
Sepeninggal Abiyu Reyna kembali berkumpul di ruang tengah bersama dengan bunda dan Fely.
"Abiyu sudah berangkat, Reyn?" tanya bunda Maya kepada Reyna saat kembali duduk di sofa ruang tengah.
"Sudah, Bun," jawab Reyna singkat.
"Kak, Kak Reyna ingat sama mbak Mira nggak?" tanya Fely sembari memandang ke arah Fely yang merasa asing dengan nama tersebut.
"Siapa Mira, Fe?" tanya Reyna penasaran.
"Mbak Mira itu sahabatnya Kak Reyna lhoh, terus kalian membuat usaha online shop bareng, " tutur Fely menjelaskan.
"Oh, ya?"Reyna mencoba untuk mengingat-ingat, namun masih tidak ada gambaran.
"Tadi aku ketemu sama mbak Mira lhoh, Mbak Mira sudah hijrah, Mbak. Tadi mbak Mira nitip salam buat Kak Reyna. Katanya suruh main ke ruko. Mbak Mira pasti jadi pangling kalau ketemu sama Kak Reyna," tutur Fely.
"Oh iya, Reyn. Mendingan besok kamu ikut saja sama bunda ke resto. Setelah itu coba kamu datangi ruko tempat usahamu dengan Mira. Siapa tahu kamu mengingat sesuatu," tutur bunda.
Reyna terdiam sembari memikirkan hal itu.
Jadi aku punya usaha online shop. Pantas saja aku kemarin di pesantren seperti tertarik untuk mengajak santri di sana untuk berjualan online.
"Baik, Bun. Besok Reya ikut ke resto," tutur Reyna.
****
Sesampainya di cafe Reza segera mencari keberadaan Abiyu. Rupanya Abiyu sudah menunggu sejak tadi, sedangkan tadi dia sempat berdebat dengan istrinya tentang hak asuh Reynand.
"Assalamu'alaikum, Bi. Maaf Om terlambat," ujar Reza pada Abiyu.
"Tidak apa-apa, Om. Om mau pesan apa?" tanya Abiyu kepada laki-laki yang sudah dianggapnya seperti mertuanya itu.
"Ini apa?" tanya Reza menunjuk miuman yang berada di depannya.
"Oh ini tadi Abiyu pesan kopi hitam dua, Om. Tapi kalau Om Reza tidak suka saya pesankan yang lainnya," tutur Abiyu.
"Sudah ini saja, Bi," jawab Reza.
Reza kemudian mengambil cangkir teh hitam yang berada di hadapannya kemudian segera meminumnya perlahan.
"Oh iya, gimana Om? Tante Lena mau tidak meyerahkan Reynand kepada saya dan Reyna?" tanya Abiyu berharap Raza bisa meyakinkan istrinya.
"Sulit, Bi. Istriku tetap kekeuh ingin Reynand tinggal bersama kami. Tadi aku malah bertengkar sama dia dan juga nenek," ungkap Reza.
"Gimana ya, Om. Reyna sangat berharap bisa membawa Reynand pulang bersama kami, Om. Apa sebenarnya yang membuat tante Lena tidak mau memberikan Reynand kepada kami, Om?" tanya Abiyu dengan kecewa.
"Istriku sangat khawatir jika ada yang akan berniat mencelakai Reyna lagi dan itu berdampak pada Reynand. Semenjak Reyna hilang dan Reynand tinggal bersama kami, istriku sangat protektif dalam menjaga Reynand, Dia tetap tidak mau menyerahkan Reynand kepada kalian. Terlebih karena beberapa bulan ke depan Reyna akan melahirkan, istriku tidak ingin Reynand kekurangan kasih sayang karena Reyna akan kerepotan menjaga dua anaknya yang usianya hanya terpaut sedikit," tutur Reza panjang lebar.
"Tidak Om, saya pastikan saya dan Reyna mampu untuk merawat mereka berdua dengan baik, Om. Saya sudah berencana meningkatkan keamanan di rumah saya, Om. Saya akan menempatkan dua sekuriti di depan rumah untuk berjaga dan akan ada pembantu rumah tangga di rumah, dan nanti ketika Reyna melahirkan saya akan mencarikan baby sitter untuk membantu menjaga anak-anak. Di sana juga ada bibinya Reyna yang sering datang berkunjung. Saya yakin Reynand tidak akan kekurangan kasih sayang," tutur Abiyu mengungkapkan rencananya demi menjaga istrinya tetap aman bersama anak mereka.
"Nah itu juga yang dikhawatirkan, Bi. Tadi saya sudah menyinggung hal itu juga dengan istriku. Karena ada banyak orang asing yang masih baru di rumah dan kamu tidak ada di rumah, sedangkan Reyna sering pingsan ketika mengingat sesuatu. Kamu pasti ingat siapa pelaku yang menyabotase mobil Rangga? Dia kan pembunuh bayaran yang menyelinap ke dalam rumah menjadi sopir pribadi," tutur Reza mengungkapkan apa yang di katakan istrinya. "Kalau di sini kan setidaknya ada istriku dan nenek yang menjaga Reynand. Sopir dan pembantu juga sudah sejak lama bekerja di sini."
Abiyu juga membenarkan penuturan dari Reza . Namun, Abiyu juga tidak ingin Reyna kecewa. Abiyu terdiam sembari berpikir. Bagaimana caranya agar dia bisa membawa Reynand kembali dan menjaga mereka tetap aman saat tinggal bersama dengan dirinya.
"Atau begini saja, sementara waktu biar Reyna tinggal bersama kami hingga dia pulih. Jadi Reyna tetap bisa menjaga Reynand begitu juga dengan istriku bisa tetap membantu merawat Reynand," usul Reza.
"Itu artinya saya dan Reyna harus tinggal terpisah, Om? Tidak Om, mana mungkin saya bisa meninggalkan Reyna di sini, tiga bulan sudah cukup lama bagi saya kehilangan sosok Reyna Om, saya tidak ingin berjauhan dengan istri saya! Terlebih Reyna sedang mengandung," tolak Abiyu seketika.
"Rangga dulu juga sesekali tinggal berjauhan dengan Reyna, Bi. pas hamil Reynand juga," tutur Reza mengingat rumah tangga anaknya dengan Reyna.
"Iya, Om. Mereka tinggal terpisah hingga Reyna terlantar di pesawat, kemudian Reyna terkatung-katung di Solo kan waktu itu? Saya tidak mau terjadi kesalahpahaman serupa, Om. Saya tidak mungkin berjauhan dengan Reyna, Om!" kekeuh Abiyu menolaknya.
"Lantas bagaimana?" tanya Reza yang ikut bingung.
Abiyu juga tidak bisa menjawabnya.
Akhirnya pertemuan Abiyu dengan Reza malam ini tidak membuahkan titik terang. Abiyu pulang ke rumahnya dengan hampa karena tidak membuahkan hasil dari pertemuan dengan Reza.
****
Saat masuk ke dalam rumah ternyata bunda dan Reyna menunggunya hingga tertidur di sofa. Bahkan televisinya masih menyala.
Abiyu beranjak menyabet remot di atas nakas kemudian mematikan televisinya. Kemudian Abiyu membangunkan bundanya terlebih dahulu agar pindah ke kamarnya.
"Bun ... bangun, Bun!" ucap Abiyu lirih sembari mengguncang pelan lengan tangan sang bunda.
"Eh, sudah pulang, Kak?" tanya bunda Maya sembari membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
"Baru aja, Bun. Bunda pindah ke kamar, gih! Hawanya dingin, Bunda bisa sakit kalau tidur di sini," tutur Abiyu mengkhawatirkan kesehatan bundanya.
"Iya, deh. Tunggu! Tadi hasilnya bagaimana? Pak Reza bisa membujuk bu Lena, Kan?" tanya bunda yang ingin tahu hasil dari pertemuannya dengan Reza.
"Enggak, Bun. Om Reza nggak bisa membujuk istrtrinya. Tante Lena kekeuh tidak mau memberikan Reynand kepada kami," tutur Abiyu dengan lesu.
"Astaghfirullah, keras kepala banget ya bu Lena, itu. Bunda jadi ikut gemes, deh! Masa tidak mau mengerti kondisi Reyna juga, sih! Apa alasannya?" ujar bunda geram.
"Ya sama kayak yang Abi bilang kemaren, Bun. Jadi tante Lena takut jika akan ada yang mencelakai Reyna lagi ketika Abi tidak ada di rumah. Abi sudah bilang akan menempatkan sekuriti dan pembantu untuk menjaga Reyna di rumah, tapi tante Lena tetap tidak setuju karena mereka itu orang asing semua, dikhawatirkan jika orang itu justru adalah orang suruhan kayak yang sempat terjadi pada Rangga. Jadi Om Reza pun tidak setuju. Abiyu, bingung nggak tahu nanti harus bilang apa sama Reyna ketika bangun, Bun?" ujar Abiyu dengan gundah.
"Jangan bangunkan Reyna, kalau dia tahu pasti tidak bisa tidur dengan tenang. Kamu bopong saja dia ke atas pelan-pelan agar tidak bangun. Nanti coba bunda pikirkan dulu caranya supaya bu Lena mau memberikan hak asuh Reynand pada kalian," tutur bunda menasehati.
"Baik, Bun!" tutur Abiyu membopong istrinya ala bridal style agar Reyna tidak terbangun.
Setelah meletakkan istrinya di tempat tidur Abiyu membersihkan diri dan berganti baju rumahan. Kemudian Abiyu berbaring di samping istrinya sembari menghadap ke arah Reyna.
Maafkan aku, Sayang. Aku tidak bisa membawa Reynand untuk tinggal bersama kita. Apa yang harus aku katakan ketika kamu bangun dan bertanya tentang hal ini? gumam Abiyu di dalam hati.
Beberapa waktu terus berlalu dan Abiyu masih terjaga. Abiyu tidak bisa tidur hingga pagi menjelang. Jam di dinding menunjukkan pukul 02.00. Abi bangkit dari tempat tidur kemudian masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Seusai mengambil wudhu Abiyu menggelar sajadahnya dan mengenakan kemeja koko dan juga sarungnya. Kemudian Abiyu mendirikan salat tahajud agar hatinya yang gundah menjadi tenang.
Abiyu melaksanakan salatnya dengan kusyu'. Seusai menyelesaikan salatnya, tak lupa dia berdo'a agar Allah memberikannya petunjuk dan kemudahan untuk menyelesaikan permasalahan di hidupnya saat ini.
Kemudian Abiyu kembali berdzikir sembari menunggu adzan subuh. Waktu terus berlalu, dan tanpa terasa Abiyu telah tertidur di atas sajadahnya.
Tak berapa lama sayup-sayup terdengar adzan subuh berkumandang. Reyna terbangun dan melihat suaminya tidak berada di sampingnya. Dengan perlahan Reyna beranjak bangun dari tempat tidur dan melihat suaminya tengah tertidur di atas sajadahnya masih lengkap dengan kemeja koko dan sarung, juga tasbih genggamannya.
Reyna menduga suaminya pasti tertidur seusai melaksanakan salat disepertiga malam. Reyna membangunkan Abiyu dengan mengusap-usap pipi suaminya. Namun, Abiyu tidak bergeming. Lantas Reyna menepuk-nepuk bahu suaminya, dan dalam beberapa saat Abiyu mulai membuka mata.
Melihat Reyna duduk di hadapannya, Abiyu beranjak untuk duduk. Abiyu baru menyadari jika tadi dia telah tertidur di atas sajadahnya.
"Sudah adzan subuh, Kak," tutur Reyna kepada suaminya.
"Baiklah ... ayo mengambil wudhu dan salat bersama!" tutur Abiyu.
Mereka beranjak masuk dan bergantian mengambil wudhu ke kamar mandi, kemudian melaksanakan salat subuh berjamaah.
Seusai salat Reyna bertanya kepada suaminya. "Bagaimana, Kak? Papi berhasil membujuk mami, kan?"
Abiyu termangu mendengar pertanyaan istrinya. Dia bingung harus menjawab apa kepada Reyna.
"Jalan-jalan keliling kompleks?" Reyna mengulangi pertanyaan suaminya sembari berpikir. "Boleh juga, Kak. Sudah lama tidak berjalan-jalan, kalau di pesantren kan sering jalan-jalan di area ponpes yang luas. Setelah itu berbelanja ke pasar bersama bu Salamah," tutur Reyna menceritakan kegiatannya di pagi hari ketika berada di ponpes.
"Ya sudah kamu ganti baju dulu, aku tunggu di bawah!" titah Abiyu pada istrinya.
"Iya, Kak!" jawab Reyna kemudian beranjak menuju almari dan mengambil baju ganti.
Abiyu keluar dari kamar dan beranjak menuruni tangga. Kemudian dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Sesampainya di dapur dia melihat ada bunda dan ART yang baru mulai mempersiapkan untuk memasak.
"Hoam ... pagi, Bun?" sapa Abiyu sembari membuka almari es untuk mengambil minum.
"Pagi, Bi. Kamu masih mengantuk?" tanya bunda.
"Iya, Bun. Semalaman Abiyu tidak bisa tidur hingga menjelang subuh," tutur Abiyu sembari menuang minum ke dalam gelas dan segera meminumnya.
"Ya ampun, kasihan sekali sih, Kak!" tutur bunda menanggapinya. "Bunda sudah memikirkan masak-masak cara agar bu Lena mau memberikan hak asuh Reynand kepada kalian," tutur bunda.
"Bagaimana caranya, Bun?" tanya Abiyu penasaran.
"Caranya yaitu de--," bunda tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat Reyna muncul di depan pintu dapur.
"Oh, Kak Abi di sini?" tanya Reyna sembari berjalan masuk mendekat ke arah suami dan bunda.
"Pagi, Reyn. Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya bunda perhatian.
"Pagi, Bun. Alhamdulillah semalam tidur Reyna nyenyak, Bun. Apalagi mau ketemu Reynand lagi, iya kan Kak?" tanya Reyna sembari menoleh ke arah suaminya.
"Emm ... i-iya, Sayang!" jawab Abiyu dengan ragu sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Mau susu, Reyn? Aku bikinin, ya!" ujar Abiyu lagi-lagi mengalihkan pembicaraan.
"Aku saja yang buat, Kak," tutur Reyna.
"Enggak, kamu duduk aja, Sayang!" tutur Abiyu sembari mendorong pelan istrinya agar duduk.
"Tapi, Kak--." Reyna tidak melanjutkan kata-katanya, karena Abiyu memotong ucapannya.
"Sudah ... biar aku yang buatkan!" tutur Abiyu kemudian beranjak menuju meja dapur dan membuatkan susu untuk istrinya.
__ADS_1
"Tenang saja, Reyn. Abiyu itu sedari kecil suka bantu ibu di dapur. Makanya pekerjaan dapur dia jago juga," ujar bunda membicarakan putranya.
"Reyna jadi malu, Bun. Kak Abi sangat memanjakan Reyna. Dari kemarin di tinggal di rumah ini tidak boleh bantu-bantu memasak," ujar Reyna yang merasa tidak nyaman karena terus dimanjakan.
"Tidak apa-apa, Reyn. Nikmati saja tinggal di rumah bunda. Kamu datang ke sini saja bunda sudang senang," tutur bunda sembari menyiapkan bahan-bahan memasak.
"Bun, Abi mau ajak Reyna jalan-jalan keliling kompleks, ya?" ujar Abiyu meminta ijin.
"Iya ... bagus itu buat ibu hamil, Reyn. Apalagi kalau sudah mendekati HPL, musti rajin dipakai jalan-jalan biar lahirannya lancar," tutur bunda menasehati. "Oh iya, Reyn. Kamu ikut juga kelas ibu hamil. Itu bagus buat sharing seputar ibu hamil," bunda menambahkan.
"Iya, Bun. Nanti Reyna coba daftar yang ada di Yogya," jawab Reyna.
"Ini susunya di minum dulu, Sayang! Setelah itu kita jalan-jalan," tutur Abiyu sembari menyodorkan segelas susu ke hadapan istrinya kemudian duduk di depan Reyna.
"Terima kasih, Kak!" ucap Reyna sembari tersenyum, merasa bersyukur mendapatkan perhatian yang banyak oleh suaminya.
Setelah menghabiskan minumannya, Reyna dan Abiyu berpamitan kepada bunda untuk berangkat berjalan-jalan.
Mereka berjalan beriringan sembari berpegangan tangan. Sesekali mereka bertemu dengan warga kompleks yang sedang beraktivitas di luar dan menyapa tetangganya dengan ramah.
Saat melewati rumah Pak RT, beliau menghentikan langkah mereka.
"Mas Abiyu, ya? Wah lama tidak berjumpa, hendak keliling kompleks, ya?" sapa Pak RT.
"Iya, Pak. Apa kabar, Pak?" tanya Abiyu mencoba mengakrabkan diri.
"Baik, Mas. Ini saya sudah selesai lari pagi, tadi habis subuh langsung muter," tutur Pak RT.
"Wah hebat lhoh semangat anda perlu di contoh!" tutur Abiyu memuji kegigihan pak RT yang semangat berolahraga.
"Mas Abiyu bisa saja. Ini istrinya?" tanya pak RT sambil melirik ke arah samping Abiyu.
"Iya, Pak. Ini istri saya. Namanya Reyna," tutur Abiyu memperkenalkan diri.
Reyna mengangkat kedua tangannya setinggi dada dan menyatukan kedua telapak tangannya sembari tersenyum di balik cadarnya kemudian menundukkan kepala satu kali untuk memberi salam.
Pak RT membalas dengan hal yang sama.
"Alhamdulillah, ya Mas. Kalau sudah menikah itu hati lebih tenang, ada yang menemani! Kapan ini Mas diadakan walimahnya, jadi biar tetangga kompleks, teman, dan kerabat biar tahu, kalau Mas Abi itu sudah ada yang punya!" tutur pak RT.
Abiyu terkesima mendengar perkataan Pak Rt.
Benar juga ya kata pak RT, rasanya tidak ada momen special antara aku dan Reyna setelah menikah. Kita juga belum mengadakan walimah karena Reyna waktu itu belum mencintai aku, apa aku adakan walimah saja ya, di rumah bunda? gumam Abiyu di dalam hati.
"Insyaallah, Pak. Semoga diberi kesempatan untuk mengadakan walimahnya!" jawab Abiyu.
"Ya Mas, ditunggu kabar baiknya," tutur pak RT ramah.
"Saya permisi untuk melanjutkan perjalanan ya, Pak. Assalamu'alaikum," ujar Abiyu berpamitan.
"Njih Mas, monggo dilanjutkan jalan-jalannya," tutur pak RT ramah.
Setelah beberapa langkah berjalan Reyna membuka suara, "Kak, Pak RT orang jawa, ya? Ramah sekali orangnya," tutur Reyna.
"Iya, Sayang. Aslinya dari Yogya juga. Makanya kemarin waktu minta bantuan buat dicarikan surat-surat untuk lampiran ke KUA, pak RT dengan sigap mau bantuin," tutur Abiyu.
"Alhamdulillah, Kak. Dimudahkan," tutur Reyna.
Setelah berkeliling kompleks mereka kembali pulang ke rumah bunda.
Saat Reyna sedang mandi Abiyu menemui bunda yang sedang mempersiapkan sarapan.
"Bun, waktu itu pernikahan Abi kan hanya menggelar akad nikah, gimana jika Abi berniat mengadakan walimah kecil-kecilan sebelum kembali ke Yogya? Terlebih Reyna kan tidak ingat dengan pernikahan kita, jadi Abi ingin memberikan momen spesial yang dapat berkesan dalam ingatan Reyna saat ini," tutur Abiyu mengemukakan rencananya kepada bunda.
"Wah, boleh juga itu, Bi. Bunda itu dari dulu sebenarnya juga pengen mengadakan resepsi pernikahan yang mewah buat kamu, jadi temen-temen Bunda biar tahu kalau ibu sudah punya mantu," tutur bunda antusias.
"Tidak perlu yang mewah-mewah juga sih, Bun. Cukup acara sederhana saja, yang penting tetangga, teman, dan kerabat tahu kalau Abi sudah menikah," tutur Abiyu menjelaskan.
"Jadi begitu ...," bunda sedikit kecewa karena dia ingin menggelar acara yang istimewa untuk anak laki-laki satu-satunya karena ini adalah acara menikahkan anaknya yang pertama kalinya.
"Ayolah, Bun. Lagi pula Reyna kurang sehat dan sedang hamil juga. Abi tidak ingin terlalu mengeksposnya ke publik sehingga membuat Reyna tidak nyaman," bujuk Abiyu agar bunda mau menyetujui idenya.
"Baiklah kalau, begitu!" Akhirnya bunda mengalah untuk menyetujui rencana Abiyu.
"Nah gitu, dong! Bunda emang paling mengerti !" tutur Abiyu sembari memeluk bundanya dari samping.
"Oh iya, Bunda tadi mau bilang apa soal rencana agar Reynand bisa ikut pulang bersama dengan kami?" tanya Abiyu sembari melerai pelukannya.
__ADS_1
...______________Ney-nna______________...