
Fely duduk diam di depan televisi, namun pikirannya tidak berada di sana. Dia mulai memikirkan serangkaian peristiwa yang terjadi di hari ini. Mulai dari pertemuannya dengan Raka, bu Rahma hingga lamaran dari adik iparnya. Dan, hal itu pun cukup mengganggu pikirannya.
Dia bingung harus menjawab apa kepada ibu mertuanya yang kembali melamarnya untuk adik iparnya itu. Dulu dia bisa menolak dengan beralasan, belum siap untuk kembali menjalin suatu hubungan pernikahan dan ingin fokus pada kuliahnya terlebih dahulu. Tapi, sekarang tidak mungkin baginya untuk kembali memberikan alasan yg sama.
Pertemuannya dengan Raka pagi tadi membuatnya kembali mengingat serangkaian kisah masa lalu yang pernah dilaluinya saat dahulu bersama Raka. Dari mulai pertama kali mengenal hingga terakhir kali bertemu. Dan kata-kata yang tertulis di dalam surat Maura pun kembali terngiang-ngiang di pikirannya.
Jangan kamu membenci Raka juga, sebab dia sangat mencintaimu.
Percayalah meskipun menikah denganku, namun hatinya tak pernah berpaling darimu.
Karena hanya kamu, satu-satunya wanita yang dicintai olehnya.
"Enggak! aku tidak mencintainya lagi!" pekik Fely mengingkari bisikan suara hati yang muncul ketika kembali mengingat tentang Raka.
Fely sontak memejamkan mata dan menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya erat.
"Fe, kamu kenapa?" tanya Reyna yang terkejut saat tiba-tiba mendengar Fely memekikkan sesuatu.
Fely yang baru tersadar dari lamunannya pun gelagapan bingung harus menjawab apa kepada Reyna.
"Emm, maaf Kak! ngagetin yah?" tanya Fely dengan kikuk menahan malu.
"Kamu tadi bilang apa?" tanya Reyna yang kurang yakin dengan pendengarannya karena tadi sedang fokus menyuapi Alesha makan.
__ADS_1
"Hah, emangnya aku bilang apa, Kak?" Fely balik bertanya.
"Iih, gimana sih kamu tuh malah balik nanya ke Kakak, tadi tuh Kakak lagi fokus nyuapin Alesha, jadi nggak begitu jelas kamu bilang apa ...," tutur Reyna seraya kembali menyuap makanan untuk putrinya.
Alhamdulillah, untung Kak Reyna nggak begitu mendengarnya dengan jelas kata-kata ku tadi, batin Fely.
"Kak, boleh Fely bertanya sesuatu?" tanya Fely.
"Tanya apa, Fe?" jawab Reyna yang kembali menoleh pada adik iparnya itu yang seolah bersikap aneh dan tidak biasanya.
"Kak sebenarnya bagaimana hukumnya jika wanita yang suaminya meninggal dunia, kemudian memutuskan untuk tidak menikah lagi?" tanya Fely dengan ragu.
Reyna seketika menajamkan pandangannya kepada adik iparnya itu. Dia berharap agar Fely bisa memulai untuk membuka lembaran baru.
"Kemudian, jika seorang janda itu tidak menikah tapi malah melakukan zina demi menuntaskan kebutuhan syahwatnya secara sembunyi-sembunyi atau melakukannya sendiri justru itu yang tidak boleh, haram hukumnya."
"Terkadang karena ingin fokus membesarkan anaknya dan tidak ingin melukai anaknya dengan menikah lagi, kemudian demi menuntaskan syahwatnya janda tersebut melakukan zina, justru nerakalah tempatnya jika itu terjadi. Jadi lebih baik menuntaskan syahwatnya dengan cara menikah lagi daripada menyalurkannya secara sembarangan bukan?" tutur Reyna.
"Benar juga ya, Kak. Fely pernah denger soal itu, karena anaknya melarang ibunya menikah lagi, justru diam-diam ibunya berpacaran di luaran," ujar Fely menceritakan yang pernah diketahuinya dari salah seorang temannya.
"Yang terpenting adalah ketika wanita berharap masuk surga yang harus dilakukan adalah dengan menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya. Tapi, jika seorang janda yang ditinggal mati suaminya itu ingin menikah lagi, maka hendaklah melakukannya dengan cara yang benar yaitu dengan sesuai syari'at dan mencari laki-laki yang baik akhlaknya sehingga ibadahnya semakin baik dengan pernikahannya itu, apalagi jika suami keduanya mampu menuntunnya pada kebaikan, maka saat di akhirat nanti baginya surga dari pintu manapun," tutur Reyna menjelaskan panjang lebar.
"Begitu ya, Kak. Oh ya kata orang semoga disatukan hingga ke Jannahnya, gitu kan kalau mendoakan pasangan yang baru menikah, lantas jika wanita itu menikah lebih dari satu kali, dengan suami yang mana dia akan dipertemukan di surga?" tanya Fely yang masih penasaran dengan hal itu.
__ADS_1
"Ummu Salamah RA sempat menanyakan hal itu kepada Rasulullah SAW, jadi konon Ummu Salamah sangat mencintai suami pertamanya sebelum menikah dengan Rasulullah, kemudian Rasulullah menjawab wanita yang salih yang menikah lebih dari satu kali, ketika di surga nanti akan dipertemukan dengan suaminya yang lebih baik akhlaknya. Jika semuanya masuk surga dia berhak memilih dengan suami yang mana saja yang dikehendakinya," tutur Reyna.
"MasyaAllah semoga kita kelak bisa masuk surga ya, Kak?" ujar Fely dengan rasa haru.
"Menikahlah, Fe. Kamu masih muda, kamu bisa mendapatkan banyak pahala dengan berbakti kepada seorang suami, akan ada seseorang yang akan kamu nantikan kepulangannya ketika berjauhan, ada seseorang tempatmu mencurahkan kasih sayang dan berkeluh kesah, akan ada yang menjagamu dan memanjakanmu dengan cinta, dengan menikah kamu bisa melahirkan anak-anak yang salih dan salihah, jangan takut untuk menikah lagi, Fe," ujar Reyna menasehati agar adik iparnya mau menikah lagi.
Fely sesaat terdiam mencerna kata-kata Reyna. Tidak dipungkiri dia merindukan saat-saat bahagia bersama suaminya, dia bahkan belum mencecap indahnya malam pertama. Dia juga ingin kelak memiliki keturunan yang manis dan lucu-lucu karena dia sangat menyukai anak-anak juga.
"Kak, gimana perasaan Kak Reyna saat menikah lagi di saat belum lama suami pertama Kak Reyna meninggal dunia?" tanya Fely dengan hati-hati.
Reyna terdiam sejenak sebelum menjawabnya. Dia kembali menerawang pada masa itu.
"Tentu saja hal itu tidaklah mudah bagiku, Fe. Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk menerima kehadiran kak Abi. Terlebih saat itu ada Reynand yang selalu mengingatkanku kepada almarhum Rangga. Hingga aku melakukan kesalahan yang fatal kepada kak Abi, aku mengabaikannya, aku masih sangat mencintai suami pertamaku saat itu. Aku sungguh beruntung memiliki suami seperti kak Abi yang dengan sabar mendampingi ku hingga aku mulai mencintainya," tutur Reyna panjang lebar menceritakan kisahnya.
"Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama seperti yang aku lakukan, Fe. Mulailah lembaran barumu dengan penuh kerelaan. Bukalah hatimu untuk seseorang yang telah menghalalkanmu," ujar Reyna menasehati.
"Iya, Kak." Fely kembali terdiam memikirkan hal itu.
Saat ini mungkin adalah waktu yang tepat untuknya memulai lembaran baru di kehidupannya. Dia harus berusaha mengatasi rasa traumanya untuk memulai menerima kehadiran seseorang yang akan menghalalkannya dalam ikatan suci pernikahan.
Bukankah ada seorang laki-laki salih yang tengah melamarnya. Yang bersungguh-sungguh meminta kepada keluarganya untuk menikahinya. Apa pantas jika dia meragukan hal itu dan masih menantikan seseorang yang lain yang belum tentu datang untuk menghalalkannya.
Mungkinkah dia harus membuka lembaran baru dengan adik iparnya itu yang telah dengan sungguh-sungguh melamarnya hingga untuk yang kedua kalinya?
__ADS_1
...___________Ney-nna__________...