
Seusai makan siang Mira segera menghubungi mamanya untuk memberitahu jika Dipa dan keluarganya akan berkunjung nanti malam. Hal itu Mira lakukan dengan tujuan agar mama bisa menyiapkan makanan untuk menjamu tamu.
Mama sempat kaget saat mendengar kabar itu, sebab hari sudah menjelang sore.
"Ma, jika tidak sempat pesan makanan di restoran aja gimana?" Mira mengusulkan.
"Jangan dong, Mir. Nanti kalau ditanya bagaimana? masa Mama bilang kalau makanannya hasil dari membeli, kaya kurang menghargai tamu dong, Mir. Bentar deh Mama minta bantuan sama mama Santi dulu deh. Dia kan pintar masak," ujar mama dari seberang telepon.
"Yakin Ma, bisa?" tanya Mira yang merasa khawatir karena dia belum bisa pulang untuk membantu mamanya.
"Insyaallah, ya udah Mama tutup ya teleponnya, Mama kan musti bergegas," ujar mama terburu-buru ingin menyudahi pembicaraan.
Namun, Mira segera menghalangi sebelum mama memutus panggilan.
"Eits, Mama-a ...!" seru Mira dengan segera.
"Apa sih, Mir?" tanya mama.
"Cincinnya gimana, ketemu nggak?" tanya Mira dengan harap-harap cemas.
"Ketemu ... ketemu. Itu cincin dari siapa? perasaan waktu itu Dipa nggak ngasih apa-apakan? hayoo ...!" cecar sang mama merasa aneh, sebab mama yakin bukan Mira yang membelinya sendiri.
"Hehehehe ..., nanti malam seusai tamunya pulang Mira ceritain deh. Okey, sudah cukup, terima kasih Mama! Assalamu'alaikum," ujar Mira kemudian memutus sambungan teleponnya.
"Step by step! Mama sudah, sekarang gantian balas pesan dulu apa telepon Jona dulu ya?" ujar Mira sembari mengetuk-ngetuk kan jarinya di kepala.
"Balas pesan dulu deh!" ujar Mira akhirnya mendahulukan yang lebih mudah.
✉️ Mira.
Wa'alaikumussalam, Dipa. Oke, aku udah kasih tahu mama.
"Balas pesan sudah!" ujar Mira dengan riang. "Saatnya menelepon Jona."
Mira meletakkan handphone di telinga kirinya, menunggu.
"Hallo, Assalamu'alaikum, Ra," jawab Jona dari seberang.
"Jo, sedang sibuk nggak?" tanya Mira memastikan dulu keadaan Jona saat ini.
"Enggak, aku lagi on the way mau jemput adek aku di sekolah, ada apa, Ra?" tanya Jona.
Mira sejenak diam berpikir cepat.
"Emm, kalau gitu kamu jemput adek kamu dulu aja deh, nanti jika sudah sampai rumah kamu telpon balik ke aku ya? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan!" tutur Mira yang lebih memilih mengurungkan niat untuk memberitahukan tentang penolakan lamarannya.
"Apa sih, katakan saja sekarang, Ra?! Nih aku uda sampai di sekolahan, tapi masih nunggu adek aku belum keluar," tawar Jona.
"Enggak, nanti saja jika sudah sampai rumah," tolak Mira kekeuh.
"Atau nanti malam aku ke rumah kamu ya?" ujar Jona menawarkan untuk bertemu.
Apa?? mau ke rumah nanti malam?! wow ... jangan! batin Mira.
__ADS_1
"Jangan-jangan, Jo. Nanti malam aku ada acara. Pokoknya nanti kalau sudah sampai rumah saja ya, hubungi aku ...!" tutur Mira.
"Oke deh, kalau itu mau kamu. Kabar kamu baik kan, Ra? aku merindukanmu ...," tutur Jona.
Waduh kenapa malah bilang kaya gitu si, Jona?!
"Eh, alhamdulilah baik, oke aku kerja dulu ya, Jo. Assalamu'alaikum," Ujar Mira memilih untuk memutus sambungan sebelum pembicaraan jadi kemana-mana.
"Oke, Ra. Wa'alaikumsalam," jawab Jona kemudian sambungan terputus.
"Ya Allah, ampuni hamba jika harus membuat Jona kecewa!" gumam Mira yang merasa tidak tega untuk membuat orang lain merasakan patah hati, sebab dia sendiri mengalaminya, berkali-kali patah hati dan rasanya itu sungguh sakit.
Mira menjatuhkan kepalanya di atas meja. "Rasanya masih ada beban di hati jika belum bisa mengatakannya kepada Jona."
****
Di rumah Mira.
Mira sudah bersiap-siap dengan mengenakan gamis yang dirasanya cukup bagus dan pantas untuk menyambut tamu. Begitu pun dengan mamanya yang sudah menyiapkan berbagai hidangan untuk menjamu tamu spesial di malam ini. Mama sangat antusias, sebab kali ini mama berharap pernikahan putri satu-satunya bisa benar-benar terwujud setelah rencana pernikahan yang sebelumnya sempat gagal.
"Mira!" seru mama dari ruang makan.
Mira yang sedang menunggu pesan balasan dari Jona sedari siang, akhirnya menyerah dan meninggalkan handphonenya di kamar.
Padahal Mira hanya ingin mengatakan jika dia tidak bisa menerima lamaran dari Jona agar beban di hatinya berkurang, sebelum memulai untuk menerima khitbah dari laki-laki lain. Namun, sedari siang Jona tidak memberi kabar dan nomornya tidak bisa dihubungi.
Mira bergegas ke luar dari dalam kamarnya dan beranjak menuju ruang makan menjumpai mamanya.
"Ngasih kabar nggak si Dipa? jadi datang kan?" tanya mama.
"Nggak ngasih kabar, Ma," jawab Mira.
"Mungkin sebentar lagi, Mbak!" ujar om Rudi adiknya mama Mira.
"Wah ... cantik sekali, Mir!" tutur dari tantenya Mira.
"Ah, Tante bisa saja. Anak-anak gak ikut, Tan?" tanya Mira saat tidak menemukan keberadaan keponakannya.
"Enggak, Mir. Lagi pula mereka kan sekarang sudah besar, mana mau anak jaman sekarang ngikut orang tuanya untuk acara kaya gini, pasti lebih mengutamakan main sama temen-temennya," jawab istri om Rudi.
Papa Mira sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu. Untuk menemani mama menyambut tamu, mama meminta adiknya untuk datang sebagai perwakilan laki-laki dari keluarganya.
"Tapi hati-hati lhoh, tetap diawasi anakmu itu! pergaulan anak muda jaman sekarang itu ngeri lhoh semoga tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif," ujar mama menasehati adiknya.
"Iya, Mbak. Saya juga sebenarnya was-was, apa lagi anak kami laki-laki. Gak betah Mbak, di rumah," tutur istri Rudi.
Ting tong ting tong!
Tiba-tiba bel berbunyi.
"Tuh, jangan-jangan tamunya sudah datang, Mir," ujar mama kepada Mira.
"Ayo, Om. Temenin ke depan!" ajak Mira kepada Rudi.
__ADS_1
Rudi mengangguk, kemudian berjalan di depan mendahului Mira.
Dibukanya pintu rumah dan nampaklah Dipa yang datang bersama kedua orang tuanya, dan juga Pak Ahmad ketua pengurus cabang di tempat mengaji.
"Assalamu'alaikum," ucap pak Ahmad memberi salam.
"Wa'alaikumussalam, mari silakan masuk, Pak, Bu!" Rudi menyambut kedatangan mereka dan menyalami tamu laki-laki yang datang.
Mira hanya melirik sekilas ke arah Dipa, begitupun dengan sebaliknya.
Sedangkan Mira mendekat ke arah Shinta untuk bersalaman.
"Apa kabar, Tante Shinta," ujar Mira sembari mengulurkan tangan.
"Wa'alaikumsalam," Shinta mengulurkan tangannya kemudian memeluk Mira. "Mira, lama tidak jumpa tambah cantik saja ... setelah memakai hijab, Tante jadi pangling lhoh!" tutur Shinta saat melerai pelukannya.
"Tante, bisa saja," ujar Mira sembari mengulas senyum ramah kepada Shinta.
Dipa mencoba mencuri pandang ke arah Mira, saat Mira mengobrol dengan mamanya.
Tamu di persilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Mama dan istri om Rudi turut hadir menyambut tamu dan menyajikan minuman juga kue-kue untuk camilan.
Kedua keluarga mengobrol agar saling mengenal satu sama lain. Kemudian acara dilanjutkan dengan makan malam bersama di ruang makan. Semua nampak menikmati hidangan yang disajikan oleh mama Mira.
"Wah, enak lhoh masakan, Jeng!" ujar Shinta kepada mama Mira.
"Alhamdulillah, tadi dibantuin sama tetangga, Mbak. Kebetulan dulu mantan chef di restoran," tutur mama.
"Kalau, Nak Mira juga suka masak, nggak?" tanya Shinta.
"Uhukk!" Mira yang ditanya tiba-tiba tersedak karena pertanyaan itu.
"Pelan-pelan, Mir. Makannya!" ujar mama sembari menyerahkan minum ke arah Mira.
Mira menerima minuman itu dan segera meneguknya.
Ting tong ting tong.
"Wah sepertinya ada tamu lagi ya, Jeng!" ujar Shinta kepada mama Mira.
Deg.
Mira yang tadinya beruntung karena pembicaraan dialihkan saat ada bunyi bel, beralih menjadi cemas ketika menduga-duga tamu yang datang.
Siapa nih yang datang malam-malam ke rumah aku?! Apa jangan-jangan...
"Permisi, saya akan melihat siapa yang datang!" ujar Rudi sembari beranjak berdiri.
"Om, biar Mira saja!" cegah Mira yang bergegas beranjak berdiri dan segera menuju ke depan rumah.
Di setiap langkah, Mira merasa gelisah. Ada perasaan cemas jika dugaannya benar tentang siapa yang datang kali ini.
...__________Ney-nna__________...
__ADS_1