
Pov. Reyna.
"Dia mau ke mana?" gumamku sembari melihat ke arah punggungnya yang semakin menjauh.
Ekor mataku masih mengikuti ke mana pemuda itu pergi. Setelah berjalan beberapa meter aku melihatnya berhenti di sebuah warung yang menjual minuman dan makanan ringan.
"Huh, malah jajan, sih. Teganya meninggalkan aku di sini sendiri. Apa lagi aku sudah tidak punya uang, bagaimana aku pulang nanti?!" gumamku sembari menutup mukaku dengan kedua tanganku. "Ayah, Ibu, Bibi ... tolong aku!" seruku sembari terisak.
Tak berapa lama aku kembali menoleh kepada pemuda tadi. Aku melihat dia berjalan kembali ke arahku, sembari membawa bungkusan ditangannya. Dengan segera aku berpaling ke arah lain, kemudian mengusap air mataku sebelum dia melihatnya.
"Luruskan kakimu!" ucapnya begitu sampai di hadapanku.
Namun, aku diam saja sembari melihatnya mengeluarkan sesuatu dari dalam bungkusan.
"Nih, minum!" ujarnya sembari menyodorkan sebotol minuman ke hadapanku.
Aku tertegun memandang ke arahnya, tidak menyangka jika ternyata dia pergi untuk membelikan minuman untukku. Kemudian, tanganku terulur hendak meraih botol itu. Namun, sebelum aku menjangkaunya dia menarik botolnya kembali.
Seketika aku menatap tajam ke arahnya.
*Eh ... maksudnya apa sih*! gumamku di dalam hati, merasa kesal karena dia seolah mempermainkan aku.
"Setelah menerima bantuan dari seseorang, jangan lupa berterima kasih!" ucapnya sembari mengulurkan kembali botol minumannya ke hadapanku.
Kebetulan saat itu aku memang sedang haus, setelah capek berlari mengejar ODGJ tadi. Akhirnya aku pun menerimanya.
"Iya, terima kasih, Tuan!" ujarku setelah mendapatkan minumannya.
"Panggil yang benar ... 'Kakak'!" koreksinya padaku.
"Iya ... Kakak, puas?!" jawabku sembari memutar bola mataku jengah, kemudian aku membuka tutup botolnya dan segera meminumnya setelah mengucapkan, Bismillah!
Aku terkejut dan reflek menggerakkan kakiku saat tiba-tiba merasakan sesuatu yang sangat dingin di telapak kakiku. "Ehh ...!" pekik ku kaget.
"Kakimu bengkak ... mengompres dengan es akan meredakan bengkaknya," ujarnya sembari menempelkan handuk yang tadi tersampir di lehernya, yang digunakan untuk membungkus es batu yang tadi dibelinya di warung. "Diamlah dan jangan banyak bergerak!" titahnya sembari mengompres kakiku.
Aku tersenyum dan memperhatikannya saat mengompres kakiku dengan dengan telaten. Ternyata dia sangat baik, meskipun sedikit menyebalkan.
"Apa yang tadi diambilnya darimu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari mengompres kakiku.
"Maksudnya?" tanyaku yang masih tidak mengerti dengan apa yang ditanyakan olehnya.
"Kenapa kamu mengejar orang gila tadi? biasanya orang akan lari karena takut di kejar oleh orang gila, tapi ini sebaliknya, kamu malah mengejar-ngejar orang gila!" ujarnya sembari tersenyum sinis.
Huh ... mulai deh menyebalkan lagi!" batinku.
"Mana aku tahu dia orang gila, tadi itu dia merampas uangku. Tentu saja aku mengejarnya untuk mendapatkan uangku kembali!" ujarku membela diri.
__ADS_1
"Kamu kenapa tidak meminta bantuan orang dewasa?" tanyanya lagi.
"Padahal aku tadi sudah meneriakinya copet, tapi orang-orang di pasar malah diam saja dan hanya menonton!" ujarku kesal sembari mengerucutkan bibir dan bertolak pinggang.
"Hahahaha! Uhh ... kasihan!"
Dia menertawakan ku, seraya mengusap-usap rambutku. Lebih tepatnya mengacak-acak rambutku gemas. "Mereka diam saja, sebab hal itu sudah terbiasa terjadi di pasar!"
"Ihh ... jangan di berantakin dong, Kak!" protesku sembari merapikan kembali poniku yang berantakan karena ulahnya.
Dia terlihat mengulas senyum, saat melihatku kesal. Sepertinya dia senang menjahili aku.
"Kamu tadi ke pasar sama siapa?" tanyanya lagi padaku.
"Sama bibiku dan anaknya. Aku tadi sedang ke toilet. Seusai membayar malah bertemu orang gila tadi. Pasti sekarang bibiku sedang mencari aku," ujarku sendu sembari melihat ke arah pasar yang berada di seberang jalan dari taman kota.
"Kakinya sudah enakan belum?" tanyanya padaku.
Aku menurunkan kakiku dan mencoba berpijak pada tanah. Meskipun agak ngilu, tapi sudah lebih baik dari pada sebelumnya.
"Lumayan sih, Kak!" ucapku sembari beranjak berdiri dengan hati-hati.
"Meskipun sudah lebih baik, sebaiknya kamu tidak banyak bergerak, agar tidak terjadi cedera yang lebih parah. Mengerti tidak?" ujarnya lagi sembari mengacak-acak kembali rambutku.
"Iihhh ... ngeselin banget sih, Kak! dibilangin jangan mengacak-acak rambutku, juga!" ujarku semakin kesal.
Tiba-tiba ide jahat pun muncul di kepalaku. Aku mendorongnya ke belakang. Dia terlihat kehilangan keseimbangan dan hendak terhuyung ke belakang. Reflek dia menarik tanganku meminta bantuan, namun karena badannya lebih berat, aku pun akhirnya tertarik olehnya dan ikut terjatuh menimpa tubuhnya. Kami terperosok ke semak-semak bersamaan. Dan, kepalaku membentur wajahnya.
"Aww ...!" pekiknya sembari memegangi hidungnya terlihat memerah.
"Kenapa, Kak?" tanyaku dengan khawatir seraya mendongak ke arah mukanya.
"Aduhh, kepalamu membentur tulang hidungku!" ujarnya sembari meringis seperti menahan sakit dan mengusap-usap hidungnya.
"Maaf, Kak! nggak sengaja ...," ucapku sembari mengusap lembut pada hidungnya yang memerah usai terbentur oleh kepalaku.
Aku merasa seperti diawasi olehnya. Reflek aku melihat ke arahnya.
Tap!
Pandangan kita pun bertemu.
Sejenak kita sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Aku perhatikan wajahnya memerah. Tiba-tiba tanganku yang berada di atas dadanya merasakan degup yang kencang di dada pemuda itu.
"Kakak punya penyakit jantung?" tanyaku padanya.
Seketika dia membelalakkan mata, seolah terkejut dengan kata-kata ku.
__ADS_1
"Cepat bangun!" titahnya padaku dan mengabaikan pertanyaanku yang sebelumnya.
Akhirnya dengan perlahan aku segera bangkit dari atas tubuhnya. Setelah itu dia terlihat menghembuskan napasnya dengan kasar.
Dia beranjak berdiri, kemudian mengibaskan bajunya yang tertempel dedaunan kering.
"Ayo jalan!" ucapnya sembari melenggang ke arah depan terlebih dulu meninggalkan ku.
Aku yang masih merasakan ngilu di kakiku hanya mampu berjalan perlahan di belakangnya dan merelakan tertinggal jauh darinya. Tiba-tiba dia berbalik saat menyadari jika jarak kita terlalu jauh. Dia kembali berjalan ke arahku.
Dia berjongkok di depanku sambil berkata, "ayo, buruan naik!" ujarnya memintaku agar naik ke punggungnya.
Apa? naik? dia mau menggendong ku? batinku bertanya-tanya.
Aku menggeleng dengan cepat. "No!"
tolakku merasa malu jika harus digendong oleh laki-laki asing terlebih aku tidak pernah sedekat ini dengan laki-laki selain ayah dan pamannku, terlebih di tempat umum dan banyak pasang mata yang akan melihat.
"Ya sudah!" ucapnya kemudian seraya menarik tanganku dan memapah ku dengan perlahan.
Sesekali aku memergokinya menatap ke arahku. Namun, saat aku melihat ke arahnya dengan cepat dia berpaling, memandang ke arah lain.
Hingga akhirnya kita sampai di pasar bagian luar. "Berhenti, kita istirahat dulu di sini!" ujarnya sembari menunjuk bangku panjang yang tersedia di pinggir trotoar.
Tiba-tiba terdengar bunyi nada dering pada handphonenya. Dia merogoh dari saku celananya.
"Sebentar ya, aku angkat telepon dulu," pamitnya seraya memperlihatkan handphonenya yang masih bergetar.
Aku mengangguk mengiyakan, kemudian dia berjalan sedikit menjauh dari tempatku duduk.
Saat netraku mengitari pemandangan di sekitarku, dari kejauhan aku mengenali sosok yang aku kenal. Ayahku tengah duduk di atas jok motornya sembari celingukan seolah sedang mencari sesuatu. Aku segera berdiri seraya melambaikan tangan ke arah beliau. Tak berapa lama ayah melihatku. Ayah bergegas mendatangi ku, kemudian menepikan motornya.
"Ya ampun, Reyna ... kamu dari mana saja? bibi dan Dina mencarimu ke mana-mana, hingga mengira kamu hilang!" tutur Ayah.
"Ceritanya panjang, Yah. Nanti saja Reyna ceritakan di rumah. Kaki Reyna sakit, ayo kita pulang, Yah!" ujarku kepada ayah.
Ayah memapah ku, kemudian Ayah menghidupkan kembali motornya. Dengan perlahan aku naik di boncengan. Ayah segera menekan gasnya dan motor mulai berpacu di jalanan menuju pulang ke rumah paman.
Sesampainya di rumah paman aku baru menyadari jika aku telah meninggalkan pemuda tadi tanpa pamit.
"Astaghfirullah, jangan-jangan dia kebingungan mencari ku!" ujarku seraya menepuk keningku dengan telapak tangan.
Flashback Off.
"Astaghfirullah, mungkinkah pemuda itu kak Abi?" pekikku saat mengingat hal itu.
...______________Ney-nna_____________...
__ADS_1