
Saat makan malam Reyna masih mendiamkan Lala. Nenek menyadari jika ada sesuatu yang terjadi antara Reyna dan Lala. Reyna sedari tadi diam saja dan hanya menekuni makanannya. Padahal biasanya kedua anak perempuan muda ini selalu bercanda tawa seperti halnya kakak beradik. Namun, nenek mencoba untuk berpura-pura tidak tahu untuk saat ini.
"Ada perkembangan apa Za, dengan kasusnya Rangga?" tanya nenek ingin tahu tentang apa yang didapat Reza di kantor polisi.
"Akhirnya Parlan mau mengaku, Ma. Ferdy yang telah menyuruhnya untuk merubah target korban. Aku sampai gak habis pikir sama Ferdy. Bisa-bisanya dia melakukan hal itu sama Rangga. Padahal mereka berteman baik dari SMP!" tutur Reza sembari geleng-geleng kepala, sebab merasa kecewa terhadap mantan sahabat Rangga sejak mereka masih kecil.
"Apa ... Ferdy, Pi?" Reyna nampak sangat terkejut dengan penuturan ayah mertuanya. Sebab hal itu tidak terduga sebelumnya di dalam benak Reyna.
"Iya, Reyn. Eh ... bukannya kamu dulu juga satu SMP dengan Rangga? berarti kamu kenal juga dong sama si Ferdy itu?" tanya Reza menelisik.
"Astaghfirullahal'adzim! Iya, Pi ... kita dulu satu kelas waktu SMP. Apa motif dari Ferdy melakukan itu pada Rangga, Pi? Reyna gak habis pikir dengan mereka! mengapa yang awalnya baik ternyata menjadi musuh dalam selimut! Apa salah Reyna sama Rangga terhadap mereka hingga mereka mempunyai keinginan untuk melakukan itu pada Rangga atau pun sama Reyna? Apa salah jika saling mencintai hingga mereka begitu mudahnya terbersit pikiran untuk membunuh salah satu diantara kami!" air mata Reyna mulai berderai menggenang di peluk mata dan meluncur begitu saya di pipi cantiknya.
"Sabar ya, Reyn. Mami pun sangat terluka mengingat betapa dekatnya Putri dulu dengan keluarga kami. Padahal Mami telah berbaik hati hingga menganggapnya seperti putri bungsu Mami sendiri!" Lena menghela napas beratnya. "Begitu pun Ferdy ... dulu sewaktu pulang sekolah dia suka ikut pulang sama Rangga."
"Mami kasih makan, udah gitu Rangga sering minjemin uang buat bayar sekolahnya yang nunggak, padahal mau ujian tapi gak bisa ikut jika belum bayar. Mami selalu kasih tuh supaya dia jadi teman yang baik untuk Rangga. Ehh ... gak taunya malah tega banget balasannya buat kebaikan Rangga."
Lena pun tak kuasa untuk meluapkan rasa marah, kesal, benci, sedih, terluka dan rasa yang sejak dari tadi berkecamuk di dalam dadanya yang ingin dilepaskannya. Kini dia mulai terisak mengingat putranya yang harus meninggal dengan cara tidak wajar karena ulah temanya sendiri.
"Mi, kenapa malah ikutan menangis? Harusnya Mami dan Reyna saling menguatkan, dan merelakan Rangga dengan ikhlas. Kasihan Rangga jika kalian terus berlarut-larut dalam kesedihan. Bukankah tidak diijinkan untuk meratapi orang yang telah meninggal secara berlebihan?" ujar Reza menasehati istri dan menantunya.
Reyna dan Lena sadar dengan kesalahan mereka, kemudian keduanya menyeka air mata mereka dan tissue.
"Kita musti tetap waspada, Reyn. Sebab Ferdy masih buron. Polisi belum menemukan jejaknya. Papi harap kamu dan Reynand baik-baik saja. Jadi sebaiknya kamu tetap tinggal di Yogya setelah menikah dengan Abiyu. Papi lebih tenang jika meninggalkan kalian di sini bersama Abiyu!" tutur Reza panjang lebar.
Tok tok tok.
Ada tamu yang datang berkunjung malam-malam. Mereka menduga jika Abiyu yang datang untuk membicarakan persiapan acara pernikahannya. Lala bergegas ke depan untuk membukakan pintu.
"Assalamu'alaikum!" sapa Dipa ketika Lala membuka pintu utama.
"Wa'alaikumussalam!"
__ADS_1
"Ehh ..., Mas Dipa. Mau cari mbak Reyna ya?" tanya Lala yang sudah bisa menduganya.
"Iya, La. Reyna ada, kan?" tanya Dipa ingin memastikan.
"Ada, Mas. Sebentar ya. Aku panggilkan, mbak Reynanya!" ujar Lala dan hendak beranjak masuk ke dalam rumah, namun ditahan oleh Dipa.
"Ehh ... tunggu, La! Lagi pada ngapain sih di dalam? aku ganggu nggak?" tanya Dipa mencoba mencari tahu.
"Lagi makan malam, Mas. Tapi udah selesai kok. Mas Dipa duduk dulu ya ... bentar aku panggilkan!" ujar Lala.
Dipa memilih duduk di bangku yang berada di teras. Beberapa hari ini Dipa sedang ada kerjaan di luar kota sehingga tidak bisa berkunjung ke rumah Reyna.
Tak berapa lama Reyna muncul dari dalam rumah.
"Hai, Dip! Ada perlu apa malam-malam begini datang ke mari?" tanya Reyna sembari mendudukkan diri di bangku yang lain.
"Emm ... Reyn, apa benar kamu akan menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Dipa tanpa basa-basi.
"Jadi benar, Reyn!" pekik Dipa kaget. Dia merasa kecewa meski tebakannya benar.
"Iya, kenapa sih, Dip? kamu kaya yang aneh gitu!" tutur Reyna saat menyadari perubahan mimik wajah dari Dipa.
"Sama siapa, Reyn?" Dipa semakin penasaran.
"Namanya Abiyu, Dip. Ceritanya panjang yang jelas aku ingin kamu ikut mendoakan semoga semuanya berjalan dengan baik."
"Apa kamu sudah bisa melupakan almarhum suami kamu? Apa kamu mencintainya?" Dipa mengorek wanita yang ada di sampingnya itu.
"Tentu saja tidak semudah itu untuk membolak-balikkan perasaan, Dip!" ujar Reyna yang mulai kesal ditanya seperti itu.
"Jika kamu tidak mencintainya, mengapa kamu harus menikah dengannya, Reyn?" tanya Dipa.
__ADS_1
"Cukup, Dip. Kamu tidak perlu tau alasanku dan aku rasa kamu tidak berhak untuk ikut campur dalam hidupku!" ujar Reyna ketus.
"Mengapa kamu gak pernah menyadari perasaanku padamu, Reyn? kamu anggap apa perhatian aku selama ini ke kamu?" ujar Dipa dengan penuh penekanan, "Aku mencintaimu Reyna, dari dulu hingga sekarang, aku masih tetap mencintaimu!"
Seketika Reyna membulatkan mata mendengar kata-kata Dipa. Reyna selama ini hanya menganggap Dipa selayaknya seorang sahabat, karena itu lah Reyna membiarkan Dipa datang ke rumahnya berulang kali. Sebab jika ia tahu Dipa masih mencintainya pasti Reyna akan menjauhi Dipa sama seperti yang ia lakukan dahulu pada Abiyu.
"Maafkan aku, Dip. Aku tidak akan bisa mencintai laki-laki lain. Bagiku cintaku hanya untuk Rangga!" tutur Reyna menjelaskan.
"Lantas untuk apa kamu menikah dengan laki-laki itu jika kamu tidak akan bisa mencintainya juga?" desak Dipa.
"Aku tidak bisa memberi tahu alasannya kepadamu, Dip. Kumohon mengertilah!" Reyna menegaskan.
"Kenapa kamu tidak menikah denganku saja, Reyn? aku rela menikahimu meski kamu belum bisa mencintaiku aku akan menunggumu hingga perlahan-lahan kamu bisa membuka hatimu untukku!"
"Kumohon mengertilah keadaanku, Dip. Aku pun tak ada pilihan lain!"
Tiba-tiba saja Dipa memperlihatkan layar handphonenya. "Lantas siapa Laluna itu?
"Laluna?" Reyna cukup bingung antara harus mengatakannya atau tidak meskipun dia tahu itu adalah nama pena Lala.
Sebab itu adalah haknya Lala untuk menyembunyikan atau mengungkap jati dirinya yang sesungguhnya. Namun, apa hal itu ada hubungannya denganku? batin Reyna.
___________________Ney-nna_________________
...Please Like 👍...
...Leave a Coment 🤗...
...Give a gift & vote 🌹...
...Tank you! 🙏💕...
__ADS_1