Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Mengungkap Peristiwa Part I


__ADS_3

Ferdy terbangun dan mendapati dirinya tanpa busana, hanya selembar kain selimut yang menjadi tameng bagi keduanya. Melihat Putri yang masih terlelap dalam tidur berada di pelukannya, membuatnya menyadari bahwa ini bukan mimpi.Ia benar-benar telah melakukannya semalam. Apa yang akan terjadi saat Putri bangun dari tidurnya dan menyadari kesuciannya telah direnggut olehnya.


Ia sangat menyesali hal ini. Seharusnya ia bisa menahan diri, namun pertahanannya terkalahkan oleh hawa nafsunya. Ia beranjak dari rajang, lantas memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Selepas berpakaian ia kemudian turun ke lantai bawah dan medudukkan diri di kursi. Dilihatnya ke sebelah Mega masih tertidur di sofa. Ia menjambak rambutnya dengan kedua tangannya merasa bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.


Ia pasti akan bertanggung jawab, namun saat ini ia tidak mampu untuk melihat kekecewaan di mata Putri.Jika Putri tahu bukan Rangga namun dirinya lah yang merenggut kesuciannya, Putri pasti akan shock. Dia berjanji akan kembali nanti untuk menjelaskan semua yang terjadi antara mereka berdua.


Jam di dinding menunjukkan pukul 06.00 WIB. Ia harus bergegas pulang dan pergi ke kantor. Ia hendak berdiri dari duduknya. Bersamaan dengan itu terlihat Mega menggelit kemudian dengan perlahan membuka matanya.


"Hoaaam...! Ehh..Fer, lo masih di sini?" tanya Mega setelah menguap kemudian mengucek matanya.


"Emm...ii-iyaa, Meg. Tapi ini..ini gue mau pulang dulu. Bentar lagi gue...musti berangkat kerja," ujar Ferdy dengan gugup.


"Ohh... jam berapa sih ini?" tanya Mega sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Jam enam pagi, Meg. Gue duluan ya?" ujarnya dengan cepat, ia khawatir Putri akan segera bangun dan ketika Mega tau, ia bisa saja mengamuk untuk menghakiminya. Mengingat Mega adalah cewek bar-bar dan sumbu pendek.


"Ehh... tunggu-tunggu! Gue bareng sama lo deh! Gue juga musti kembali ke Jogja pagi ini!" Mega beranjak bangun dan berjalan menuju tangga.


"Lo mau ke mana Meg? Katanya mau bareng, kok malah ke sana sih!" ujar Ferdy yang merasa cemas karena Mega berjalan berlawanan arah dengan pintu ke luar.


"Gue lihat Putri dulu deh, pengen tau keadaannya. Ini kan pertama kalinya dia minum!" jawab Mega.


"Ehh... Jangan-jangan, Meg. Tadi gue udah liat keadaan Putri kok, dia baik-baik aja!" Ferdy terpaksa berbohong agar tidak ketahuan.


"Lo... kenapa sih, bawel banget! Bentar doang!" kekeuh Mega.


"Gue udah nggak keburu, Meg. Pagi ini ada rapat, gue nggak boleh terlambat. Bos bisa marah, ntar gue di pecat lagi!" kilahnya.


"Ishh...ribet banget sih kamu tuh. Ya udah ayo buruan!" Mega melenggang keluar lebih dulu, sedangkan Ferdy mengikuti dari belakang dengan nafas lega.


Tak berapa lama setelah kepergian mereka. Putri terbangun setelah mendengar keributan di bawah kamarnya. Badannya yang terasa sakit di sekujur tubuhnya dan pening di kepalanya membuatnya terdiam sesaat merasai ada pergolakan di dalam perutnya.


Ia merasa mual seolah-olah ingin segera mengeluarkan isi dalam perutnya. Namun, ia tak kuasa untuk bangun dari tidurnya. Akhirnya ia hanya bisa melongok ke samping dan memuntahkan semua isi perutnya ke lantai di samping ranjangnya.


Setelah itu ia menyadari bahwa ia tak mengenakan pakaian sehelai pun di bawah selimutnya. Matanya membulat dan mulutnya menganga saking terkejutnya.


"Aaaaaargghh...! A-appaa yang terjadi sama gueee...!" teriaknya dengan mata membulat dan sangat terkejut dengan keadaannya saat ini. Tangannya meremas selimut dan air matanya terus mengalir dari sudut matanya.


Ia merasakan perih di bagian intinya. Ia cukup dewasa untuk memahami dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Ia telah ternoda! Kesuciannya telah direnggut oleh seseorang. Namun siapa yang telah tega melakukan ini padanya. Kepalanya yang pusing bertambah sakit. Ia menjambak rambutnya sembari mengingat-ingat kejadian semalam


Satu-satu potongan peristiwa kemarin seperti terputar. Terakhir ia ingat telah meminum gelas berisi minuman beralkohol yang di tawarkan oleh Gery karena tersulut emosi atas kata-kata Anji. Kemudian ia menari di atas dance floor bersama dengan Mega. Lantas ia merasa pusing dan merasa tak sadarkan diri. Setelah itu ia sudah tak ingat lagi.


Namun ia merasa tadi malam ia sempat terbangun dan memeluk tubuh Rangga. Bahkan Rangga mencumbunya. Namun lagi-lagi ia tak bisa mengingat kejadian setelahnya.


'Mungkinkah Rangga yang membawaku pulang ke rumah? Dan, ia tergoda melakukan ini pada ku? Aku yakin jika laki-laki lain mereka akan membawaku ke hotel bukan ke rumah ku. Dan hanya Rangga dan teman-teman perempuan ku yang pernah datang kemari! Aku akan menemui Rangga untuk meminta pertanggung jawabannya!' gumam Putri di dalam hati.


Putri menyeka mukanya, jika memang Rangga yang melakukan ini ia rela. Ia akan meminta Rangga untuk menikahinya meski menjadi istri keduanya. Lambat laun ia pasti bisa membuat Rangga meninggalkan Reyna dan mencintai dirinya.


****

__ADS_1


"Mih, besok pagi Reyna dan Rangga balik ke Jakarta ya Mih?" ujar Reyna sambil membalut tangan mami dengan perban coklat.


"Kenapa musti balik cepet-cepet sih Reyn? Mami jadi kesepian lagi deh nggak ada kamu!" ujar Mami dengan cemberut.


"Mami kan ada Papi, Masa Rangga musti sendirian terus gak ada istri sih, Mi!" timpal Rangga, "Rangga tersiksa Mih, berjauhan terus sama istri, apa lagi yang sedang hamil. Rangga seperti nggak ada andilnya buat ngejagain Reyna dan anak aku!"


"Iya deh iya, Mami relakan kalian kembali ke Jakarta. Inget ya Reyn, kamu musti sering-sering telepon Mami, " pinta Lena.


Tiba-tiba terdengar handphone Rangga berdering. "Putri!"


Rangga mengernyit heran, ada apa Putrri meneleponnya.


"Hallo, Assalamu'alaikum!" ucap Rangga.


"Wa'alaikumsalam, Ga! Bisakah kita bertemu sekarang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu?" tanya Putri.


"Emm... baiklah, ketemu di mana?" Rangga agak ragu, tapi karena Putri bilang ini penting maka ia akan mengajak Reyna.


"Nanti aku share lok!" jawab Putri.


"Okey!" jawab Rangga singkat.


"Sampai nanti, Ga!"


"Ya, Assalamu'alaikum!"


Telepon ditutup.


"Telepon dari siapa, Ga?" tanya Mami.


"Putri, Mih!" jawab Rangga. Reyna seketika menoleh ke arah Rangga.


"Mau apa dia?" tanya Mami lagi.


"Katanya mau bertemu, ada hal penting yang ingin dia bicarakan!" jawabnya jujur, dilihatnya wajah istrinya yang nampak kesal, "Nanti aku akan mengajak Reyna, Mi!" Rangga mengerlingkan mata sambil tersenyum pada istrinya.


Reyna yang awalnya kesal menjadi tersenyum dengan ulah suaminya. Lantas ia berpaling untuk menekuni balutan perban di tangan Mami. Ternyata suaminya mengerti kode dari tatapan tak sukanya tadi.


****


Putri datang lebih awal, menunggu di sebuah cafe yang di janjikannya tadi. Nampak Rangga muncul dari pintu depan cafe. Putri pun segera melambai untuk mengisyaratkan keberadaannya. Namun, ia kecewa saat muncul Reyna di belakang Rangga.


"Hahh... apa-apaan ini, kenapa Rangga mengajak wanita itu!" gumamnya kesal.


"Sudah lama Put? Maaf aku harus membawa serta istriku," ujar Rangga yang tahu nampak kekesalan di wajah Putri.


"Seharusnya kamu tidak mengajaknya, Ga!" ucap Putri datar menahan cemburu.


'Bagaimana Rangga bisa setenang itu membawa istrinya, setelah tadi malam merenggut kesucianku!' batin Putri.

__ADS_1


"Aku, harus mengajaknya agar tidak terjadi ke salah pahaman diantara kita!" Rangga meraih tangan Reyna dan menggenggamnya.


Pemandangan itu yang membuat Putri semakin muak melihatnya.


"Hahh... kamu bahkan setenang itu setelah tadi malam merenggut kesucianku!" ucap Putri to the point pada alasan mengajak bertemu.


Reyna dan Rangga terkejut dengan penuturan Putri.


'Lelucon apa ini yang di buat wanita ini! Jadi dia masih berniat untuk merebut Rangga dari ku!' batin Reyna.


"Apa maksudmu menuduh ku merenggut kesucianmu? Aneh kamu Put, bukannya kita terakhir bertemu saat aku sedang sakit waktu itu, kenapa kamu bisa bilang aku merenggut kesucianmu tadi malam? Semalam aku memang merenggut kesucian seorang wanita, tapi bukan kamu, melainkan aku lakukan dengan istriku!" tutur Rangga dengan senyum mengejek.


"Benar, kamu jangan sembarangan memfitnah suamiku dengan tipu dayamu itu, Put! Kemarin seharian aku bersama Rangga. Bahkan tak terlewat semenit pun dari pengawasanku!" ujar Reyna.


'Hah, apa jangan-jangan bukan Rangga yang melakukannya. Lalu siapa yang telah melakukan itu padaku!' gumam Putri di dalam hati.


Air matanya tak terbendung lagi, ia menangis tersedu-sedu. Kini Rangga bahkan tau ia tidak suci lagi sebagai perempuan. Harapan untuk bersama Rangga menjadi sirna, ia sungguh malu dan merasa tak punya harga diri lagi di hadapan Rangga. Bagaimana ia bisa seceroboh ini untuk mengikuti teman-temannya pergi ke club. Sekarang ia hanya bisa menyesal dan malu.


Reyna dan Rangga menjadi bingung harus berbuat apa melihat Putri yang terus-menerus menangis di hadapan mereka.


"Tunggu, sebaiknya kamu tenangkan dirimu dulu, kemudian jelaskan apa yang telah terjadi, Put!" ujar Rangga sambil menunjuk ke minuman Putri. Ia bisa melihat Putri saat ini sedang sangat sedih.


Putri meminum minumannya. Perlahan ia muai menyusut air matanya. Ia menceritakan kejadian tadi malam di club kepada Rangga dan Reyna.


"Aku sudah gak ingat lagi, kejadian setelahnya, Ga. Dan ketika aku bangun aku tidak mendapati orang lain selain diriku di kamarku. Satpam di rumahku bilang pagi-pagi sekali dua temanku laki-laki dan perempuan yang semalam mengantarkan ku berpamitan pulang. Karena satpam baru sehingga dia tidak tau siapa laki-laki yang bersama Mega malam itu.


Rangga benar-benar terkejut, dan merasa Putri terlalu bodoh untuk menuruti ajakan teman-temannya itu. Reyna pun menyayangkan hal seperti itu bisa terjadi kepada Putri. Seburuk-buruknya perlakuan Putri padanya, ia tetap merasa iba mendengar cerita itu. Bagaimanapun saat ini Putri adalah korbannya.


"Bodohh kamu, Put! Kamu tau kan Anji dan Gery orangnya seperti apa. Mereka itu berandal kampus. Dan temen kamu si Mega itu mau-maunya bergaul dengan Mereka. Sekarang terbukti kan mereka mencekoki kamu dengan minuman beralkohol dan entah apa yang mereka lakukan lagi padamu setelahnya!" ujar Rangga penuh emosi dan kecewa dengan tindakan gegabah Putri sehingga menyesatkan dirinya sendiri. Bagaimanapun Putri telah dianggapnya seperti saudara perempuan baginya.


Putri yang di marahi oleh Rangga hanya bisa diam dan menangis sejadi-jadinya. Ia menyadari kebodohan dan kesalahannya sendiri.


"By, tenang lah. Jangan terlalu keras padanya!" ujar Reyna sembari memegang lengan Rangga, "Saat ini yang harus kamu lakukan adalah bertanya pada temanmu yang bernama Mega itu. Aku rasa dia pasti tahu laki-laki yang melakukan itu padamu." ujarnya pada Putri.


Sejenak Putri terdiam. Benar ia harus bertanya pada Mega. Putri mengambil handphonenya kemudian melakukan panggilan pada Mega.


"Halo, Put. Gimana?" ujar Mega saat mengangkat telepon.


"Lo sekarang di mana Meg?" tanya Putri.


"Gue di rumah, nih lagi beres-beres buat balik ke Jogja nanti siang. Lo gak apa-apaan kan, Put?" Mega merasa ada yang aneh dari suara Putri yang tak seperti biasanya.


"Gue tunggu di Cafe tempat biasa kita ngumpul sekarang juga, Meg," ujar Putri menahan emosinya. Namun dari suara Mega yang setenang itu sepertinya ia tidak mengetahui apa yang telah menimpanya semalam.


"Oke-oke, ini gue langsung ke sana ya. Tunggu gue."


Telepon langsung di matikan oleh Putri. Mereka menunggu kedatangan Mega dalam diam.


__________________Ney_nna_______________

__ADS_1


__ADS_2