Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Mendengar Suaramu


__ADS_3

Dimas terbangun dari tidurnya tatkala sayup-sayup terdengar lantunan seseorang mengaji. Di liriknya ke samping. Rupanya istrinya tidak berada di tempatnya.


Dimas kemudian bangun dan keluar kamar hendak mencari keberadaan istrinya. Suara orang mengaji terdengar merdu dari arah mushola rumahnya. Dimas melongok ke pintu, nampaklah istrinya yang sedang duduk sembari membaca ayat-ayat suci Al-Quran.


Ia dibuat kagum dengan suara merdu istrinya, terlebih dengan kepiawaiannya melantunkan ayat demi ayat dengan nada yang indah. Dimas mengulas senyumnya tatkala menyadari betapa beruntungnya ia memiliki istri sholihah seperti Cindy.


Dimas lantas kembali ke kamarnya untuk berwudhu kemudian dikenakannya kemeja koko dan sarung terbaiknya. Ia pun berniat untuk menghadap sang Ilahi Robbi dengan mendirikan sholat di sepertiga malam.


Ia kemudian keluar dari kamarnya menuju mushola. Cindy nampak terkejut melihat suaminya datang. Dia tersenyum dan mengisyaratkan dengan tangannya agar Cindy melanjutkan bacaannya, kemudian ia melaksanakan sholat. Cindy pun tersenyum kemudian ia kembali melantunkan ayat demi ayat hingga bagian ruku'. Usai membaca ia tutup Al-Qurannya kemudian di perhatikannya suaminya yang sedang sholat.


Seusai berdoa Dimas membalikkan duduknya dan melihat istrinya yang sedang duduk menunggunya.


"Lhoh masih di sini?" tanya Dimas.


"Ia, Mas. Aku nungguin mas Dimas sholat, lagi pula sebentar lagi juga adzan subuh," ujar Cindy dengan senyum manisnya.


Dimas merasa seolah ada yang berbeda dari sudut pandangnya tatkala di panggil 'mas' oleh istrinya. Terdengar lebih romantis walau pun hanya dengan sebutan sederhana itu.


"Terima kasih ya sudah membangunkanku dengan suara merdumu itu," ujar Dimas.


"Ah, mas Dimas melebih-lebihkan, suara Cindy biasa saja kok, Mas!" ucap Cindy dengan malu-malu.


Dimas beranjak untuk duduk mendekat di samping istrinya.


"Cindy, apa kamu mau kuliah lagi? Kata Abi kamu dulu ingin menjadi dokter bukan?" tanya Dimas.


"Ahh, Abi..., itu kan wajar mas, semua orang terkadang pada tahapan tertentu mempunyai cita-cita ingin menjadi apa. Itu kan hanya angan-angan ku sewaktu masih sekolah, dan kini aku sudah menjadi perawat, bukankah perawat juga hampir sama tugasnya dengan seorang dokter, yaitu membantu merawat orang yang sedang sakit," ujar Cindy.


"Cindy, jika kamu mau aku akan membiayai kuliahmu, dan aku akan mendukungku. Kamu itu pandai Cindy, aku yakin kamu mampu untuk sekolah lagi. Dan sayang jika kepintaranmu tidak di gunakan padahal kamu bisa lebih dari itu," ujar Dimas.


"Apa ini tidak terlambat mas?Lantas bagaimana tugasku menjadi seorang istri, Mas? Aku kan juga musti mengurus Qila dan kerja juga di klinik. Apalagi jika suatu saat nanti aku hamil dan melahirkan, siapa yang akan merawatnya. Takutnya nanti putus di tengah jalan, sia-sia uang mas Dimas dikeluarkan untuk menyekolahkan aku kan jadinya. Padahal untuk kuliah kedokteran itu bukankah biayanya cukup mahal?" tutur Cindy dengan sedih.


"Jadi kamu sudah mempunyai bayangan jika suatu saat nanti akan hamil dan melahirkan anak kita? Padahal buatnya saja belum!" canda Dimas.


"Ihh..., Mas Dimas ngomongin apa sih, kok jadi bahas itu," ujar Cindy dengan menunduk malu.


Pipinya menjadi merona tatkala Dimas terus memandanginya dengan seulas senyum di wajahnya.

__ADS_1


Direngkuhnya bahu Cindy dan di kecupnya kening Cindy. Cindy terkejut, namun ia merasa hatinya menghangat tatkala Dimas mengecup keningnya cukup lama.


Dimas kemudian melepas ciumannya di kening Cindy, kemudian meraih jari-jemari Cindy dan menggenggamnya. Ada perasaan bahagia ketika ia dapat merasakan kembali dapat menggenggam tangan seorang perempuan yang halal baginya, memiliki pasangan di hidupnya, tempatnya mencurahkan kasih dan sayang, tempatnya berbagi kesusahan dan kesenangan, tempat untuk mencurahkan isi pikirannya yang telah lama sendiri tanpa adanya seseorang di sisinya, untuk mendukung setiap langkah-langkah hidupnya.


"Terima kasih, Cindy. Karena kamu bersedia menjadi istriku sekaligus Ibu sambung untuk Qila," ujar Dimas tulus.


"Iya, Mas. Cindy juga berterima kasih, Mas Dimas mau menerima kekurangan Cindy. Padahal Cindy merasa sempat berputus asa jika tidak ada yang mau menerima kekuranganku, Mas, " ujar Cindy.


"Kamu masih bisa hamil Cindy, kamu hanya pernah sakit, dan itu tidak menutup kemungkinan bagi kamu untuk bisa memberi keturunan. Lagi pula kita kan sudah ada Qila, jika Allah belum mempercayakan seorang anak kepada kita itu tidak lah menjadi masalah besar. Aku akan bersabar menunggu hingga saatnya kita di amanahi seorang anak lagi," Dimas merengkuh Cindy ke dalam pelukannya.


Ini lah pertama kalinya mereka berpelukan. Dimas tahu istrinya begitu merasa rapuh jika membahas akan hal itu. Dimas sempat di beritahu oleh abi Cindy, tentang pembatalan khitbah. Dan Dimas meyakinkan pada ayah mertuanya jika ia tidak mempermasalahkan tentang kekurangan Cindy. Justru ia turut merasa iba atas perlakuan Ibu dari Fadhil terhadap Cindy.


Terdengar suara adzan subuh berkumandang. Dimas melepaskan pelukannya. Ia mulai merasa Cindy tidak lagi sekaku saat pertama kali datang di rumah ini kemarin.


"Mas sholat di masjid ya, kamu bisa mengajak Qila untuk sholat bersama, biar dia terbiasa bangun pagi untuk sholat subuh," ujar Dimas.


"Iya, Mas."


Dimas mengusap-usap pucuk kepala istrinya. Kemudian beranjak pergi.


Seusai sholat subuh Cindy pergi ke dapur untuk membuatkan kopi untuk Dimas dan susu hangat untuk Qila.


"Ini, Mas. Aku buatkan kopi. Di coba dulu, Mas. Misal tidak enak nanti biar saya buatkan lagi yang baru," ujar Cindy.


"Hhhaha, kenapa belum di coba sudah pesimis begitu. Ya sudah aku coba dulu nih!" ujar Dimas kemudian meneguk kopinya perlahan, "Sudah pas kok, enak ini. Terima kasih, Cindy!"


"Sama-sama, Mas. Aku bantuin mbak Minah bikin sarapan dulu ya, Mas?" Dimas mengangguk mengiyakan.


Iya sangat tepat menjadikannya istri, Cindy sudah mengerti apa yang harus ia lakukan tanpa di beritahu, dari ketika bangun tidur hingga mengurus anaknya padahal ia belum pernah menjadi seorang ibu.


Beberapa saat berlalu kemudian mereka menuju meja makan untuk sarapan. Seusai menghidangkan makanan di meja makan, lagi-lagi dengan sigap Cindy menyajikan makanan di piring Dimas terlebih dahulu.


"Sudah, begini saja, Mas?" Dimas mengangguk sembari mengulas senyum kepada Cindy.


Bu Lilis tersenyum melihat interaksi keduanya yang lebih baik dibandingkan kemarin.


"Assalamu'alaikum...!" terdengar suara seorang perempuan yang sudah tidak asing.

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam!" nampak Rosa yang baru datang.


"Tante Rosaa....!" teriak Qila girang saat melihat adik dari Dimas datang.


"Halo ponakan cantik," Rosa memyambut pelukan Qila.


"Tante, aku sekarang punya Umma baru," celoteh anak itu mengungkapkan kegembiraannya memiliki ibu baru.


"Umma? Maksudnya mbak Cindy?" tanya Rosa.


Dimas sudah pernah memperkenalkan Cindy pada Rosa. Sehingga Rosa sudah tau akan perihal pernikahan kakaknya dengan Cindy.


"Iya, Rosa. Qila memanggil Cindy dengan sebutan Umma, dia senang sekali tuh punya Umma baru," Bu Lilis menjelaskan.


"Ohh, begitu. Hai, Mbak!" ujar Rosa.


"Apa kabar, Ros? Ayo, sarapan dulu!" Cindy menyalami Rosa.


"Iya, Mbak. Aku udah laper banget tadi buru-buru naik kereta paling pagi, belom sempet sarapan," ujar Rosa sembari duduk di kursi makan, "Oh ya, Mas, Mbak. Maaf kemarin aku nggak bisa datang karena ada ujian," ujar Rosa.


"Iya, nggak apa-apa. Yang penting do'anya saja!" ujar Cindy.


"Ini Mas, Dimas libur kan?" tanya Rosa.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Dimas.


"Wuihh, mas Dimas gimana sih, pengantin baru gak pengen pergi honeymoon gitu. Jarang-jarang kan mas Dimas ambil cuti. Gih, honeymoon biar Qila sama aku dan Ibu di rumah," ujar Rosa sembari menyantap makanannya.


Seketika Dimas dan Cindy langsung berpandangan.


"Kenapa Qila di rumah sama tante dan nenek, memangnya Papa dan Umma mau pergi ke mana? Qila ikuut...!" Rengek anak itu membuat semua tertawa.


____________________Ney-nna________________


Happy weekend 🤩


Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader's.

__ADS_1


Semoga hari minggu kalian penuh dengan kegembiraan.


Terimakasih yang selalu datang mendukung author, semoga di mudahkan dalam setiap langkah kalian menjalani hari. Aamiin 😘


__ADS_2