
Habis mandi sore Reyna menyambut kedatangan Cindy yang akan mengganti perban mami. Cindy ternyata datang dengan membawa buah tangan. Ia membawa rujak buah mangga muda hasil petik dari pohon depan rumahnya.
"Reyna, nih rujak mangga muda yang buat Ummi, katanya ini khusus buat yang lagi ngidam, semoga kamu suka!" ujar Cindy sembari menyerahkan bungkusan plastik yang berisi rujak.
"Terima kasih ya, Cindy. Tolong sampaikan terima kasihku untuk Ummi juga!" jawab Reyna.
"Wah itu pasti enak Reyn, biasanya kalau hamil muda sukanya yang asem-asem gitu," timpal mami.
"Reyna pindahkan ke mangkuk dulu ya, Mi!" Reyna berjalan ke arah dapur.
Sesampainya di dapur Reyna bertemu dengan Siti.
"Mbak Siti minta tolong buatkan teh buat Cindy ya, Mbak!" Reyna meletakkan bungkusan itu di atas meja dapur, kemudian mengambil mangkuk berukuran sedang untuk tempat rujaknya.
"Njih, mbak. Laksanakan!" ujar Siti yang membuat Reyna tersenyum.
"Mbak Siti cocok sepertinya jadi polwan, udah sigap aja!" ujar Reyna.
"Wah, kalau saya jadi polwan Ibuk jadi komandannya, bisa kena marah wae aku Mbak! Ehh keceplosan kan, maap-maap Mbak!" Siti menepuk pelan mulutnya sendiri, sembari celingak-celinguk takut kedengaran majikan.
"Hahahhahhah...nanti Reyna adukan ya sama, Mami!" ancam Reyna sambil tersenyum.
"Jangan dong, Mbak. Eh itu rujak ya Mbak?" tanya Siti.
"Iya mbak, barusan di kasih sama Umminya Cindy," Reyna selesai menuang rujak ke dalam mangkuk, kemudian membawanya ke meja makan.
"Bismillah!" ujarnya mulai mencicipi rujaknya.
"Wahh...lihat mbak Reyna yang makan rujak, kok saya jadi kemecer ngiler, enak banget ya, Mbak!" ujar Siti yang memandang Reyna dengan lahap menyuap, seakan timbul keinginan yang amat sangat untuk mencicipinya juga.
"Ini tuh rasanya kaya ada pedasnya, asem, manis, seger banget deh, Mbak. Maaf yah, Mbak. Gak di bagi, pesan Ummi, ini khusus yang lagi ngidam. Jadi cuma buat Reyna seorang! Hhhehehe...," ujar Reyna sambil tersenyum.
Siti manggut-manggut sambil menelan ludahnya. Dengan sekejap rujak mangga muda di piring Reyna tandas tak bersisa.
"Alhamdulillah, abis Mbak!" Reyna menaruh mangkuknya ke dalam wastafel kemudian mencucinya.
__ADS_1
"Halahh...biar saya saja to Mbak, yang cuci mangkuknya!" Siti menaruh dua cangkir teh yang di buatnya untuk Cindy dan mami.
"Nggak apa-apa Mbak. Terima kasih ya Mbak tehnya aku bawa dulu ke depan," Reyna membawa nampan teh ke ruang tengah.
"Udah selesai ya, Cin? Diminum dulu nih tehnya mumpung masih anget!" ujar Reyna sembari menaruh teh di atas meja.
"Terima kasih, ya Reyn?" Cindy mengambil cangkir berisi teh kemudian meneguk sedikit demi sedikit.
"Iya sama-sama," Reyna duduk di sofa di samping Cindy.
"Cindy, terima kasih ya sudah datang. Tante tinggal dulu ya ke kamar?" setelah meneguk tehnya, mami hendak meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.
"Sama-sama Tante, semoga lekas pulih!" Lena mengangguk sambil tersenyum kemudian berlalu.
Hari ini sudah yang terakhir kalinya untuk mengganti perban, sehingga Cindy tidak akan datang lagi untuk merawat lukanya. Tadi Lena sudah memberikan sejumlah uang di dalam amplop untuk Cindy. Sebenarnya Cindy sudah menolak namun Lena memaksa.
"Reyn, aku nggak enak tadi tante Lena memaksa untuk menerima uang ini," ujar Cindy sambil memperlihatkan amplop di atas meja.
"Gak apa-apa, Cin. Ambil aja, itu rezeky kamu!" Reyna menepuk bahu Cindy.
"Iya sama-sama," jawab Reyna lantas tersenyum, "Qila gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah, Qila sekarang lebih ceria, sudah mulai banyak teman dari ceritanya, dia mulai lengket sama aku Reyn, kadang habis ngajarin ngaji aku mau pulang masih di tahan-tahan sama dia," ujar Cindy.
"Alhamdulillah, aku sudah menduga Qila bakalan cocok sama kamu. Kamu sudah punya pasangan untuk di ajak nikah nggak Cin?" tanya Reyna.
Cindy terlihat murung, dan menghembuskan nafas kasarnya.
"Sebenarnya Abi memintaku untuk ta'aruf dengan anak temannya, Reyn. Tapi aku masih ragu untuk mengiyakan. Aku merasa belum yakin dan belum siap, Reyn," ujar Cindy sendu.
"Apa kamu mempunyai orang lain yang kamu harapkan untuk menjadi suamimu?" tanya Reyna.
"Emm...aku sebenarnya menyukai seseorang, Reyn, dia akhir-akhir ini sangat baik terhadapku.
Mungkin aku yang terlalu percaya diri, tapi aku merasa dia memperhatikanku. Namun, aku rasa aku saja yang berlebihan mengartikan kebaikannya. Dia pria yang mapan, succes dan dari kalangan berada, mana mungkin melirikku yang hanya gadis biasa!" Cindy terlihat menunduk.
__ADS_1
"Kamu terlalu merendah Cindy, Rangga bilang kamu dulu sering ikut lomba MIPA, kamu adalah salah satu murid pintar andalan sekolah. Kamu berada dalam keluarga muslimah yang taat, kamu wanita yang cantik natural. Apanya yang buruk Cin, kamu itu mutiara yang tersimpan," Reyna meraih tangan Cindy dan menggenggamnya untuk menguatkan.
"Lantas aku harus bagaimana? Aku nggak mungkin mengungkapkan perasaanku kepadanya, dan aku nggak punya alasan untuk menolak Abi, Reyn!" Cindy terlihat bingung dan cemas.
"Dirikan sholat istikharah, agar Allah menunjukkan yang terbaik untukmu Cindy! Dulu sebelum aku menikah dengan Rangga aku telah di lamar oleh orang lain, aku menerima lamarannya, aku pasrahkan pada Allah jika memang ia jodohku. Ternyata tak berapa lama takdir menuntunku untuk menerima perjodohan dari Kakek, dan akhirnya menikah dengan Rangga. Kita tidak akan tahu kemana takdir Allah membawa kita, namun kita bisa berusaha dan berdo'a untuk takdir yang baik bagi kita," ungkap Reyna panjang lebar.
"Astaghfirullahal'adzim, kenapa aku sampai melupakan untuk sholat istikharah! Terima kasih ya Reyna, sudah mengingatkanku. Perasaaku sekarang jauh lebih baik setelah mendengar ceritamu!" Cindy kemuadian memeluk Reyna.
Reyna menyambutnya, "Sama-sama, Cindy. Aku akan ikut mendo'akan agar kamu mendapatkan yang terbaik untukmu!"
"Assalamu'alaikum!" tiba-tiba dari luar ada yang berucap salam.
"Wa'alaikumussalam," jawab Reyna dan Cindy berbarengan.
Reyna berdiri hendak mengecek ke depan. Nampaklah Rangga masuk ke dalam rumah sambil menenteng koper di tangannya.
"By, kamu pulang! Kok nggak ngabarin kalau mau pulang!" Reyna nampak terkejut dengan kedatangan Rangga yang tiba-tiba tanpa memberitahukan terlebih dahulu.
"Hhehehe kejutan!" Rangga merentangkan tangannya. Dan Reyna pun menghambur ke pelukannya. Rangga mengecup kepala istrinya yang tertutup hijab.
Sudah dua minggu tidak bertemu dengan pasangan, semenjak pasca operasi mami, tentulah memupuk kerinduan yang besar bagi pasangan muda ini. Video call saja tak akan cukup mengobati rindu. Dari rencana sebulan sampai tiga minggu tak bertemu kini, baru dua minggu Rangga sudah tak sanggup dan akhirnya memutuskan untuk pulang agar bisa bertemu sang istri.
"Ekhm...ekhmm...!" Cindy berdehem untuk memberi tanda masih ada orang lain selain mereka berdua. Jika tidak di hentikan ia tidak sanggup untuk melihat adegan berikutnya yang mungkin saja lebih ekstrim bagi pasutri yang lama tak jumpa.
"Ehh, ada Cindy ya," Rangga baru menyadari jika ada orang lain di ruang tengah.
"Ehh iya, maaf-maaf, Cin!" Reyna melepaskan pelukannya dengan Rangga.
"Udah nggak apa-apa, aku pamit pulang dulu ya Reyn, bentar lagi juga maghrib. Silakan kalau mau dilanjut!" ujar Cindy sembari berdiri.
"Aduh jadi nggak enak, deh Cin. Sekalian makan malam di sini yuk, Cin?" ajak Reyna.
"Enggaklah, aku pulang aja. Nanti di cari Ummi. Aku pamit ya, Ga. Assalamu'alaikum!" Cindy melangkah keluar menuju pintu utama.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati, Cin!" jawab Rangga. Cindy mengangguk.
__ADS_1
"By, aku anter Cindy dulu ya ke depan?" Rangga mengangguk mengiyakan. Reyna bergegas ke luar mengantarkan Cindy.