Mbak." Reyna mengambil alih spatula.
"Boleh non, kalau gitu saya bikinkan telor ceplok nya dulu." ucap si Mbak.
" Siip..Mbak!" Reyna mengacungkan jempolnya ke arah si Mbak.
"Persiapan buat walimah nya gimana, Reyn?" tanya Nenek.
"Kalau yang itu semua diurus sama Papi dan Om Budi, Nek. Dari mulai sewa gedung, konsep panggung dan acara sudah di serahkan pada pihak WO (wedding organizer). Reyna cuma kebagian ngurus daftar temen-temen yang musti di undang saja." ungkap Reyna.
"Gaun pengantinnya susah kamu persiapkan?" tanya Nenek lagi.
"Oiya, astaghfirullah..belum Nek. Reyna kelupaan! Haduw..kok bisa sampai lupa gini sih!" Reyna merutuki sendiri kelalaiannya.
"Ya sudah, nanti Nenek bikinkan janji sama tante Shinta. Biar di bantu Shinta buat milihin baju yang pas buat kalian. Kamu kapan ada waktu buat ke sana?" Nenek meneguk tehnya.
"Emm..habis jam istirahat aja Nek. Nanti sekalian aku ajak Mira ke sana." Reyna berucap sambil membolak-balikkan spatula di tangannya.
"Emm... aroma nasi gorengnya tercium nikmat. Sepertinya sudah matang." batin Reyna.
"Oke..! Nenek mau mengantar kopi buat Kakek dulu yah!" ujar Nenek.
"Iya, Nek." Nenek berlalu meninggalkan dapur.
Setelah mencicipi nasi gorengnya sudah cukup terasa enak dan matang. Reyna mematikan kompor. Dituangnya nasi gorengnya ke dalam tempat nasi. Terakhir ia bubuhkan bawang goreng dan irisan seledri di atasnya.
"Ulala..sudah matang nasi gorengnya, Mbak!" Reyna menyajikannya ke atas meja.
"Wah, harum sekali baunya Reyn."
"Kamu yang bikin, Reyn?" tiba-tiba terlihat Papi yang baru masuk ke dapur.
"Nggak sih, Pi. Reyna cuma bantuin si Mbak ngaduk-ngaduk nasi gorengnya di atas kompor. Yang meracik bumbunya jelas si Mbak tuh." ungkap Reyna.
"Mau dibuatkan teh atau kopi, Pi?" tawar Reyna.
"Kopi aja, Reyn!" jawab Reza.
"Alah biasa aja kali, Mbak nih suka melebih-lebihkan!" Reyna merebus air panas untuk menyeduh kopi.
"Wah, kalau gitu besok-besok musti kamu yang masakin Reyn buat sarapan. Biar nanti Papi nilai masakan kamu!" ujar Reza.
"Haduh, Reyna jadi ngerasa kaya yang mau diospek aja nih sama Papi!" Reyna tertawa.
"Boleh juga itu ide kamu, Reyn!"
"Itung-itung buat latihan kamu, ngurus makanan suami. Nasib perutnya Rangga ada ditangan kamu, Reyn" ungkap Reza.
"Hhhahaha, Den Reza paling bisa ini, kalau ngerjain menantu!" si Mbak tertawa.
"Iya nih, Papi tega banget sama, Reyna!"
"Ini Pi, kopinya!" ditaruhnya kopi yang telah selesai dibuatnya di atas meja makan di samping Reza.
Reyna merogoh sakunya, ia merasakan handphonenya bergetar. Rupanya ada panggilan masuk dari Rangga.
"Pi, Reyna angkat telepon dulu ya? Rangga telepon nih." pamit Reyna hendak meninggalkan dapur.
"Halahh.. anak itu, baru pisah sehari saja, pagi-pagi sudah mau kangen-kangenan sama istri." ujar Reza sambil geleng-geleng kepala. Disesap nya kopi buatan Reyna.
"Beda ya, Den. Yang penganten baru sama yang udah berabad-abad menikah. Nggak kangen, Den sama Non Lena. Kok ditinggal sendiri di Solo sih!" canda si Mbak.
"Nggak tau tuh, Mbak. Diajakin tinggal di sini aja susah banget. Bener kata kamu mbak, kalau sudah lama menikah itu nggak senempel seperti diawal-awal menikah!" keluh Reza.
Reyna yang masih bisa mendengar, senyum-senyum saja mendengar keluhan mertuanya. Ia meninggalkan dapur.
Ia masuk ke dalam kamarnya kemudian duduk di depan meja rias. Reyna harus meminta penjelasan atas foto tadi ke Rangga. Tidak nyaman kalau masalah dalam rumah tangga terdengar oleh orang lain.
"Halo, assalamu'alaikum, By!"
"Wa'alaikumsalam, lagi apa sayang?" tanya Rangga.
"Tadi habis bantuin masak di dapur."
"Semalam pulang jam berapa, By?" Reyna dengan segenap hati harus bersabar dan bertanya secara baik-baik.
__ADS_1
"Emm..mungkin sekitar jam sepuluh sayang!" Oke..point pertama Rangga berkata jujur.
"Ngumpulnya ada Putri juga yah?" selidik Reyna.
Sejenak hening, Rangga belum menjawab.
Terdengar suara orang batuk dengan jarak agak jauh.
"Iya dia ada. Tapi, bukan aku yang ngajakin dia, sayang. Temen aku temen dia juga. Jadi kemungkinan temennya yang ngajakin dia."
"Aku baru tau waktu pas di tempat ngumpul sama temen-temen, rupanya mereka juga ngajakin Putri." Rangga menjelaskan panjang lebar.
"Terus kenapa kamu rangkul dia, By?" Reyna meremas ujung bajunya.
"Rangkul? Kamu tau darimana sayang?" dari suaranya Rangga terdengar kaget.
"Jadi bener, By? Kamu merangkul dia!" air mata Reyna sudah meluncur begitu saja di pipinya.
"Sayang, kamu jangan salah paham dulu ya. Aku bisa jelasin, Hana!" Rangga memohon.
"Katakan sejujurnya, By!" titah Reyna tegas.
"Oke, sayang..gini ceritanya! Kemarin itu waktu ngumpul pas mau pulang dari cafe, Putri sempat jatuh terpeleset di tangga. Kakinya terkilir, aku cuma bantuin dia aja, Na. Habis itu aku anter dia pulang ke rumahnya. Udah itu aja, demi Allah aku nggak ngapa-ngapain sama dia. Kamu percaya kan..sayang, sama aku?" ungkap Rangga panjang lebar.
Reyna, mengusap air mata yang sejak tadi tak berhenti meluncur di pipinya. Di susutnya hidungnya dengan tisyue.
"Sayang, kamu nangis ya?"
"Hanania, plis tolong percaya sama aku, sayang!" bujuk Rangga.
"Kemaren itu aku juga nggak berdua aja di mobil. Ferdy kemaren juga ikut sama aku nganterin Putri. Karena aku berangkatnya barengan sama Ferdy!" Rangga mengalihkan teleponnya ke mode video call.
"Sayang, alihkan ke vidcall. Aku pengen lihat kamu!" tambahnya.
Beberapa saat kemudian video call tersambung. Namun Rangga tidak dapat melihat wajah istrinya. Hanya nampak rambut di kepala Reyna yang sedang menunduk pada meja.
"Sayang, tolong percaya sama aku! Lihat aku sayang, aku kangen banget sama kamu!" Namun tak ada jawaban, Reyna tetap diam. Hanya kepalanya yang seperti bergerak sedikit dan jari-jemainya seperti mengusap wajahnya yang sedang menunduk.
"Hanania, zawjati tercinta...! Maaf sayang, udah bikin kamu sedih. Tapi percayalah di hatiku cuma ada kamu, sayang!" terlihat Reyna yang mengangkat kepalanya, dengan kedua tangan yang berada di atas meja menyangga wajahnya yang tertutup oleh jari-jemarinya.
"Ya udah, aku percaya sama kamu, By!" terlihat bibirnya yang memerah berbicara, namun masih tidak menampakkan wajahnya.
"Makasih ya, sayang?"
"Kok ditutup terus sih mukanya, aku nggak bisa lihat wajah cantik kamu dong, sayang!" goda Rangga.
"Aku ke kamar mandi dulu!" jawab Reyna cepat, kemudian langsung berbalik dan berlari menjauh.
Rangga masih setia menatap ke layar handphone menunggu istrinya kembali.
Beberapa saat kemudian, terlihat Reyna yang berjalan mendekat, kemudian duduk kembali di depan meja. Nampak hidung dan bibirnya memerah, dan matanya yang agak bengkak.
"Sayang, aku kangen banget sama kamu!" ucap Rangga.
"Iya, By. Aku juga rindu sama kamu!" jawab Reyna.
"Maaf, ya udah bikin kamu sedih?" terlihat Reyna menganggukkan kepalanya.
"Kamu tau dari mana sayang kalau semalem aku sama Putri?" selidik Rangga.
"Ada nomor yang tidak aku kenal mengirim pesan gambar ke handphone aku, By!"
"Pas aku buka, ada foto kamu sama Putri!"
"Kok bisa ada yang tau nomor kamu!"
"Sayang, coba nanti kamu kirim kontak yang mengirim foto itu, sama fotonya kamu forward ke aku ya? Biar aku lacak siapa orang yang udah ngirim foto itu ke kamu!" titah Rangga.
"Iya, By, nanti aku kirimin. Ya udah aku mau siap-siap buat kerja dulu ya, kamu juga musti berangkat ke kantor kan?" tanya Reyna.
"Iya, sayang. Met beraktivitas yah?"
"Love you Hananiaku!"
"Love you too, By!" sejenak mereka masih bertatapan kemudian telepon di tutup.
Reyna lega akhirnya masalah nya terselesaikan. Ia bersyukur Rangga berkata jujur padanya. Namun ia masih merasa resah siapa yang ingin mengadu dombanya bersama Rangga.
__ADS_1