
Keesokannya seusai melaksanakan salat subuh Rahma membuatkan bubur untuk Fely yang masih demam.
"Pagi, Ma. Di mana dia?" tanya Raka yang baru saja datang.
"Mama menyuruhnya kembali tidur seusai salat, badannya masih demam," tutur Rahma. "Oh, ya ... mobil Fely mogok di seberang jalan, coba kamu lihat! apakah perlu dibawa ke bengkel atau tidak," tambahnya.
"Baik, Ma. Aku akan melihatnya nanti!" tutur Raka. "Apa buburnya sudah jadi?" tanya Raka saat melihat mamanya menuang buburnya ke dalam mangkuk.
"Iya, ini buat Fely," tutur Rahma, kemudian menaruh mangkuknya ke atas nampan.
"Biar aku saja yang bawakan ke kamar, sekalian aku mau meminta kunci mobilnya, Ma!" tutur Raka, kemudian mengambil nampan yang terdapat semangkuk bubur di atasnya.
"Baiklah. Hati-hati membawanya!" tutur Rahma memperingatkan sembari menaruh segelas teh panas ke atas nampan yang dibawa Raka.
"Oke, Ma." Raka beranjak pergi meninggalkan dapur.
Semoga kelak kalian bisa saling mencintai dan membina rumah tangga dengan baik! gumam Rahma di dalam hati sembari memandang ke arah anaknya yang berlalu pergi.
****
Tok tok tok!
"Fe, boleh aku masuk?" tanya Raka dari balik pintu.
"...."
Tidak ada jawaban dari dalam.
Apa Fely sedang tidur,ya? aku buka sajalah pintunya! batin Raka kemudian membuka pintu kamar dengan perlahan-lahan.
Klik!
Raka menyembulkan kepalanya lewat celah pintu yang terbuka sedikit.
Di dalam kamar nampak Fely yang masih berbaring di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya hingga seperutnya.
Raka lantas masuk ke dalam kamar itu. Ditaruhnya nampan ke atas nakas yang berada di samping kamar tidur mamanya. Dengan ragu Raka mengulurkan tangannya ke arah muka Fely dan menempelkan punggung tangannya ke kening Fely.
Panas sekali suhu badannya! gumam Raka di dalam hati.
Merasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh keningnya Fely pun merasa tidurnya terganggu. Matanya mulai mengerjap dan melihat Raka yang juga sedang melihat ke arahnya. Seketika Feli membuang wajahnya ke samping dan merubah posisi tidurnya menjadi miring membelakangi Raka.
"Mau apa kamu ke mari?!" tanya Fely dengan ketus.
Sepertinya Fely marah kepadaku! gumam Raka, kemudian membuang napas beratnya secara perlahan.
__ADS_1
"Mama membuatkan bubur untukmu, makanlah selagi hangat!" tutur Raka dengan lembut.
"Nanti akan ku makan, sekarang aku ingin istirahat!" jawab Fely seolah meminta Raka untuk meninggalkannya sendirian.
"Baiklah, jika maumu begitu aku akan ke luar dari kamar ini, tapi sebelumnya berikan kunci mobilmu kepada ku, aku akan mengeceknya, kata mama mobilmu kemarin mogok bukan?" ujar Raka dengan sabar mencoba untuk mengerti.
"Tidak usah, nanti biar aku suruh karyawan resto untuk mengurusnya!" jawab Fely menolak bantuan dari Raka.
"Kenapa tidak aku saja yang mengurusnya? aku ini suamimu, aku berkewajiban untuk membantumu bukan?" ujar Raka kepada Fely.
Fely merubah posisi tidurnya menjadi terlentang dan beranjak duduk sembar mmegangi kepalanya yang terasa berdenyut.
Raka ingin membantunya, namun secepat kilat Fely menepisnya dan memandang tajam ke arah Raka.
"Aku bisa sendiri!" pekik Fely yang tidak ingin dibantu oleh Raka.
"Oke baiklah!" ucap Raka sembari menjauh dan mengangkat kedua tangannya ke atas setinggi telinganya.
"Apa maksudmu dengan membohongi ku dengan mengaku jika namamu Jerry padahal sesungguhnya namamu adalah Raka?" tutur Fely dengan menatap tajam ke arah Raka.
"Emm ... itu a-aku hanya asal saja ingin nama yang sedikit keren. Teman-temanku bilang aku mirip aktor taiwan, makanya dulu mereka suka memanggilku Jerry," tutur Raka berbohong.
Pfffttttt.
Fely yang tadinya marah tiba-tiba menjadi tak bisa menahan tawanya tatkala mendengar gurauan receh yang diungkapkan oleh laki-laki yang berada di depannya.
"Dazar, jelas-jelas gak ada mirip-miripnya," ujar Fely menyangkal akan hal itu.
"Tapi sama-sama gantengnya bukan?' ujar Raka sembari memperlihatkan wajahnya yang di manis-manis kan.
Seketika Fely menyabet guling dan melemparkannya ke arah Raka. "Dasar narsis!"
Dengan sigap Raka menangkap guling yang terlempar ke arahnya kemudian ditaruhnya kembali ke atas ranjang.
Akhirnya, aku bisa melihatmu tersenyum kembali, Fe! batin Raka.
Bu Rahma yang tadinya ingin masuk ke dalam kamar, mengurungkan niatnya tatkala menyaksikan hal itu dari celah pintu yang terbuka sebagian.
Sepertinya Raka berhasil membuat Fely kembali ceria. Sebaiknya aku biarkan mereka berdua saja, semoga ini menjadi langkah awal yang baik bagi mereka! gumam Rahma kemudian melangkah pergi.
Sedangkan di kamar, Raka mengambilkan mangkuk yang berisi bubur buatan mamanya untuk di makan oleh Fely.
"Sekarang makan dulu buburnya, kan Mama udah membuatkan khusus untuk kamu. Nanti kalau dingin tidak enak!" ujar Raka sembari menyendok bubur, kemudian mengarahkannya ke depan mulut Fely. "A ...!"
Fely seketika memundurkan wajahnya dan berkata, "biar aku makan sendiri saja!" tolaknya.
__ADS_1
"Cepat buka mulutnya!" paksa Raka agar Fely mau membuka mulutnya dan memakan suapan darinya.
Meskipun nampak ragu, akhirnya Fely membuka mulutnya dan pasrah menerima suapan dari Raka. Fely nampak canggung setelahnya. Saat buburnya sudah masuk ke dalam mulut, lantas Fely memaksa untuk makan sendiri saja.
"Berikan mangkuknya, aku makan sendiri saja!" titah Fely sembari mengulurkan tangannya ke depan meminta Raka untuk menyerahkan mangkuk itu.
Akhirnya Raka menyerahkan semangkuk bubur itu kepada Fely.
"Habiskan buburnya biar kamu cepat sembuh, suhu badanmu cukup tinggi panasnya? mau aku antar periksa ke dokter?" tanya Raka menawarkan diri untuk mengantar Fely periksa.
"Tidak, tidak perlu! aku hanya butuh istirahat saja yang cukup!" tutur Fely menolak tawaran dari Raka.
"Baiklah, kalau begitu aku ambilkan Paracetamol saja ya?" tutur Raka kemudian beranjak dari duduknya dan pergi ke luar kamar.
Fely menatap punggung laki-laki itu yang semakin menjauh dari pandangan.
Sebenarnya dia cukup baik dan perhatian! ishh, tidak! aku tidak boleh terlalu memikirkannya! gumam Fely.
Tak berapa lama Raka kembali, sembari membawa obat untuk Fely.
"Ini obatnya!" tutur Raka sembari menaruhnya di atas nakas sebelah tempat tidur.
"Terima kasih!" balas Fely pendek.
"Iya, sekarang mana kuncinya biar aku cek dulu, siapa tahu masih bisa aku perbaiki tanpa membawanya ke bengkel!" tutur Raka.
"Apa tidak merepotkan? bukannya kamu juga harus pergi bekerja kan?" tanya Fely.
Oiya, aku harus bekerja! mana ada seorang sopir bisa libur dengan seenaknya, Fely bisa curiga! batin Raka.
"Aku hanya akan melihat mesinnya saja terlebih dahulu," ucap Raka bersikeras.
"Baiklah, sebentar!" ucap Fely sembari menaruh mangkuk yang sudah kosong ke atas nampan kemudian mengambil tasnya yang berada di atas nakas.
Saat Fely sedang sibuk merogoh kunci mobilnya di dalam tas, tiba-tiba tangan Raka terulur ke depan muka Fely.
"Eh ...!" pekik Fely terkejut saat ibu jari Raka mengusap pelan ke arah sudut bibir Fely yang terdapat sisa makanan di sana.
Sejenak pandangan mereka bertemu dan suasana menjadi canggung di antara keduanya.
Fely segera memutus pandangannya dan lebih fokus untuk mencari kunci mobilnya.
"Ini!" ucap Fely singkat sembari mengulurkan kunci mobil ke hadapan Raka.
Raka menerimanya kemudian beranjak berdiri. "Baiklah, istirahatlah ... aku akan ke luar dulu untuk mengecek mobilmu!"
__ADS_1
Fely tidak menjawabnya, namun dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
...______________Ney-nna____________...