Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Dipertemukan


__ADS_3

Sore ini adalah jadwal mengaji di majelis. Mira sengaja pulang cepat agar tidak terlambat. Pukul 15.30 mama sudah rapi dengan mengenakan gamis yang rapi serta mencangklong tote bag yang berisi buku agenda untuk mencatat. Dan, yang tidak boleh ketinggalan yakni kitab suci Al-Qur'an. Dengan sabar mama menunggu Mira hingga anaknya selesai bersiap-siap untuk berangkat mengaji.


Beberapa saat berlalu Mira tengah selesai bersiap-siap. Mira mengenakan gamis berwana birel, dipadankan dengan kerudung segi empat motif berbahan voal premium dengan ukuran 130x130 berwarna biru muda. Mira nampak lebih fresh dan cantik.


"Ayo, kita berangkat, Ma!" tutur Mira.


"Alhamdulillah uda selesai, yuk buruan!" tutur mama sembari bangkit dari duduknya kemudian berjalan ke luar dan segera mengunci pintu. Mereka masuk ke dalam mobil, kemudian mobil segera meluncur menuju tempat di selenggarakanya kajian.


"Oh ya, Mir. Kata pengurus, nanti seusai mengaji, kamu bakal di pertemukan sama calon yang mau ta'aruf sama kamu," tutur mama memberikan informasi dari pengurus kemarin.


"Hah, hari ini, Ma? kok mama nggak bilang dari tadi?" tanya Mira sembari menoleh ke arah mama sebentar, kemudian kembali fokus pada jalanan di depannya.


"Hehehe ..., maaf Mama lupa!" ujar mama sembari tersenyum menyeringai tanpa rasa bersalah. "Lagian juga sudah cantik begitu, kok. Gak apa-apa tenang aja!" tambahnya.


Meski mama bilang seperti itu, tapi Mira tetap merasa gugup.


Setelah beberapa saat berkendara akhirnya mereka sampai di pelataran majelis. Mira kemudian memarkirkan mobilnya. Nampak parkirannya cukup penuh tandanya sudah banyak warga ngaji yang berdatangan.


"Mana CV'nya, Ma?" tanya Mira, seusai mematikan mesin mobilnya.


"Ya nggak Mama bawa lah, buat apa dibawa?!" tutur mama yang merasa tidak terlalu penting untuk membawanya mengaji.


"Astaghfirullah ...! Aku belum membacanya, Ma ...," tutur Mira resah karena belum sempat melihat isi dari lembar CV ta'arufnya sama sekali.


"Ya ampun, dari kemaren nggak kamu lihat?" tanya mama yang merasa heran karena Mira belum melihat CV ta'aruf yang sudah disampaikannya sejak kemarin sore.


Mira menggelengkan kepalanya.


"Namanya siapa, Ma?" tanya Mira.


Setidaknya, nanti ketika bertemu dia sudah mengetahui dengan siapa dia berta'aruf, supaya tidak terlalu memalukan saat dipertemukan.

__ADS_1


"Siapa ya ...? Mama lupa namanya," ujar mama sembari mengingat-ingat nama yang tertera pada lembar CV ta'aruf kemarin.


"Yahh ... Mama, nih!" Mira nampak kecewa karena tidak ada informasi apapun yang bisa dia gali dari mamanya tentang laki-laki yang akan berta'aruf dengannya.


"Sudah ayo buruan masuk, Mir! nanti keburu pak ustadz memulai kajiannya," tutur mama sembari membuka pintu mobil kemudian kembali menutupnya.


"Iya, Ma," jawab Mira seraya melakukan hal yang sama.


Mira dan mamanya segera masuk dan mengikuti qiroah yang sudah berjalan setengahnya.


Tepat pukul 16.00, ustadz memulai kajian. Semua yang hadir fokus mendengarkan dan menyiapkan buku untuk mencatat.


Ustadz mengungkapkan: "Ketika di akhirat nanti yang pertama kali dihisab adalah salatnya. Sebagai umat muslim hendaknya kita melaksanakan salat dengan sungguh-sungguh agar salat kita diterima oleh Allah. Agar diterima salatnya salah satunya yaitu melaksanakan salat dengan kusyu', sebagaimana firman Allah dalam QS al-Mu'minuun ayat 1-2 yang berbunyi, 'Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman yaitu orang yang kusyu' dalam salatnya.' Agar salatnya kusyu' yang pertama niatkan hati hendak bertemu dengan Allah, seolah-olah Allah sedang melihat kita. Kedua tanamkan rasa bahwa Allah adalah satu-satunya tempat kita meminta pertolongan dan pengharapan untuk mendapatkan ketenangan jiwa. Ketiga, patuh kepada rukun-rukun salat, yakni dengan memahami arti kalimat-kalimat bacaan dalam salat dan kusyuknya anggota badan dengan melaksanakan gerakan salat dengan benar dan menjaga perilaku dalam salat. Keempat, salatlah seolah-olah itu adalah salat terakhir kita."


Pukul 17.00 tepat, ustadz mengakhiri kajian. Semua orang beranjak berdiri dan keluar dari ruangan dengan tertib.


Disaat itulah Mira merasa gugup, takut, dan bingung. Telapak tangannya terasa dingin dan napasnya terasa sesak.


"Iya, Ma. Pelan-pelan saja jalannya!" tutur Mira, melangkah dengan ragu sembari memandang ke depan dengan gelisah.


"Ya ampun tangan kamu dingin banget sih, Mir!" ujar mama saat mendapati telapak tangan anaknya terasa dingin. "Kamu nervous?!"


"Aah, Mama. Mira takut!" tutur Mira sembari memeluk mamanya dari samping sebelum mencapai ruang kantor.


"Tenang aja, Mir! ambil napas ... buang napas!" titah mama sembari menggerakkan kedua tangannya naik turun di depan dada.


Mira pun melakukan hal yang sama seperti yang diperintahkan mamanya.


Sesuai melakukan hal itu mereka berjalan beriringan menuju ruangan kantor.


Sesampainya di depan ruang kantor terlihat pintunya terbuka, sehingga terlihat ada beberapa orang yang sedang duduk di ruang tamu dengan posisi pak Ahmad berada di muka kemudian dua orang pria membelakangi pintu. Hal itu membuat Mira tidak dapat melihat wajah keduanya.

__ADS_1


Bismillahirrahmanirrahim! ucap Mira di dalam hati kemudian mengetuk pintu.


Tok tok tok.


"Assalamu'alaikum!" ujar Mira dan mamanya hampir bersamaan.


Pak Ahmad berpaling dari tamunya dan melihat ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang. Menyadari tamu yang ditunggu-tunggu telah datang, pak Ahmad segera mempersilahkan Mira dan mamanya untuk masuk ke dalam.


"Wa'alaikumussalam. Mari, Bu, Mbak, silakan masuk!" tutur pak Ahmad menyambut kedatangan mereka.


Mama tersenyum ramah kemudian mengajak Mira untuk duduk di sofa kosong di bagian sisi yang lain.


Mira yang merasa gugup hanya berjalan sembari menunduk menuju tempat duduknya sesuai arahan mamanya.


"Baik karena sudah hadir yang ditunggu-tunggu langsung saja ya, saya perkenalkan," tutur pak Ahmad kemudian menjeda perkataannya sebentar. "Mas Dipa ini Mbak Almira, dan Mbak Almira ini Mas Dipa Birendra!" lanjutnya.


Seketika Mira mengangkat wajahnya ke depan dan pandangan mereka bertemu.


Mira sangat terkejut, reflek matanya membulat dan mulutnya terbuka melihat sosok yang berada di hadapannya. Reflek Mira menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya merasa tak percaya jika yang di sarankan untuk berta'aruf dengannya adalah Dipa.


Laki-laki yang beberapa kali menemukannya tanpa sengaja, di saat-saat terpuruknya, dan laki-laki yang belum pernah terpikirkan olehnya untuk di jadikan pasangan hidup.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Dipa. Ta'aruf ini dilakukannya atas saran dari seorang temannya yang bernama Farid, yang merekomendasikan Dipa untuk mengirimkan CV ta'aruf ke kantor pusat yang kebetulan Farid yang bertugas mengurusi pelaksanaan ta'aruf dari pusat.


Kebetulan Farid itu adalah suami dari ustadzah Hanifah yang menjadi pengajar Mira untuk belajar membaca Al-Qur'an secara benar.


Pada saat Farid memilih beberapa kandidat untuk berta'aruf dengan Dipa, istrinya datang mengantarkan makan siang untuk suaminya. Dan, tanpa sengaja Hanifah melihat foto Mira.


Ustadzah Hanifah menyarankan kepada suaminya untuk memilih Mira. Sebab, ustadzah Hanifah merasa jika Mira memenuhi kriteria yang baik untuk di sandingkan dengan Dipa.


...____________Ney-nna____________...

__ADS_1


__ADS_2