
Rangga duduk di lantai kamarnya sambil menjambak rambutnya dengan kedua tangannya. Jelas sekali bahwa yang dilihatnya di bandara adalah istrinya. Rangga tidak bisa menghentikan Reyna karena pesawat sedang take off.
Saat masuk ke kediaman kakek, hanya ada si embak di rumah. Dan barusan ia membenarkan bahwa Reyna mengatakan akan pergi ke Jogja ke rumah bibinya. Sedangkan nenek dan kakek pergi ke rumah sakit karena ada jadwal kontrol, untuk kakek.
Breng sek! Kenapa bisa pergi dengan laki-laki itu. Kenapa kamu nggak bilang ke aku kalau mau pergi, Hana?!
Rangga berulang kali mencoba menelpon Reyna. Namun handphonenya tidak aktif. Rangga benar-benar kalut dengan apa yang terjadi. Rangga sampai berpikir aneh-aneh tentang Reyna. Akankah Reyna berhubungan dengan Abiyu selama ini. Padahal selama ini Rangga sangat yakin jika Reyna sudah mencintai dia. Tapi apa yang barusan dia lihat, tidak bisa dipungkiri hatinya sangat terluka, jika Reyna menghianatinya. Nggak mungkin, Hana! Aku pasti salah!
***
Ditempat yang berbeda, Abiyu sedang duduk sendiri di samping brankar. Ia sedang menunggu seorang perempuan yang sedang terbujur di salah satu kamar. Ya, perempuan itu adalah Reyna yang belum sadar setelah pingsan di bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Abiyu lah yang membawanya ke klinik kesehatan terdekat.
Flashback On...
Pov. Abiyu
Saat berada di pesawat, kebetulan tempat duduk Reyna berseberangan dengan kursiku. Sehingga saat itu aku tahu keadaan Reyna yang sedang tidak baik. Wajah Reyna terlihat pucat, dan mengeluarkan banyak keringat dingin.
"Reyna, kamu kenapa?" aku sangat terkejut saat mengetahui muka Reyna seperti yang sedang menahan sakit.
"Gak tau ini Kak, tiba-tiba kepalaku pusing banget!" ucap Reyna.
"Pakai ini, Reyn. Mukamu pucat sekali," aku sodorkan sapu tangan ke depan mukanya.
"Terima kasih, Kak," dia usap mukanya dengan sapu tanganku.
"Kenapa Nak, sedang tidak enak badan yah?" tanya seorang ibu yang duduk di samping Reyna.
"Iya, Bu. Mungkin maag saya kambuh karena belum sempat sarapan tadi, kepala saya jadi pusing begini," Reyna menyentuh pelipis dan tangan satunya memegang perutnya yang terasa mual.
"Wah, ibu juga nggak bawa obat. Begini saja, coba kamu kunyah permen jahe ini untuk mengurangi rasa mualnya. Kebetulan ibu selalu bawa. Nanti begitu sampai di bandara, segera periksakan di klinik terdekat," si ibu itu menyerahkan beberapa permen kepada Reyna.
"Terima kasih, Bu!" ucap Reyna.
Dan benar saja dalam beberapa saat Reyna terlihat lebih tenang, dan akhirnya tertidur. Kasihan sekali melihatnya tadi saat mukanya pucat. Nggak kebayang jika tidak ada yang mengenalnya akan seperti apa dia. Kemana suaminya, kenapa membiarkan Reyna bepergian sendirian.
Perjalanan memakan waktu 1 jam 15 menit. Saat pesawat landing aku melihat dia terbangun. Syukurlah ia bangun saat kita sudah sampai di Jogja. Saat akan turun aku lirik lagi, mukanya kembali pucat.
"Kenapa, Nak? Pusing lagi?" tanya si ibu itu. Reyna tidak menjawab dan hanya mengangguk sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya.
"Ayo, Reyn kita keluar, koper kamu biar aku yang bawakan," aku berdiri kemudian mengambil kopernya dan koperku.
Penumpang yang lain sudah mulai turun. Reyna nampak kesulitan berjalan, aku lihat ibu tadi berusaha membantunya saat melihatnya berdiri dengan tidak stabil. Aku langsung menangkap tubuhnya yang hendak terjatuh karena dia pingsan.
Flashback Off.
Reyna terlihat membuka matanya. Ia nampak kebingungan melihat sekitar kemudian menemukan Abiyu yang juga sedang menatapnya.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Reyn," ucap Abiyu sambil mendekat ke arah Reyna.
"Kak Abi, aku dimana?" tanya Reyna.
"Kamu tadi pingsan saat mau turun dari pesawat. Aku membawamu ke klinik terdekat dari bandara,"
"Sekarang kamu harus makan dulu kemudian minum obat," ucap Abiyu sambil membuka kotak makan untuk Reyna.
__ADS_1
"Kak, maaf sudah merepotkan Kak Abi," ucap Reyna lirih.
"Nggak apa-apa, Reyn. Nggak usah dipikirkan, yang terpenting sekarang kamu harus jaga kesehatan kamu dan juga janin di perutmu itu," sumpah demi apa Reyna sangat terkejut mendengarnya namun ia masih ragu.
Abiyu menyerahkan kotak makan kepada Reyna yang sudah duduk bersandar pada tempat tidur.
Reyna terlihat kaget dan bingung, "Apa, Kak? Barusan Kak Abi bilang apa?"
"Sudah aku duga, kamu pasti belum tau ya kalau kamu sedang hamil?" tanya Abiyu.
"Aku hamil..!" Reyna sangat terkejut mendengar kabar itu.
Abiyu mengangguk mengiyakan.
"Alhamdulillah... terima kasih ya Allah!" Reyna terharu sampai mengeluarkan air mata.
"Dokter menyarankan untuk melakukan usg agar mengetahui kondisi kandungan kamu saat ini. Sekarang kamu makan dulu yang banyak, supaya janin kamu sehat. Aku keluar sebentar ya Reyn, kamu jangan kemana-mana. Ohya... vitaminnya jangan lupa diminum!" Abiyu kemudian keluar dari kamar meninggalkan Reyna sendiri.
Reyna menyantap makanannya dengan riang gembira. Suaminya pasti akan senang mendengar kabar bahwa ia sedang mengandung anaknya. Reyna makan dengan lahap sambil beberapa kali mengusap perutnya yang masih rata.
Hubby...!
Reyna baru ingat bahwa ia tadi belum sempat mengabari suaminya jika akan pergi ke Jogja. Saat akan menelpon handphonenya kehabisan baterai.
"Astaghfirullah...bagaimana ini aku lupa belum mengabari, Hubby."
Reyna perlahan turun dari tempat tidur, kemudian menghampiri kopernya yang berada di sudut ruangan. Diambilnya handphone yang berada di dalam koper kemudian ia sambungkan dengan charger.
"Huhhhh...!" Reyna menghela nafasnya. Kemudian ia mengambil vitamin yang berada di atas nakas.
Abiyu masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu, "Sudah diminum vitaminnya?"
"Sudah, Kak. Kak, Abi dari mana?" tanya Reyna.
"Habis ngurus administrasi, kamu sudah dibolehkan pulang. Tapi harus banyak beristirahat kata dokter."
"Oiya, tadi kamu bilang mau ke rumah Bibi kamu kan? Ayo aku antar!" ucap Abiyu.
"Tapi Kak, aku sudah banyak merepotkan Kakak. Kak Abi, pasti ada urusan yang harus dikerjakan di Jogja. Sebaiknya aku naik taxi sendiri saja, Kak," Reyna merasa tidak enak karena telah banyak merepotkan Abiyu.
"Urusanku sudah ditangani oleh asisten cabang, sekarang aku antar kamu dulu. Aku nggak tega kalau kamu pulang ke rumah Bibimu sendirian, apalagi kamu sudah lama tidak berkunjung ke sana kan pasti. Bagaimana kalau Bibimu sedang tidak berada di rumahnya," ujar Abiyu.
Benar juga, mungkin saat ini Bibi sedang di rumah sakit bukan di rumah. Aku musti telpon Bibi dulu.
"Sebentar, Kak. Aku akan memastikan keberadaan Bibi dulu," Reyna mengambil handphone yang masih tersambung dengan kabel charger. Ia hidupkan handphonenya kemudian ia hubungi nomor bibinya.
Telpon tersambung tapi tidak diangkat. Sampai ketiga kalinya, telponnya masih tidak diangkat.
"Gimana, Reyn?" tanya Abiyu.
"Nggak diangkat, Kak," Reyna terlihat cemas.
"Brarti jalan satu-satunya adalah ke rumah Bibimu, Reyn. Ayo kita pergi sekarang, kopermu biar aku yang bawa," Abiyu mengambil kopernya dan koper milik Reyna kemudian mereka keluar meninggalkan klinik. Reyna mengikuti di belakang.
Sampai di dalam taxi Reyna mengecek handphonenya baterainya baru terisi 5% jika digunakan untuk telpon suaminya, kemungkinan dalam sekejap akan mati lagi.
__ADS_1
Meminjam handphone Kak Abi juga tidak mungkin, nanti malah jadi salah paham! Nggak enak juga terus-menerus merepotkan Kak Abi.
"Belokannya sebelah mana mbak?" tanya sopir taxi.
"Gang nomor dua belok kanan Pak. Rumah nomor tiga sebelah kiri," Reyna mengarahkan sambil menunjuk ke depan.
Sesampainya di pelataran rumah bibi terlihat sepi, pintu dan jendela tertutup rapat menandakan tidak ada yang berada di rumah. Reyna keluar untuk menanyakan kepada tetangga terdekat.
"Permisi, Bu. Saya keponakan Bibi Lastri dari Jakarta. Di rumah sepertinya tidak ada orang, barusan saya telpon juga tidak diangkat telponnya. Mungkin ibu tau, paman saya dirawat di mana ya, Bu?" tanya Reyna kepada ibu-ibu yang sedang duduk santai di depan rumahnya.
"Maaf, Mbak. Saya juga belum tau, tadi malam di bawanya ke rumah sakit dan sampai tadi pagi belum ada yang pulang," ujar si ibu itu.
"Ohh... ya sudah, Bu. Terima kasih, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum!"
Reyna benar-benar bingung harus bagaimana lagi. Dengan langkah gontai Reyna kembali menjumpai Abiyu yang masih setia menunggu di taxi.
"Gimana, Reyn?" tanya Abiyu begitu Reyna kembali masuk ke dalam mobil.
"Bibi, dari semalam belum pulang dari rumah sakit, Kak. Tetangganya juga nggak tau paman dirawat di rumah sakit mana," Reyna terlihat sangat lelah.
"Begini saja Reyn, kita singgah ke restoranku dulu saja, ini sudah mendekati adzan dhuhur. Lokasinya nggak begitu jauh dari sini. Di sana nanti kamu bisa coba telpon ke nomor Bibimu lagi," usul Abiyu.
"Baik, Kak. Maaf ya Kak, seharian ini aku terus-menerus merepotkan Kak Abi," ucap Reyna lirih. Hampir setengah hari ini dia sudah banyak merepotkan, bagaimana jadinya jika tidak ada Kak Abi.
"Pak, jalan Pak!" perintah Abiyu.
"Reyna, kamu sudah mengucapkannya berulang kali. Jangan membuatku merasa bahwa aku ini orang asing bagimu. Kita saling mengenal mana mungkin aku tega membiarkan kamu terkatung-katung seorang diri di tempat asing buatmu," Abiyu menjelaskan.
"Terima kasih ya, Kak Abi?" ucap Reyna sambil tersenyum manis. Dan dibalas dengan anggukan dari Abiyu.
Sepuluh menit perjalanan sampailah di restoran milik Abiyu, di cabang Jogja. Suasananya sedikit berbeda dengan yang berada di Jakarta. Di sini lebih mengusung konsep budaya Jawa di bagian dekorasi tata ruangnya.
Saat Abiyu dan Reyna masuk ke dalam, semua karyawan nampak menyapa Abiyu dengan penuh hormat. Nampak setelahnya berbisik-bisik di belakang. Reyna, merasa bisikan itu seolah berbuhungan dengan kehadirannya bersama bos mereka.
"Reyn, dibagian ujung lorong ini ada mushola kecil, jika kamu hendak sholat. Aku keluar sebentar menemui asistenku," pamit Abiyu.
Reyna mengangguk, kemudian masuk ke dalam ruangan Abiyu. Dia teringat handphonenya yang low battery, kemudian ia charge. Reyna memutuskan untuk sholat terlebih dahulu, agar daya handphonenya terisi penuh, setelah itu baru ia akan menghubungi suami dan juga Bibinya. Ia kemudian pergi menuju mushola yang tadi ditunjukkan oleh Abiyu.
Seusai menemui asistennya, Abiyu kembali ke ruang kantornya. Ia tidak mendapati Reyna, kemungkinan dia sedang sholat. Tiba-tiba terdengar bunyi suara handphone. Dilihatnya handphone Reyna menyala menandakan ada pesan masuk.
Hubby... siapa Hubby?
Namun Abiyu tidak mengangkatnya hingga handphone berhenti berdering. Namun lagi-lagi handphonenya berdering kembali.
"Bagaimana jika penting?" gumam Abiyu. Akhirnya ia mengangkat telepon Reyna.
"Hallo, dengan siapa?" ucap Abiyu saat mengangkat telpon. Namun tidak jua terdengar ada jawaban. Padahal teleponnya masih tersambung.
"Maaf, Reynanya sedang sholat, anda bisa menghubunginya sesaat lagi," ucap Abiyu kemuadian sambungan terputus.
****
Di tempat berbeda, Rangga merasa emosinya memuncak tatkala mendapati Abiyu yang mengangkat telepon istrinya. Diremasnya handphone di tangannya itu.
Tttaaaakk..!
__ADS_1
Rangga melempar handphonenya kesembarang arah.