
Saat pagi menjelang, seusai breakfast mereka langsung melakukan check out dari hotel. Pukul 10:00 Rangga harus sudah berada di kantor untuk melaksanakan rapat dengan klien. Tadi mereka sempat mampir sebentar di pusat oleh-oleh khas Tawangmangu untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk Mami dan untuk yang di Jakarta.
Sesampainya di rumah Reyna bergegas turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rangga membuka bagasi untuk menurunkan koper dan oleh-oleh yang tadi di belinya. Mbak Siti yang sedang mengepel lantai kemudian mendekat untuk membantu Rangga.
"Mbak Siti, ambil aja beberapa oleh-oleh nya buat Mbak Siti yah, maaf aku nggak bantuin. Aku masuk duluan ya, Ga?" ucap Reyna sambil setengah berlari masuk ke dalam rumah. Bahkan tanpa menunggu jawaban dari suaminya.
Rangga geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah istrinya yang buru-buru masuk ke dalam rumah.
"Wah, mbak Reyna lagi kebelet opo piye Mas, kok kesusu banget lho!" ucap Mbak Siti.
( Wah, mbak Reyna baru kebelet atau gimana Mas, kok terburu-buru banget lho )
"Iya kali, Mbak." jawab Rangga sambil mengeluarkan kopernya.
"Berhasil to, Mas honeymoonnya?"
"Nek tak sawang, Mas Rangga ki ketok bungah, tresno banget koyone karo Mbak Reyna." ungkap Mbak Siti.
( Kalau aku lihat, Mas Rangga ini kelihatan bergairah, cinta banget kayaknya sama Mbak Reyna )
"Lebai deh Mbak? Perasaan biasa aja deh!" ucap Rangga.
"Ya bedalah Mas, kalau sama yang kemaren itu kayak yang cewek yang ngejar-ngejar cowoknya! Kalau yang sekarang tuh dari tatapan mata Mas Rangga saja kelihatan kalau yang tresno gitu. Kalau anak jaman now itu bilangnya apa ya Mas...emm..buucinn! Iyo bucin ngono jarene sinetron ning tipi. Hhhahahahaha....!" Mbak Siti menjelaskan panjang lebar.
( Iya bucin gitu katanya sinetron di televisi )
"Hahahaha..gaul banget sih Mbak, sampai update bahasa anak jaman now segala. Kebanyakan nonton sinetron sih!"
"Udah ah, yang ini oleh-olehnya disimpan dulu mbak di dapur.!" titah Rangga.
"Iya, Mas. Beress!" jawabnya cepat.
***
"Assalamu'alaikum, Mih." Reyna menyalami ibu mertuanya yang sedang membaca majalah di ruang tengah.
"Hmm...lama amat sih liburannya!" ucap Mami sambil melirik sinis.
"Emm iya, maaf ya Mih, dua hari di Solo malah nggak bisa nemenin Mami? Lain kali kalau ke Solo lagi, liburannya sama Mami juga deh!" rayu Reyna.
"Halah..kalian anak muda mana mau, liburan repot-repot ngajakin orang tua. Lagian kalau cuma ke Tawangmangu sih, Mami uda bosen." jawab Mami ketus.
"Tahan-tahan, musti banyak sabar Reyna." ucap Reyna dalam hati menasehati diri sendiri.
"Maaf Mih, Reyna masuk ke kamar dulu ya Mih?" pamit Reyna.
"Hmm...!" jawab Mami singkat.
Reyna bergegas menaiki tangga untuk menuju ke kamar Rangga. Sikap Mami yang dingin tidak perlu dibikin pusing. Ada hal yang lebih penting saat ini yang harus di pastikannya. Begitu sampai kamar, yang ia tuju adalah menghampiri laci meja. Dibukanya laci tersebut. Namun hanya menampilkan lembar skripsi milik Rangga. Kembali di bukanya satu persatu hingga buku terakhir.
"Ehh..inih..jadi beneran aku!" Reyna terkejut, matanya membulat, jari-jari tangannya membungkam mulutnya yang menganga, melihat fotonya ketika masih mengenakan seragam SMP.
Terlihat pada foto bahwa tak satupun foto yang diambil dengan fokus pandangan ke kamera. Semua diambilnya tanpa sepengetahuan Reyna.
Saat ia tak sengaja melirik ke cermin. Terlihat ada tulisan di bekangnya. Reyna membalikkan foto tersebut.
"Hahhh...My first love, Reyna Hanania." baca Reyna dalam hati.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan menampakkan Rangga yang sedang menarik kopernya.
"Ishh..jadi tadi langsung masuk, karena buru-buru pengen lihat laci?" ucap Rangga dengan nada mengejek.
Reyna berbalik melihat ke arah suaminya.
"Kamu nih, Ga. Kok bisa-bisanya sih, aku sampai nggak tau pas kamu ngambil foto-foto ini."
"Rupanya ada yang jadi secret admirer aku." ungkap Reyna tak kalah mengejek.
Ia masih belum percaya kalau ternyata dulu mereka sama-sama saling suka. Benar-benar nggak nyangka jika ternyata demi menjaga perasaan teman-temannya yang mengagumi Rangga, Reyna telah mengorbankan perasaannya sendiri. Mungkin juga karena sikap Reyna yang terus menghindari Rangga yang membuatnya merahasiakan perasaannya. Reyna jadi merasa bersalah.
"Kamu dulu kurang peka sih Reyn. Aku udah beberapa kali mencoba kode-kodein kamu. Tapi kamu malah terus ngejauhin aku."
"Kamu tuh satu-satunya cewek yang susah aku dekati!" deg, Reyna semakin sedih mendengarnya. Selama ini Reyna menganggap Rangga itu cowok playboy.
Rasanya hatinya begitu sakit mengetahui hal itu, Reyna meremas gamisnya. Ia telah salah mengartikan sikap Rangga kepadanya. Tiba-tiba Rangga memeluk Reyna dari belakang.
"Maafin aku ya, Ga? Aku punya banyak salah sama kamu! Aku pikir kamu dulu cuma mempermainkan aku. Habisnya kamu sih suka banget tebar pesona sama cewek-cewek di kelas kita. Kan aku jadi benci banget sama kamu!" Reyna berubah jadi jutek kalau mengingat hal itu.
__ADS_1
"Aku cuma iseng doang kok, Reyn waktu itu. Yang penting, sekarang kamu udah jadi istri aku. Cuma kamu yang ada di hatiku!" Rangga membalikkan tubuh Reyna, sehingga berhadapan.
"Ishh..gombal kamu, Ga!" ucap Reyna dengan cemberut.
"Beneran Reyna, aku cinta sama kamu!" ucap Rangga tulus.
Rangga melihat lekat ke arah Reyna. Keduanya saling bertatapan. Reyna bisa melihat ketulusan perkataan Rangga. Namun Reyna belum sanggup untuk mengungkapkan perasaannya.
Melihat bibir Reyna yang telah menjadi candu, Rangga langsung menyambar untuk mencium bibir istrinya.
Ciumannya semakin lama semakin dalam hingga membuat Reyna semakin terlena. Dalam hati ia merasa bersyukur karena menikah dengan laki-laki yang ia cintai terlebih yang juga mencintainya. Takdir begitu baik mempertemukan mereka. Dalam ikatan suci pernikahan yang sah, Allah telah menyatukan cinta mereka.
Tulilit...tulilit... tuliiit...!
Tiba-tiba handphone Rangga berbunyi, membuyarkan kemesraan yang sedang berlangsung. Dengan berat hati Rangga menyudahi aktivitasnya.
"Bentar Reyn, aku angkat teleponnya." ucap Rangga sambil sedikit menggeser tubuhnya.
"Iya, Don halo..!"
"Iya 15 menit lagi, gue sampai kantor."
"Oke..!" telepon di tutup.
Rupanya sudah saatnya Rangga harus pergi ke kantor.
"Reyn, aku musti berangkat sekarang. Kamu istirahat aja dulu. Nanti sore kita berangkat ke Jakarta." ujar Rangga. Reyna mengangguk.
"Ayo, aku bantuin ganti bajunya." tawar Reyna membuat Rangga menjadi tersenyum. Kalau tidak sedang buru-buru pasti ia goda dulu istrinya.
Reyna membuka almari kemudian mengambil kemeja untuk Rangga. Setelah selesai mengenakan pakaiannya Rangga sempatkan mengecup singkat bibir Reyna. Kemudian berangkat setelah Reyna mencium tangannya. Rangga melarang Reyna turun untuk mengantarkannya. Ia ingin Reyna istirahat saja di kamarnya.
Sepeninggal Rangga, Reyna hendak menutup pintu almari namun terurung ketika melihat tumpukan baju di bagian samping yang tidak asing baginya. Reyna terhenyak, rupanya beberapa tumpukan baju tidur Reyna berada disana. Itu berarti Rangga kemarin yang telah sengaja mengeluarkan baju tidurnya dari dalam kopernya.
"Dasar kamu, Ga. Modus ini sih namanya!"
"Kalau gitu aku nggak akan bilang kalau kamu juga cinta pertama aku. Biar kelihatan kamu yang bucin banget sama akuh!" gumam Reyna sambil berkacak pinggang.
Diambilnya tumpukan baju tidurnya yang berada di dalam almari. Kemudian ia pindahkan ke dalam koper untuk dibawa pulang kembali ke Jakarta.
"Mami, ada perlu Mih sama aku?" tanya Reyna.
"Pilnya sudah kamu minum kan? Coba mana aku mau lihat!" ucap Mami.
"Iya Mih, bentar Reyna ambilkan." Reyna bergegas mengambil pilnya di dalam koper kemudian diserahkannya kepada ibu mertuanya.
"Untung kemarin sempet aku buang dua biji pilnya!" batin Reyna
"Bagus, teruskan ya? Nanti kalau sudah habis kamu beli lagi di apotek." Mami tersenyum manis sambil menepuk-nepuk bahu Reyna.
"Oiya Reyna, sebaiknya kamu tetap tinggal di Jakarta untuk membantu Nenek kamu merawat Kakek. Dengan begitu kamu tetap bisa kerja dan Rangga juga bisa fokus ngantor. Sementara waktu berjauhan tidak apa kan?" usul Mami.
Reyna terdiam, sejenak ia berpikir. Benar kata Mami. Ia tidak mungkin meninggalkan Nenek dan Kakek, itu artinya ia akan menjalani long distance relationship dengan suaminya. Akhirnya Reyna mengangguk pasrah.
"Iya, Mih. Reyna akan tinggal di Jakarta untuk menjaga Nenek dan Kakek." ucap Reyna.
"Bagus, Reyna! Kamu memang anak yang berbakti. Sekarang kamu istirahat dulu aja yah, nanti sore kamu musti kembali ke Jakarta kan?" ucap Mami selembut mungkin.
"Iya, Mi." jawab Reyna.
Setelah Mami keluar, Reyna menutup pintu kamarnya kemudian duduk di tepian ranjang. Teringat ucapan Mami, hal itu justru membuat Reyna resah, tidak terpikirkan sebelumnya jika ia akan menjalani hubungan jarak jauh setelah menikah. Menjalani LDR dengan pasangan itu bukanlah hal yang mudah. Butuh adanya rasa saling percaya yang tinggi.
***
Sore pukul 16.40 WIB, Rangga dan Reyna naik pesawat ke Jakarta. Pukul 18.10 WIB, mereka sudah sampai di kediaman Kakek. Begitu masuk ke dalam rumah Reyna langsung memeluk erat Nenek. Dua hari meninggalkan rumah Kakek membuatnya sangat merindukan seisi rumah ini.
"Reyn, ayo kita sholat dulu! Nek, Kek, kita sholat dulu ya? Takutnya keburu habis waktu sholatnya." ucap Rangga. Reyna mengangguk kemudian mengikuti Rangga masuk ke dalam kamar mereka.
Seusai memarkirkan mobil untuk menjemput anak dan menantunya, Reza menghampiri Nenek dan Kakek di ruang tamu.
"Za, kapan kamu mengadakan resepsi pernikahan untuk mereka." tanya Kakek.
"Oiya..hampir lupa, Pah!"
"Akhir-akhir ini cuma fokus dengan urusan kantor dan kesehatan Papa." jawab Rangga.
"Coba nanti kamu diskusikan dengan Rangga. Tetangga dan kerabat dekat kan banyak yang belum tau juga, gak enak nanti di sangkanya yang tidak-tidak kalau tau-tau Reyna sudah hamil."
__ADS_1
Dahi Reza berkerut membayangkannya. Memangnya bisa secepat itu Rangga bikin Reyna bunting? Mengingat awalnya mereka yang susah akur, terlebih Reyna yang menangis-nangis karena terpaksa harus menyetujui untuk menikah dengan Rangga.
"Emm...nanti coba Reza bicarakan dengan mereka, Pa!" jawab Reza.
"Kalau bisa lebih cepat lebih baik dalam minggu-minggu ini." titah Kakek.
"Iya, Pah. Reza usahakan secepatnya." Nenek dan Kakek menuju ruang makan. Sedangkan Reza meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya.
Saat melewati kamar Reyna, Reza terkejut mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar.
"Ga, buruan cepet masukin. Aku geli nih." terdengar suara Reyna yang nggak sabaran.
"Iya bentar dong Reyn, susah nih masukinnya." kali ini suara Rangga yang terdengar sedang berusaha keras.
"Ayoo...dong, Ga buruan." ucap Reyna yang semakin menuntut.
"Arghhh...akhirnya bisa masuk juga!" teriak Rangga dari balik pintu.
Reza mendekat ke arah pintu kamar.
"Tunggu Reyn, aku keluarin di luar yah?" tanya Rangga.
"Iya, Ga. Cepetan!" jawab Reyna.
Reza mengusap kasar mukanya. Ia geleng-geleng kepala mendengar kelakuan anaknya. Tidak menyangka kalau sesore ini Rangga sudah minta jatah kepada istrinya. Padahal ia dulu, harus menunggu larut malam untuk meminta pada istrinya. Supaya anak-anak tidak mendengar, karena sudah tidur. Apa mungkin anak muda jaman sekarang sudah mulai tidak bisa menahan hasratnya hingga ingin cepat-cepat menuntaskan keinginannya. Tiba-tiba pintu pun terbuka.
"Papi..!" Rangga terkejut mendapati Papinya berdiri tepat di depan kamarnya.
"Ehh...Ga, ta-tadinya Papi mau ngomong sama kamu. Ta-tapi terdengar ribut-ribut dari dalam kamar. Papi takut terjadi sesuatu sama kalian." Reza berbicara dengan terbata-bata.
"Ouh..nggak ada apa-apa kok, Pi!" jawab Rangga yang heran dengan sikap Papinya yang terlihat pucat mukanya.
"Ehh itu kamu bawa apa?" tanya Reza yang melihat Rangga membawa kantong plastik di tangannya.
"Ini tadi ada ulat bulu, Pih di kamar. Mungkin masuk dari celah jendela yang di dekat taman." ungkap Rangga.
"Jadi barusan nangkep ulat bulu?" tanya Reza terkejut dengan menajamkan matanya.
"Iya, Pih."
"Memangnya kenapa?" Rangga jadi semakin bingung.
"Ouhh..nggak kok. Nggak apa-apa! Sana gih buruan dibuang!" titah Reza.
Reza sangat malu karena sudah salah sangka. Ia kemudian bergegas berjalan ke kamarnya. Ia garuk belakang rambutnya yang tidak gatal. Mungkin beberapa hari jauh dari istri membuat pikirannya tidak fokus dan jadi berpikir macam-macam.
Reyna ikut keluar kamar mendengar percakapan Rangga dengan Papinya.
"Ada apa, Ga?" tanya Reyna.
Rangga mengangkat kedua bahunya, "Nggak tau tuh, Papi."
"Ya udah, buruan sana buang! Jangan sampai nanti masuk lagi ke dalam rumah." ucap Reyna.
Rangga mengangguk kemudian berjalan keluar rumah. Sedangkan Reyna berjalan menuju meja makan. Terlihat Kakek dan Nenek yang sudah mulai makan.
"Rangga mana, Reyn!" tanya Nenek.
"Sedang diluar Nek, tadi ada ulat bulu di kamar. Reyna jadi gatal-gatal mengingatnya." jawab Reyna.
"Wah, musti di semprot dengan pembasmi hama kalau gitu Kek, tanamannya yang ada di taman sama yang di halaman." ujar Nenek.
"Ya, nanti bilang sama Bejo aja Ma, buat nyemprot hamanya." jawab Kakek.
Rangga dan Reza ikut bergabung untuk makan bersama. Reyna mengambilkan makan untuk Rangga.
"Segini cukup nggak?" tanya Reyna.
"Udah sayang, makasih ya?" jawab Rangga sambil menjawil dagu Reyna.
"Iya, buruan gih di makan." jawab Reyna.
Kakek, Nenek dan Reza memperhatikan interaksi keduanya sambil tersenyum senang.
"Ehmm..ehmm..rupanya sudah sebucin itu, Ga? Sampai mesra-mesraan nggak lihat tempat" ujar Reza.
"Ehh.. Papi nih, kayak yang nggak pernah muda aja!" semua tertawa mendengar perdebatan ayah dan anak itu.
__ADS_1