
Di sebuah ruangan yang terasa sempit, saat terisi oleh beberapa orang yang berkumpul dengan aura panas di tubuh mereka. Suasana menegang saat pembicaraan di mulai kembali.
"Huhh, aku harus membawa kalian ke ruangan ini untuk menyelesaikan masalah kalian. Kalian sudah sama-sama dewasa, tidak baik mempertontonkan keributan di muka umum dan membuka aib kepada semua karyawan yang lain. Sekarang tolong bicarakan masalah kalian secara baik-baik," ujar Reyna setelah melerai pertengkaran mereka di pintu utama ruko.
Wulan sudah di suruh pulang duluan oleh Reyna setelah mengaku bersalah pada Mira. Kini tinggal lah Mira, Jona, Reyna dan Rangga.
Flashback On...
"Mm-maafkan a-aku, Mbak. Aku gak tau kalau mas Nathan pacar mbak Mira," ucap Wulan lirih dengan terbata-bata.
"Kamu gak tau malu ya, Lan. Meskipun korbannya bukan gue, lantas kamu bisa sesuka hati kamu merusak hubungan orang lain seperti itu!" seru Mira dengan nada kerasnya.
"Ra, aku sama Wulan hanya temenan kok. Aku bisa jelasin sama kamu, Ra. Ayo kita bicarakan ini di tempat lain," bujuk Jona kepada Mira.
"Hhaha...lo pikir gue bego apa! Gue bukan anak kecil yang dengan mudah lo kibulin, breng zek!" ujar Mira dengan lantang penuh dengan emosi sambil mendorong dada Jona dengan jarinya.
"Mir, kamu tenang dulu. Gak enak dilihatin orang-orang!" Reyna memegangi bahu Mira menenangkan.
Beberapa karyawan yang belum pulang ikut berkerumun menyaksikan pertengkaran yang terjadi.
Rangga turun dari mobil setelah melihat keributan di depan ruko. Ia mendekat ke teras ruko khawatir hal tersebut akan berimbas pada istrinya.
"By, tolong ajak Jona ke ruangan aku!" ujar Reyna kemudian menarik Mira menuju ruangan kantor Reyna, "Gin, bubarkan karyawan yang lain, setelah itu bawa Wulan pulang!"
Gina yang baru kembali dari gudang pun bingung karena tidak mengikuti kejadian dari awal.
"Kamu kenapa, Lan?" ujar Gina saat melihat Wulan menangis, "Buat yang lain, silakan pulang ke rumahnya masing-masing, dan hati-hati di Jalan."
"Hhhuuuuuuu.....!" seru orang-orang, kemudian membubarkan diri.
"Ayo aku antar kamu pulang!" ujar Gina sembari menggandeng lengan tangan Wulan menuju motornya.
Wulan hanya mengangguk sembari terisak. Mukanya terus menunduk ke bawah menghindari tatapan mata tajam dari orang-orang yang menghakiminya dengan hinaan dan cacian lirih yang masih dapat ia dengar.
Mira hanya menatap heran pada karyawan lain yang terlihat membenci Wulan.
__ADS_1
'Sebenarnya apa sih yang terjadi pada mereka? Wulan kenapa lagi dari tadi gak berhenti menangis!' gumam Gina di dalam hati.
Flashback Off.
Reyna berdiri menyandar pada meja kerjanya, dan Rangga duduk di kursi samping Reyna. Sementara Mira dan Jona duduk di sofa di sudut ruangan.
"Apa perlu aku meninggalkan kalian untuk berbicara empat mata Mir?" tanya Reyna.
"Gak perlu, Reyn. Gak ada yang musti di bicarakan lagi diantara gue dan dia. Mulai saat ini kita putus!" ujar Mira lantang kemudian berdiri hendak pergi.
Namun dengan cepat Jona menahan lengan tangan Mira, "Aku gak setuju kita putus, Ra. Tolong maafkan aku, Ra! Aku janji aku gak bakalan ngulangin ini lagi, Ra!" bujuk Jona sembari mengiba.
"Lepaas...!" pekik Mira.
Dengan cepat Mira kembali menepis tangan Jona yang menahan langkahnya. Mira pun dengan kesal kembali duduk.
"Apa salah gue, Jon? Sampai lo berbuat seperti ini di belakang gue?" tanya Mira.
"Lo gak salah, Ra. Aku lah yang salah. Diantara aku dan Wulan gak ada perasaan apa-apa, Ra. Kita hanya sekedar iseng-iseng aja. Aku gak cinta sama dia, aku cuma ngerasa kesepian aja saat kamu selalu sibuk dan gak ada waktu buat kita. Aku dengan Wulan hanya berteman baik aja. Dia sudah punya pacar juga, kita cuma sama-sama kesepian dan just have fun. Aku hanya mencintai kamu Rara. Tolong kasih aku kesempatan buat membuktikan kesungguhan aku, Ra!" mohon Jona pada Mira.
"Gue pernah bilang sama lo kan, kalau lo jenuh dan mulai gak suka sama gue, bilang! Putusin gue! Jangan pernah selingkuhin gue! Dan sekarang apa yang terjadi, lo selingkuh! Itu artinya hubungan kita cukup sampai di sini. Gue gak akan pernah menolerir perselingkuhan. Lo gak ngehargain perasaan gue ke elo! Itu artinya gak akan pernah ada kesempatan apapun buat lo!" ujar Mira tegas.
"Ra, please!" Jona memohon.
"Cukup!" Mira mulai beranjak berdiri, "Gue pulang, Reyn!"
Dengan cepat Mira melangkah pergi meninggalkan ruangan kantor Reyna. Jona hrndak menyusul tapi dengan cepat di tahan oleh Rangga.
"Biarkan, Mira pergi. Pikirannya sedang kalut dan butuh waktu sendiri. Semakin kamu memaksa hanya akan membuatnya semakin terluka. Sekarang pulanglah!" titah Rangga.
Jona mengusap kasar mukanya, "Tolong bantu aku bujuk Mira, Reyn. Aku sungguh-sungguh mencintai Mira, Reyn!"
"Jika kamu mencintainya, tidak seharusnya kamu melakukan itu pada Mira, Jon. Semua keputusan ada ditangan, Mira. Aku gak bisa bantu apa-apa Jika kamu sungguh-sungguh menyesal, buktikan saja kesungguhan kamu pada Mira!" ujar Reyna.
"Sekarang pulang lah dan resapi lah apa yang terjadi!" Rangga kembali meminta Jona untuk pulang.
__ADS_1
****
Keesokan harinya Mira ijin tidak masuk kerja. Reyna paham ia pasti sedang sangat terluka, dan butuh waktu untuk sendiri. Apalagi insiden kemarin terjadi di tempat kerja dan banyak yang melihat, ia pasti merasa tidak nyaman. Sedangkan Wulan, hingga pukul 09.00 ia tidak datang juga untuk bekerja dan tidak memberi keterangan apapun.
"Gin, kamu gantiin Wulan di FO dulu ya!" titah Reyna.
"Iya, Mbak. Tapi sebenarnya ada kejadian apa sih, Mbak kemarin? Bahkan Wulan terus menangis dan gak mau cerita apa pun ke aku. Aku sampai bingung, Mbak," Gona terus pemasaran dan bertanya-tanya dalam benaknya.
"Cowok yang lagi deket sama Wulan, ternyata pacarnya Mira!" ujar Reyna.
"Apaaa....? Yang bener, Mbak?" tanya Mira tak percaya.
"Aku ngasih tahu ke kamu supaya kamu cukup tahu aja kondisinya. Takutnya nanti malah gak bener beritanya kalau kamu denger dari karyawan lain yang kemaren cuma lihat sepotong-sepotong. Jadi ketika besok mereka masuk kerja, jangan di tanya-tanya lagi. Sebisa mungkin kita bekerja secara profesional dan tidak mencampur adukkan masalah dengan pribadi.
"Iya, Mbak. Aku paham," ujar Gina dengan sendu mendapati kisah rumit teman-temannya.
Reyna kemudian beranjak menuju ruangannya, namun baru sampai tangga, Reyna di hentikan oleh teriakan Gina.
"Mbaak, tunggu, Mbak!" seru Gina.
Reyna lantas menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya Reyna.
"Ini, Mbak. Baru aja Wulan WA aku, nih!" Gina menunjukkan handphonenya kepada Reyna
✉️
Mbak Gina, tolong sampaikan ke mbak Reyna. Mulai hari ini aku berhenti bekerja. Dan mohon maaf atas keributan yang terjadi kemaren.
Pesan dari Wulan.
Reyna pun mau tidak mau menyetujui keinginan Wulan.
____________________Ney-nna_________________
__ADS_1