Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Tak bisa dibantah


__ADS_3

Malam semakin larut, suasana di rumah sakit semakin sunyi. Hanya beberapa langkah kaki dari orang-orang yang ingin menjenguk dan perawat yang berlalu lalang.


Reyna dan Rangga sudah kembali dari kantin. Setelah meminum obat tadi Kakek sudah kembali tidur.


"Ma, sebaiknya Mama pulang bersama Rangga dan Reyna, ini sudah larut malam. Papa biar aku saja yang menjaga." usul Reza, tidak ingin mamanya ikut jatuh sakit jika kelelahan.


"Tapi kamu baru saja datang Za, apa tidak lelah. Sebaiknya kalian semua saja yang pulang biar aku yang menjaga Papa." Bantah Nenek.


"Tidak, Ma. Mama harus istirahat...Mama kembali lagi besok pagi saja." Kekeuh Reza.


"Atau begini saja, nanti Rangga kembali kesini setelah mengantar Nenek dan Reyna, buat nemenin Papi." Rangga bersuara.


"Kalau bolak-balik nanti kamu malah cape. Papi kan disini juga bisa istirahat. Sudah buruan sana, hati-hati bawa mobilnya." Reza mendorong bahu Rangga agar cepat keluar.


"Kunci mobil dari Pak Bejo dimana?" Rangga celingukan mencari kunci mobil.

__ADS_1


"Oiya, Nenek taruh didalam tas tadi, sampai lupa." Nenek merogoh isi dalam tas kemudian diberikannya kunci mobil pada Rangga.


"Za, kita pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa dengan Papa, segera kabari Mama." Titah Nenek.


"Iya Ma, hati-hati dijalan." Akhirnya mereka bertiga pergi. Tinggallah Reza sendirian yang menjaga Papa nya. Ia kemudian tidur di sofa yang berada dikamar Kakek.


Pagi menjelang subuh Kakek terbangun. Dilihatnya seisi ruangan nampaknya hanya ada Reza selain dirinya. Kakek merasa haus ingin minum. Dipanggilnya Reza berkali-kali namun tidak juga bangun. Kakek kemudian memencet tombol bantuan perawat. Tak berapa lama ada perawat yang masuk ke dalam kamar.


"Ada apa, Pak? Bapak membutuhkan sesuatu?" tanya suster.


"Apa perlu saya bangunkan Pak, anaknya." tanya suster.


"Tidak perlu, Sus." jawab Kakek.


Ternyata Reza terbangun mendengarkan percakapan mereka. Kemudian ia duduk sambil mengucek matanya.

__ADS_1


"Wah anda jadi terbangun, maaf ya Pak. Ini tadi bapaknya minta minum. Karena tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya permisi dulu ya Pak." ucap suster.


"Terimakasih suster." Reza kemudian mendekat dan duduk disamping tempat tidur Kakek.


"Maaf, Pa. Reza tadi ngantuk banget." Kakek hanya mengangguk menanggapinya. Kakek tau anaknya pasti lelah sehabis perjalanan jauh.


"Za, nikahkan Rangga dengan Reyna segera. Aku tidak tau sampai kapan masih diberi kesempatan untuk hidup. Setidaknya aku ingin melihat mereka menikah." ungkap Kakek.


"Rangga dengan Reyna?" Reza nampak terkejut pasalnya tidak pernah mendapati wacana tentang hal itu. "Reza sih tidak keberatan Pa untuk menikahkan mereka, Reyna anaknya baik persis seperti almarhum Herman yang ramah dan baik hati, tapi apakah mereka sudah setuju untuk dinikahkan?"


Reza sedikit ragu mengenai pernikahan ini, pasalnya ia tahu jika anaknya mempunyai pacar dan sudah sejak lama anaknya berpacaran dengan Putri. Istrinya pun sangat akrab menganggap gadis itu bagaikan anak perempuannya sendiri.


"Awalnya waktu aku jodohkan mereka menolak, tapi kemarin Rangga sendiri yang tiba-tiba bilang akan menikahi Reyna. Kalau tidak cepat-cepat dinikahkan Papa takut tidak bisa melihat Reyna menikah. Apa yang akan Papa katakan kepada almarhum Herman jika tidak bisa menemukan pelindung Reyna untuk kedepannya." Kakek berbicara dengan susah payah. Sambil memegang dadanya yang terasa sakit.


"Pah...tenang Pa. Jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu, Reza akan mempersiapkannya segera. Jadi ketika Papa sembuh kita bisa langsung menikahkan mereka. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan Papa." ujar Reza dengan kekhawatiran melihat keinginan Papanya yang ia rasa akan terasa sulit kedepannya.

__ADS_1


"Tidak, itu terlalu lama, Za. Besok langsung persiapkan semuanya segera. Lusa nikahkan mereka disini. Aku ingin menyaksikan pernikahan mereka. Jadi ketika sewaktu-waktu Papa dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, Papa sudah bisa tenang." Titah Kakek tak mau dibantah lagi.


__ADS_2