Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku

Dijodohkan Dengan Cinta Pertamaku
Panggil Umma


__ADS_3

Sepulang dari pernikahan Cindy, Reyna pulang ke rumah mertuanya. Kini kandungannya sudah menginjak 32 minggu atau delapan bulan. Reyna telah mengambil cuti karena sudah hamil besar. Hanya sesekali saat ada sesuatu yang sangat penting ia datang ke ruko. Selebihnya ia monitor dari rumah pekerjaan yang bisa ia kerjakan. Sepeninggal Wulan, Reyna memperkerjakan dua karyawan baru untuk membantu Mira dan Gina di bagian office dan FO.


Seusai mandi sore Reyna bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi. Begitu tahu Reyna akan datang ke Solo, mami sangat senang. Reyna di sambut dengan banyak masakan khas Solo yang di buat oleh mami. Saat ini mami sudah banyak berubah, tidak seperti dahulu saat Reyna pertama kali datang ke rumah ini. Tak kenal maka tak sayang, begitulah peribahasanya.


"Sayang, kamu di sini?" tanya Rangga yang baru datang.


"Hhehe...nyariin ya? Habisnya tadi kamu tidurnya pules banget, By. Habis mandi aku langsung turun karena laper," ujar Reyna sembari mengusap-usap perutnya yang buncit.


"Anak Papa makannya banyak sekali, sampai pipi Mama makin kenyal buat di jembel," Rangga ikut mengusap-usap perut istrinya lembut.


Mendengar suara papanya bayi yang ada di perut menendang-nendang. Kini perut Reyna sampai terasa bergejolak dan bentuknya lebih menonjol di sebelah kiri.


"Eh....ehh..., dia merespon, By. Tendangannya kuat banget nih dia di sebelah sini, By," Reyna dan Rangga antusias saat janin yang ada di dalam merespon.


Ada rasa bahagia, saat bayi yang ada di dalam perut merespon seolah sesuatu yang menggemaskan. Diusapnya dengan lembut beberapa kali agar bayinya menempati tempatnya kembali.


"Kama sudah pengen keluar ya, Dek. Kalau pengen keluar jangan bobol perut Mama ya..., lewat jalan tol aja, kata Dokter. Biar perut mama gak sakit di sayat-sayat," Rangga terus mengajaknya bicara bayi di dalam perut istrinya.


Reyna terkadang heran suaminya lebih cerewet dari dirinya. Pasti turunan dari mami Lena tentunya.


"Apanya yang di sayat-sayat, Ga?" mami muncul dari tangga.


"Ishh Mami main nimbrung aja. Ini nih dedek bayinya aku bilangin. Kalau pengen keluar jangan bobol perut kasian Mamanya, perutnya di sayat-sayat, mending lewat jalan tol," Rangga mengulangi perkataannya.


"Ehh, ada-ada saja kamu bikin istilahnya. Hhaha...!" mami menampol bahu Rangga.


"Ishh...Oma kamu dek, baper banget," ledek Rangga.


"Ehh, HPLnya kapan, Reyn?" tanya mami.


"Tanggal 25 Desember sih, Mih," ujar Reyna.


"Semoga aja maju Reyn, sialnya kalau mundur musti caecar nanti," ujar mami.


"Iya, Mi. Reyna berharapnya normal saja," ada rasa ke khawatiran karena ini adalah anak pertama baginya, sehingga banyak hal baru yang ia rasakan.

__ADS_1


"Di pakai olahraga, banyak jalan-jalan tuh kalau pagi. Pokoknya biar cepet turun ke panggul bayinya," nasehat mami.


"Iya, Mi. Reyna kalau di rumah Kakek, suka jalan-jalan di taman depan tuh sambil menyiram tanaman. Kan halaman kakek besar. Reyna sampai ngos-ngosan karena nyiramnya gak pakai selang, tapai pakai itu mi yang buat menyiram tanaman, hhhaha....!"


"Bagus dong malah, tapi jangan ngangkat yang berat-berat, jangan terlalu lelah juga, yang sewajarnya saja Reyn. Oh ya, di usg jenis kelaminnya apa?" tanya mami.


"Perkiraan, Dokter. Cowok, Mih. Kayak Papanya," ujar Rangga.


"Alhamdulillah, jadi lengkap deh cucunya Mami. Nanti lahiran di sini aja, ya Reyn. Gak usah balik ke Jakarta dulu, biar Mami bantu rawat bayinya," bujuk mami.


Reyna dan Rangga langsung berpandangan.


"Nanti deh, Mi. Dipikirin dulu. Kalau lahiran di sini, berarti Reyna musti cari dokter lagi yang cocok, aku maunya Reyna lahiran di bantu sama dokternya, perempuan pokoknya," Rangga menegaskan keinginannya.


"Emang kenapa, dokter laki-laki kan sama aja, itu sudah tugas mereka. Kamu tuh suka cemburuan aja," lagi-lagi mami menampol bahu Rangga.


"Ishhh, Mami. Ya beda lah, pokoknya musti cari dokternya yang perempuan!" kekeuh Rangga.


"Iya lah, nanti mami cariin, dokter yang perempuan. Ehh, Ga, kamu udah denger belom soal Putri?" tanya Mami.


"Putri sempet masuk koran tuh, model berbakat yang sedang di puncak karir ini dikabarkan hamil di luar nikah, Mami baca tuh judulnya, pas Mami lihat gambarnya kaya Putri. Mami langsung cek tuh, sama temen arisan Mami yang tetanggaan sama Putri, ehh ternyata bener, sekarang rumahnya tidak ditinggali. Katanya temen Mami dia ikut di bawa orangtuanya ke Singapura. Kan orangtua Putri tinggal di sana tuh," cerita mami panjang lebar.


"Hahh, yang bener, Mih. Aku pikir dia bakalan nikah sama Ferdy," ujar Rangga,bia cukup prihatin dengan kabar yang menimpa Putri.


"Kayaknya sih gak nikah, tapi Mami juga gak tau kalau di nikahkan di sana mungkin," ujar Mami.


Selama di Jakarta, Rangga tidak tahu-menahu soal hal itu. Padahal dulu dengan Ferdy, ia sangat dekat sebagai seorang sahabat dari semenjak SMP. Namun, setelah pertengkaran saat itu ia tidak lagi berhubungan dengan Ferdy maupun Putri. Sebab Ferdy telah bersekongkol dengan Putri untuk mencelakai Reyna.


'Apa mungkin Putri benar-benar melaporkan Ferdy dengan tuduhan pemerkosaan ke polisi dan memenjarakannya?!' gumam Rangga di dalam hati.


****


Sepulang dari acara walimah tadi siang, semua masih berjalan normal. Dimas membiarkan Cindy untuk membersihkan diri di kamarnya, sementara dia beristirahat di ruang tengah.


Seusai membersihkan diri Cindy keluar kamar mencari mencari keberadaan Dimas. Ternyata Dimas sedang bercanda tawa dengan Qila.

__ADS_1


"Dokter, saya sudah selesai. Dokter bisa mandi sekarang," ujar Cindy yang membuat Dimas mengeryit mendengarnya.


Ada perasaan asing berada di rumah ini. Biasanya datang ke sini yang di tuju hanya kamar Qila dan sesekali mengobrol di ruang tengah dengan Ibu Dimas. Namun, hari ini ia bahkan masuk ke dalam kamar pemilik rumah dan mandi di sana. Perasaan canggung, takut salah, bingung mau melakukan apa lagi. Yang jelas hal ini masih terasa asing baginya.


Dimas beranjak berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Cindy tak ambil pusing dengan hal itu, ia kemudian mengajak Qila untuk tidur siang karena badannya sangat capek seusai acara walimahnya tadi. Mengikuti serangkaian acara yang panjang, berdiri menyapa tamu undangan yang cukup banyak dari kalangan kolega keluarga dan teman seprofesi dr. Dimas dari rumah sakit yang cukup banyak, tentulah membuat kakinya pegal dan badannya seolah remuk redam.


Cindy membaringkan tubuhnya di kasur Qila. Dan Qila juga tidur di sampingnya. Sejenak ia masih menyempatkan diri untuk mengobrol dengan Qila. Qila mengungkapkan rasa gembiranya karena Cindy sekarang telah menjadi mamanya.


"Tante, kata Papa mulai sekarang Qila harus memanggil tante, Mama. Karena Tante sudah menjadi Mama Qila," Cindy sedikit tercengang dengan penuturan anak itu.


Sebelumnya ia belum pernah memikirkan hal itu, 'Agak lucu juga sih, di panggil Mama! Tapi aku jadi ngerasa seperti menggantikan tempat Mamanya!' gumamnya dalam hati.


"Gimana kalau ganti panggilannya jangan Mama, kan Mama Qila tetap ada di hati, Qila, nanti bingung yang di maksud mama yang mana nih," ujar Cundy.


"Temen aku manggil mamanya, Mommy, Mami Bunda, ada yang Ummi juga kaya tante Cindy," jawab Qila.


"Em....apa ya?" sejenak Cindy diam untuk berpikir, "Coba panggil Umma!"


Cindy jadi kepikiran panggilan anak kepada mamanya di tempatnya mengaji yaitu umma. Sepertinya cukup bagus dan lebih islami.


"Umma Cindy, Umma...Umma...Umma...! Qila sukaa...Umma!" Qila berceloteh girang.


Keduanya pun tertawa riang hingga lama kelamaan keduanya tertidur.


Dimas yang baru selesai bersih-bersih mendatangi kamar Qila saat tidak menemukan anak dan istri barunya. Ketika membuka pintu kamar Qila, ia tersenyum melihat Cindy dan Qila sudah tidur sambil berpelukan.


"Nikah sama papanya yang dikelonin anaknya. Hhaha....!' gumam Dimas di dalam hati sembari menutup pintu.


___________________Ney-nna__________________


Jangan lupa tinggalkan jejak ya reader's terπŸ’“πŸ’“


Semangat kerja buat yang kerja, semangat rebahan yang lagi santai, pokoknya semangat menjalani hari-hari, jangan bersusah hati. Lakukan yang terbaik yang kamu bisa. πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


Terimakasih buat dukungan kalian yang tak ternilai harganya buat author πŸ™πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2