
Seusai mengumpulkan pecahan gelas tersebut tiba-tiba saja handphone Abiyu bergetar kembali.
Drrt drrr drrt.
Abiyu melihat ke layar di handphonenya. Ada panggilan dari detektif suruhannya yang tadi sempat terputus.
"Maaf, Mbak. Sekali lagi saya mohon maaf. Saya permisi sebentar untuk mengangkat telepon," ujar Abiyu sembari meletakkan sapu dan pengki sehingga tersandar pada bangku teras.
Sedangkan Reyna hanya mengangguk, kemudian membuang pecahan kaca tersebut ke dalam tong sampah. Reyna kemudian melanjutkan untuk mengantar minuman ke ruangan kantor ustadz Maulana.
"Assalamu'alaikum," ucap Reyna ketika sampai di depan pintu kantor.
"Wa'alaikumussalam," jawab semuanya yang berada di ruang tamu.
Fadhil lantas beranjak untuk menemui Reyna yang masih di depan pintu.
"Ini teh untuk tamunya, Ust. Maaf tadi ada satu cangkir yang tumpah, biar nanti saya buatkan lagi," tutur Reyna sembari menyerahkan nampan ke tangan Fadhil.
"Oh iya, Ukh. Terima kasih, yang ini saja tidak apa-apa, masih cukup kok, tamunya hanya ada dua orang," tutur Fadhil saat mengambil alih nampan yang berisi tiga cangkir teh dari Reyna.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi, Ust! Assalamu'alaikum," ujar Reyna mohon pamit.
"Iya, Ukh. Wa'alaikumussalam," jawab Fadhil kemudian beranjak masuk menyajikan tehnya untuk tamu yang datang dari jauh tersebut.
Reyna beranjak pergi untuk kembali ke dapur melalui jalan yang berbeda. Sehingga dia tidak berjumpa kembali dengan Abiyu.
"Silakan di minum tehnya!" ujar Fadil kepada Lala.
"Terima kasih," ucap Lala kemudian meminum tehnya secara perlahan.
Fadhil menyerahkan secarik kertas ke hadapan Lala. "Ini formulir data diri, silakan diisi terlebih dahulu sembari menunggu kakak anda kembali!" ujar Fadhil sembari meletakkan pulpen dan kertas di atas meja ruang tamu.
"Baik, Ust! " jawab Lala kemudian meraih kertas formulir tersebut dan mulai mengisinya.
Tidak berapa lama Abiyu sudah kembali dari menerima telepon. Abiyu kemudian kembali duduk di tempatnya tadi.
__ADS_1
"Mari, Mas Abiyu, diminum dulu tehnya. Saya mohon pamit dahulu karena saya sudah ditunggu oleh santri. Untuk lebih lanjutnya nanti biar di jelaskan oleh anak saya, Fadhil," ujar ustadz Maulana memohon pamit.
"Baik, terima kasih, Ustadz," ujar Abiyu kepada ustadz Maulana.
Setelah ustadz Maulana berlalu, Fadhil mengambil alih untuk melayani kedua orang tamunya.
"Oh ya, Ustadz. Tadi perempuan yang mengantar minum, pergi ke mana ya, Ust?" tanya Abiyu kepada Fadhil.
"Oh, yang tadi sudah kembali ke dapur lagi, Mas. Memangnya ada apa?" tanya fadhil yang merasa heran.
"Saya tadi tanpa sengaja menabrak seorang perempuan yang membawa nampan berisi gelas, hingga tumpah dan pecah. Lalu, saya mendapat telepon hingga saya meninggalkan dia tanpa memberikan ganti rugi. Tolong berikan uang ini kepada perempuan tadi, Ustadz!" tutur Abiyu sembari, merogoh uang dari dalam dompetnya kemudian menyerahkannya kepada Fadhil.
"Uang ini untuk menggantikan gelas yang pecah tadi?" tanya Fadhil sembari menunjukkan dua lembar uang berwarna merah tersebut.
"Iya, Ustadz. Dengan uang itu bisa membeli beberapa cangkir, bukan? Tapi sungguh saya ikhlas. Jadi mohon diterima uang itu, Ust, " ujar Abiyu meyakinkan Fadhil agar menerima uang itu.
"Sebenarnya tidak perlu diganti juga Mas Abiyu. Tapi, saya menghargai niat baik anda, jadi saya akan menerima uang ini, untuk saya teruskan kepada bagian dapur. Nanti biar pihak dapur yang menentukan apakah mau menerima uang ini atau tidak, " ujar Fadhil sembari menyimpan lembaran uang kertas itu di saku celananya.
"Baik, Ust."
"Apa sudah yakin untuk tinggal di pondok pesantren sekarang juga? " tanya Fadil kepada Lala.
"Iya, Ustadz. Saya sudah membawa beberapa pakaian dan segala perlengkapan yang saya butuhkan selama di sini, " ungkap Lala kepada Fadhil.
"Alhamdulillah, saya suka dengan semangat anda, karena ada juga anak yang datang ke pondok dengan hati terpaksa. Sehingga, terjadi pertentangan antara orang tua dan si anak ketika pertama dibawa ke mari. Sampai-sampai saya kewalahan harus mendidiknya. "Kalau begitu tunggu sebentar ya, saya panggilkan ustadzah Vinda untuk membantu Laluna menuju ke pondok putri."
Fadhil mengambil handphone, kemudian menelepon salah seorang rekannya yang mengajar di pondok putri, agar segera datang ke kantor untuk menjemput Lala. Sebab untuk wilayah pondok putri adalah wewenang ustadzah. Sehingga laki-laki dan perempuan tidak akan berada di wilayah yang sama selain kantor ustadz Maulana. Di masjid pun ada jalannya masing-masing.
Beberapa saat ustadzah Vinda datang. Lala diantar menuju ke kamarnya, setelah itu di perkenalkan dengan teman satu ruangannya. Ada empat kamar dan dua kamar sudah terisi, Lala adalah orang ketiga yang mengisi kamar tersebut. Ustadzah Vinda menjelaskan apa saja yang kiranya harus dilakukan Lala selama di pondok pesantren. Dan, selebihnya sudah tertuang pada kertas peraturan yang tadi diberikan oleh Fadhil.
"Laluna, ini kamar kamu, dan mereka berdua adalah teman sekamar kamu. Saya harap kalian bisa menjaga kerukunan dengan baik antar sesama teman. Jika ada sesuatu yang kurang jelas atau ingin ditanyakan, kamu bisa mencari saya atau bertanya pada teman-teman kamu di sini untuk membantu, ya?" tutur ustadzah Vinda sembari menyentuk bahu Lala.
"Meilani dan Najwa, tolong bantu Laluna, ya! Ustadzah ada keperluan, jadi Ustadzah pamit dulu. Assalamu'alaikum, "
"Baik, Ust. Terima kasih. Wa'alaikumussalam!" jawab Lala.
__ADS_1
Seusai kepergian ustadzah Vinda, kemudian mereka berdua berkenalan dengan Lala.
"Oh, ya. Panggil aku Lala saja!" ujar Lala kepada teman sekamarnya seusai berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri masing-masing.
Lala bersyukur kedua teman sekamarnya, menerima Lala dengan baik. Hal itu saja sudah membuat Lala senang berada di tempat yang masih asing baginya. Bahkan keduanya membantu Lala untuk merapikan barang bawaannya.
Dihari pertama semua berjalan dengan baik. Sebab, Meilani dan Najwa selalu mendampingi Lala di mana pun mereka berada. Sehingga Lala merasa nyaman melakukan serangkaian kegiatan di ponpes ini.
"Najwa ...," panggil Lala sembari duduk di tepi ranjangnya.
"Iya, La. Ada apa?" tanya Najwa sembari merebahkan diri di tempat tidurnya.
"Meilani kenapa sudah lama sekali ke luar tapi belum kembali ya?" tanya Lala saat salah seorang teman mereka belum kembali seusai dari kelas.
"Oh, itu. Meilan biasanya bantu-bantu masak di dapur bu Salamah," tutur Najwa menjelaskan.
"Terus kenapa kamu nggak ikut membantu, Wa?" tanya Lala yang melihat temannya malah memilih tiduran saja di kamar.
"Aku lagi mens, La. Perutku sakit nih, kram. Aku gak kuat menahan sakit di perutku jika di pakai berdiri terus, apa lagi mau bantu-bantu, " jawab Najwa yang masih tiduran dengan posisi miring di kamarnya.
"Ohh, kamu sakit perut? Ya sudah kami banyak istirahat saja dulu. Wa. Kalau aku, boleh ikut bantu-bantu nggak, Wa? " tanya Lala yang belum mengerti dengan kegiatan di pesantren.
"Tentu saja boleh. Kamu tinggal ke kanan, trus lurus, dapurnya itu mentok bangunan paling ujung.
"Okey, Wa. Aku ke sana dulu ya? " tutur Lala sembari beranjak pergi menuju pintu kamar.
"Wah, kamu yakin mau langsung bantu-bantu? Anak hebat kamu, La. Padahal aku pikir bakal di temenin kamu nih di kamar, eh kamu malah langsung rajin begitu ... ya sudah good luck, ya?" ujar Najwa menyemangati kepada teman barunya itu.
"Iya, Wa. Aku tinggal dulu, ya! " tutur Lala menoleh dari depan pintu.
"Iya, beres. Pergi aja gak apa-apa! " ujar Najwa sembari memeluk perutnya yang sakit.
Akhirnya Lala pergi melangkah menuju ruangan yang tadi diberitahukan oleh Najwa. Sesampainya di ujung. Lala berpapasan dengan seseorang yang di kenalnya berada di dapur itu.
__________________Ney-nna________________
__ADS_1