Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Berkunjung Ke rumah Abi


__ADS_3

Sedari sore sepulang dari mengaji Cindy terlihat murung dan tidak banyak bicara. Dimas merasakan ada yang berbeda dari istrinya tatkala kembali dari klinik.


"Umma, coba lihat gambar Qila baguskan?" Qila menyodorkan buku gambarnya di depan Cindy.


Cindy tidak terlihat menjawab pertanyaan Qila, pandangannya ke depan televisi namun pikirannya entah berada di mana.


"Umma...Umma...!" panggil Qila berulang-ulang namun Cindy masih tetap diam saja.


Dimas yang menyaksikan hal itu kemudian berjongkok di depan Cindy. Dipencetnya hidung istrinya hingga ia tergagap saat tersadar dari lamunannya.


"Emhh...mas Dimas! Kenapa sih pencet-pencet hidung aku, sakit tauu...!" ujar Cindy sembari memegangi hidungnya.


"Hhahhahahaa...., Umma bengong sih, di capit deh hidungnya sama Papa!" Qila menertawakan kelucuan Cindy.


Dimas kemudian tos dengan Qila. Cindy merasa malu karena kepergok sedang melamun oleh Qila dan suaminya.


"Mas Dimas kok sudah pulang?" tanya Cindy mengalihkan pembicaraan.


"Coba lihat ini jam berapa?" Dimas mencakup pipi Cindy dengan kedua tangannya kemudian mengarahkannya ke arah jam dinding berada.


"Hahh...masa sih udah jam sembilan!" Cindy mengucek kedua matanya dengan kedua jari tangannya. Namun, memang betul jarum jam di dinding menunjukkan angka sembilan.


"Kamu kecapekan? Tidur gih, biar Qila aku yang nemenin sampai dia tertidur!" titah Dimas perhatian.


"Maaf ya, Mas?" Cindy merasa bersalah karena hingga larut belum mengajak Qila untuk tidur.


"Gak apa-apa!" Dimas beralih pada Qila, "Sayang ayo Papa bacakan dongeng di kamar!"


Qila mengangguk kemudian membereskan buku-buku dan pensil warna ke dalam tasnya, dan Cindy membantunya. Cindy bersyukur Dimas seolah mengerti keadaannya saat ini jika ia sedang lelah hati. Meski pun ia tidak mengungkapkan kegundahannya pada suaminya itu.


"Umma, Qila bobo dulu ya. Good night!" Qila merangkul leher Cindy kemudian mencium pipi kanan dan pipi kiri Cindy.


Cindy membalas dengan mencium kening Qila, seperti rutinitas biasa saat mengantar Qila tidur, "Good night, Sayang. Sebelum tidur jangan lupa berdo'a ya!" Cindy mengingatkan.


Dimas beranjak berdiri kemudian menggandeng Qila menuju kamarnya.

__ADS_1


Cindy memgambil remote televisi kemudian memencet tombol power off dan beranjak pergi ke kamarnya.


Sesampainya di kamarnya, ia menyimpan hijab instannya di bangku depan meja rias. Kemudian ia mencuci muka dan mengambil wudhu.


Seusai membersihkan diri, ia beranjak ke atas ranjang dan memakai selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya.


Dilafalkannya do'a sebelum tidur dan tiga surat pendek, kemudian mencoba untuk memejamkan mata. Namun, setelah beberapa saat memejamkan mata ia masih tetap terjaga. Pikirannya masih berkelana ke mana-mana.


Kata-kata ummi Aini begitu mempengaruhi isi otaknya. Seperti terus terngiang-ngiang di telinganya. Menggores luka di dadanya. Sungguh teramat perih.


Tanpa terasa air mata meluncur begitu saja dari kelopak matanya.


'Ya Allah, apa benar aku ditakdirkan menikah dengan mas Dimas karena aku gak akan bisa hamil dan mempunyai anak dari rahimku sendiri?' gumam Cindy di dalam hati.


Klekk.


Pintu terbuka, nampak Dimas dari balik pintu. Dimas berjalan mendekat ke arah tempat tidur. Kemudian berbaring di samping Cindy. Cindy buru-buru mengusap iar matanya dan menyembunyikan wajahnya. Beruntung saat itu ia sudah mematikan lampu kamar dan mengganti dengan lampu tidur sehingga cahaya yang ada hanya dari cahaya lampu remang-remang.


"Kenapa belum tidur?" tanya Dimas.


"Gak tahu, Mas. Aku sudah mencoba memejamkan mata sedari tadi, tapi tetap saja gak bisa tidur," ujar Cindy.


"Gak ada masalah apa-apa kok, Mas. Aku hanya merasa lelah saja," ujar Cindy.


Dimas merasa ada yang ditutup-tutupi oleh Cindy. Namun, ia tidak akan memaksa jika Cindy belum mau bercerita. Mungkin Cindy butuh waktu untuk bisa percaya sepenuhnya untuk membagi keluh kesahnya dengan Dimas. Ia akan mencoba untuk memberi waktu agar Cindy lebih dewasa untuk menyikapi masalah.


"Ya sudah ayo tidur!" Dimas menarik Cindy agar tidur di pelukannya.


Perlahan-lahan Cindy merasa nyaman, kemudian tertidur di pelukan suaminya.


****


Di tengah-tengah waktu tidurnya Dimas terbangun dan tidak mendapati Cindy yang tadi tidur di sampingnya. Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 dini hari.


Dimas kemudian keluar untuk mencari Cindy. Terdengar suara isakan tangis perempuan dari arah mushola. Dimas mengendap-endap mengintip dari pintu. Rupanya istrinya sedang duduk bersimpuh di atas sajadah sembari menengadahkan kedua tangannya ke atas seolah sedang berdo'a. Namun, yang terdengar hanya isakan lirih saja dari bibirnya. Mungkin Cindy bergumam di dalam hati untuk mencurahkan kesedihannya pada Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Dugaan Dimas bisa jadi benar, sepertinya Cindy memang sedang menghadapi masalah. Namun, istrinya itu belum bisa bercerita dengannya. Dimas menduga, mungkin ada sesuatu yang terjadi kepada Cindy saat mengaji tadi sore. Sebab, sebelumnya Cindy baik-baik saja. Dan sejak pulang ia selalu terlihat murung.


Biasanya seorang anak akan lebih dekat dengan ibunya. Kasihan juga istrinya karena sebulan lebih menikah, Dimas belum pernah mengajak Cindy pulang ke rumahnya. Meskipun sesekali masih bertemu di tempat mengaji tentu akan terasa berbeda saat ia bisa pulang ke rumahnya.


'Sebaiknya besok aku ajak dia pulang ke rumah Abi saja, semoga ia bisa menjadi lebih baik ketika bertemu Ummi!' batin Dimas.


Dimas kemudian kembali ke kamarnya dan melaksanakan sholat tahajud di kamarnya agar tidak menggangu Cindy.


****


Keesokannya adalah hari minggu. Cindy bersiap-siap mengemasi baju-bajunya, baju Qila dan juga baju Dimas. Sebab Dimas mengatakan akan membawanya ke suatu tempat dan menginap di sana. Namun, Dimas tidak mengatakan tujuan yang sebenarnya. Akhirnya baju kerja untuk dikenakan pada hari senin pun turut di bawa dan juga seragam sekolah Qila untuk di kenakan di hari senin.


"Sudah siap, belum? Ayo kita berangkat!" ajak Dimas.


"Sudah selesai, Mas. Memangnya mau ke mana sih, Mas?" tanya Cindy penasaran sambil menenteng koper yang berisi bajunya, baju Dimas dan Qila jadi satu.


"Nanti juga kamu tahu!" ujar Dimas, "Bu, kami berangkat dulu ya!" Dimas berpamitan pada ibunya.


Sebelumnya Dimas sudah mengatakan tujuannya pergi pada ibunya jika ingin berkunjung di rumah Abinya Cindy. Tentu saja itu ia katakan saat Cindy tidak tahu karena sedang berada di dalam kamar saat bersiap.


Dua puluh lima menit berkendara akhirnya mereka hampir sampai di rumah Abi.


"Lhohh, mas Dimas mau ke rumah aku? Kenapa gak bilang-bilang?" tanya Cindy saat terkejut melihat ke arah jalan menuju rumahnya.


"Sekarang itu bukan rumahmu, tapi rumah Abi dan Ummi. Nanti kalau kamu dapat warisan rumah ini dari Abi, baru lah kamu bisa menyebutnya rumahmu," ujar Dimas menggoda istrinya.


"Isshh, mas Dimas mulai deh ngeselin!" ujar Cindy kemudian langsung turun dari mobil karena mereka sudah berada di halaman rumah Abi.


Begitu masuk ke dalam rumah mereka langsung di sambut oleh Abi, Ummi dan juga Umar adiknya. Hari ini pas sekali dengan jadwal kepulangan Umar dari pesantren. Setelah beberapa saat bercengkerama dengan orangtua Cindy, Dimas meminta ijin keluar sebentar pada Abi dan Ummi untuk mengajak Umar jalan-jalan sebentar ke warung.


"Ummi, nitip Cindy sebentar ya saya mau ngajak jalan-jalan Umar dan Qila dulu sebentar buat cari ice cream. Tolong ajak Cindy bicara, sepertinya ada sesuatu yang menggangu pikirannya sejak saat pulang dari mengaji. Namun, ia tidak mau berbagi cerita dengan saya," ujar Dimas kepada ummi saat ummi ada di dapur dan Cindy sedang di ruang tamu bersama yang lain.


"Ia nak Dimas, hati-hati ya!" ujar ummi.


"Cin, di minta bantuin Ummi tuh di belakang. Aku ajak Qila dan Umar cari jajanan dulu ya ke warung depan," Dimas beralasan. Cindy mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Dimas pun berlalu dengan mengendarai mobilnya bersama Qila dan Umar. Sedangkan Cindy pergi ke dapur menemui umminya.


_____________________Ney-nna_______________


__ADS_2