
Cindy menghela napasnya, ketika usai menidurkan kedua bayinya. Si sulung Qila juga sedang tidur siang. Akhirnya dia punya kesempatan untuk me time. Bagi seorang ibu yang mengurus dua baby kembar dan satu anak perempuan yang masih butuh pengawasan darinya, tentulah melelahkan. Terkadang tidak ada waktu merawat diri sendiri, karena waktu tersita habis untuk mengurus anak-anaknya.
Semua itu Cindy lalukan dengan keikhlasan. Sebab, kelucuan dan tawa mereka mampu mengobati rasa lelahnya. Dan, melihat mereka tumbuh dengan sehat adalah suatu kebahagiaan tersendiri baginya. Keceriaan dan kegaduhan yang mereka timbulkan diwaktu kecil tak akan terulang ketika mereka tumbuh dewasa. Sebab, ada saatnya ketika mereka akan lebih sibuk dengan teman-temannya suatu saat nanti. Karena itu Cindy tidak ingin melewatkan masa tumbuh kembang anak-anaknya.
Cindy duduk di kursi pijat yang dibelikan oleh Dimas. Dia menikmati waktunya kini dengan merelaksasikan otot-ototnya yang menegang. Suaminya itu merasa kasihan karena meski ada baby sitter Cindy selalu berusaha memprioritaskan untuk menangani anak-anaknya sendiri. Baru di saat benar-benar tidak bisa menghandle si kembar secara bersamaan Cindy akan meminta tolong Desy untuk menangani yang satunya, atau membantunya mengurus Qila.
"Cin, ibu berangkat arisan dulu ya?" seru Lilis dari depan pintu kamar menantunya.
Cindy kembali membuka matanya, tatkala hampir saja menuju gerbang alam mimpi. "Eh, i-iya, Bu ...," jawabnya gelagapan karena terkejut.
"Aduh, maaf ibu jadi membangunkan mu ya, Cin? Ibu pikir kamu tidak sedang tidur. Sebab, barusan Ibu melihatmu ke luar dari kamar si kembar," ujar Lilis melongok ke dalam kamar Cindy.
"Gak apa-apa kok, Bu. Ibu tadi bilang apa?" tanya Cindy sembari menegakkan posisi duduknya.
"Ini, Ibu mau berangkat arisan dulu, nanti sore kalian jadi menjemput, Umar?" tanya Lilis ingin memastikan.
"Insyaallah jadi, Bu. Sekalian pengen jenguk abi," jawab Cindy.
"Baiklah! Apa nanti malam akan menginap di rumah ummimu, juga?"
"Cindy sih ngikut apa kata mas Dimas, Bu. Soal menginap, nanti Cindy tanyakan sama mas Dimas dulu. Mungkin saja mas Dimas ada keperluan lain," tutur Cindy.
__ADS_1
"Oke ..., nanti kalau jadi menginap, kabari Ibu, ya? Ibu berangkat, dulu, Assalamu'alaikum," ujar Lilis sembari beranjak pergi, namun belum ada lima langkah dia kembali berbalik saat mengingat sesuatu. "Oh ya, tadi Ibu sudah membeli buah dan kue, buat oleh-oleh ke ummi. Salam buat ummi dan abi ya, Cin!" tambahnya.
"Baik, Bu. Terima kasih sudah disiapkan oleh-olehnya!" ujar Cindy sembari tersenyum ke arah mertuanya.
Bu Lilis mengangguk kemudian, kembali melanjutkan langkahnya ke luar rumah.
Cindy merasa sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang sangat baik dan perhatian meskipun tinggal serumah, bu Lilis sama sekali tidak pernah ikut campur dengan rumah tangga anaknya. Dan, tidak pernah sekali pun bu Lilis menegurnya dengan marah-marah ketika Cindy melalaikan sesuatu atau tanpa sengaja berbuat salah. Bu Lilis akan menasehatinya dengan hati-hati tanpa menyinggung perasaannya.
Cindy merasa beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang sangat menyayanginya, suami yang sangat pengertian dan mensejahterakan istrinya, anak-anak yang lucu, dan saleh salihah, terasa lengkap sudah keluarga kecilnya dengan hadirnya mereka. Meskipun dia bukan yang pertama menjadi istri atau pun menantu di rumah ini, tidak pernah sekali pun Cindy dibanding-bandingkan dengan Shila istri pertama Dimas.
Drrrt drrtt drrtt.
Handphone di atas ranjang bergetar, dengan segera Cindy berdiri untuk menerima panggilan itu. Ternyata itu adalah telepon dari Dimas.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Sebentar lagi aku pulang. Jadi jemput Umar, kan?" tanya Dimas dari balik telepon.
"Iya, Mas. Jadi!" jawab Cindy cepat. "Mas, nanti malam mau menginap, gak? Jika menginap di rumah abi, Cindy siapkan baju ganti buat anak-anak dan juga buat kamu, Mas ...," tanya Cindy ingin memastikan agar bisa bersiap diri dari sekarang.
"Iya, nanti kita nginep di rumah, Abi. Mas tahu, kamu pasti ingin menginap, bukan?" tanya Dimas kepada istrinya, mencoba menebak isi dalam hati istrinya.
"Hehehhee ..., Mas Dimas tahu saja sih, keinginan aku!" tutur Cindy sembari terkekeh.
__ADS_1
"Tahulah, Sayang. Seorang anak pasti akan merindukan rumah orang tuanya ketika lama berjauhan. Contohnya aku nih, merasa rindu ingin kembali pulang saat sampai di rumah sakit. Pastinya gara-gara siapa, tentunya kangen sama anak-anak dan ibunya anak-anak yang paling ngangenin, kan?" tutur Dimas sembari menggoda istrinya.
Cindy terkekeh-kekeh mendengar perkataan terakhir dari suaminya. "Ishh ... gombal kamu, Mas. Kalau kangen, kenapa pas pulang yang disayang-sayang bantal sama meluk-meluk guling di kamar. Istrinya mah di lewatin aja!" kilah Cindy mendebat gombalan suaminya.
"Eetss ... kamu salah, Sayang. Waktu pulang kerja aku tidur itu bukan karena nggak kangen sama istri, tapi lagi nabung energi supaya malemnya bisa kuat kangen-kangenan sama kamu. Kamu kan suka minta nambah, gimana kalau gak nabung energi aku bisa kuwalahan, nantinya!" kilah Dimas beralasan.
"Ihh, suka bolak-balikin fakta nih, kamu, Mas! Kapan aku yang minta nambah? Padahal aku udah masuk ke alam mimpi, taunya Mas Dimas, nowel-nowel lagi. Aku sih pasrah aja demi ridho suami! Ehh ... jadi ngebahas apa sih, Mas Dimas ini! Suka ke luar jalur, padahal aku tadi mau bobo siang mumpung bocil-bocil pada bobo. Sekarang uda menjelang sore, gak jadi bobo, kan!" tutur Cindy panjang lebar.
"Wahh ... iya, ya? Maafkan suamimu ini ya, Sayang. Nanti malam aku kasih libur deh, biar nggak kecapekan," ujar Dimas.
"Yang bener? Aku sih mikirnya bukan kasih libur karena pengen aku istirahat, tapi karena sungkan, di rumah abi kamar mandinya di belakang. Iya, kan? hahaha ...!" tawa Cindy karena tahu jika tebakannya benar.
"Iya, deh, iya! Ya udah, aku lanjut visit bentar habis itu pulang ya, Sayang. Love you, Ummanya anak-anak!" ujar Dimas.
"Love you too, Papanya anak-anak. Assalamu'alaikum!" balas Cindy.
"Wa'alaikumussalam, Sayang!" Dimas menutup teleponnya.
Seusai bertelepon, Cindy beranjak ke almari untuk menyiapkan baju ganti suami dan anak-anaknya. Untuk bajunya sendiri sudah ada baju-baju jaman gadis yang masih tersisa beberapa stel di rumah ummi. Karena, seusai melahirkan dan menyusui si kembar berat badannya kembali normal ke berat badan semula, sama seperti saat dia masih gadis. Sehingga dia tidak memerlukan persiapan khusus untuk dirinya.
Belum selesai packing perlengkapan yang akan dibawa, tiba-tiba saja salah satu dari si kembar terbangun dari tidurnya, dan pastinya, saat mendengar suara sodaranya menangis, yang satu ikut terbangun. Alhasil Cindy hanya bisa menghela napas beratnya, karena dia harus rela menunda packingnya demi menolong si kembar yang sudah bangun. Dan pasti, ini adalah waktunya bagi si kembar untuk berebut menyusu.
__ADS_1
"Semangat Cindy, lelahmu akan menjadi lillah!" gumam Cindy menyemangati dirinya sendiri. Lelahnya seorang ibu merawat anak-anaknya itu bernilai pahala.
___________________Ney-nna_________________