
Reyna dan Reza kembali ke kamar Kakek. Terlihat Kakek sedang tidur, Nenek duduk di sofa.
"Apa kata dokter, Ma." tanya Reza kepada Nenek.
"Kesehatan Papa cukup baik untuk saat ini. Tapi dokter Fery mewanti-wanti agar dijaga kestabilan emosinya. Jika Papa terkena serangan jantung lagi dalam waktu dekat ini akan sangat membahayakan nyawanya." Nenek menggeleng-gelengkan kepala, "Reyna, bagaimana dengan kamu? Bahkan Kakekmu tidak mau menunda pernikahannya." Nenek tadi sempat berbicara dengan Kakek tentang pernikahan Reyna dan Rangga saat dokter sudah pergi.
Flashback on...
Pov. Reyna
"Reyna kumohon menikahlah denganku."
Seketika aku terkejut mendengar perkataan Rangga. Aku tidak tau harus menjawab apa, aku benar-benar bingung dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Pertama tiba-tiba dilamar Bunda untuk menikah dengan Kak Abi laki-laki yang baru saja ku kenal, jika aku menikah dengan Rangga itu sangat tidak adil bagi Kak Abi yang melamarku terlebih dulu. Kedua tiba-tiba Kakek sakit dan menginginkan aku menikah besok, jika hal ini tidak aku penuhi aku khawatir akan membahayakan kesehatan Kakek. Dan kali ini Rangga yang awalnya menolak dijodohkan denganku kini iya berlutut memohon untuk aku menikah dengannya, karena terpaksa menuruti keinginan Kakek yang sedang sakit.
"Tunggu...sebelum Reyna menjawab, Papi ingin bertanya Ga. Apa kamu masih berhubungan dengan Putri?" pertanyaan dari Om Reza membuat ku lebih terkejut lagi. Jadi Rangga punya pacar, bisa-bisanya dia menggoda ku saat kemaren kakinya sakit. Jika tau begini kemarin aku patahkan saja kakinya. Dasar cowok playboy.
"Aku sudah putus, Pi. Kemaren sebelum Papi minta aku ke Surabaya aku sudah putus dengannya." Hahh... sungguh menjengkelkan, itu artinya baru beberapa hari ini dia putus. Aku benar-benar benci sama kamu Rangga.
"Om, sebenarnya sebelum Kakek sakit, sudah ada yang melamar Reyna." lebih baik aku katakan keresahanku, aku melihat mereka terkejut mendengarku. Terutama Rangga,huh rasakan itu Rangga.
"Dilamar?" Rangga langsung berdiri, "Sama siapa? Apa cowok yang kemaren itu?" Rangga seperti yang emosi.
"Iya." jawabku singkat.
__ADS_1
"Apa kamu mencintainya Reyna?" tanya Om Reza hati-hati.
"Aku baru mengenalnya beberapa hari yang lalu Om, tapi aku dekat dengan ibunya, Ibunya pemilik restoran di sebelah ruko ku." sepertinya lebih baik jujur dengan Om Reza yang lebih dewasa dan lebih bisa aku andalkan untuk penyelesaian masalah ini.
"Kemarin Bunda melamarku untuk Kak Abi, dan rencananya Bunda dan Kak Abi ingin melamarku secara resmi pada Kakek. Belum sempat hal itu terwujud Kakek sakit, Kak Abi bilang akan datang kepada Kakek ketika keadaan Kakek sudah membaik." ucap ku. Om Reza nampak mengangguk-angguk sambil berpikir.
"Reyn, kamu baru saja mengenalnya, sedangkan kita sudah kenal sejak masih SMP. Kamu lebih memilih dia daripada aku?"
"Okelah ibunya baik, bagaimana kalau ternyata banyak keburukannya yang belum kamu ketahui." si Rangga main nyolot saja, kaya dia yang gak punya keburukan saja.
"Memangnya kamu lebih baik dari dia, Ga. Justru karena sudah mengenal kamu sedari awal membuat aku enggan buat menikah dengan kamu. Sudah punya pacar saja masih sempat-sempatnya kamu tebar pesona sama cewek lain. Gak pernah berubah ya kamu tuh." tambah kesel aja aku sama dia.
"Ehhh...sudah-sudah, kalian malah ribut sendiri sih.Kamu balik ke kantor, Ga minta Doni mengirimkan data-data yang dibutuhkan untuk syarat-syarat menikah kamu, kemudian minta di kirim via email. Nanti Papi minta bantuan temen Papi waktu SMA yang jadi kepala di KUA." ternyata Om Reza benar-benar bisa diandalkan bergerak cepat.
"Reyn, Om kok jadi penasaran sama hubungan kalian dimasa lalu, ngomong-ngomong kalian dulu pacaran ato gimana sih. Rangga kayak yang gak rela gitu kalau kamu menikah dengan orang lain." ehh apaan sih Om Reza malah kayak yang kepo gitu.
"Ehh gak ada hubungan apa-apa kok Om. Rangga aja tuh yang suka bereaksi berlebihan." Ini kok jadi ngomongin apa sih Om Reza.
"Rangga itu sebenarnya anaknya baik dan penurut kok Reyn, cuman bener kata kamu suka lebay..... hhhahahahaha." Om Reza seperti menggiring suasana menjadi cair tidak tegang dengan masalah yang sedang dihadapi.
"Kembali ke masalah tadi ya Reyn, kamu bisa ngomong baik-baik dan kasih alasan yang sebenar-benarnya bahwa tidak bisa menerima lamaran mereka karena keadaan urgent. Om yakin jika mereka orang yang baik, mereka akan mengerti dengan posisi kamu yang sulit akibat dijodohkan." aku mengangguk, "Baik, Om." setelah menikah nanti aku harus meminta maaf kepada Bunda dan Kak Abi.
"Om hanya bisa bilang, sekarang kamu harus ikhlas menerima takdir, bahwa besok kamu akan menikah dengan Rangga. Mungkin kedepannya kamu akan menemui banyak rintangan akibat menikah karena dijodohkan, kamu harus banyak bersabar ya Reyn, suatu saat Allah akan menggantikan kegundahan hati kamu dengan kebahagiaan." air mata ku jatuh begitu saja mendengar wejangan dari Om Reza. Aku menyadari bahwa besok hidupku akan berubah menjadi seorang istri, meski dulu aku pernah mencintainya tapi aku tau kedepannya tak akan mudah menyatukan kita seperti layaknya suami istri yang harmonis. Tapi aku akan berjuang untuk kebahagiaan rumah tanggaku nanti.
__ADS_1
"Iya, Om. Reyna ikhlas menikah dengan Rangga." kataku, sambil meneteskan air mata. Saat mengucapkan ikhlas seperti terlepas beban pikiranku.
"Reyn, ingat hari ini untuk suatu saat nanti. Sekarang hapus air mata kamu, jangan tampakkan kesedihan di depan Kakek dan Nenek. Sekarang kita kembali ke kamar Kakek." aku menyusut air mataku dengan tisyu yang aku bawa didalam tas kecilku. Kutarik nafas dalam-dalam agar lebih tenang.
"Cuci muka dulu Reyn, ditoilet."
Om Reza tampak menghubungi seseorang dengan ponselnya. Kemudian aku masuk ke toilet terdekat. Begitu aku keluar Om Reza sudah menungguku diluar.
"Reyn, Om sudah menghubungi teman Om yang di KUA alhamdulillah bisa membantu, sekarang sebaiknya kamu pulang kerumah kumpulkan data-data yang dibutuhkan untuk persyaratan menikah, kamu scan kirim via email ya ke Om, nomor handphone kamu berapa Reyn?" Om Reza menyodorkan ponselnya ke padaku untuk menyimpan nomor. Kemudian kita kembali berjalan menuju ruangan kamar Kakek.
Flashback off
"Reyna akan mencoba ikhlas demi bakti Reyna kepada Kakek. Do'akan ya Nek, semoga kedepannya pernikahan ini membawa kebaikan bagi semua orang." mata Reyna mulai berkaca-kaca, air matanya sudah tak terbendung lagi, ia peluk Nenek dengan penuh keharuan.
"Nek, Reyna pulang dulu ya untuk mempersiapkan syarat-syarat yang diperlukan di KUA." mereka melerai pelukannya kemudian Reyna beranjak pergi setelah berpamitan pada Nenek dan Reza.
"Ma, aku belum memberitahu Marlina jika Rangga akan menikah besok. Dia sangat dekat dengan mantan pacar Rangga. Aku takut jika dia akan mengacaukan pernikahannya dan membuat penyakit Papa kambuh." Reza nampak berpikir keras.
"Bagaimanapun dia adalah ibunya Rangga, istrimu berhak tau, Za." meskipun Nenek tidak begitu dekat dengan menantunya itu, tapi Nenek tidak membencinya.
"Bagaimana jika nanti malam saja Ma, aku kabari dia. Palingan dia berangkatnya pagi, jadi ketika dia datang pernikahan sudah terlaksana." sebuah gagasan dari Reza membuat Nenek terbelalak.
"Hah...bisa-bisanya kamu, Za punya pemikiran untuk mencurangi istrimu begitu." Nenek geleng-geleng kepala dengan ulah anaknya. "Tapi itu lebih baik daripada tidak memberitahunya." lanjut Nenek dengan tersenyum, sejenak Reza bengong mencerna kata-kata Mamanya.
__ADS_1
"Hahhahahahaa...Mama sama saja" akhirnya mereka berdua tertawa bersama.