
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.00. Mira teringat bahwa sore ini dia ada janji bertemu dengan Jonatan. Mira bergegas untuk membereskan pekerjaannya, agar dapat sampai di tempat yang mereka janjikan tepat waktu.
Mira menyabet sling bagnya dan beranjak menuju pintu. Tak lupa dia mengunci ruangan kantornya, kemudian bergegas untuk menuruni tangga.
Saat berada di bawah Mira berpapasan dengan Gina dan Sesha yang masih mengobrol di lobby.
Gina menghentikan langkahnya. "Mbak, buru-buru banget sih, ikut kita yuk, Mbak!"
Mira berhenti di samping meja FO (front office). "Emangnya kalian mau ke mana?" tanya Mira sembari merogoh kunci mobil.
"Kita mau cari makan dulu, Mbak. Laper mendekati akhir bulan kan banyak kerjaan, mikir terus bikin perut keroncongan, Mbak," tutur Gina sembari meraba perutnya yang rata dengan tubuh cekingnya.
"Nggak, deh! Aku musti buru-buru ke suatu tempat!" ujar Mira beralasan tanpa mengatakan tujuannya.
"Yahh ... kita cuma berdua, dong!" tutur Sesha sembari memasang muka sedihnya.
"Lain kali aja ya! Aku duluan ya, Gin, Sha! Pastikan semua ruangan udah terkunci ya sebelum meninggalkan ruko! Assalamu'alaikum, dadah ...!" tutur Mira sembari berjalan ke luar dengan berdada-dadah ala-ala miss univers kemudian segera berlalu menuju mobilnya terparkir.
"Mbak, Mira!" seru Fely saat melihat Mira ada di parkiran.
Mira langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Hai, Fe. Kamu lagi ngapain di luar?" tanya Mira berbasa-basi.
"Ini, Mbak. Aku nungguin karyawan bagian deliver. Mas Abi minta dikirimin makanan buat mbak Reyna," tutur Fely kepada Mira sembari memperlihatkan bungkusan yang ada di tangannya. "Tuh, orangnya. Mas, buruan, Mas!" ujar Fely kepada karyawannya yang baru datang setelah mengantarkan pesanan ke deretan ruko yang berada di seberang jalan.
"Jer, nih kamu antar ke rumah, ya! Buat bumil ini jangan kelamaan nanti keburu ngiler bayinya! Hehehe ...," ujar Fely dengan bercanda.
"Rumah siapa, Mbak?" tanya karyawan yang bernama Jerry itu, untuk memperjelas alamat pengiriman.
"Estoge!" Fely menepuk jidatnya dengan telapak tangannya, saat menyadari karyawannya yang kurang tanggap.
"Kan, Mbak Fely cuma nyuruhnya anter ke rumah, lhah bener kan saya yang nanya ke rumah siapa? Kalau nggak saya tanyakan nanti salah kirim ke rumah yang lain, gimana coba?!" kilah Jerry.
"Hhhuh, sudah-sudah kelamaan berdebat sama kamu nggak sampai-sampai makanannya. Nih buruan dianter ke rumah 'Sa-ya'!" ujar Fely dengan menekankan kata saya pada kata-katanya kemudian menyodorkan kantong makanan kepada karyawannya.
"Ohh, ke rumah Bu Bos. Siap-siap, Mbak. Saya berangkat sekarang, ya Mbak. Assalamu'alaikum!" ujar Jerry dengan sopan kepada anak bosnya itu, kemudian membungkukkan badan juga ke arah Mira. "Mari, Mbak!" ujarnya lagi.
Fely menjawab salam, seraya menggeleng-gelengkan kepala dan menatap tajam ke arah karyawannya yang kocak itu.
Mira tersenyum menertawakan karyawan Fely yang lucu itu. "Jangan galak-galak gitu dong, Fe!" tutur Mira menegur.
"Habisnya, dia selalu bertanya begitu, Mbak. Tapi aku curiga lhoh Mbak, dia itu karyawan baru aku, tapi tampangnya keren dan terawat, Mbak. Kaya tampang-tampang orang kaya, gitu Mbak!" tutur Fely membicarakan karyawannya itu.
__ADS_1
"Iya, sih! Ehh, tadi kamu bilang buat bumil? Memangnya, Reyna hamil?" tanya Mira yang penasaran dengan kabar sahabatnya yang lama tidak berjumpa.
"Iya, Mbak. Mbak Reyna--," kata-kata Fely terpotong dengan bunyi dering dari handphone milik Mira.
Tulilit tulilit tulilit!
"Sebentar, Fe. Aku angkat telepon dulu!" ujar Mira sembari merogoh handphonenya yang berada di dalam tasnya.
Saat melihat ke layar handphone, ternyata Jonathan yang menelepon. Mira menggeser tanda hijau pada layar handphone miliknya.
"Ya, Hallo ... assalamu'alaikum," ucap Mira mengangkat teleponnya.
"Wa'alaikumussalam. Ra, kita jadi ketemu, Kan? Ini aku sudah sampai di cafe deket rumah kamu," ujar Jonathan dari seberang.
"Iya, jadi. Ini aku baru di parkiran. Tunggu bentar, ya! Ini aku On the way!" tutur Mira.
"Okey, aku tunggu, Ra. Hati-hati di jalan!" ujar Jonathan.
"Iya, Assalamu'alaikum!" tutur Mira mengakhiri obrolan mereka di telepon.
"Wa'alaikumussalam!"
Telepon di tutup.
"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, Mbak!" seru Fely saat Mira beranjak pergi, kemudian dia bergumam, "Mbak Reyna gak bakalan inget sama kamu kali, Mbak! Orang sama suaminya aja gak inget!"
Setelah Mira berlalu Fely masuk kembali ke dalam resto.
****
Dua puluh menit berkutat di jalanan akibat macet saat berkendara di saat itu jam pulang kantor, membuat Mira terlambat datang.
Mira bergegas turun dari mobilnya menuju ke dalam cafe. Berharap Jonathan masih menunggunya.
Meskipun dia sudah bisa move on dari Jonathan,tapi dia juga tidak ingin menebar kebencian atau membalas sakit hatinya dengan meremehkannya hingga sengaja datang terlambat.
Baginya, semua orang pernah melakukan kesalahan, dan pernah berbuat salah bukan berarti seseorang itu akan terus berbuat salah, karena semua orang punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Mira percaya setiap peristiwa yang dilaluinya mempunyai makna di kemudian hari.
Mira membuka pintu dan segera masuk ke dalam cafe. Ekor matanya mengitari seluruh sudut cafe yang berada di lantai bawah, dan akhirnya dia melihat seseorang yang dikenalinya melambaikan tangan kepadanya. Jonathan masih menunggunya bahkan Mira disambutnya dengan senyuman meski datang dengan sangat terlambat.
Mira segera beranjak di mana Jonathan berada.
"Maaf ya, Jo. Tadi di jalan macet," ujar Mira sembari menggeser salah satu kursi ke belakang kemudian mendudukinya.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Ra. Aku sudah menduga kamu pasti kena macet. Makanya aku tadi minta ijin dari kantor agar bisa pulang lebih cepat supaya tidak membuatmu menunggu, biar aku saja yang menunggumu," tutur Jonathan dengan mengulas senyum.
Sejenak Mira terdiam mencerna perkataan dari laki-laki yang berada di depannya itu. Mira merasa ada sesuatu yang menyentil dari kata-kata yang diucapkan oleh Jonathan kepadanya.
Apa dia sedang merayuku! gumam Mira di dalam hati.
Lalu Mira hanya tersenyum untuk menanggapinya.
"Oh ya, mau pesan apa?" tanya Jonathan sembari menyodorkan buku menu ke depan Mira.
"Aku pesan lemon sguash saja," ujar Mira.
"Makanannya?" tanya Jonathan.
"Tidak perlu ... aku masih kenyang!" jawab Mira.
"Baiklah kalau begitu!
Jona kemudian memanggil seorang waitress untuk memesan minuman.
Terlihat seorang waitress mendekati mejanya. "Ya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang waitress
"Pesan Lemon squash satu dan Frappuccinonya satu ya, Mbak!" ujar Jonathan kepada pelayan tersebut.
"Baik. Ada lagi?" tanya seorang waitress.
"Baik, mohon tunggu sebentar!" ujar waitress tersebut, kemudian berlalu.
"Ra, sebenarnya aku bingung bagaimana harus memulai pembicaraan denganmu. Sudah cukup lama kita tidak berjumpa dan saling bertegur sapa," ujar Jonathan dengan gugup.
"Emm ... langsung pada intinya saja, Jo! Aku tidak punya banyak waktu karena aku harus segera pulang sebelum maghrib," ujar Mira mengatakan yang sesungguhnya.
Sebenarnya dia juga merasa cukup canggung dengan pertemuannya kali ini. Ketika seseorang yang dulu dianggapnya spesial, namun kini bukan siapa-siapa lagi.
"Baiklah! Sebenarnya aku sudah dikeluarkan dari tempat kerjaku yang lama, dan ditempat kerja yang baru aku di tempatkan di Kalimantan. Makanya dalam beberapa bulan kebelakang aku tidak bisa bertemu denganmu," tutur Jonathan menceritakan kisahnya beberapa bulan yang lalu.
"Dikeluarkan? Kenapa?" tanya Mira kaget, sebab setahu Mira Jonathan sudah cukup lama bekerja di tempat kerjanya yang dulu.
Dari awal magang semasa kuliah hingga jenjang karirnya yang yang semakin bagus dengan posisinya yang terakhir, cukup mengejutkan jika Jonathan di keluarkan.
"Ini ada hubungannya dengan masalah kita waktu itu, Ra ...," tutur Jonathan dengan sendu.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menepuk bahu Mira dari belakang. Mira tersentak kaget karena hal itu. Lantas Mira segera menoleh ke belakangnya.
__ADS_1
...__________________Ney-nna__________________...