
Sore harinya Reyna dan Abiyu mengajak putra putrinya untuk bermain sekaligus berbelanja bulanan ke mall.
Reynand dan Alesha terlihat sangat senang saat bermain di game zone. Mereka mencoba berbagai permainan. Abiyu mengawasi mereka sembari duduk di kursi tunggu. Sedangkan Reyna berbelanja kebutuhan bulanan di mart lantai bawah untuk menghemat waktu.
Saat Reyna berbelanja, tiba-tiba ada yang memegang lengan tangannya. Reyna seketika menoleh ke arah kanan untuk memastikan siapa yang menyentuhnya.
"Reyna, kan?"
"Mami! Mami apa kabar, Mi?" tanya Reyna kepada maminya Rangga.
Reyna segera mencium tangan ibu mertuanya itu, kemudian memeluknya.
"Alhamdulillah, baik, Reyn. Kamu di Jakarta kok nggak main ke rumah, sih? Reynand mana?" tanya mami Lena.
"Reynand ada di atas lagi main di game zone sama Kak Abi, Mi. Reyna baru tiga hari yang lalu pindah ke Jakarta nya kok, Mi," tutur Reyna memberi penjelasan.
"Mami sudah kangen banget sama anak itu. Kamu sih nggak pernah bawa dia main ke Jakarta. Mami sudah nggak sabar pengen ketemu Reynand!" tutur Lena.
"Iya, maaf, Mi," jawab Reyna singkat.
Dia merasa bersalah karena belum sempat membawa Reynand ke Jakarta setelah pindah ke Yogyakarta, waktu itu.
"Masih lama nggak belanjanya?"
"Reyna baru mulai, Mi," jawab Reyna jujur. Keranjang belanjaannya baru terisi beberapa barang saja.
"Kalau gitu Mami susulin Reynand ke atas duluan, ya? Mami udah dari tadi sih belanjanya, nih tinggal bayar aja," tutur Lena.
"Iya, Mi. Silakan! Nanti Reyna nyusul kalau sudah selesai," ujar Reyna.
Lena kemudian meninggalkan Reyna dan menuju ke lantai atas. Sebelumnya dia mengabari suaminya yang sedang menunggu di coffee shop, untuk bertemu di game zone agar bisa bertemu dengan cucu mereka.
Sesampainya di game zone Lena langsung mencari keberadaan Reynand. Lena segera memeluk cucunya itu dengan erat seraya meneteskan air mata kerinduan yang mendalam setelah lama tidak bertemu dengan cucunya itu.
"Reynand, Oma rindu sekali sama kamu, Nak!" ujarnya sembari mengecupi wajah Reynand.
Abiyu yang menyaksikan hal itu sempat terkejut, saat tiba-tiba ada yang memeluk Reynand. Tapi setelah melihat ada Reza juga di sana, Abiyu menyadari bahwa yang memeluk Reynand adalah omanya, yaitu tante Lena.
Reynand sempat akan menghindar, tapi saat melihat Abiyu menganggukkan kepala, akhirnya Reynand pasrah dan menurut saja.
"Apa kabar Om?" sapa Abiyu sembari menjabat tangan mertuanya
"Baik, Bi. Mana putrimu?" tanya Reza sembari celingukan.
"Di sana, Om. Itu yang baju merah. Namanya Alesha," ujar Abiyu seraya menunjuk ke arah putrinya berada.
"Cantik, mirip denganmu!" ujar Reza sembari memperhatikan Alesha yang tengah menekuni permainannya.
"Reynand, mau nggak dibelikan mainan sama Oma?" Lena terlihat mencoba mengakrabkan diri dengan cucunya, sebab Reynand terlihat masih kaku.
"Pah, boleh nggak?" tanya Reynand meminta ijin kepada Abiyu.
"Pasti boleh dong, Sayang. Kan sama Oma dan Opa belinya, iya kan, Bi?" tanya Lena seraya menoleh ke arah Abiyu.
Meski sedikit ragu akhirnya Abiyu mengangguk. "Boleh!" ucapnya.
Lena segera membawa Reynand pergi menuju toko mainan. Reza pun mengikutinya.
Alesha yang melihat kakaknya pergi bersama orang yang asing baginya pun segera mendekat ke arah Abiyu.
"Pah, Mas Nand mana?" ujar Alesha.
"Mas Reynand jalan-jalan sebentar, Sayang," ujar Abiyu sembari mengelus pucuk kepala Alesha yang tertutup kerudung.
"Esha ko nggak diajak? Esha mo itut!" Alesha pun menjadi rewel karena ditinggal pergi oleh kakaknya.
__ADS_1
"Alesha main sama Papa, yuk. Mau coba main yang itu nggak? atau mau yang itu?" bujuk Abiyu dengan mengalihkan perhatian Alesha pada mainan yang lain.
Akhirnya Alesha menurut. Namun, anak itu selalu melihat ke arah kakaknya pergi berharap kakaknya akan mengajaknya juga.
Di toko mainan, Reynand sangat dimanjakan oleh opa dan omanya. Reynand boleh membeli mainan apa saja yang diinginkannya. Bahkan, mainan yang mahal pun tak masalah bagi seorang Reza. Melihat cucunya senang adalah kebahagiaan mereka.
"Ayo, pilih yang mana, Sayang?" tanya Lena.
"Kata Mama Reynand hanya boleh beli satu, Oma," jawab Reynand.
"Ya sudah pilih satu yang paling kamu suka, Sayang!"
"Oma, yang ini buat Esha, ya? nanti kalau tidak dibelikan, Esha nangis. Esha kan sukanya bantuin Papa di restoran, Esha pasti suka main masak-masakan," ujar Reynand sembari membawa mainan little kitchen set.
Lena seketika berpandangan dengan suaminya.
"Oh, tentu boleh, Sayang. Ambil juga untuk adikmu, ayo kita bawa ke kassa!" ujar Reza sembari menuntun Reynand menuju kassa.
"Reynand itu anak yang baik, Mi. Bahkan dia sampai memikirkan untuk membelikan mainan juga buat adiknya," tutur Reza bangga pada Reynand yang dididik cukup baik oleh Reyna.
Setelah membayar mainan, mereka kembali ke game zone. Reynand berlali kecil menuju Alesha dan Abiyu.
"Dek, Adek ..., ini mainan baru buat kamu!" seru Reynand dengan riang menunjukkan kitchen set yang tadi dibelinya untuk Alesha.
"Waah ... maacih, Mas!" ujar Alesha seraya memeluk mainan yang dibelikan oleh kakaknya.
Melihat hal itu Abiyu tersenyum senang, sebab Reynand sangat menyayangi adiknya, meskipun pertengkaran juga tak luput dari keduanya.
......................
"Assalamualaikum," ucap Raka saat memasuki rumah.
Raka baru saja sampai sepulang bekerja. Dia celingak-celinguk mencari keberadaan sang istri, namun tidak ditemukannya di ruang tengah atau pun di dapur yang sekilas dilihatnya. Raka melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka yang berada di atas.
Betapa terkejutnya Raka saat membuka pintu kamar. Dia melihat Fely berdiri memandang ke arahnya, dengan penampilan yang sungguh berbeda.
Sejenak Raka terdiam, speechless dengan apa yang dilihatnya. Istrinya sungguh sangat cantik dan menarik hatinya.
"Mas, syukurlah ... aku pikir lembur lagi," ujar Fely saat Raka pulang selepas isya'.
"Maaf, Diajeng. Tadi aku melihat keadaan kakek sebentar," jawab Raka sembari memperhatikan penampilan baru istrinya dari atas sampai bawah yang sangat memukau.
"Mas, aku udah siapin air hangat untuk mandi, Mas mau mandi sekarang?" tanya Fely sembari mendekat ke arah suaminya untuk membantu Raka melepaskan kemejanya.
Raka seketika mematung saat istrinya berada sangat dekat dengannya, aroma parfum menyeruak di indera penciumannya. Jiwa ke laki-lakian nya terganggu dengan pesona istrinya.
"Mas ...!" panggil Fely saat Raka tidak segera menjawabnya.
"Eh, iya, Sayang. A-aku mandi dulu," ujar Raka dengan terbata-bata.
"Kamar mandinya di sana, Mas," ujar Fely saat Raka tidak segera beranjak pergi.
"Em ... iya, ini aku mau ke kamar mandi," ujar Raka sembari beranjak perlahan tanpa mengalihkan pandangannya dari sang istri.
Seusai mandi Raka tidak menemukan istrinya lagi di dalam kamar. Namun, ada satu set baju gantinya yang sudah tersedia di atas tempat tidur. Raka segera berpakaian dan beranjak turun untuk mencari istrinya berada.
Raka menuruni tangga dengan perlahan-lahan saat suasana di lantai bawah hening dan minim cahaya.
"Diajeng ..., Sayang!" panggil Raka pada istrinya.
"Aku di ruang makan, Mas!" ucap Fely kepada sang suami.
Raka segera menuju ruang makan untuk menemui istrinya.
Raka terkesima saat meja makan dihiasi dengan lilin-lilin yang temaram. Rupanya istrinya tengah menyiapkan candle light dinner yang romantis untuk mereka.
__ADS_1
Raka segera mendekat ke arah istrinya dan memeluknya. "Terima kasih, atas semua ini, Sayang. Kamu sangat cantik!" ucap Raka.
Sejak tadi Raka sudah menahan dengan keras untuk tidak menyentuh istrinya, karena mengingat dirinya yang masih bau keringat karena belum mandi. Namun, kali ini dia sangat ingin melahap istrinya yang sangat dirindukannya.
Raka menarik pinggang istrinya dan perlahan mengecup bibirnya. Namun, hasratnya yang tidak tertahan semakin menuntut untuk melakukan hal yang lebih lagi.
Fely segera menahan dada suaminya yang akan menciumnya lebih dalam lagi.
"Mas, nggak pengen makan dulu?" tanya Fely.
"Sayang, bisa nggak makannya nanti saja? aku sedang ingin memakan mu!" ujar Raka sembari berbisik di telinga istrinya.
Fely mengangguk sembari tersipu.
Raka meniup lilinnya dan menutup makanan yang terhidang di atas meja dengan tudung saji. Kemudian menggendong Fely menuju kamar mereka.
Sesampainya di kamar, dengan perlahan Raka menjatuhkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Seusai melafalkan doa', Raka dengan lembut mulai mencumbu bibir Fely dan menjamah setiap kenikmatan dari diri istrinya yang sudah membuatnya candu. Hingga terjadilah apa yang seharusnya terjadi.
Setelah puas memadu kasih, Fely menyandarkan kepalanya di atas lengan sang suami. Dibelainya dada bidang sang suami sembari berkata, "Mas, aku lapar!" ujarnya dengan lirih.
"Oh, iya. Kamu belum makan sedari sore ya?" tanya Raka.
"Belum, Mas. Kan aku menunggumu!"
"Astaghfirullah ... maaf, Sayang. Kamu tunggu di sini aja biar aku yang ambilkan."
Fely mengangguk mengiyakan.
Raka segera memungut baju-bajunya dan mengenakannya. Seusai membersihkan diri dengan cepat, Raka kemudian menuju dapur untuk mengambil makanan.
Raka kembali dengan membawa satu buah piring yang berisi penuh makanan dan satu cangkir minuman.
"Kok cuma satu, Mas?" tanya Fely saat melihat Raka hanya membawa satu piring makanan saja.
"Kan kita sehati, sepiring berdua enggak apa-apa, kan?" Raka beralasan.
"So sweet banget sih, Mas!" ucap Fely seraya tersenyum malu.
......................
Seusai salat subuh keduanya enggan untuk beraktifitas karena efek kelelahan dari semalam begadang. Lagi pula hari ini weekend sehingga Raka tidak perlu datang ke kantor. Raka juga tidak mengijinkan Fely memasak. Akhirnya mereka hanya bergelung di dalam selimut.
"Nanti kalau pengen makan minta diantar dari resto aja, Sayang. Saat ini aku hanya ingin bersamamu, Fe. Hanya bersamamu yang membuat aku merasa nyaman dan melupakan semua beban. Tolong percaya padaku dan jangan pernah pergi dariku, Diajeng!" ujar Raka sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Iya, Mas. Aku nggak akan ke mana-mana. Aku akan selalu di hatimu, Mas!" ujar Fely.
"Ish ... itu kan kata-kataku, Diajeng," protes Raka.
"Kata-kata mu aku pegang, Mas. Jangan pernah kecewakan aku!" tutur Fely.
Raka terdiam saat kembali mengingat hal yang dari kemarin membuat pikirannya resah dan gelisah. Dia bingung harus cerita tentang hal yang dialaminya atau tidak kepada Fely, sebab dia juga tidak tahu dengan apa yang terjadi di malam itu.
Raka sama sekali tidak mengingat apa pun ketika bangun dari tidurnya. Yang dia tahu hanya setelah meminum kopi dia justru sangat mengantuk. Hingga Raka tak bisa menahan rasa kantuknya dan tertidur di atas meja kerjanya.
Namun, betapa terkejutnya Raka saat dia terbangun dan berada di tempat tidur yang tersedia di ruangan itu. Bahkan hanya dengan selembar selimut tipis yang menutupi tubuh polosnya.
"Oh, ya Mas. Aku baru inget. Kemarin ada kurir yang mengantar selembar amplop coklat yang ditujukan untuk kamu. Tapi, di amplopnya nggak tertulis alamat pengirimnya."
Raka terkesiap mendengar hal itu. Dia gelisah dan mencoba menerka-nerka apa isinya. Pikirannya tidak tenang.
"Se-sekarang di mana amplopnya?" tanya Raka dengan gugup.
"Aku taruh di laci, Mas. Sebentar aku ambilkan!" ujar Fely seraya bangkit dari tidurnya.
Raka semakin tidak tenang. Dan, mulai menerka-nerka isi amplopnya. Setiap langkah dari istrinya membuatnya cemas. Dia berpikir keras haruskah membukanya di depan sang istri. Tapi, dia khawatir jika isi amplop itu akan membawa malapetaka dalam rumah tangganya.
__ADS_1
...________Ney-nna_______...