
Reyna duduk dengan berselonjor di bangku taman, tepat di depan kamarnya. Pagi-pagi begini lebih baik berjemur untuk memperoleh vitamin D langsung dari sinar mentari pagi. Ia tersenyum dengan pemikirannya sendiri.
Kalau tidak sedang sakit begini mana mungkin aku sempat berjemur dan bersantai-santai begini. Setelah rutinitas pagi, pasti akan buru-buru untuk berangkat kerja. Ini hikmahnya, bisa lebih banyak waktu untuk me time.
"Pagi, Mbak. Gimana, kakinya masih bengkak nggak?" Cindy datang menyapa Reyna.
"Sudah lumayan sih, Mbak. Sudah nggak terlalu besar sih kelihatannya," ucap Reyna.
"Alhamdulillah kalau begitu. Sekarang, kamu kompres dulu kaki kamu yang bengkak selama 15-20 menit. Nanti aku ambilkan perban elastis supaya enakan kalau dipakai gerak," tutur Cindy.
"Iya, Mbak. Eh..mbak Cindy umurnya berapa sih, kayaknya kita seumuran deh?" tanya Reyna.
"Tahun ini dua puluh empat tahun, Mbak. Kalau kamu?" Cindy balik bertanya.
"Sama dong kalau gitu. Panggil nama saja ya, kan kita seumuran!" pinta Reyna.
"Iya deh, Reyna." Reyna mengacungkan jari jempolnya di depan dada tanda setuju. Keduanya pun tersenyum.
"Ini cold pack'nya buat mengompres kaki kamu yang bengkak, Reyn?" Cindy menyerahkan cold pack yang ia bungkus dengan handuk kecil kepada Reyna.
"Terima kasih ya, Cindy!" Cindy mengangguk.
"Aku balik, ke depan dulu ya? Ini jatah jaga di front office," ucapnya. Reyna mengangguk.
Reyna masuk ke dalam kamarnya, kemudian mengompres bagian kakinya yang bengkak selama 20 menit. Tak berapa lama Cindy kembali membawa gulungan perban di tangannya.
"Sudahkan mengompresnya? Ayo aku pakaikan perban elastis di kaki kamu," ucap Cindy.
Cindy mengambil bantal kemudian menaruhnya di bawah kaki Reyna.
"Sebaiknya posisi kaki kamu lebih ke atas sehingga lebih cepat mengurangi pembengkakan, nanti aku ambilkan satu bantal lagi buat kamu tidur," ujar Cindy sambil membalut kaki Reyna dengan kain perban berwarna coklat.
"Cindy, apa aku bisa minta tolong?" tanya Reyna.
"Katakan saja, jika aku bisa pasti akan aku bantu," ucap Cindy.
"Bisakah kamu membelikan aku handphone? Sebelum aku bertemu dr.Dimas, tas ku di curi saat aku sedang sholat di masjid. Hilanglah semua isi di dalam tas ku. Beruntungnya kemarin dr.Dimas bilang tas ku di ketemukan dan kartu debitnya masih ada meski handphone dan uangnya dibawa kabur," tutur Reyna.
"Masyaa Allah, jadi kamu korban pencopetan? Maaf ya Reyna, kemarin para perawat mengira kalau kamu itu pacar dr.Dimas," ucap Cindy.
"Ishh...ngawur deh! Aku aja baru kenal sama dr.Dimas, waktu aku jatuh kemarin, terus beliau nolongin aku," ungkap Reyna.
"Reyna, wajar saja jika kami mengira kamu pacarnya. Selama ini dr.Dimas orangnya sangat tertutup bahkan pada kami para karyawan di klinik. Melihat dr.Dimas sangat peduli sama kamu tentu saja kita heran. Kalau nggak ada hal yang penting, beliau nggak akan bicara sama kami," Cindy terlihat menyelesaikan balutan perban di kaki Reyna.
"Masa sih, Cin? Padahal dr.Dimas menurut aku sangat baik lhoh orangnya," Reyna tampak tidak percaya.
"Mungkin saja beliau suka sama kamu, Reyn," ucap Cindy menggoda.
"Aku rasa bukan karena itu, dr.Dimas tau aku sedang hamil, tentunya beliau tau aku punya suami! Aku rasa beliau tulus kok menolong aku," ucap Reyna meski agak ragu.
Apa mungkin dr.Dimas menolong aku karena aku mirip dengan istrinya? Astaghfirullah aku kok malah jadi suudzon sama kebaikan dr.Dimas!
"Kamu hamil? Aduh maaf ya Reyn, jadi berpikiran yang nggak-nggak sama kamu. Sudah berapa bulan usia kandungannya?" Cindy tampak menyesal.
"Iya gak apa-apa. Baru enam minggu, aku juga baru tau kalau hamil kemarin saat habis pingsan di pesawat. Bahkan suami aku belum tau kalau aku hamil," ucap Reyna sendu jadi teringat Rangga.
"Jadi kamu sebenarnya dari mana mau ke mana, Reyn?" Cindy nampak bingung mendengar Reyna yang naik pesawat tapi kecopetan di stasiun.
"Hhhhahaha...bingung ya, Cin? Jadi sebenarnya aku itu tinggal di Jakarta, kemaren takziah ke rumah paman aku di Jogja, dan di Solo ini sebenarnya rumah mertua aku," ungkap Reyna.
"Terus kenapa kamu nggak pulang ke rumah mertua kamu saja Reyn? Aku sebenarnya kasian liat kamu di sini sendirian nggak ada yang jagain," Cindy duduk di ujung ranjang, ia nampak antusias dengan cerita Reyna.
"Ceritanya panjang Cindy, aku sebenarnya juga kesepian di sini. Tapi mau bagaimana lagi. Untung ada kamu yang ngajakin ngobrol. Hhhehehe...!" Reyna menertawakan nasibnya bagaikan tak punya sanak saudara di kota ini.
"Begini saja Reyn, nanti sehabis kerja aku antar kamu beli HP, jadi kamu bisa pilih sendiri dan bisa langsung kamu pakai, habis itu kamu ikut pulang saja ke rumah aku. Kamu bisa nginep di rumah aku biar nggak kesepian. Besok pagi balik ke sini lagi sekalian aku berangkat kerja," usul Cindy.
"Memangnya nggak ngrepotin kamu, Cin?" tanya Reyna.
"Nggak lah, aku nggak repot kok Reyn, cuma ya itu, aku cuma bisa bawa kamu pakai motor dan rumah orangtua aku cuma sederhana," ungkap Cindy.
"Apa sih kamu, Cin? Aku mau kok! Kamu jangan merendah gitu. Aku malah nggak punya rumah, Cindy. Aku di Jakarta juga ke mana-mana pakai motor, dan aku nggak punya rumah, aku cuma numpang di rumah Kakek angkatku," ujar Reyna.
"Nanti kamu musti ceritain semuanya sama aku. Sekarang aku musti kembali ke depan. Aku balik kerja dulu ya Reyn, nanti kamu minta ijin dulu ya sama dr.Dimas? Aku takutnya nanti kamu di cariin lagi!" goda Cindy.
"Eh...emang aku siapanya pakai di cariin! Tapi aku pasti nanti bilang kok, sebagai etika bertamu yang baik. Masa iya sih aku pergi begitu aja nggak bilang-bilang, disangkanya gak tau terima kasih, udah ditolongin juga!" tutur Reyna
"Hhheheehe...ya kali aja, kamu kan tamu special, Reyna!" kilah Cindy sambil berlalu keluar kamar.
"Ehh, awas ya Cin, kamu nanti!" teriak Reyna namun Cindy sudah menghilang dari pandangan.
__ADS_1
****
Dengan penasaran Rangga membuka sampul pada buku yang sudah terbuka kuncinya. Halaman pertama berisi biodata Reyna. Tertulis nama lengkap, tanggal lahir, alamat sekolah tertulis alamat SMP mereka dulu, kemudian hobi, makanan kesukaan, warna favorit dan ada kata mutiara. Khas tahun 2000an di kala itu masih musim menulis di buku diary, menulis biodata teman di buku binder, mengkoleksi kertas surat dengan beragam design menarik. Belum banyak anak yang menggunakan handphone ke sekolah. Saat itu hanya kalangan anak orang menengah ke atas yang ke sekolah bawa handphone. Era di jaman anak kelahiran di tahun 90'an pasti mengalaminya.
Di awal-awal halaman tertulis puisi-puisi yang di tulis Reyna. Kemudian berlanjut kisah-kisah Reyna awal memasuki SMP.
Dear diary, hari ini aku nggak ngerti dengan Rangga. Kenapa dia seperti terus-menerus melihat ke arahku. Padahal aku sedang menghindarinya saat Mona bercerita suka sama Rangga. Mona seperti cemburu saat aku dan Rangga sering bercanda.
Rangga membuka halaman berikutnya.
Diary, mengapa aku jadi begini. Aku merasa sangat canggung setiap bertemu Rangga. Sejauh aku menghindarinya, dia seolah semakin mendekat. Tiba-tiba berada satu barisan, tiba-tiba ada di dekatku, tiba-tiba ada di depanku, entahlah dia seperti tiba-tiba muncul di mana aku berada.
"Kamu terlalu polos, Hana. Kamu nggak ngerti yang namanya PDKT, gimana sih!" Rangga merasa lucu sekaligus kesal mengingat saat itu.
Dear diary, hari ini aku bersama teman-teman diajak main ke rumah Andin. Saat menunggu bus Andin cerita kalau dia suka sama Rangga. Aku sangat terkejut dengan hal itu. Pasalnya di sekolah Andin dan Mona tempat duduknya satu bangku dan mereka menyukai orang yang sama. Dan dua-duanya cerita suka SMSan sama Rangga. Huh playboy banget ya kamu Rangga!
"Apa sih orang cuma main-main aja di bilang playboy!" gumam Rangga sambil membuka halaman-demi halaman.
Dear diary, kenapa mereka terus curhat sama aku soal Rangga. Nggak cuma Andin dan Mona saja ternyata, Reta, Indah dan Rahma juga. Dan kenapa curhatnya musti sama aku. Aku nggak mau tahu soal Rangga! Rangga cowok playboy, jangan sampai aku suka sama dia!
"Eh, enak aja. Aku nggak playboy ya, mereka aja yang ke GR'an. Dan kamu aja yang nggak peka kalau aku sukanya sama kamu!" kilah Rangga dan membuka lagi halaman selanjutnya.
Dear diary, tadi aku berpapasan langsung dengan Rangga. Dan ketika kita berhadap-hadapan, pertama kalinya aku merasakan ada yang aneh dalam diriku, jantungku tiba-tiba berdebar kencang saat dia menatap lekat ke arahku. Sejenak tubuhku membeku, dan kita saling menatap dalam diam. Apa ini yang dinamakan cinta? Oh, Tuhan... tolonglah aku! Aku ragu apakah kita memiliki rasa yang sama!
"Jadi akhirnya kamu juga suka kan sama aku. Kenapa kamu nggak pernah bilang, kalau kamu juga pernah suka sama aku, Hana!" ujar Rangga.
Dear diary, aku harus bagaimana? Mona marah sama aku. Ratna sepertinya membocorkan curhatanku soal Rangga. Beruntung tadi aku bisa meyakinkan Mona. Aku nggak ingin pertemanan kita hancur gara-gara cowok. Demi kalian semua aku akan menjauhi Rangga. Ya Allah bantu aku untuk mengahapus rasa sukaku pada Rangga!
Rangga mengepalkan tangannya, "Kenapa kamu begitu peduli dengan perasaan orang lain, Hana! Tanpa kamu sadari kamu telah mengorbankan perasaanmu dan juga perasaanku!"
Dear diary, hari ini aku melihat Rangga seperti marah sama aku. Tatapannya dingin dan tajam saat melihat ke arahku. Hatiku pun terasa perih! Dia terlihat membenciku saat Hendra lewat di samping kelasku dan teman-teman bersorak mengatai aku menyukai Hendra. Ya itu adalah salahku. Aku berpura-pura menyukai Hendra demi menutupi perasaanku padanya! Entah benar atau tidak aku merasa Rangga mempunyai perasaan terhadapku juga. Aku takut jika dia sampai menyatakan perasaannya padaku. Aku takut di benci oleh mereka.
Rangga, jika benar kamu menyukaiku, maafkan lah aku karena melukai perasaanmu!
"Reyna Hanania, kenapa kamu melakukan ini!" ucap Rangga kesal.
Tok...tok...tok
Terdengar ketukan di pintu, Rangga menutup buku diary Reyna kemudian bergegas memasukkannya ke dalam laci nakas.
"Masuk, tidak di kunci!" teriaknya.
Nampak Nenek, muncul dari balik pintu, "Rangga, kamu sudah menemukan di mana Reyna berada?"
"Baiklah, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Reyna, ya Allah. Rangga, jika Kakek bertanya, bilang Reyna berada di Solo agar Kakek tidak sedih," ujar Nenek.
"Iya, Nek. Maafkan Rangga tidak bisa menjaga Reyna dengan baik, Nek!" ujar Rangga sedih.
"Jadikan hal ini sebagai pelajaran. Pengalaman adalah pelajaran berharga dalam menjalani kehidupan. Semua orang pasti mendapat ujiannya masing-masing. Kamu harus sabar!" tutur Nenek lembut sambil mengusap-usap punggung Rangga.
"Baik, Nek. Terima kasih!"
"Doakan Rangga, bisa menemukan Reyna secepatnya!" Nenek mengangguk sambil menepuk lengan Rangga memberi kekuatan.
"Ga, sekarang kamu makan dulu, kamu harus tetap sehat untuk mencari Reyna. Jangan sampai sakit lagi seperti kemarin karena berlarut dalam kesedihan, hingga mengabaikan kesehatanmu," ujar Nenek.
"Baik, Nek. Temani Rangga makan ya, Nek," pinta Rangga.
"Iya, ayok!" Mereka berlalu menuju dapur.
****
Saat sore tiba, Reyna sedang asik bermain dengan Qila di taman. Anak itu terlihat ceria dan energik. Dia sebenarnya tau jika aku bukan mamanya.
"Qila, teman sekolahnya namanya siapa saja?" aku coba bertanya.
"Qila nggak punya temen. Temen Qila jahat!" ujar anak itu.
"Memangnya jahat gimana?" tanya Reyna.
"Mereka jahat, bilang Qila nggak punya Mama!" mukanya terlihat sangat sedih.
"Qila pengen punya mama?" tanya Reyna lagi.
"Iya, Qila pengen punya mama kayak temen-temen Qila. Mama jangan pergi, di sini terus saja jadi Mama Qila!" Reyna merengkuh tubuh kecil Qila ke dalam pelukannya. Reyna dapat menangkap kesedihan yang di rasakan Qila.
Dari kata-kata Qila yang meminta untuk menjadi Mamanya, itu berarti anak itu sudah menyadari jika Reyna bukan Mamanya.
"Sayang, Mama Reyna tidak bisa menjadi Mama Qila di sini, Mama Reyna harus pulang ke Jakarta. Tapi Mama Reyna akan berdoa sama Allah supaya Qila segera di berikan Mama yang baru yang bisa terus bersama Qila dan Papa," ucap Reyna dengan lembut.
__ADS_1
Anak ini terlihat sangat kecewa dan sedih. Matanya terlihat berkaca-kaca.
"Sayang, Qila juga harus berdo'a terus sama Allah, biar diberi Mama yang baru. Jika Qila berdo'a dengan sungguh-sungguh Allah pasti mengabulkan do'a, Qila!" ujar Reyna.
"Benarkah Allah akan mengabulkan do'a, Qila?" anak itu terlihat antusias mendongak pada Reyna.
"Tentu saja, Sayang. Qila kan anak sholihah!" jawab Reyna. Qila terlihat mengangguk patuh.
"Sekarang jangan bersedih, ayo kita main lagi!" bujuk Reyna. Dalam sekejap anak itu berubah ceria. Sebenarnya Qila hanya kesepian karena tidak punya teman bermain dan kurang perhatian dari Papanya.
Tanpa mereka sadari, dari jauh Dimas memperhatikan interaksi keduanya. Bahkan Dimas bisa mendengar percakapan Reyna dan Qila. Hatinya benar-benar perih mengetahui isi hati anaknya. Selama ini dia tidak pernah memahami anaknya dengan baik. Dimas berjanji, kedepannya ia akan lebih memperhatikan Qila.
"Eh...itu Papa. Yeay Papa sudah pulang?" teriak Qila.
Dimas tersenyum, kemudian berjalan mendekat ke arah Reyna dan Qila.
"Lagi main apa, Sayang?" tanya Dimas.
"Main lego, Pah, sama Mama Reyna," jawab Qila, sambil menunjukkan lego yang berhasil di bentuknya.
"Bagus sekali bentuknya, pintar anak Papa!" Dimas mengusap pucuk kepala Qila, "Oh iya Reyn, ini tas kamu yang di ketemukan sama satpam. Tadi aku pulang sekalian mampir buat ambil ke stasiun. Coba kamu cek dulu, Reyn!" titah Dimas.
"Sebelumnya, terima kasih ya, Dok! saya berhutang budi banyak sekali sama Dokter," ucap Reyna
"Sama-sama, Reyn."
"Ohya, Dokter. Saya minta ijin ya untuk pergi sama Cindy, nanti malam saya juga berencana akan menginap di rumah Cindy. Besok saya akan kembali ke sini," ujar Reyna.
"Silakan saja Reyna, itu adalah hak kamu. Tapi memangnya kamu mengenal Cindy?" tanya Dimas heran karena Reyna yang baru kenal sudah sedekat itu hingga ingin menginap di rumah Cindy. Bahkan dia saja meski sudah berbulan-bulan menjadi atasannya tidak begitu mengenalnya dengan baik.
"Ia, Dokter. Saya yakin Cindy orang yang baik. Saya lah yang meminta Cindy untuk mengantarkan saya membeli handphone.," ungkap Reyna. Dimas terlihat mengangguk.
"Kenapa tidak bilang, saya bisa memesankan kalau kamu mau," ujar Dimas.
"Tidak perlu Dokter, saya sekalian ingin mencari udara segar di luar sana," ucapnya.
Terlihat Cindy yang sudah mengenakan jaket, bersiap untuk pulang. Reyna yang melihatnya kemuadian memanggilnya.
"Cindy...!" teriaknya sambil melambai agar ia mendekat. Cindy pun menghampiri Reyna.
"Pulang sekarang?" tanya Reyna.
"Iya, Reyn. Gimana jadi nggak?" tanyanya sambil melirik ke arah Dimas.
"Jadi dong, bentar ya. Aku ambil bekal dulu," ucap Reyna.
"Bekal apa?" tanya Cindy.
"Baju dong, masak iya aku nginep gak bawa baju ganti," Dimas terlihat diam menyimak.
Tak berapa lama Reyna keluar dari dalam kamarnya menggunakan tongkat yang dipinjamkan oleh Nenek Qila bekas punya suaminya dulu.
"Ayok!" ucap Reyna kepada Cindy, "Permisi ya, Dokter, kami pergi dulu. Dadah Qila, Assalamu'alaikum!" pamit Reyna berdada-dadah dan Cindy mengangguk sopan.
"Iya, hati-hati di jalan," ucap Dimas.
Setelah mengambil uang di ATM, Reyna membeli handphone di ruko-ruko yang banyak terdapat gerai counter yang menjual handphone. Reyna kemudian membeli satu unit handphone yang cukup lengkap fitur-fiturnya. Demi menunjang pekerjaannya. Tak lupa ia sempatkan membeli oleh-oleh kue untuk keluarga Cindy di rumah.
"Banyak banget kuenya Reyn?" tanya Cindy karena ada tiga kantong makanan yang di beli Reyna.
"Nggak apa-apa, kan buat oleh-oleh umi, abi dan juga adik kamu," ujar Reyna yang sempat mendengar cerita Cindy tentang keluarganya di sela-sela membeli handphone.
Kemudian mereka berlanjut berkendara menuju rumah Cindy. Reyna seperti tidak asing dengan jalanan yang di lewati Cindy.
Bukankah ini jalan yang sama menuju rumah Mami!
Ternyata benar, kini Cindy hampir melewati rumah Rangga. Reyna menepuk bahu Cindy agar memperlambat laju motornya.
"Cin, berhenti dulu, Cin!" pekik Reyna. Buru-buru Cindy mengerem motornya.
"Ada apa Reyn?" Cindy menepi di dekat trotoar jalan, ditengoknya Reyna yang sedang memperhatikan rumah besar yang hampir terlewati sepenuhnya.
🌷🌷🌷
Sudah Up panjang bangeet ya, kawan-kawan semua... 😘
Jangan lupa like dan comment yah,,
Satu lagi, follow author dong 🙏
__ADS_1
Salam hangat,
Neyna