
"Bagaimana menurut kamu, Fe? Nabil ini berniat untuk mengajak ta'aruf dengan mu," tanya Abiyyu kepada adiknya.
"Em ... jujur saja ini adalah hal yang sangat mengejutkan bagi saya, Pak. Saya benar-benar tidak menduga sama sekali jika anda mempunyai niatan untuk berta'aruf dengan saya. Saya tidak mengenal anda di luar peran anda sebagai seorang dosen."
"Saya pun tidak pernah merasa jika anda memberikan perhatian yang lebih terhadap saya, jadi sebelum saya menjawab tolong jelaskan apa alasan anda sehingga anda yakin ingin berta'aruf dengan saya?" ujar Fely mengungkapkan apa isi hatinya saat ini yang penuh dengan tanda tanya.
"Baik, saya akan mengatakan alasan saya kenapa memilih untuk berta'aruf dengan mu, Felycia. Semua itu berawal dari buku catatan mu yang saya temukan waktu itu. Mohon maaf karena saya lancang telah membaca isi bukumu termasuk di bagian terakhirnya. Sebab dari sanalah saya tau siapa pemilik bukunya," tutur Nabil kemudian menjeda kata-katanya.
"Semenjak saat itu saya tertarik untuk mengenalmu lebih jauh. Maaf, Felycia ... sebenarnya dua minggu ke belakang diam-diam saya mencari tahu tentang kamu. Saya rasa kamu adalah gadis salihah yang baik. Dan, saya bersungguh-sungguh ingin menjadikan kamu sebagai proritas dalam hidup saya," ungkap Nabil mengatakan yang sesungguhnya.
Fely merasa tersanjung dengan perkataan dosennya itu, hatinya menghangat terlebih saat mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nabil. Itulah harapannya yang tertulis dalam puisinya. Fely tidak menyangka jika Nabil mengingatnya.
Namun, ada rasa takut akan kembali kecewa jika mempercayai ucapan laki-laki di depannya itu. Sebab Fely tidak mengenal pribadi Nabil di luar profesinya sebagai dosen.
Fely menoleh ke arah Abiyu untuk meminta pendapat lewat sorot matanya.
"Ekhm, Nabil apakah orang tuamu sudah mengetahui hal ini?" tanya Abiyu akhirnya. Dia tahu jika Fely pasti bimbang karena ini adalah hal yang tidak terduga sebelumnya.
"Saya aslinya dari Bojonegoro, Jawa Timur, Mas. Orang tua saya tinggal di sana dan saya hanya seorang diri di kota Yogyakarta ini. Saya sudah memberitahukan kepada Ibu saya jika ingin berta'aruf dengan seorang mahasiswi saya. Alhamdulillah beliau cukup pengertian untuk mempercayakan masalah jodoh kepada saya, asalkan seiman dan tahu tata krama."
"Jika Fely menerima ajakan ta'aruf dari saya, insyaallah awal bulan nanti saya akan mengajak orang tua saya untuk sowan ke sini. Sebab beberapa minggu ke depan jadwal saya sangat padat hingga akhir bulan. Nanti saya tinggalkan nomor telepon ibu saya, supaya Fely bisa lebih mengenal orang tua saya, termasuk jika ingin mencari tahu tentang saya lewat beliau juga bisa," ungkap Nabil berusaha meyakinkan dengan ucapannya bahwa dia sungguh-sungguh.
"Good! Kakak setuju, Fe!" ujar Abiyu dengan mantap sembari tersenyum sumringah, dan langsung mendapat cubitan dari Reyna. "Tapi, tetap Fely yang menentukan, silakan beri jawaban, Fe!" sambungnya saat mengerti maksud dari protesnya sang istri.
Fely terlihat diam sejenak untuk berpikir. Setelah beberapa saat hening akhirnya Fely menghembuskan napas beratnya.
"Bismillah ... saya bersedia untuk berta'aruf dengan anda, Pak!" ujar Fely dengan tenang.
Semoga kali ini adalah jodoh saya, ya Allah! gumam Fely di dalam hati.
Mendengar hal itu Nabil pun nampak lega. Begitu juga dengan Abiyu dan Reyna.
"Alhamdulillah!" ucap Nabil dengan tersenyum penuh rasa syukur.
__ADS_1
Setelah cukup berbincang-bincang dengan Abiyu, Nabil berpamitan untuk pulang. Fely mengantarnya hingga ke depan.
Sesuai janjinya sebelum pulang Nabil meninggalkan nomor handphone ibunya kepada Fely.
"Felycia, nomor handphone saya pasti kamu sudah punya, kan?" tanya Nabil memastikan. "Jangan sampai kamu nggak punya nomor handphone dosen, terutama saya, Fe," ujar Nabil dengan bercanda.
"Memangnya kenapa, Pak? kalau Fely nggak nyimpen nomor, Bapak?" tanya Fely menanggapi candaan Nabil.
"Nanti saya kasih nilai C biar kamu ngejar-ngejar saya buat ngulang materi kuliah saya," jawab Nabil sembari tersenyum jahil.
"Ish, Bapak nih, jahat banget sama saya, Pak! Oh iya, besok ada kuis kan di jam anda, jangan susah-susah, ya, Pak!" ujar Fely yang protes karena Nabil sosok dosen yang cukup pelit memberi nilai.
"Kamu harus belajar dengan giat, Felycia, karena saya tidak akan memperlakukan kamu dengan istimewa hanya karena kita sedang menjalani ta'aruf," tutur Nabil dengan tersenyum senang melihat ekspresi Fely yang cemberut.
"Ya sudah, Bapak pulang sana gih!" ujar Fely dengan merajuk.
"Felycia, berani ya, kamu ngusir saya?" ujar Nabil.
"Kalau begitu jangan panggil saya Pak, dong! ini kan di rumahmu, di sini saya bukan dosen kamu, apalagi saya masih muda, kita cuma selisih lima tahun saja lhoh, lebih muda juga dari kakak kamu, kan? harusnya kamu panggil apa sama calon imam?" celoteh Nabil membalikkan kata-kata Fely. "Gimana ... mau panggil Kak atau Mas? panggil sayang juga boleh, tapi nanti setelah ijab qobul," tambahnya menggoda Fely.
Fely yang mendengar hal itu langsung mendelik ke arah Nabil dan menjadi salah tingkah. Dia tidak menduga jika Nabil yang dingin di kampus ternyata kocak juga saat berada di luar.
Nabil pun tertawa riang merasa menang saat Fely tidak bisa menjawab pertanyaannya itu.
Flashback Off.
*****
Selepas maghrib Reyna merasakan kontraksi dengan frekuensi yang cukup cepat. HPL'nya masih seminggu lagi bahkan tidak ada flek dan tanda-tanda akan melahirkan sedari siang.
"Uhhh ...!" Lenguh Reyna sembari meremass seprei dengan kuat saat perutnya mulai kontraksi.
"Mama ..., Mama napa, Pah? Mama atit, ya?" celoteh Reynand dengan netranya yang sudah berkaca-kaca melihat Reyna menahan sakit ikut merasakan sedih.
__ADS_1
"Reynand malam ini bobonya sama aunty Fely ya? ini adeknya mau lahir. Papa antar Mama ke rumah sakit dulu, ya?" bujuk Abiyu agar Reynand mau ditinggal.
Reynand terlihat menggelengkan kepala dan mendekat ke arah Reyna.
"Nand bobo cama, Mamah! Nand mo ikut!"
"Aduh, gimana nih!" ujar Abiyu yang mulai panik sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kak, panggil, Fely! dan jangan panik!" pungkas Reyna mengingatkan.
"Oke, Sayang ... tunggu, ya!" ujar Abiyu kemudian segera ke luar kamar mencari Fely.
"Fe, bujuk Reynand agar mau main sama kamu. Reyna mau lahiran!" perintah Abiyu.
"Iya, Kak!" jawab Fely dengan cepat.
Fely, yang saat itu sedang belajar langsung berjinggat dan berlari mengikuti Abiyu untuk kembali ke kamarnya.
"Nand, mau makan ice cream nggak, sama aunty?" bujuk Fely sembari berjongkok di depan Reynand menyetarakan tinggi badannya.
"Ya ampun, Fe. Malem-malem juga malah ngajak makan ice cream kamu tuh, nanti giginya berlubang gimana?" protes Abiyu.
"Ish, Kakak sempat-sempatnya protes, yang penting dia bisa teralihkan dulu, nanti sebelum tidur aku ajarin sikat gigi deh!" kilah Fely beralasan.
"Kak, mending Kak Abi siapkan mobilnya, jangan lupa masukin tas yang mau dibawa ke rumah sakit ke dalam mobil! percayakan Reynand sama Fely, kalau perlu minta Bi Lastri sama Dina nemenin Fely jagain Reynand!" tutur Reyna sembari mencoba untuk duduk.
"Iya, Sayang. Tahan dulu, ya? jangan brojol dulu sebelum sampai di rumah sakit," ujar Abiyu sembari menyabet tas perlengkapan yang harus dibawa saat melahirkan.
Sementara Fely segera membawa Reynand ke luar kamar dan menuju dapur, agar Reyna bisa ke luar rumah tanpa diketahui Reynand.
Malam itu akhirnya Reyna dibawa ke rumah sakit oleh Abiyu.
...________Ney-nna_______...
__ADS_1