Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Season2. Tamunya Pergi


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Mira mulai terbiasa dengan aktivitasnya sebagai seorang istri. Setiap pagi Mira bangun pagi-pagi sekali, meskipun dia sedang tidak salat. Seusai Dipa salat subuh mereka melakukan jogging berdua. Hal itu menjadi rutinitas pengantin baru itu. Sebab, udara pagi yang belum tercemar adalah waktu yang sangat tepat untuk berolahraga.


Suasana di Yogyakarta yang adem ayem membuatnya terpesona dengan keindahan alamnya. Selama jogging Dipa membawa Mira untuk melewati rute pedesaan yang sejuk dan menenangkan. Mira merasakan hal lain yang belum pernah dia rasakan selama tinggal di ibu kota metropolitan yang lebih banyak gedung-gedung bertingkat yang menjulang tinggi ketimbang panorama alamnya.


Saat berjalan-jalan di daerah pedesaan, mereka bergandengan tangan sembari melihat panorama alam yang asri yang dapat merefresh otak dari bisingnya aktivitas di perkotaan. berjalan-jalan menyusuri persawahan yang sejuk, sungai yang airnya mengalir jernih, dan bertemu dengan penduduk desa yang ramah. Mereka akan menundukkan kepala sembari tersenyum meskipun tidak saling mengenal.


"Di, aku kayanya mulai betah deh tinggal di sini!" ujar Mira sembari meluruskan kakinya yang mulai terasa pegal setelah satu kilo berjalan kaki.


Dipa dan Mira beristirahat di sebuah gubug di tengah sawah yang hanya beratapkan jerami dan beralaskan tikar lusuh di atas potongan bambu yang disusun secara teratur. Semilir angin di pagi itu menambah suasana asri yang menyejukkan bagi siapa saja yang singgah.


Beberapa hari yang lalu mereka sepakat memanggil dengan nama kesayangan masing-masing. Mira memanggil Dipa dengan panggilan 'Didi' dan Dipa memanggil Mira dengan panggilan 'Mimi'.


"Iya, Mi. Itulah kenapa aku lebih suka tinggal di sini ketimbang di Jakarta. Di sini suasananya nyaman dan adem," ujar Dipa yang ikut duduk di samping istrinya.


"Di, kamu nggak pengen ngajakin aku liburan gitu mumpung kamu masih cuti?" tanya Mira yang mulai merasa bosan di rumah terus.


"Oiya, boleh tuh. Kamu pengen ke tempat hiburan, pantai, atau ke gembira loka tuh buat nengokin sodara kamu?" ujar Dipa dengan becanda.


"Gembira loka itu setau aku kebun binatang, kan?" tanya Mira yang mencium bau-bau tidak baik dari kata-kata suaminya.


"Hahaha ... seratus buat Mimi yang unyu!" ujar Dipa sambil menjembel pipi istrinya.


"Hah, tapi aku sih nggak mau ya, soalnya pasti ntar Didi mau reunian sama temen-temennya, ya kan?" ujar Mira membalas ejekan suaminya.


"Ihh, bibir lemes pinter banget sih ngejawabnya!" ujar Dipa sembari merangkul bahu Mira dan memeluknya erat.


"Emh, bau acem nih keteknya! suka dipas-pasin deh!" ujar Mira saat Dipa menutup wajahnya dengan lengan tangannya yang satunya.


"Hehehe, kan kita sama-sama acem. Oh ya, aku ada ide buat bawa kamu ke suatu tempat ntar malem!" tutur Dipa yang seketika mendapat ide bagus untuk mengajak istrinya mendatangi suatu tempat.


"Ke mana?" tanya Mira cepat.


"Rahasia! hehehe ... ntar malem aku tunjukin deh, kamu pasti suka!" tutur Dipa yang membuat Mira menjadi penasaran.


Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak yang mendekat ke arah gubuk yang mereka tempati saat itu. Bapak itu kaki dan tangannya sudah penuh dengan lumpur dan memakai caping di kepalanya.

__ADS_1


"Mas, Mbak, ngapunten ... , yen pacaran ampun teng mriki, mangke ndak di grebek wargo deso!" tegur bapak itu dengan sopan.


(Mas, Mbak, maaf .., kalau pacaran jangan di sini, nanti bisa di grebek warga desa!)


"Njih, Pak. Matur nuwun!" ujar Dipa berterima kasih karena sudah diperingatkan. (Ya, Pak. Terima kasih!)


Mira yang tidak tahu menahu apa artinya hanya tersenyum seramah mungkin pada bapak-bapak itu sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Setelah itu bapak-bapak itu berlalu pergi bersama dua orang temannya yang sudah menunggu di pinggir sawah.


"Didi, barusan bapak yang tadi bilang apa?" tanya Mira yang penasaran ingin tahu.


"Kamu nih, nggak ngerti sok-sokan manggut-manggut aja!" tutur Dipa yang mengoreksi tindakan Mira barusan.


"Kan aku mencoba bersikap ramah sama orang tua juga! lagian bapak tadi ngomongnya sopan banget, lhoh!" ujar Mira menilai apa yang tadi di tangkapnya dari perilaku si bapak.


"Ini nih yang salah kaprah, orang jawa memang tutur katanya lembut, bahkan menegur pun juga dengan lembut!" tutur Dipa.


"Emangnya apa arti dari ucapan yang barusan dikatakannya?" tanya Mira semakin penasaran.


"Ya ampun, kenapa kamu biarin begitu saja, Di. Harusnya kamu bilang dong sama bapaknya tadi, kalau kita suami istri. Bapaknya jadi salah paham kan!" tutur Mira.


"Biarkan saja, pelajaran buat kita, makanya kita jangan mudah berburuk sangka pada orang lain dan juga jangan gampang-gampang percaya sama seseorang, karena yang terlihat baik belum tentu baik, dan apa yang kita lihat buruk belum tentu buruk!" tutur Dipa.


Mira terdiam memikirkan ucapan suaminya.


Ya ampun, ngomongnya panjang lebar bikin pusing aja sih! au ah diiyain ajah! gumam Mira di dalam hati kemudian beranjak turun dari gubuk itu dan melangkah pergi mengikuti suaminya. Keduanya melanjutkan perjalanan pulang ke rumah mereka.


Seusai jogging, Mira memasak untuk sarapan pagi. Mira mencoba dari resep sederhana yang didapatkannya dari internet. Tentu saja tidak langsung enak di lidah mulai dari keasinan, gosong, dan hambar tanpa rasa. Namun, Dipa memakluminya dan terkadang tetap di makannya asalkan masih bisa dimakan dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi.


Dipa mencoba menghargai jerih payah istrinya yang sudah berusaha untuk menghidangkan makanan untuknya, meskipun rasanya terkadang tidak karuan. Mira tidak serta merta memaksakan masakannya untuk di makan jika rasanya sangatlah buruk.


Seperti sore ini Mira sedang menggoreng daging ayam, sembari memotong sayur secara bersamaan. Setelah merendam daging ayam pada bumbu marinasi, dan memasukkan beberapa potong pada wajan, dia memulai memotong sayuran. Mira terlalu fokus dengan sayurannya hingga melewatkan untuk membalik daging ayamnya.


"Astaghfirullah! ayamnya gosong!" pekiknya saat ayam gorengnya mulai menghitam di sebagian sisinya.

__ADS_1


"Kenapa, Mi?" tanya Dipa yang mencium bau-bau sangit dar arah dapur.


"Hehehe ... ayamnya gosong! tadi aku terlalu fokus sama sayurnya jadi kelupaan buat membalik ayamnya gorengnya ...," tutur Mira lirih merasa malu.


"Ohh, ya sudah tidak apa-apa. Kita pesan delivery order saja kalau begitu, untuk makan siangnya!" tutur Dipa memberikan ide.


Keduanya saling mengerti, sehingga masalah terpecahkan dengan mudah, "Sesekali memesan makanan lewat delivery order tidak apa-apa, Kan!" tutur Dipa pada istrinya untuk menjaga perasaan istrinya agar tidak berkecil hati dan patah semangat.


"Maaf, ya, Di?" ujar Mira dengan muram.


Dipa mencakup dagu istrinya dan mengangkatnya agar melihat ke arahnya. "Tak apa, Mimi. Besok-besok coba fokus salah satu saja dulu! atau kita coba masak sama-sama, okay!" tutur Dipa sembari pucuk kepala istrinya yang tidak memakai hijab ketika mereka hanya berdua saja di dalam rumah.


Mira tersenyum ke arah Dipa. Dia sangat bersyukur Dipa bisa mengerti akan kekurangannya.


🎶 Allahuakbar ... Allahuakbar ... Allahuakbar.


Tiba-tiba terdengar suara adzan maghrib.


Dipa beranjak ke toilet untuk mengambil wudhu, setelahnya dia berangkat ke masjid.


"Mimi, aku berangkat ke masjid dulu, ya! assalamu'alaikum," seru Dipa seraya membuka pintu utama rumah dan tak terlihat lagi.


"Wa'alaikumussalam," jawab Mira kemudian segera menuju kamar mandi.


Beberapa saat berlalu, dan Dipa telah pulang dari masjid.


Ceklek!


Dipa membuka pintu dan tertegun saat melihat pemandangan di dalam kamar setelah pintu terbuka. Dia melihat Mira yang baru saja menyelesaikan salatnya.


"Sa-sayang ... tamunya sudah benar-benar pergi?" tanya Dipa sembari memeluk tubuh istrinya yang masih terbalut mukena.


Mira mengulas senyum, kemudian mengangguk dengan mantap.


"Yess! kalau gitu kita gak jadi pergi malam ini. Perginya kita tunda besok-besok saja!" tutur Dipa dengan girang.

__ADS_1


...___________Ney-nna__________...


__ADS_2