Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Membeli Cincin


__ADS_3

Mira nampak sangat terkejut ketika Dipa mengetahui tentang barang pemberian dari Jonathan barusan.


"Da-dari mana kamu tahu tentang hal itu?" tanya Mira dengan terbata-bata.


Jangan-jangan, selama ini Dipa mengirim seorang mata-mata untuk mengintai setiap gerak-gerik ku, ya?! gumam Mira sembari memicingkan mata.


"...." Dipa masih terdiam sembari menyunggingkan salah satu sudut bibirnya ke atas, merasa seolah menegaskan agar Mira tidak main-main di belakangnya.


"Kamu memata-matai aku, ya?" ujar Mira menerka-nerka.


"Hahahaha ... apa untungnya aku memata-matai kamu?" jawab Dipa dengan tertawa terbahak-bahak.


"Nah itu, dari mana kamu bisa tau kalau barusan Jona kasih aku barang? kamu jangan salah paham dulu ya, Dip. Aku dan Jona sudah nggak ada hubungan apa-apa sejak lama, dan tadi itu aku bukan janjian ketemuan sama dia. Jona ke sini sendiri tanpa memberi kabar sebelumya, dia juga cuma mau pamit aja karena dia akan tinggal di Kalimantan seterusnya karena dia bekerja di sana sekarang. Mengenai barang yang barusan itu, Jona tahu jika aku paling suka mengoleksi barang-barang berbentuk Dholpin, makanya waktu dia lihat barang itu dia kepengen aja beli terus dikasih ke aku, tapi aku tau kok dia nggak bermaksud apa-apa! dia gak akan mengganggu hubungan kita, aku bisa pastikan itu!" tutur Mira panjang lebar mengatakan semuanya sebelum Dipa bertanya.


Dipa tidak menyangka jika Mira akan mengatakan semuanya tanpa terkecuali meskipun Dipa belum meminta untuk menjelaskan hal itu. Dari situ Dipa tahu jika Mira tidak berbohong, namun lagi-lagi Dipa merasa kesal karena Mira seolah membela Jonathan.


"Hhhh ... mana mungkin dia nggak bermaksud apa-apa ke kamu, jelas dia tahu jika kamu akan menikah sama aku, tapi masih juga di samperin ke tempat kerja kamu! sudah jelas sekali jika dia masih berharap sama kamu, Mir. Kamu aja yang terlalu polos dan kurang peka menangkap maksudnya," tutur Dipa menyangkal pemikiran Mira tentang Jonathan.


"Oke ... oke mungkin saja iya! Jona mungkin masih berharap sama aku, tapi sungguh, Dip ... aku nggak akan berpaling kepada dia, Dip. Aku tahu apa yang dia rasakan saat ini, karena aku pernah ada di posisi dia juga. Aku cuma merasa iba aja, nggak lebih. Aku sudah memilih kamu, jadi aku akan konsisten dengan pilihan aku! kamu bisa percaya sepenuhnya sama aku jika aku nggak bakalan berpaling dari kamu," tutur Mira berusaha meyakinkan Dipa.


Ciyee ... Mira sampai segitunya bilang nggak akan berpaling dari aku, tapi aku kok merasa senang dengan kata-katanya barusan! batin Dipa.


"Jangan dong kamu harus berpaling dari aku, kita ini belum muhrim, kalau kamu lihatin aku terus namanya zina mata! hehehehe ...!" ujar Dipa dengan terkekeh, mencoba mencairkan suasana tegang di antara mereka.


Mira bengong mendapati jawaban Dipa. Sejenak dia diam mencerna kata-kata Dipa. Padahal dia sedang berbicara serius takut jika Dipa benar-benar marah karena hal itu, ternyata Dipa malah menanggapinya dengan bercanda, Mira menjadi sangat kesal.

__ADS_1


Mira menatap tajam ke arah Dipa kemudian menyabet file yang berada di atas meja dan memukulkan nya ke arah lengan Dipa beberapa kali.


"Ihh, dasar kamu ya, Dip! bisa-bisanya kamu bercanda disaat aku lagi serius bicara!" tutur Mira dengan kesal, namun tidak serius marah, tapi Mira merasa lega Dipa tidak salah paham kepadanya dan mempercayai kata-katanya.


Dipa mencoba menghindar dengan menghalanginya dengan kedua tangannya. "Iya, iya, Mir, sorry deh sorry!"


"Udahlah, yuk kita berangkat sekarang! Tante Shinta pasti sudah lama menunggu!" ujar Mira menyudahi obrolan mereka.


"Oke, tapi aku berpesan satu hal, Mira! jangan kamu menerima pemberian dari cowok lain lagi seperti ini untuk kedepannya, karena jujur saja aku yakin ada harapan yang ingin di sampaikan dari benda pemberian ini apa lagi dari mantan!" tutur Dipa kemudian beranjak berdiri melewati Mira.


"Tunggu!" ucap Mira yang seketika membuat Dipa berbalik. "Kamu juga pernah melakukan hal yang sama, kan? kamu memberikan kotak musik kepada Reyna padahal kamu tahu Reyna sudah memilik suami yang pada saat itu adalah Rangga," tutur Mira yang membuat Dipa terkesiap.


"Oh kalau yang itu beda, Mira. Kotak musik itu aku pengen kasih di saat kita masih kuliah, dan itu kado untuk ulang tahun Reyna kala itu. Dan, aku tahu Reyna nggak mencintai aku jadi barang itu mungkin nggak akan berkesan buat Reyna, terlebih karena aku nggak ada maksud untuk mengganggu hubungan mereka juga ...," tutur Dipa membela diri.


"Lantas, apa sampai saat ini kamu masih mencintai, Reyna?" tanya Mira kepada Dipa.


"Tidak perlu dijawab! ayo kita berangkat sekarang!" tutur Mira yang menyudahi suasana yang tegang itu sembari mengalungkan sling bagnya.


Sesungguhnya dia juga belum siap untuk menerima jawaban dari Dipa yang mungkin nanti akan menjadi beban pikirannya.


Mira berjalan ke luar ruangan, kemudian Dipa mengikutinya dari belakang. Seusai Dipa ke luar, Mira mengunci pintu ruangan kantornya.


Dipa nampak berjalan dengan tenang tanpa mengucapkan apa pun, Mira juga tidak menegurnya lagi, sehingga suasananya menjadi canggung. Bahkan ketika sudah berada di dalam mobil mereka masih sama-sama diam.


****

__ADS_1


Sesampainya di sebuah mall yang menjadi tujuan mereka, Dipa dan Mira berjalan beriringan, tanpa bicara.


Saat sampai di toko perhiasan, Shinta mengomel kepada Dipa yang sangat terlambat datang hingga membuat mamanya harus menunggu lama.


"Kalian ngapain aja sih lama banget sih, hampir aja Mama mau pulang saking nggak tahan berada di sini lama-lama!" tutur Shinta memarahi putranya.


Setelah berdebat sebentar dengan putranya yang membuat Mira tertawa, akhirnya Dipa bisa menjinakkan mamanya.


"Maaf, Ma!" kata mujarab yang akhirnya membuat Shinta luluh.


Shinta membawa Mira untuk duduk di sampingnya, kemudian meminta penjaga toko untuk mengambil ukuran jari Mira. Setelah itu Shinta meminta Mira untuk memilih cincin yang di sukai.


"Ayo, Sayang! pilih cincin yang kamu sukai!" tutur Shinta kepada Mira.


Dari sekian banyak yang ditunjukkan oleh pegawai toko, tidak ada yang membuat Mira benar-benar merasa klik. Sebenarnya Mira ingin meminta pendapat Dipa, namun Dipa malah memisahkan diri.


Mira menoleh ke arah Dipa yang terlihat seru mengobrol dengan salah seorang pegawai toko yang lain di tempat duduk yang agak jauh dari tempat Shinta dan Mira duduk. Mira merasa sedikit penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Dipa dengan pegawai itu, namun sayangnya Mira tidak bisa mendengar apa yang mereka obrolkan karena jaraknya cukup jauh dan keadaan mall yang bising.


Setelah beberapa saat menuntaskan obrolannya dengan pemilik toko, Dipa kembali mendekat ke arah mamanya dan Mira berada.


"Yuk, Ma, kita pulang!" tutur Dipa.


"Lhoh, gimana sih, Dip ... cincinnya kan, belom dipilih!" ujar Mama bingung karena Mira belum menentukan pilihannya tapi Dipa sudah mengajak pulang.


"Sudah Mama tenang aja, cincinnya udah beres sama Dipa!" tutur Dipa yang bertindak dengan cara cepat, dari pada mengikuti cara wanita berbelanja yang lama memilih tapi belum juga mendapatkan yang sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


...___________Ney-nna___________...


__ADS_2