
POV Cindy.
Seminggu yang lalu sahabat Abi, Ustadz Maulana sowan ke rumahku bersama istri dan anaknya. Dari pertemuan dua keluarga itu akhirnya aku menjalani ta'aruf dengan Mas Fadil, anak kedua dari Ustadz Maulana.
Sudah tiga hari ta'aruf dengan Mas Fadil, aku mulai mengenalnya. Kami hanya beberapa kali bertegur sapa dari whatsApp dan telepon. Mas Fadil orangnya ramah dan sangat baik terhadapku. Ternyata Mas Fadil adalah seorang ustadz yang mengajar di pesantren adikku Umar.
"Mbak, aku setuju kalau Mbak menikah dengan Ust. Fadil!" aku diam tanpa menoleh tetap melanjutkan membantu ummi membuat adonan sosis basah, "Ust Fadil itu kalau ngajar sabar banget nggak pernah marah-marah, beliau itu sangat peduli sama murid-muridnya, kalau kita ada masalah sesama santriwan, biasanya Ust. Fadil yang datang dan memberi solusi," ujar Umar.
"Iya, Ummi juga setuju. Nak Fadil itu dari sejak pertama datang sangat sopan, tutur katanya lembut, solih. Ummi rasa, kepribadian nak Fadil juga baik kalau mendengar cerita dari Umar. Kalau menurut kamu bagaimana Cin?" pertanyaan ummi membuatku terkejut dan bingung harus menjawab apa.
"Emm...sejauh ini Mas Fadil sangat baik, Ummi. Malah terlalu baik untuk Cindy. Cindy merasa minder dengan Mas Fadil, Ummi," jawabku pada ummi.
Mas Fadil memang baik, dan itu bisa aku rasakan. Dia selalu sopan terhadapku, dan menjaga pandangannya saat pertemuan kami dengan keluarga, tidak sekalipun ia menatap wajahku lebih dari dua menit atau menyentuhku barang seujung jaripun. Bahkan saat berbicara dia tau batasannya, dan hanya seperlunya. Ia tidak pernah merayu atau pun berkata kasar. Bagiku dia terlalu sempurna sebagai laki-laki yang taat beragama.
Dari fisik, mas Fadil itu good looking, kulitnya sawo matang namun parasnya manis dengan hidung mancung dan alis tebal, badannya tinggi, nampak ideal dengan berat badannya yang tidak kurus dan tidak gemuk. Aku yakin pasti banyak yang juga mengaguminya. Aku rasa aku begitu beruntung jika bisa bersanding dengannya. Namun, entah mengapa hatiku belum bisa tertuju padanya.
"Cindy, semua itu adalah takdir Allah. Hanya Allah yang tau apakah kita pantas atau tidak untuk seseorang. Jika memang takdirmu dengan si A, maka Allah akan mempertemukan dengan si A. Jika ternyata jodoh kamu dengan si B, kadang meski sudah berencana dengan si A bisa jadi terjadi sesuatu hingga akhirnya beralih pada si B. Semua adalah rahasia Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Berkehendak. Dan jika Allah menghendaki si A menikah dengan si C itu artinya di mata Allah mereka itu pantas untuk di sandingkan. Berdo'alah nduk, semoga Allah menunjukkan yang terbaik bagimu!" ujar ummi panjang lebar.
Kata-kata ummi sungguh menenangkan bagiku. Aku tak perlu cemas dengan ta'aruf ini atau pun perasaanku pada seseorang. Aku akan memasrahkan segalanya pada Allah. Jika memang Mas Fadil lah yang telah ditakdirkan untukku maka aku akan menerimanya, dan berusaha untuk membuang jauh perasaanku pada laki-laki itu.
"Terima kasih ya, Ummi?" aku memeluk erat tubuh ummiku. Ummi memang selalu bisa membuatku tenang dan nyaman. Hanya dengan ummi aku merasa beliau bisa menjawab segala kegundahan hatiku meski aku tak menceritakan secara detail apa yang terjadi padaku. Benar orang bilang, jika seorang ibu yang paling memahami anaknya. Aku sungguh bersyukur telah dilahirkan oleh wanita sehebat ummiku.
"Iya, nduk. Sekarang kamu sudah dewasa, Nduk. Sebentar lagi kamu akan mengarungi kehidupan berumah tangga. Tetaplah berprasangka baik terhadap takdir Allah. Jika sedang mengalami kesulitan jangan pernah menganggap Allah tak adil padamu. Mungkin sebelum kamu mendapatkan kebahagiaanmu Allah ingin mengujimu dengan kesulitan terlebih dulu. Teruslah bertawakal pada Allah!" aku mendengarkan perkataan ummi dengan seksama.
"Iya, Ummi!" kataku.
Iya, ummi benar, aku tak boleh terlalu senang dulu. Aku harus bertawakal dan terus berdo'a pada Allah. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya.
****
Author POV.
Reyna dan Rangga sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Reyna berniat untuk berbelanja baju hamil dengan Rangga. Sejak hamil, berat badannya terus bertambah. Meski baru menginjak dua bulan usia kehamilannya, dan perutnya masih rata, namun ia merasa baju-bajunya mulai sempit dan kurang nyaman untuk di kenakan.
"By, aku kok ngerasa kaya tambah gendutan aja sih, By," ujar Reyna sambil bercermin pada kaca depan toko.
Rangga tersenyum dengan tingkah istrinya yang menggemaskan. Ia menarik Reyna untuk melanjutkan berjalan-jalan. Ia rangkul istrinya dan mengusap bahu Reyna untuk menenangkan.
"Sayang, bagiku yang terpenting adalah kamu dan calon anak kita sehat. Kamu harus menjaga pola makan yang sehat untuk ibu hamil. Meskipun tambah gemuk kamu tetap yang tercantik di mata hatiku. Jadi jangan khawatirkan hal itu, Sayang!" Rangga mengusap lembut pipi Reyna.
Reyna terlihat tersenyum senang setelah mendengar perkataan Rangga. Orang hamil memang terkadang moodnya lebih sensitif sehingga Rangga harus lebih sabar menghadapi istrinya. Itulah petuah yang di sampaikan oleh nenek ketika kemarin berada di Jakarta. Demi membuat istrinya senang malam ini Rangga telah menyiapkan kejutan untuk istri tercintanya.
"Sayang, di situ ada butik. Ayo ke sana!" ajak Rangga.
"Tapi sepertinya hanya menjual gaun-gaun pesta, By. Kan aku mau cari baju yang nyaman untuk sehari-hari," ujar Reyna.
"Iya, nanti kita beli juga baju untuk hariannya, Sayang. Sekarang kita pilih dulu gaun yang pas untuk kamu yang sedang hamil, Sayang," bujuk Rangga. Akhirnya Reyna menuruti.
__ADS_1
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya dibelinya gaun berwarna lavender dan satu lagi gaun berwarna silver yang cantik dan elegan. Setelah itu mereka menuju departemen store untuk membeli baju sehari-hari yang Reyna butuhkan.
"Apalagi yang mau di beli, Sayang?" tanya Rangga.
"Ayo, By. Aku pengen belikan kemeja buat kamu. Semenjak kita menikah aku kan belum pernah membelikan kamu kemeja," ujar Reyna sambil menuntun Rangga menuju tempat kemeja pria terpasang.
Reyna memilih beberapa kemeja dan setelan jas, untuk Rangga coba di ruang ganti. Ia menunggu sambil memilih dasi yang cocok untuk suaminya. Tanpa sengaja ia melihat Dr. Dimas yang sedang memilih kemeja juga. Reyna akhirnya mendekat untuk sekedar menyapa.
"Dokter, apa kabar?" sapa Reyna.
"Reyna...baik-baik! Kamu sendiri apa kabar?" tanya Dimas.
"Alhamdulillah, saya juga baik, Dokter!" jawab Reyna.
"Dengan siapa, Reyn? Aku pikir kamu sudah balik ke Jakarta," ujar Dimas.
"Dengan suami saya, Dok. Kemaren ibu mertua saya sedang sakit, jadi saya memutuskan untuk tinggal lebih lama di Solo. Qila tidak ikut, Dok? Cindy bilang Qila sudah pintar mengaji," ujar Reyna.
"Qila ikut, ia sedang main di time zone dengan Rosa. Kamu...masih sering ketemu dengan, Cindy?" tanya Dimas.
"Iya, Dok. Kemaren beberapa kali saya meminta Cindy datang ke rumah untuk merawat luka bekas operasi Mami saya, Dok. Kebetulan rumah Cindy dengan rumah mertua saya cukup dekat," ungkap Reyna.
"Oh begitu ya. Emm...Reyna, apa Cindy sedang dekat dengan laki-laki atau punya pacar saat ini? Maaf, saya pikir kamu cukup dekat dengan Cindy," tanya Dimas dengan sedikit malu-malu.
"Emm...setau saya Cindy tidak berpacaran, Dok. Hanya saja...ia pernah bercerita jika orang tuanya menghendaki Cindy untuk menjalani ta'aruf dengan teman Abinya," ujar Reyna sembari mengingat pertemuan terakhirnya dengan Cindy saat ia menceritakan keresahannya.
"Benarkah? Apa Cindy setuju?" Dimas terlihat cemas dari raut wajahnya.
"Dokter, apa anda mempunyai perasaan terhadap Cindy? Maaf, jika pertanyaan saya agak lancang!" Reyna berpikir laki-laki dengan beberapa klu yang di sebutkan Cindy bisa jadi adalah dr.Dimas.
Bukankah akhir-akhir ini Cindy mengajari Qila untuk mengaji. Bisa jadi hal itu yang membuat keduanya sering berinteraksi. Dan dari pertanyaan dr.Dimas tadi mengisyaratkan, seolah ia begitu ingin tahu dengan hal yang sangat pribadi tentang Cindy.
"Emm, jujur saja sebenarnya Qila sangat ingin Cindy menjadi mamanya. Dari permintaan Qila itu akhir-akhir ini saya memang sedang memperhatikan Cindy. Kepribadian Cindy yang baik membuat saya mulai tertarik untuk mengenalnya lebih dekat. Tapi sekarang saya pikir mungkin Cindy bisa mendapatkan yang lebih baik dari saya, dan yang masih singgle tentunya," ujar Dimas. Terlihat kekecewaan di raut wajahnya.
"Dokter, jika anda sungguh-sungguh ingin menjadikan Cindy istri anda. Saya sarankan anda untuk datang pada orang tua Cindy segera sebelum semua terlambat. Mungkin saja Cindy baru ta'aruf dan belum di khitbah. Jangan menyerah sebelum berusaha, Dokter. Bisa jadi Cindy lebih berpihak pada anda!" Reyna mencoba meyakinkan Dimas. Jika betul Dimas lah orang yang di sukai Cindy. Semoga takdir mempertemukan mereka.
"Terima kasih ya, Reyna. Saya akan memikirkannya dahulu!" ujar Dimas.
"Sama-sama, Dokter!" Reyna tersenyum.
"Sayang...," panggil Rangga seraya menghampiri di tempat Reyna berdiri.
"By, kebetulan sekali barusan bertemu dengan dr. Dimas di sini," ujar Reyna sembari menunjuk ke arah Dimas.
"Apa kabar Mas Rangga?" sapa Dimas.
Rangga mengeryit heran, namun akhirnya tersenyum basa basi.
__ADS_1
"Emm...baik, Dokter. Sedang berbelanja juga Dok?" tanya Rangga ketika melihat tangan Dimas tersampir kemeja.
"Oh..iya, ini sedang mencari kemeja," tiba-tiba handphone Dimas berbunyi nada suara.
"Halo, Ros!" terlihat Dimas sedang berbicara di telepon.
"Ya udah aku kesana sekarang!" ujarnya lagi kemudian memutus telepon.
"Reyna, Mas, saya duluan ya? Ini barusan Qila minta pulang!" ujar Dimas.
"Baik, Dokter silakan!" ujar Reyna.
"Assalamu'alaikum!" ucap Dimas.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Reyna dan Rangga bersamaan.
Sepeninggal Dimas, Rangga melepaskan pelukannya.
"Tadi ngobrol apa aja sama dr. Dimas?" selidik Rangga.
Dari sorot matanya Reyna tau Rangga sedang cemburu.
"Ngobrol soal Cindy tadi, kenapa? Cemburu ya, By?" Reyna meringis merasa lucu dengan sikap Rangga.
"Enggak siapa yang cemburu!" Rangga mengaitkan jari-jemarinya menggandeng Reyna dan berjalan menuju kasa.
Reyna tersenyum mengekori langkah Rangga, "Itu barusan bukan cemburu yah?"
"Enggak, orang cuma tanya. Emang Cindy kenapa, Sayang!" tanya Rangga.
"Ihh...kepo! Mau tau apa mau tau banget?" goda Reyna.
Rangga berhenti berjalan kemudian berbalik mendekap tubuh istrinya, "Ishh, awas ya, ntar kalau sampe rumah nggak akan aku kasih ampun!"
"Ehh, lepas dong, By! Nggak enak dilihatin sama orang-orang tuh!" Reyna gelagapan melirik ke kanan dan kiri. Ia sungguh malu saat orang-orang di sekitar menatap ke arah mereka.
Namun, Rangga tak bergeming, kemudian dengan cepat mengecup kening istrinya singkat. Rangga kemudian kembali menggandeng tangan Reyna menuju kasa. Kini Reyna berjalan dengan tatapan dari orang-orang yang tadi sempat melihat Rangga mencium keningnya.
_______________Ney_nNa____________________
Mohon maaf akhir-akhir ini jarang Up tepat waktu karena kesibukan author di dunia nyata yang juga menuntut saya untuk membagi waktu bagi keluarga dan juga pekerjaan saya.
Dan juga membagi waktu untuk menulis karya novel saya yang satunya "Cinta Di Alam Mimpi" ,, jika berkenan tolong dukung juga karya saya yang satu ini.
Terimakasih, bagi yang selalu memberi saya semangat untuk menulis, bagi saya dukungan kalian sangat berarti. Untuk itu jangan lupa untuk like, comment, rate, follow, vote jika kalian menyukai karya author.
Semoga diberi kemudahan dan kelancaran bagi kita semua, dan semoga kisah yang saya tuangkan dalam cerita ini bermanfaat bagi pembaca karya tulisan saya 😘 Aamiin 🤲
__ADS_1
Salam hangat,
Neyna