Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Bisikan di telinga


__ADS_3

Hei kau, berhenti!!" seru Parlan.


Lala yang hendak beranjak pergi, akhirnya menghentikan langkahnya. Parlan kemudian mendekat ke arah Lala berdiri.


"Hehh, kemana saja lo nggak pernah pulang ke rumah?" tanya Parlan.


"A-- aku kerja Paman," jawab Lala dengan gemetaran.


"Kerja!? Hahahaha ...!" Parlan tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Lala. "Emangnya gaji lo jadi babu berapa? Mau jadi babu bertahun-tahun juga gak bakalan lo bisa ngumpulin uang buat bayar hutang bokap lo!" tambahnya lagi.


"Iya Lala tau, Paman. Aku pasti akan segera membayarnya jika uangnya sudah terkumpul," ujar Lala dengan sendu di wajahnya.


"Sekarang kemarikan uangmu, ibumu sangat pelit untuk membagi padaku!" Parlan menyerobot sling bag yang dipakai Lala dan mengambil dengan paksa dompet yang berada didalamnya.


"P-- Paman, jangan semuanya! Tolong sisakan sedikit untuk Lala, Paman!" Lala mencoba menahan, namun tak mampu untuk melawan. Yang bisa ia lakukan hanyalah meratapi nasibnya memiliki seorang paman bejat seperti Parlan.


Ayah Lala adalah kakak dari Parlan. Ayahnya sudah meninggal dunia sejak tiga tahun yang lalu dan meninggalkan banyak hutang. Semasa hidupnya perbuatan ayah Lala tak jauh beda dengan Parlan yang menghabiskan waktunya dengan berjudi dan minum-minuman keras.


Ibunya lah yang harus bekerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan membiayai sekolah Lala. Ibu Lala bekerja menjadi buruh cuci di desanya. Lambat laun mulai bermunculan jasa laundry, sehingga jasa buruh cuci semakin tersingkir. Ibu Lala akhirnya beralih profesi menjadi asisten rumah tangga.


Kehidupan semakin berat untuk Lala, karena harus berjauhan dengan ibunya. Sebab ibunya harus tinggal di rumah majikannya. Sedangkan lingkungan tempat tinggalnya, kebanyakan adalah orang-orang yang berbuat maksiat. Banyak anak kecil yang sudah putus sekolah dan memilih menjadi anak punk yang suka mengamen di jalanan, dan dari mereka juga banyak yang kegiatannya menjurus ke hal-hal yang negatif.


Lala, lantas memutuskan untuk berhenti sekolah akibat kendala biaya dan memilih bekerja demi menghidupi kebutuhannya sendiri maupun untuk mencicil hutang warisan dari ayahnya. Tentunya hal itu juga demi ketentraman dirinya, bisa keluar dari tempat tinggalnya yang lingkungannya sebagian besar adalah golongan orang-orang penjudi dan kriminal.


"Berisiik!" ujar Parlan sembari mengosongkan dompet dan mengambil seluruh isinya, "Kalau bukan karena gue, lo udah habis di tangan tuan Baskoro. Ngerti lo!" tambahnya.


Lala mulai terisak dengan kelakuan pamannya, namun ia hanya bisa diam tanpa berbuat apa-apa.


Parlan berlalu meninggalkan Lala yang terdiam dengan lelehan air mata di pipinya.


Reyna beranjak mendekati Lala. "Kamu nggak apa-apa, La?"


"Aku nggak apa-apa kok, Mbak. Ayo, kita pulang sekarang!" Lala mengusap air matanya, kemudian menggandeng tangan Reyna dan berjalan menuju parkiran mobil. sementara Dipa mengikuti dari belakang.


Sesampainya di dalam mobil, Dipa segera menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.


"Reyn, kapan kamu akan melaporkan dia ke kantor polisi? Dengan foto yang aku ambil tadi--- polisi akan lebih mudah untuk menangkapnya. Terlebih Lala mengenal orang itu," ujar Dipa.


"Harusnya secepatnya, supaya tidak kehilangan jejaknya lagi. Maaf ya, Dip? Gara-gara hal itu nyawamu dalam bahaya--- bahkan uangmu telah diambilnya semua." Reyna merasa bersalah.


"Uang cashnya juga tak seberapa kok, Reyn. Tenang aja!" ujar Dipa, "Gimana kalau besok aku anter kamu buat laporan di kantor polisi?"


"Besok?" Reyna berpikir sejenak. "Oke, Dip. Besok kita ke kantor polisi. Sebelumnya terima kasih ya, Dip. Kamu sudah terlalu banyak membantuku."


"Sama-sama, Reyn!"


***


Keesokannya Reyna mendatangi kantor polisi untuk melaporkan Parlan. Reyna juga sudah memberitahukan hal itu kepada Reza. Polisi segera melakukan pencarian terkait laporan tersebut. Namun, Parlan tak diketahui keberadaannya. Ia tidak lagi datang ke alun-alun tempatnya nongkrong dan saat polisi mendatangi alamat rumah yang Lala berikan, ternyata Parlan juga tidak ditemukan berada di rumahnya. Tetangganya berkata, jika sudah hampir seminggu Parlan tidak terlihat di rumahnya.


Reyna menjadi frustasi lagi, karena Parlan tidak diketemukan. Setidaknya dengan menangkap Parlan ia tahu siapa dalang yang telah tega merencanakan pembunuhan yang telah merenggut nyawa suaminya.


Hari berikutnya Reza datang dari Jakarta bersama istrinya. Hal itu menjadi ajang pertemuan juga bagi mereka setelah hampir tujuh bulan tidak bertemu.


Lena memandang haru pada cucunya. Sebab wajah Reynand sangat mirip dengan Rangga. Lena menggendong anak itu dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajahny hingga Reynand menangis. Reynand yang ketakutan meronta-ronta ingin diturunkan dari gendongannya dan beralih ke dalam pelukan nenek uyutnya. Sebab, Reynand belum terbiasa dengan omanya. Namun saat Reza mencoba menggendongnya Reynand hanya terdiam sembari memperhatikan wajah opanya.


"Reynand, kenapa diam, Nak?" ujar Reza.


"Apa ada laki-laki yang pernah menggendongnya, Ma?" tanya Lena mencoba menelisik.


"Ada, namanya Dipa. Temannya Reyna," ucap nenek.


"Apa mungkin Reynand masih merasa asing dengan sosok seorang laki-laki?" ujar Lena sendu melihat cucunya yang harus tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah, "Sungguh malang nasibmu, Nak."


Reyna yang menyaksikan hal itu dari pintu kamarnya pun ikut terharu.


Jika saja kamu masih ada di tengah-tengah kita, By. Keluarga ini akan lengkap dengan adanya dirimu ....


Seharusnya kamu melihat bagaimana ia tumbuh, By. Putramu membutuhkan kasih sayang darimu. Aku pun sangat merindukanmu, By ... ! Merindukan tawamu, perhatianmu, semuanya tentangmu. Aku lemah tanpamu, By! batin Reyna sesak mengingat semua kenangan yang terputar, tentang hari-hari yang pernah ia lalui bersama dengan Rangga.


Reyna menutup pintu dan terisak di balik pintu kamarnya. Tubuhnya merosot dan terduduk di lantai memeluk kakinya yang tak mampu menopang tubuhnya yang melemah. Kenangan-kenangan indah yang pernah terukir saat bersama dengan Rangga bermunculan dibenaknya.


🎢🎢

__ADS_1


Aku yang lemah tanpamu


Aku yang rentan karena


Cinta yang t'lah hilang darimu


Yang mampu menyanjungku


Selama mata terbuka


Sampai jantung tak berdetak


Selama itu pun aku mampu untuk mengenangmu ....


Darimu kutemukan hidupku


Bagiku kau lah cinta sejati ....


Bila yang tertulis untukku


Adalah yang terbaik untukmu


Kan ku jadikan kau kenangan


Yang terindah dalam hidupku


Namun, tak kan mudah bagiku


Meninggalkan jejak hidupmu


Yang t'lah terukir abadi


Sebagai kenangan yang terindah ....


🎢🎢


****


"Abiyu ke sini? Kenapa tidak masuk?" tanya nenek.


"Iya, ada di depan, Ma. Katanya mau bicara di cafe saja. Aku berangkat dulu, Assalamu'alaikum!" Reza berlalu meninggalkan rumah.


"Wa'alaikumussalam. Kasihan Abiyu ..." ujar nenek.


"Memangnya kenapa, Ma?" tanya Lena yang tidak mengerti.


"Ehm ... bukan apa-apa!" kilah nenek, "La, tolong panggilkan Reyna. Sudah malam saatnya Reynand tidur!" titah nenek saat menyadari jam di dinding menunjukkan angka delapan pada jarum pendeknya.


"Iya, Nek!" Lala berjalan menuju kamar Reyna.


Sesampainya di depan kamar Reyna, Lala ragu saat hendak mengetuk pintu. Terdengar lirih isakan tangis dari balik pintu kamar Reyna. Lala menduga Reyna tengah menangis. Lala terdiam sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus memanggil Reyna atau tidak. Akhirnya Lala kembali ke ruang tengah.


"Kenapa diam di situ, mana Reyna?" tanya Nenek saat melihat Lala hanya diam di sudut ruangan dekat pintu.


Lala melangkah mendekat ke arah nenek. "Mbak Reyna sepertinya sedang ingin sendiri, Nek!" ujar Lala dengan suara dipelankan.


"Sedang ingin sendiri? Maksudnya?" tanya Lena yang tidak mengerti.


"Mbak Reyna, sepertinya sedang bersedih. Saya tidak sengaja mendengar isak tangisnya di depan pintu ...."


Lena dan nenek saling berpandangan dengan tatapan sendu. Mereka dapat menduga apa yang sedang terjadi pada Reyna.


"Biar saya saja yang menidurkan Reynand, Nek!" Lala meminta ijin dengan sopan.


"Baiklah, bawa Reynand bersamamu ...."


Lala memgambil alih Reynand dari pangkuan nenek. Ia sudah terbiasa menjaga Reynand, sehingga Lala pun menjadi hapal dengan kebiasaan anak itu. Reynand pun langsung menyambut uluran tangan dari Lala dengan jari-jemari kecilnya yang terulur. Hanya beberapa kali mengayun saja Reynand sudah terlelap dalam gendongan Lala.


Malam itu akhirnya Reynand dibawa Lala untuk ditidurkan di kamarnya. Seusai merebahkan Reynand di atas kasurnya, Lala kembali ke meja belajarnya. Sudah dua bulan ini Lala masuk sekolah atas bantuan biaya dari Reyna. Disela-sela belajar, Lala menyempatkan waktu untuk menulis novel online.


Kehidupannya yang sepi tanpa ada saudara dan kurangnya kasih sayang dari orang tuanya, membuat Lala menggemari dunia halu. Dari awal mula menjadi pembaca, kini ia menjajal kemampuannya menulis novel disalah satu platform aplikasi novel online. Dari menulis, ia bisa menyalurkan gagasan yang ada di kepalanya. Meskipun ia hanya anak desa dan anak orang tak punya tapi Lala mempunyai keinginan yang kuat untuk mengepakkan sayap setinggi-tingginya.


Tidak mudah memang, karena masih pemula Lala tidak banyak mendapatkan dukungan dari pembaca. Namun Lala tidak menyerah begitu saja. Ia yakin semua jerih payah pasti akan ada hasilnya.

__ADS_1


Tok tok tok.


Bunyi ketukan di pintu membuatnya menghentikan aktivitasnya mengetik karyanya.


"Masuk!" ujar Lala sembari menoleh ke arah pintu berada.


Nampak lah Reyna dari balik pintu.


"Reynand sama kamu ya, La?" Reyna masuk ke dalam dan melihat jika putranya sudah tidur. "Terima kasih ya, La? Maaf selalu merepotkan mu!" tambahnya sembari duduk di tepian kasur.


"Tidak repot kok, Mbak. Reynand itu gampang tidurnya. Baru aku gendong sebentar sudah terlelap," ujar Lala sembari beralih menghadap ke arah Reyna, "Mbak Reyna tidur aja, Mbak. Nanti kalau Reynand bangun aku antar ke kamar Mbak, deh!"


Reyna hanya diam sembari melihat-lihat kamar Lala. Kamar yang sederhana, tapi terlihat bersih dan rapi.


"Kamu sedang belajar, La?" tanya Reyna.


"Enggak sih, Mbak. Nih aku iseng-iseng aja bikin novel, Mbak!" ujar Lala.


"Wah, bagus itu, La. Mbak juga suka baca novel lhoh. Gunakan masa mudamu untuk hal-hal yang positif. Berikan pesan yang baik dari tulisan-tulisan mu. Suatu kebaikan pasti akan membawa keberkahan."


"Iya, Mbak. Terima kasih, dukungannya. Masih pemula aku, Mbak. Sejauh ini hitungan jari kok Mbak, yang baca. Hhehehe ...."


"Jangan menyerah, itu baru permulaan. Keberhasilan itu berawal dari jerih payah yang gigih dan jatuh bangun saat kamu meraihnya. Satu lagi, libatkan Allah dalam setiap langkah hidupmu. Kamu tak perlu khawatir jika ada yang meremehkan, menghujat, dan mencurangimu. Semua niat jahat akan kembali kepada pribadi orang itu sendiri. Ketika niat baikmu tak dianggap ataupun terabaikan, tak perlu berkecil hati. Biarlah Allah yang akan membalas kebaikanmu dengan caranya. Siapa yang menabur pasti akan menuainya."


Lala terperanjat mendengar kata-kata nasehat dari Reyna yang seolah tahu tentang seluk-beluk dunia halu yang sekarang digelutinya. "Mbak Reyna jangan-jangan seorang penulis juga, ya?" tanya Lala dengan penuh keheranan.


"Emm ... bisa jadi. Hhhahaha ... !" Reyna tertawa dengan ambigu. "Mbak mau balik ke kamar dulu ya, La. Nanti kalau Reynand bangun antarkan ke kamar. Kamu jangan terlalu memforsir diri--- jaga kesehatan!"


Reyna melenggang meninggalkan kamar Lala tanpa memberi kesempatan bagi Lala untuk menjawab kata-katanya.


"Mbak Reyna, bikin penasaran saja sih!" ujar Lala sesaat setelah Reyna berlalu. Kemudian, Lala melanjutkan untuk mengetik karya novelnya.


Jam di dinding menunjukkan pukul 00.30 WIB. Lala baru selesai menuntaskan satu bab untuk diupload nya. Kesibukannya sedari bangun tidur yang harus menuntaskan tugasnya sebagai asisten rumah tangga di rumah Reyna, kemudian bersekolah hingga siang, dan ketika pulang, ia harus kembali lagi mengerjakan tugasnya sebagai ART, membuatnya harus pandai-pandai membagi waktu.


Akhirnya acap kali ia harus kejar-kejaran dengan deadline untuk mengupload episode dinovelnya. Semua demi memuaskan pembaca yang telah menantikan kelanjutan ceritanya. Meski begitu, hal itu menjadi kesenangan tersendiri baginya. Sebab, dengan menulis lah ia mampu mencurahkan segala harapan yang tak bisa ia wujudkan di dunia nyata bisa terwujud di dunia halunya.


Tepat disaat itu Reynand terlihat menggeliat. Kemudian, Lala mendekati anak itu dan menggendongnya ketika anak itu mulai menangis.


"Dek Nand bangun, ya? Yuk kita ke mama, yuk!" Lala menggendong Reynand menuju kamar Reyna.


Sebelum Lala mengetuk pintu kamar Reyna, pintu tersebut telah terbuka dengan sendirinya dan menampakkan Reyna dari balik pintu. Rupanya Reyna mendengar tangis Reynand dan hendak mendatangi putranya berada.


"Adek bangun, ya?" ujar Reyna sembari tangannya terulur untuk mengambil alih Reynand dari gendongan Lala, "Makasih ya, La!"


"Iya, Mbak. Aku balik ke kamar, ya?"


"Iya, La. Selamat tidur!"


"Selamat malam, Mbak!" Lala berlalu menuju kembali ke kamarnya.


Reyna kemudian menutup pintu dan mendudukkan diri di sofa untuk menyusui baby Reynand. Setelah puas menyusu, anak itu kembali terlelap. Lantas ditempatkannya baby Reynand ke dalam box bayinya. Setelah itu Reyna menuju toilet dan mengambil air untuk wudhu. Kemudian, Reyna mengenakan mukenanya untuk melaksanakan sholat tahajud. Usai melaksanakan sholat Reyna menuju tempat tidurnya dan membaringkan diri di atas sana.


Tak berapa lama setelah ia terlelap, Reyna seolah terbuai dengan kenyamanan dalam tidurnya, saat merasakan ada sentuhan lembut di atas kepalanya, tengah membelai rambutnya yang terurai hingga di bahunya. Sebua kecupan singkat mendarat di keningnya dan terasa hangat. Kemudian, terdengar lirih bisikan di telinganya.


"Sayang, bukankah malam itu kamu sudah berjanji akan selalu bahagia!" setelah beberapa detik terjeda, bisikan itu kembali berucap, "Mulai sekarang, ikhlaskan aku pergi--- dan sambutlah dia ...!"


___________________Ney-nna_________________


...Bismillahirrahmanirrahim,...


...Assalamu'alaikum,...


...Mohon maaf, Neyna sempat hiatus beberapa hari yang lalu. Untuk kedepannya, Neyna akan berusaha untuk selalu Up. Terima kasih bagi reader's yang selalu mendukung Neyna dan dengan setia menanti kelanjutan ceritanya. Semoga dengan membaca kisah ini dapat mendatangkan manfaat bagi kita semua. Aamiin 🀲...


Untuk menjalin silaturahmi Neyna open Grup Chat khusus reader's, silahkan klik detail dan buka profil author untuk masuk ke dalam Grup Chat.


...Please Like πŸ‘...


...Leave a Coment πŸ€—...


...Give a gift & vote 🌹...


...Tank you! πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•...

__ADS_1


__ADS_2