
Aku mengibaskan jari-jari tanganku agar nervousku saat ini segera hilang. Aku menarik napas beberapa kali untuk menenangkan diri. Aku melihat bayangan diriku di dalam cermin, ini pertama kalinya aku di dandani secantik ini. Meskipun tanpa cukur alis dan bulu mata palsu namun pencapaian yang di torehkan di wajahku begitu memuaskan. Memang banyak mauku saat di dandani oleh MUA. Beruntung si mbaknya paham akan aturan yang aku terapkan saat mendandaniku. Dan hasilnya tidak menor sama sekali, justru kesannya natural dan lebih terlihat segar, dan yang terpenting tidak melanggar ketentuan syariat islam.
Aku berdiri menatap bayangan diriku di cermin, memutar ke kanan dan ke kiri. Gaun ini begitu indah, gaun putih dengan sedikit lebar di bagian bawah, dan jilbab besar yang ku kenakan menjulur hingga bagian pusar. Di bagian belakangnya menjuntai indah ke bawah. Gaunnya longgar sehingga tidak pas di badanku, aku cukup puas karena gaun ini syar'i.
Aku rasa ibu dari dr.Dimas, oops calon mertuaku maksudku..., sangat mengerti akan karakterku hingga semua detailnya ia persiapkan dengan baik.
Tok...tok...tok...!
Terdengar pintu di ketuk dari luar, saat aku membukanya ternyata ada ummi dan bu Lilis yang datang untuk menjemputku.
"Cindy, ayo nak sebentar lagi akan di mulai acara akadnya," ujar ummiku. Aku pun mengangguk.
"Cindy, apa kamu nyaman dengan gaunnya?" tanya bu Lilis.
"Sangat nyaman, Bu. Gaun ini syar'i, Cindy menyukainya," ujarku pada bu Lilis.
"Syukurlah, ibu khawatir jika kamu tidak menyukainya," ujar bu Lilis.
"Terima kasih ya, Bu? Gaun ini sangat indah," ucapku.
"Sama-sama, Sayang. Ayo kita masuk ke dalam gedung acara!"
Kami pun beranjak menuju gedung pernikahan. Karena sebentar lagi akan segera di gelar acara ijab qobulnya.
Aku duduk di barisan paling depan area keluarga besar, dengan di apit oleh ummi di sebelah kanan dan bu Lilis bersama Qila di sebelah kiriku. Sedangkan abi, dr. Dimas, penghulu, dan saksi duduk berhadapan di tengah podium yang telah di persiapkan untuk prosesi ijab qobul. Aku sangat bersyukur hari-hari menuju acara akad seakan di mudahkan oleh Allah.
__ADS_1
Hari itu saat dr.Dimas melamarku untuk yang kedua kalinya. Abi meminta aku yang menjawab lamaran dari dr.Dimas. Dengan mengucap bismillah aku menjawab ya, bersedia menikah dengan dr.Dimas. Kala itu sangat berbeda saat aku mengatakan ya pada mas Fadhil. Kali ini terasa sangat menyentuh hatiku, lahir batin aku merasa sangat bahagia.
Semua seolah di mudahkan, cukup dua bulan untuk mempersiapkan segalanya. Karena aku hanya menginginkan pernikahan yang cukup sederhana bagi seorang dr.Dimas. Aku meminta pernikahan dilakukan selesai dalam satu hari. Sehingga diputuskan akad nikah yang langsung di lanjutkan dengan walimahnya. Tidak ada acara prosesi adat pada saat resepsi, pun tidak dengan acara ngunduh mantu, seperti yang orang jawa biasa lakukan. Beruntung keluarga dari pihak dr.Dimas menyetujui keinginanku.
Kini tiba saat yang ditunggu-tunggu oleh semua orang yang datang.
"Saudara Dimas Pradana bin almarhum Ronggo Warsito. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Cindy Syahrani dengan maskawinnya uang senilai dua puluh lima juta dua belas ribu rupiah dan seperangkat alat sholat dibayar tunai," ucap abi dengan tegas.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Cindy Syahrani binti Abu Bakar dengan maskawinnya tersebut tunai," kobul oleh Dimas dengan satu tarikan nafas.
Penghulu kemudian bertanya pada saksi, "Bagaimana saksi, sah?"
"Sah," ucap semua saksi.
"Alhamdulillah," semua orang yang berada di ruangan itu pun bersuka cita.
Aku mencium tangan laki-laki yang kini sah menjadi suamiku dengan takzim, kemudian dr.Dimas mengecup keningku. Dalam beberapa saat aku merasa hanyut dalam rasa yang berkecamuk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena aku kini telah menemukan laki-laki yang akan menjadi imamku, yang kini berhak atas diriku, dan yang harus aku patuhi demi mendapat ridho dari Allah.
Sedih rasanya, sebab setelah menikah kebersamaan yang telah terjalin sedari aku di lahirkan hingga aku dewasa bersama abi dan ummi akan terbatas waktu, karena sudah kewajibanku sebagai seorang istri harus mengikuti di mana suamiku tinggal.
Saat ini aku telah di sandingkan dengan suamiku dalam kursi pelaminan. Ada perasaan malu, canggung dan tak biasa saat tiba-tiba ia menyentuh bahuku, menggandeng tanganku dan memeluk pingganggu saat sedang berfoto. Ini adalah pertama kalinya bagiku bersentuhan dengan laki-laki selain abi dan adikku. Namun aku merasa nyaman di sana. Mungkin karena ikatan hubungan kita yang sudah menjadi suami istri.
Seorang pemuka agama memberikan sebuah petuah yang bagus sebagai pedoman kita menjalani mahligai berumah tangga. Dalam wejangannya beliau juga menghimbau hendaklah kita melakukan sesuatu karena Allah. Maka Allah akan memudahkan jalan kita.
Dan aku sungguh bersyukur saat aku memasrahkan jodohku pada Allah, maka dengan cara-Nya, Allah berikan yang aku harapkan, sebagai buah dari keikhlasan dan kesabaranku.
__ADS_1
"Selamat ya, Cindy dan dr.Dimas, kami do'akan semoga pernikahan kalian sakinnah, mawaddah, warokhmah, dan segera di karuniai momongan oleh Allah," ujar Reyna saat menghadiri pernikahanku.
"Aamiin, terima kasih Reyna, nanti kabari aku ya jika dede bayinya sudah lahir," ujarku saat memeluk Reyna.
Pada hal sudah cukup lama aku bekerja di klinik dr.Dimas. Namun, tak pernah ada sesuatu di antara aku dan dr.Dimas. Bermula saat Reyna memintaku untuk mengajari Qila mengaji, dari situlah aku mulai mengenal dr.Dimas dan keluarganya. Aku sungguh beruntung bertemu teman yang sangat baik seperti Reyna. Yang mau berteman denganku tanpa memandang status sosialku. Aku banyak berhutang budi padanya.
"Wah, gue gak nyangka, Bro. Pantesan saja gak boleh ada yang deketin, ternyata di embat sendiri!" ujar dr.Anung yang membuat aku bingung dengan perkataannya.
"Ish, kamu nih, jangan buka kartu! Hhhhahaha...!" lebih aneh lagi jawaban dr.Dimas.
'Apa maksudnya percakapan mereka itu!' gumamku dalam hati sambil tersenyum canggung.
Kini sudah sampai di penghujung acara. Semua tamu telah meninggal kan gedung.
Tak terasa, air mata haru pun menetes membasahi pipi. Tatkala aku memohon do'a restu dari kedua orangtuaku. Ada perasaan berat, harus berjauhan dari kedua orang tua yang telah menghadirkan aku ke dunia, dan mengasuhku dengan penuh cinta dan sayang.
'Janjiku padamu, ummi..., abi..., tak akan pernah ku lupa untuk selalu berdo'a, semoga kalian sehat selalu dalam lindungan Allah...!' ucapku dalam hati dengan isak tangis yang terus mengalir saat memeluk erat ummiku dan abi, karena sudah waktunya bagi kami berpisah.
Aku pun merasa berat saat melihat air mata ummi pun tak juga surut menghantarkan aku menuju keluarga baruku.
Dan kini sudah tiba waktuku harus pulang bersama suamiku. Aku tak kuasa saat suamiku menggandengku untuk masuk ke dalam mobil yang berbeda dengan mobil yang akan membawa ummi pulang. Sesekali aku masih memandangi mobil yang membawa ummi dan abi perlahan menghilang.
Saat ini juga aku telah resmi menjadi seorang istri dari suamiku, sekaligus ibu sambung dari anak tiriku, dan menantu dari ibu mertuaku. Mereka lah kini keluarga baruku.
___________________Ney-nna__________________
__ADS_1
Ranjinlah bersedekah, sebab dengan bersedekah akan di peroleh pahala berlipat-lipat dari Allah. Jika kamu memudahkan jalan seseorang mencari rezeki maka Allah akan mempermudahkan jalanmu 🤩
Terimakasih buat semua reader's yang sudah menyempatkan untuk baca karya aku, dan selalu mendukung karya ini hingga dapat terus berjalan sampai saat ini. Apa artinya aku tanpa kalian 🤧 semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan berlipat-lipat. Aamiin 🙏💕💕💕