Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Mendengar Obrolan di telepon


__ADS_3

Abiyu nampak serius sembari bolak-balik melihat ke arah pintu. Reyna yang melihat hal itu menjadi heran kepada suaminya.


"Kak, Reyna perhatikan dari tadi Kak Abi bolak-balik terus melihat ke pintu, ada apa, Kak?" tanya Reyna yang tidak tahan melihat suaminya mondar-mandir melihat ke arah pintu.


"Aku sedang menunggu Fely. Satpam bilang Fely semalam tidak pulang. Bahkan hingga sesore ini. Sebenarnya dia ke mana saja?!" ujar Abiyyu dengan raut muka yang tidak ramah.


"Kak Abi kan bisa menunggu sambil duduk. Kak Abi harus tenang, mungkin saja Fely semalam menginap di rumah temannya. Ketika Fely datang tanya dulu baik-baik jangan langsung memarahinya!" ujar Reyna memberi saran.


"Kalau menginap di rumah temannya, kenapa tidak meminta izin terlebih dahulu! awas saja kalau sampai dia macam-macam di luar sana!" tutur Abiyu meskipun begitu sebenarnya dia mengkhawatirkan adiknya.


Reyna mendekat ke arah Abiyu kemudian melingkarkan tangannya di leher suaminya. "Coba aku lihat muka Kak Abi, kalau sedang serius begini usianya bertambah delapan tahun!"


Reyna mencoba untuk mengajak bercanda suaminya agar emosinya mereda.


"Sayang, kamu mau menggodaku? ini masih sore. Jika aku semakin kesal bisa-bisa aku akan memakan mu sekarang juga!" ancam Abiyu yang tahu jalan pikiran Reyna yang ingin menggodanya demi meluluhkan hatinya.


"Aku sedang tidak menggoda Kak Abi, tapi ini beneran lhoh! menurut aku Kak Abi itu baby face, Kak Abi biasanya sangat sabar, selalu menyelesaikan masalah dengan tenang, makanya aku mudah jatuh cinta sama, Kakak," tutur Reyna memuji suaminya agar suasana hatinya membaik.


Benar saja Abiyu pun tersenyum mendengar rayuan dari istrinya. Meskipun dia tahu sebenarnya Reyna hanya menggodanya agar tidak memarahi Fely ketika datang.


"Kamu selalu bisa membuatku luluh, Reyn. Apa sebenarnya yang membuatku terlalu mencintaimu hingga tak ingin berpaling darimu?" tanya Abiyu yang mengakui jika dia terlalu mencintai istrinya.


"Hal itu juga yang sebenarnya ingin aku ketahui, Kak. Padahal aku sudah mengecewakan Kak Abi berkali-kali! namun Kak Abi tetap mencintaiku," tutur Reyna dengan sungguh-sungguh ingin tahu jawaban dari suaminya.


"Emm, itu karena hanya dengan melihatmu menyejukkan hatiku, kamu adalah tempat di mana aku ingin pulang dan menghabiskan waktu hanya bersamamu, dan karena tawamu itu adalah bahagia ku!" tutur Abiyu kepada istrinya.


"Hahahaha, ini sih Kak Abi lagi menggombal! tapi tak apa, aku bahagia mendengar kata-kata Kak Abi barusan. Terima kasih karena selalu mencintaiku, Kak!" tutur Reyna dengan tulus.


"Tentu, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu!" tutur Abiyu sembari mengecup kening istrinya, kemudian merengkuh Reyna ke dalam pelukannya.


Tanpa mereka sadari sebenarnya Fely sudah sampai. Dia mengendap-endap masuk ke dalam rumah dan mendengar obrolan suami istri itu.


Indah sekali cinta Kakak dengan Kak Reyna, apa aku dan Raka kelak bisa seperti itu? gumam Fely di dalam hati.


Tiba-tiba ada getaran pada handphone Abiyu. Rupanya ada telepon dari seorang kliennya. Abiyu meninggalkan Reyna ke resto depan.


Saat itu Reyna melihat jika Fely sebenarnya sudah datang.


"Assalamu'alaikum, Kak," ucap Fely saat memasuki rumah.


"Wa'alaikumussalam, kamu baik-baik saja kan, Fe. Bunda dan Kak Abi sangat menghawatirkan mu," tutur Reyna perhatian.


"Iya, Kak. Aku baik-baik saja, Kok. Maaf membuat kalian cemas, kemarin itu aku hanya ingin meminta ijin jika aku harus menginap di rumah teman Fely," tutur Fely.

__ADS_1


Dan juga meminta ijin untuk menikah siri! ujar Fely melanjutkan kata-katanya di dalam hati.


"Kenapa harus menginap, Fe?" tanya Reyna lagi.


"Sebenarnya tidak berencana menginap, Kak. Tapi, mobil Fely mogok di jalan pas lagi hujan deras dan di sertai petir. Fely belom sholat maghrib juga, akhirnya Fely jalan ke rumah teman Fely yang kebetulan tidak terlalu jauh dari posisi Fely saat itu. Akhirnya mamanya menawarkan Fely untuk menginap di rumahnya," tutur Fely menjelaskan yang sebenarnya terjadi, dengan melewatkan bagian kepergok warga dan nikah siri.


"Oh, jadi begitu. Terus kenapa tidak segera pulang?" tanya Reyna lagi yang belum puas.


Aduh Kak Reyna ternyata jauh lebih kritis dibanding, Kakak! batin Fely.


"Fely demam, Kak. Mamanya meminta Fely tetap tinggal hingga merasa lebih baik," tutur Fely menemukan alasan yang tepat.


"Ya ampun, kamu sampai demam, Fe. Temen kamu harusnya nganterin kamu pulang, dong!" tutur Reyna.


"Em, iya Kak. Tadinya juga dianter kok, Kak. Tapi sampai di tengah jalan kita berpisah karena ada urusan mendadak," ujar Fely yang merasa tidak tenang, saat Reyna bertanya.


"Ya, sudah. Istirahatlah, nanti biar aku yang bicara sama Kak Abi!" perintah Reyna kepada adik iparnya.


Fely mengangguk kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia bergegas mandi mandi kemudian melaksanakan salat. Seusai salat handphonenya bergetar ada chat yang masuk.


Dilihatnya pada layar sebuah nomor baru.


✉️+6281932******


Fely mengecek pada panggilan terakhir. Ada panggilan ke luar ke nomor tersebut di jam 17.00.


"Ini pasti, Raka," tutur Fely kemudian menyimpan nomor dan memberinya nama.


^^^✉️ me.^^^


^^^Habis salat, kamu sendiri sedang apa?^^^


✉️ Raka


Aku sedang menemani nenek. Nenekku sedang sakit.


"Raka sepertinya sangat menyayangi keluarganya!" gumam Fely.


Fely hendak membalas pesan itu, tapi tiba-tiba ada panggilan masuk dari Raka.


📞 Raka is calling ...


"Raka telfon! yaampun bilangnya lagi nemenin neneknya yang lagi sakit, kenapa malah telfon, sih!" gumam Fely merasa ragu untuk menjawab telepon dari Raka.

__ADS_1


Akhirnya pada dering ketiga Fely mengangkat telepon dari Raka.


"Hallo, assalamu'alaikum," ucap Fely saat telepon tersambung.


"Kamu sepertinya sedang senang, Raka. Sedang berkirim pesan dengan siapa?" terdengar suara seorang wanita tua dari seberang telepon.


"Seorang gadis, Nek," jawab Raka pada wanita itu.


"Kamu menyukai gadis itu?" tanya wanita itu.


"Iya, Nek. Aku menyukainya sejak pertama kali melihatnya." Terdengar suara Raka menjawab pertanyaan itu.


"Dia pasti gadis yang cantik!" ujar wanita itu.


"Bukan sekedar cantik, tapi dia gadis yang sopan, baik, dan pintar memasak, Nek," ujar Raka.


Mendengar Raka memujinya di depan sang nenek, membuat pipi Fely merona merasa tersanjung dan tak henti-hentinya mengulas senyum bahagia. Fely merasa di cintai dan diinginkan oleh laki-laki yang telah menikahinnya kemarin.


"Benarkah, sepertinya kamu sangat mencintainya. Apa mamamu tahu?" tanya wanita itu.


"Iya, Nek. Mama juga menyukainya," tutur Raka.


"Kalau begitu, kenalkan dia pada Nenek dan Kakek. Bukankah Kakek memintamu untuk segera menikah?" tutur wanita itu.


"Iya, Nek. Aku masih menunggu jawaban darinya. Jika dia sudah bersedia aku akan datang melamar kepada keluarganya!" tutur Raka.


"Apa dia tahu ...," ujar suara wanita itu, namun tiba-tiba saja sambungan terputus.


Fely menatap heran pada layar handphonenya, sebenarnya masih belum puas mendengarkan obrolan mereka. Tapi, karena sambungan terputus dia pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Mengingat-ingat obrolan Raka dan neneknya barusan membuat Fely berguling-guling di tempat tidur sembari tersenyum senang.


"Ya Allah, mengapa aku begitu senang hanya karena mendengar hal itu, ya? mungkinkah aku mulai menyukainya? tapi aku penasaran nenek mau bertanya apalagi ya, tadi? sayang banget telfonnya terputus," gumam Fely dengan rasa penasarannya.


Tok tok tok.


"Fe, ayo makan!" seru Reyna dari balik pintu.


"Iya, Kak. Sebentar!" jawab Fely dari dalam kamar.


Fely pun segera bergegas keluar dari kamarnya untuk makan malam bersama.


...___________Ney-nna___________...

__ADS_1


__ADS_2