Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Suasana Canggung


__ADS_3

"Mas Dipa ini Mbak Almira, dan Mbak Almira ini Mas Dipa Birendra!"


Deg.


Dipa terkesiap saat pak Ahmad menyebutkan nama si wanita. Awalnya ketika Mira baru datang, dia tidak mengira jika wanita itu adalah Mira. Sebab, ini adalah pertama kalinya Dipa melihat Mira mengenakan hijab. Awalnya Dipa hanya menduga seperti tidak asing dengan wajah wanita yang berada di depannya.


Saat nama Almira disebut, Dipa sangat terkejut, dan pandangan mereka bertemu. Mulai dari situ Dipa menyadari dia adalah Mira, wanita yang dikenalnya sebagai sahabat Reyna dan wanita yang beberapa kali ditemukannya dalam keadaan menangis karena patah hati.


Melihat keduanya terkejut pak Ahmad menjadi heran.


"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya pak Ahmad yang menduga jika keduanya saling mengenal.


"Em ... benar Pak, kami saling mengenal," ujar Dipa membenarkan hal itu. "Namun saya juga baru mengetahuinya saat ini. Jika yang akan berta'aruf dengan saya adalah Mira. Sebab saya belum membaca CV ta'aruf nya," tambahnya.


"Mbak Mira tahu jika akan berta'aruf dengan Mas Dipa?" tanya pak Ahmad.


Mira seketika menggelengkan kepala. "Sama, Pak. Saya juga belum membaca CV ta'aruf nya. Dan kami juga sudah cukup lama sekali tidak bertemu," ujar Mira menyampaikan yang sebenarnya.


"Kalian kenal di mana, Mir?" tanya mama yang penasaran ingin tahu


"Dia temannya Reyna, Ma," tutur Mira kepada mamanya dengan setengah berbisik di samping telinga mamanya.


"Ooh ...," ucap mama sembari manggut-manggut.


"Alhamdulillah. Jika sudah mengenal sebelumnya, justru lebih mudah dalam menentukan langkah selanjutnya," tutur Farid.


"Betul kata Mas Farid, saya akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk bertanya, kemudian silahkan menentukan mau lanjut ta'aruf atau tidak, jika tidak maka kami dari pihak pengurus akan mencarikan kandidat yang lain, jika setuju lanjut ta'aruf kami akan menjembatani untuk pelaksanaan pertemuan dua keluarga, khitbah hingga ke pelaminan. Silakan jika ingin mengajukan pertanyaan?" tutur pak Ahmad memberikan kesempatan kepada Dipa dan Mira untuk mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


Astaghfirullah kenapa aku merasa canggung begini! batin Mira.


Haduh, aku musti bertanya apa sama Mira? ujar Dipa di dalam hati.


Suasana menjadi tegang karena tidak ada yang berbicara. Keduanya sama-sama bingung harus bertanya apa karena sudah saling kenal sebelumnya.


Akhirnya pak Ahmad mengambil suara. "Bagaimana Mas Dipa ada yang hendak ditanyakan kepada Mbak Mira?"


"Tidak, Pak. Saya rasa dari saya tidak ada pertanyaan," tutur Dipa cepat.


"Mbak Mira bagaimana?" tanya pak Ahmad sembari berpaling ke arah Mira.


"Emm... saya juga tidak tahu harus bertanya apa, Pak. Ini adalah pertama kalinya saya mengikuti ta'aruf, Pak. Terlebih kami sudah mengenal, " tutur Mira jujur.


Bagi Mira ini adalah pengalaman pertamanya untuk ta'aruf. Sehingga dia cukup bingung harus bertanya apa, secara garis besar dia sudah mengetahui tentang Dipa dan juga sudah cukup mengenal mamanya Dipa, tante Shinta.


Ada satu hal yang lebih private yang ingin di ketahui oleh Mira. Namun, dia menahannya. Dia merasa tidak pantas untuk menanyakan tentang hal itu di depan banyak orang. Yaitu apakah Dipa benar-benar sudah move on dari Reyna, ketika memutuskan untuk mengikuti ta'aruf?


Keduanya saling melirik dan membuang muka dengan segera, setelah tanpa sengaja bersitatap.


Mira berpaling ke arah mamanya untuk meminta jawaban.


Mama yang mengerti dengan arti tatapan mata anaknya pun menjawabnya dengan anggukan tanda setuju.


Sedangkan Dipa terlihat berdiskusi dengan Farid. Entah apa yang mereka obrolkan, Mira tidak dapat menangkapnya.


Setelah beberapa saat berdiskusi akhirnya Dipa angkat suara. "Saya setuju, untuk menjalani ta'aruf dengan Mira, Pak! " ungkap Dipa dengan tegas.

__ADS_1


"Alhamdulillah! " seru pak Ahmad.


Hal itu juga membuat Mira merasa sedikit lega karena tidak harus mengalami yang namanya di tolak.


"Bagaimana, Nak Mira?" tanya pak Ahmad.


"Bismillah. Saya menyetujuinya, Pak! "


"Alhamdulillah..., " seru semua orang yang ada.


"Baik karena sudah terjadi kesepakatan untuk berta'aruf, keduanya diperbolehlan untuk saling bertukar nomor handphone, tujuannya memberikan informasi atau jika ada yang ingin ditanyakan mengenai pekerjaan, atau kegiatan apa yang sering dilakukan untuk menjadikan bahan pertimbangan misalkan terjadi kesepakatan menikah nantinya akan tinggal di mana, mengingat Mas Dipa kerjanya di Yogya dan Mbak Mira di Jakarta, kalian boleh menanyakan hal itu dengan bertukar pesan sehingga diharapkan hal tersebut tidak menjadikan perdebatan di kemudian hari setelah pernikahan dilaksanakan, namun saya menghimbau untuk tidak melebihi batasan, boleh bertemu, namun tidak berdua-duaan dan ditempat yang sepi, sebaiknya dengan didampingi oleh pihak ketiga. Sebab kalian belum muhrim sehingga dikhawatirkan bisa menimbulkan fitnah atau terjadinya hal-hal yang mendekati zina."


"Saya sarankan bertemu di rumah saja sekaligus dengan didampingi orang tua agar kedua belah pihak saling mengenal, jika sudah merasa cocok bisa segera dilanjutkan untuk mengkhitbah, kemudian menentukan hari pernikahan. Saya anjurkan keduanya untuk melaksanakan salat istikharah agar segala keraguan menjadi pasti dan mendapatkan petunjuk dari Allah. Saya rasa cukup himbauan dari saya, karena Mas Dipa dan Mbak Mira sudah cukup dewasa tentunya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri kalian di mata Allah. Tentunya dengan diadakan ta'aruf antar warga mengaji diharapkan dapat memperoleh pasangan hidup yang akan membawa kebaikan hingga ke akhirat nanti, sebab menikah itu adalah perintah dari Allah yang akan menyempurnakan sebagian dari Agama kita dan suatu ibadah panjang yang akan memberikan banyak pahala di dalamnya bagi mereka yang melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya, " tutur pak Ahmad panjang lebar memberi wejangan.


"Baik Pak, saya ucapkan terima kasih karena telah memfasilitasi terjadinya ta'aruf ini, " ujar Dipa kepada pak Ahmad.


"Satu lagi saya ingin menambahkan, jika sudah berkomitmen untuk menjalani ta'aruf sebaiknya diantara kedua belah pihak tidak menerima pinangan dari orang lain, " tutur Farid menambahkan.


Deg.


Perkataan dari Farid tersebut cukup mengena bagi Mira. Mira merasa harus segera menentukan pilihannya.


Setelah itu Mira dan Dipa bertukar nomor untuk menjalin komunikasi seperlunya dengan batasan-batasan yang telah di kemukakan oleh pak Ahmad dalam wejangannya.


Setelah itu mereka pulang ke rumah mereka masing-masing dengan membawa rasa yang sulit diartikan.


Ketika malam tiba Mira mulai merenungkan rasa bersalahnya kepada Jonathan. Harusnya saat itu dia tidak menerima cincin dari Jonatan. Sebab, melihat Jonathan seolah mengingatkannya kembali pada luka dimasa lalu. Terlebih dia tidak ingin memberikan harapan kosong bagi Jonathan. Sedangkan hatinya menolak untuk kembali mengingat saat-saat terpuruknya meskipun dia sudah memaafkan Jonathan.

__ADS_1


Ketika malam harinya Mira melaksanakan salat istikharah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah.


_____________Ney-nna______________


__ADS_2