Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Slow Respon!


__ADS_3

Seusai sarapan Reyna dan Abiyu bersiap untuk berangkat ke ruko.


"Sayang, kamu berangkatnya sama Bunda saja ya? Aku ada sedikit urusan yang aku bereskan dulu," tutur Abiyu.


"Urusan apa, Kak?" tanya Reyna yang ingin tahu.


"Itu masalah sama temen aku, soal cafe yang kami rintis bareng!" tutur Abiyu berbohong.


"Oh ya sudah, Kak. Nggak apa-apa, kalau begitu nanti aku berangkat sama bunda," tutur Reyna tanpa curiga kepada suaminya.


"Aku berangkat duluan ya, Sayang!" ujar Abiyu sembari merengkuh bahu istrinya kemudian mengecup pucuk kepala Reyna.


"Iya, Kak. Hati-hati, ya!" ujar Reyna kemudian mencium tangan suaminya. "Mau Reyna anter sampai bawah?" tawarnya.


"Nggak usah, Sayang! Kamu istirahat aja dulu sembari menunggu bunda," tutur Abiyu seraya mengusap lembut pipi istrinya, kemudian beranjak menuju pintu.


Abiyu menoleh kembali satu kali ke arah istrinya, kemudian benar-benar pergi setelah menutup pintu.


Sesampainya di bawah Abiyu menyempatkan waktu untuk mampir dulu ke kamarnya bunda.


Tok tok tok.


"Bun!" panggil Abiyu.


"Iya, masuk aja nggak dikunci!" tutur bunda Maya dari balik pintu.


Abiyu akhirnya membuka pintu kamar bundanya. Terlihat bunda sedang merias wajah di depan cermin.


"Bun, masalah walimahnya tadi jangan bilang dulu ya ke Reyna! Abi pengen hal itu menjadi surprise buat Reyna," tutur Abiyu.


"Jadi Reyna nggak dikasih tahu, nih?" tanya bunda sembari berpaling dari cermin dan memandang ke arah Abiyu. "Memang acaranya mau diadakan di mana?" tanya bunda lagi.


"Rencana di cafe rintisan Abi yang kerjasama dengan temen Abi saja, Bun. Nanti mau Abi booking tempatnya satu hari itu untuk acara walimahnya.


"Oh begitu?! Ya sudah kalau mau kamu begitu, Bunda sih support aja!" ujar bunda yang memberi dukungan penuh kepada anaknya.


"Yang penting urusan Reynand fix dulu, misal tante Lena dan om Reza setuju dengan rencana bunda tadi, aku tinggal ngadain acara walimahnya. Kan gimana gitu jika menggelar acara walimahan tapi Reyna masih bersedih karena tante Lena dan om Reza nggak mengijinkan Reynand tinggal sama kita.  Menurut bunda gimana?" tanya Abiyu meminta pendapat bundanya.


"Iya, Bi. Kalau begitu sih, Bunda setuju. Yang penting masalah Reynand selesaikan dulu, setelah itu kamu kabari Bunda. Itu kan acaranya kalau jadi dadakan, jadi Bunda bisa bantuin kamu," tutur bunda memberi dukungan penuh kepada putranya.


"Ya, sudah. Abiyu berangkat dulu ya, Bun. Reyna berangkat bareng Bunda ya? Abi mau ngurus yang itu dulu," tutur Abiyu kepada bundanya, kemudian mencium punggung tangan bundanya.

__ADS_1


"Ya sudah, hati-hati, Kak!" tutur bunda Maya.


"Iya, Bun. Assalamu'alaikum," pamit Abiyu.


"Wa'alaikumussalam."


Abiyu keluar dari kamar bunda, kemudian menutup pintunya kembali. Lantas Abiyu bergegas mengemudikan mobilnya menuju ke tempat yang dia tuju.


****


Di kediaman Mira.


"Pagi, Ma!" ujar Mira kemudian segera duduk di meja makan untuk sarapan.


"Ya ampun, Mir. Kamu semalem tidur? Mama ketok-ketok kamar kamu berulang kali nggak nyaut sama sekali. Semalem kamu melewatkan makan malam emangnya sore itu udah makan?" tanya mama.


"Belum, Ma. Mira sebenarnya kemarin kurang enak badan. Habis salat maghrib Mira ngerasa mata Mira berat dan pusing. Akhirnya Mira pakai rebahan. Eh, malah ketiduran sampai malam jam setengah dua belas, Mira baru bangun buat salat isya'. Sebenarnya Mira ngerasa laper tapi mau makan kayak ngerasa males. Akhirnya Mira melewatkan makan malam, dan kembali tidur," tutur Mira menceritakan kejadian semalam.


Mama beranjak berdiri kemudian mencondongkan badannya ke depan menaruh punggung tangannya ke kening dan leher Mira.


"Ya ampun, kamu demam lho ini, Mir!" ujar mama sembari kembali ke tempat duduknya. "Sekarang kamu sarapan dulu, mendingan nggak usah masuk kerja aja, Mir. Di pakai istirahat dulu!" titah mama mengkhawatirkan putrinya semata wayang.


"Nggak bisa, Ma. Hari ini akhir bulan, Mira musti menyelesaikan tutup buku, Ma. Mira minum paracetamol saja sama vitamin, insyaallah nanti juga bakalan sembuh lagi, kok!" tutur Mira yang kekeuh ingin tetap masuk kerja.


"Ya ampun, Mira. Kamu ini keras kepala banget sih!" ujar mama heran. "Itu makanya kenapa sedikit sekali?! Ambil makannya yang banyak dong, Mir!" ujar mama perhatian.


"Nggak ah, Ma. Mira buru-buru. Lagian rasanya kaya gak berselera makan!" tutur Mira sembari cepat-cepat menghabiskan makanannya meskipun rasanya ingin muntah karena perut terasa penuh walaupun belum diisi sedari kemarin sore.


Begitu makanan di piring habis, Mira segera meneguk minumannya hingga habis satu gelas.


Mira mencium punggung tangan mamanya, kemudian beranjak menuju tempat gantungan kunci yang tertempel di dinding.


"Kamu yakin mau berangkat bawa mobil sendirian, Mir? Nggak pesen taxi online saja?" tanya mama yang merasa khawatir jika tidak bisa fokus ke jalanan karena kurang enak badan.


"Nggak keburu kalau pesan taxi, Ma. Insyaallah Mira gak apa-apa. Masih sanggup, Kok. Lagian jarak rumah ke kantor gak terlalu jauh juga," tutur Mira beralasan. "Mira berangkat, Ma. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," jawab mama pasrah.


Mira memang agak keras kepala dan terlalu giat dalam bekerja. Sehingga terkadang sampai menunda-nunda waktu makan hingga tak jarang maaghnya kambuh.


Mira bergegas menuju garasi untuk mengeluarkan mobilnya hingga melaju ke jalanan menuju ruko tempatnya kerja.

__ADS_1


Sepeninggal Mira mama masuk ke dalam rumah sembari bergumam, "Apa Mira lagi stres ya, biasanya anak itu kan kalau banyak pikiran suka drop!"


****


Sesampainya di ruko, Mira bergegas masuk ke dalam setelah memarkirkan mobilnya.


"Pagi, Mbak Mira! Assalamu'alaikum," ujar Sesha menyapa Mira yang baru masuk.


"Wa'alaikumussalam. Pagi, Sha. Aku bisa minta tolong nggak?" tanya Mira sembari berpangku tangan di atas meja FO dan kepalanya di taruh di atas tangannya yang terlipat.


"Minta tolong apa, Mbak? Kalau aku bisa pasti aku bantu!" jawab Sesha.


"Tolong carikan paracetamol , obat maag dan vitamin, eh amoxcilin juga di kotak obat, Sha. Terus hantarkan ke meja aku, ya?" titah Mira yang merasa kondisinya semakin tidak baik.


"Mbak Mira lagi sakit ya? Pantesan kelihatan pucat banget," ujar Sesha yang merasa iba terhadap bosnya.


"Iya nih, Sha. Lagi gak enak badan. Aku udah nggak kuat berdiri nih, Sha. Aku tinggal ke atas, ya? Jangan lupa obatnya buruan dianter!" tutur Mira kemudian berlalu menaiki tangga dengan langkah gontai.


"Iya, Mbak. Hati-hati Mbak naik tangganya!" seru Sesha dari lobby sembari mengamati Mira hingga mencapai anak tangga teratas.


Sesampainya di ruang kantornya Mira mengambil handphonenya dan mengetik story di WhatsApp.


...Slow respon!...


Setelah itu Mira merebahkan diri di sofa kantornya.


****


Di ruko bagian bawah.


"Ngeliatin apaan sih sampai nggak kedip, Sha?" tanya Gina yang baru datang.


"Tuh, Mbak Mira sakit, Mbak. Mukanya pucet banget kasihan aku, takut kalau jatoh pas naik tangga!" tutur Sesha sembari membereskan meja kerjanya.


"Sakit apa, Sha?" tanya Gina. Gak tahu,Mbak. Sepertinya masuk angin!" jawab Sesha menduga-duga.


"Lhah kemarin habis ketemu mas Jonathan diapain sampai sakit begitu? Jangan-jangan dibikin patah hati lagi!" ujar Gina berasumsi.


"Alah, Mbak Gina sok tau nih! Udahlah gak mau suudzon, aku mau ambilkan obat dulu buat mbak Mira, barusan uda di kasih mandat!" ujar Sesha bergegas menuju ruang kesehatan untuk mengambilkan obat yang diinginkan oleh Mira.


Saat dia hendak naik ke atas Sesha melihat seseorang yang berdiri di depan meja FO.

__ADS_1


Sesha mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga, kemudian menghampiri orang tersebut terlebih dahulu.


_____________Ney-nna____________


__ADS_2